Identifikasi analisis areal IUPHHK-HTI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) didasarkan atas kriteria:
a. Kriteria-1, Kawasan hutan yang mempunyai kelerengan, kepekaan jenis tanah dan intensitas curah hujan dengan skoring sama dengan dan/atau lebih besar dari 175 (seratus tujuh puluh lima);
b. Kriteria-2, Kawasan hutan dengan kelerengan lebih dari 40% (empat puluh perseratus) dan/atau dengan kelerengan lebih dari 15% (lima belas perseratus) untuk jenis tanah yang sangat peka terhadap erosi yaitu regosol, litosol, organosol dan renzina;
c. Kriteria-3, Kawasan hutan dengan ketinggian sama dengan atau lebih besar dari 2.000 (dua ribu) meter dari permukaan laut;
d. Kriteria-4, Kawasan hutan dengan fungsi Ekosistem Gambut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. Kriteria-5, Kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai dengan:
1) 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau danau;
2) 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa;
3) 100 (seratus) meter dari kiri kanan tepi sungai;
4) 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan tepi anak sungai;
5) 2 (dua) kali kedalaman jurang dari tepi jurang;
6) 130 (seratus tiga puluh) kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi pantai,
f. Kriteria-6, Kawasan penyangga (buffer zone) hutan lindung dan/atau kawasan konservasi;
g. Kriteria-7, Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (KPPN);
h. Kriteria-8, Kawasan Perlindungan Satwa Liar (KPSL);
i. Kriteria-9, Kawasan cagar budaya dan/atau ilmu pengetahuan;
j. Kriteria-10, Kawasan rawan terhadap bencana alam;
k. Kriteria-11, Berdasarkan hasil identifikasi, areal hutan alam tersebut memiliki karakterisitik sumberdaya hutan untuk diusahakan dengan sistem silvikultur bukan THPB.
3. Ketentuan ayat (1) Pasal 8 diubah, sehingga Pasal 8 berbunyi sebagai berikut:
