(1) Penyaluran dana Bantuan Hukum litigasi dilakukan setelah Pemberi Bantuan Hukum menyelesaikan Perkara pada setiap tahapan proses beracara dan Pemberi Bantuan Hukum menyampaikan laporan yang disertai dengan bukti pendukung.
(2) Bukti pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi:
a. bukti penanganan perkara;
b. kuitansi pembayaran pengeluaran;
c. laporan keuangan penanganan perkara; dan
d. dokumentasi.
(3) Bukti penanganan perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a untuk Bantuan Hukum litigasi dalam perkara pidana disesuaikan dengan tahapan pemeriksaan meliputi:
a. tahap penyidikan, dengan melampirkan paling sedikit:
1. surat permohonan;
2. surat kuasa;
3. surat pernyataan;
4. surat panggilan;
5. surat perintah penyidikan atau surat perintah penghentian penyidikan; dan
6. putusan Praperadilan, jika ada.
b. tahap Persidangan di pengadilan tingkat pertama, dengan melampirkan paling sedikit:
1. surat kuasa;
2. nomor perkara;
3. surat dakwaan;
4. surat penetapan pengadilan (penunjukan hakim untuk pendampingan), jika ada;
5. surat keputusan penghentian penuntutan, jika ada;
6. eksepsi jika disampaikan secara tertulis dalam persidangan;
7. pledoi;
8. replik jika disampaikan secara tertulis dalam persidangan;
9. duplik jika disampaikan secara tertulis dalam persidangan;
10. jadwal sidang; dan
11. salinan putusan atau petikan putusan pengadilan.
c. tahap persidangan di pengadilan tingkat banding, dengan melampirkan paling sedikit:
1. akta banding;
2. memori banding atau kontra memori banding, dalam hal perkara dilanjutkan ke tingkat banding; dan
3. salinan putusan atau petikan putusan pengadilan tingkat banding.
d. tahap persidangan di pengadilan tingkat kasasi, dengan melampirkan paling sedikit:
1. akta kasasi;
2. memori kasasi atau kontra memori kasasi, dalam hal perkara dilanjutkan ke tingkat kasasi; dan
3. salinan putusan atau petikan putusan pengadilan tingkat kasasi.
e. tahap peninjauan kembali (PK), dengan melampirkan paling sedikit:
1. surat permintaan/permohonan peninjauan kembali (PK) kepada pengadilan tingkat pertama;
2. salinan putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap;
3. memori peninjauan kembali (PK), dalam hal perkara dilanjutkan ke proses upaya hukum luar biasa; dan
4. salinan putusan atau petikan putusan peninjauan kembali (PK).
(4) Bukti penanganan perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk tahapan Bantuan Hukum litigasi dalam perkara perdata meliputi:
a. tahap gugatan, dengan melampirkan paling sedikit:
1. surat permohonan;
2. surat kuasa;
3. surat pernyataan;
4. surat gugatan/jawaban gugatan
5. registrasi perkara dengan nomor register;
dan/atau
6. surat panggilan;
b. tahap putusan pengadilan tingkat pertama, dengan melampirkan paling sedikit:
1. jadwal sidang;
2. surat kuasa;
3. somasi;
4. dihapus
5. tawaran mediasi atau jawaban;
6. akta perdamaian atau melanjutkan perkara.
7. eksepsi atau replik;
8. kesimpulan; dan/atau
9. salinan putusan atau petikan putusan pengadilan.
c. tahap putusan pengadilan tingkat banding, dengan melampirkan paling sedikit:
1. akta banding;
2. memori banding atau kontra memori banding, dalam hal perkara dilanjutkan ke proses upaya hukum biasa; dan
3. salinan putusan atau petikan putusan pengadilan tingkat banding.
d. tahap putusan pengadilan tingkat kasasi, dengan melampirkan paling sedikit:
1. akta kasasi;
2. memori kasasi atau kontra memori kasasi, dalam hal perkara dilanjutkan ke proses upaya hukum biasa; dan
3. salinan putusan atau petikan putusan pengadilan tingkat kasasi.
e. tahap peninjauan kembali, dengan melampirkan paling sedikit:
1. surat permintaan/permohonan peninjauan kembali kepada pengadilan tingkat pertama;
2. salinan putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap;
3. memori peninjauan kembali atau kontra memori peninjauan kembali, dalam hal perkara dilanjutkan ke proses upaya hukum luar biasa; dan
4. salinan putusan atau petikan putusan peninjauan kembali.
(5) Bukti penanganan perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk tahapan Bantuan Hukum litigasi di bidang hukum tata usaha negara meliputi:
a. tahap pemeriksaan pendahuluan, dengan melampirkan:
1. permohonan;
2. surat kuasa;
3. surat pernyataan;
4. surat gugatan;
5. registrasi perkara dengan nomor register;
6. surat panggilan;
7. surat penetapan pengadilan pada rapat permusyawaratan/dismissal process; dan
8. keputusan upaya administrasi terhadap kebijakan dari pejabat tata usaha negara, jika ada.
b. tahap putusan pengadilan tingkat pertama, dengan melampirkan:
1. jadwal sidang;
2. surat kuasa;
3. somasi;
4. jawaban gugatan;
5. tawaran mediasi atau jawaban;
6. eksepsi atau replik; dan
7. kesimpulan;
8. salinan putusan atau petikan putusan pengadilan.
c. tahap putusan pengadilan tingkat banding, dengan melampirkan:
1. akta banding;
2. memori banding atau kontra memori banding, dalam hal perkara dilanjutkan ke proses upaya hukum biasa; dan
3. salinan putusan atau petikan putusan pengadilan tingkat banding.
d. tahap putusan pengadilan tingkat kasasi, dengan melampirkan:
1. akta kasasi;
2. memori kasasi atau kontra memori kasasi, dalam hal perkara dilanjutkan ke proses upaya hukum biasa; dan
3. salinan putusan atau petikan putusan pengadilan tingkat kasasi.
e. tahap peninjauan kembali, dengan melampirkan:
1. surat permintaan/permohonan peninjauan kembali kepada pengadilan tingkat pertama;
2. salinan putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap;
3. memori peninjauan kembali atau kontra memori peninjauan kembali, dalam hal perkara dilanjutkan ke proses upaya hukum luar biasa; dan
4. salinan putusan atau petikan putusan peninjauan kembali.
29. Ketentuan Pasal 48 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: