Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Polisi Kehutanan yang selanjutnya disingkat Polhut adalah pejabat tertentu dalam lingkup intansi kehutanan pusat dan daerah yang sesuai dengan sifat pekerjaannya, menyelenggarakan dan atau melaksanakan usaha perlindungan hutan yang oleh kuasa UNDANG-UNDANG diberi wewenang kepolisian khusus dibidang kehutanan dan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
2. Satuan Polhut Reaksi Cepat yang selanjutnya disingkat SPORC adalah Satuan Polhut yang mempunyai keahlian dan keterampilan khusus di bidang penanganan gangguan keamanan hutan dan penegakan hukum bidang kehutanan.
3. Pakaian Seragam Polhut adalah pakaian dan kelengkapannya yang dikenakan dalam kegiatan kedinasan.
4. Kelengkapan Polhut adalah peralatan pendukung perorangan yang digunakan Polhut dalam melaksanakan tugas kedinasan.
5. Atribut Polhut adalah tanda-tanda khusus sebagai pengenal seseorang atau tanda instansi yang melekat pada pakaian seragam Polhut termasuk tanda pangkat dan tanda jabatan.
6. Tanda pangkat Polhut adalah tanda yang menyatakan pangkat/golongan atau Jabatan seorang Polhut.
7. Tanda Jabatan Polhut adalah tanda yang digunakan bagi pejabat tertentu yang diberi kewenangan dalam struktur organisasi Polhut.
8. Menteri adalah menteri yang diserahi tugas dan bertanggung jawab dibidang kehutanan.
9. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang diserahi tugas dan bertanggung jawab dibidang perlindungan hutan dan konservasi alam.
Peraturan Menteri Nomor p-71-menhut-ii-2008 Tahun 2008 tentang PAKAIAN, ATRIBUT DAN KELENGKAPAN SERAGAM POLISI KEHUTANAN
Pasal 1
Pasal 2
Polhut dalam melaksanakan tugas kedinasan mengenakan pakaian seragam, atribut dan perlengkapan.
Pasal 3
Pakaian seragaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diperuntukkan bagi:
a. Polhut, dan
b. SPORC
Pasal 4
Pakaian seragam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 terdiri dari:
a. Pakaian Dinas Upacara (PDU);
b. Pakaian Dinas Harian (PDH), dan
c. Pakaian Dinas Lapangan (PDL).
Pasal 5
(1) PDU yang diperuntukkan bagi Polhut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a terdiri dari:
a. Topi Pet untuk pria/wanita;
b. Kemeja lengan panjang;
c. Celana untuk pria/Rok untuk wanita;
d. Baju kaos;
e. Shal;
f. Tali kur;
g. Ikat pinggang;
h. Sarung tangan;
i. Kaos kaki;
j. Sepatu untuk pria/wanita.
(2) PDH yang diperuntukan bagi Polhut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b terdiri dari:
a. Topi untuk pria/wanita;
b. Kemeja lengan pendek;
c. Celana untuk pria/Rok untuk wanita;
d. Baju kaos;
e. Tali peluit dan peluit;
f. Ikat Pinggang;
g. Kaos kaki;
h. Sepatu untuk pria/wanita.
(3) PDL yang diperuntukkan bagi Polhut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c terdiri dari:
a. Topi untuk pria/wanita (junggle cup/topi rimba);
b. Kemeja lengan panjang;
c. Celana untuk pria/wanita;
d. Baju kaos;
e. Ikat pinggang;
f. Tali peluit dan peluit;
g. Kopel riem;
h. Dragh riem;
i. Sepatu untuk pria/wanita;
j. Kaos kaki.
Pasal 6
(1) Pakaian Dinas Upacara (PDU) yang diperuntukkan bagi SPORC sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a, terdiri dari:
a. Baret;
b. Shal;
c. Kemeja lengan panjang;
d. Baju kaos;
e. Celan untuk pria/Rok untuk wanita;
f. Ikat pinggang;
g. Sarung tangan;
h. Kaos kaki;
i. Sepatu untuk pria/wanita.
(2) Pakaian Dinas Harian (PDH) yang diperuntukkan bagi SPORC sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b, terdiri dari:
a. Baret/topi harian;
b. Kemeja lengan pendek;
c. Celan untuk pria/Rok untuk wanita;
d. Baju kaos;
e. Ikat pinggang PDH;
f. Kaos kaki;
g. Tali pluit;
h. Sepatu untuk pria/wanita.
(3) Pakaian Dinas Lapangan (PDL) yang diperuntukkan bagi SPORC sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c terdiri dari:
a. Baret/topi lapangan;
b. Kemeja lengan panjang;
c. Celana untuk pria/wanita;
d. Baju kaos;
e. Ikat pinggang;
f. Kopel riem;
g. Dragh riem;
h. Kaos kaki;
i. Tali pluit;
j. Sepatu lars.
Pasal 7
Atribut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, diperuntukkan bagi:
a. Polhut, dan
b. SPORC.
Pasal 8
Jenis atribut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 terdiri dari:
a. Pakaian Dinas Upacara (PDU),
b. Pakaian Dinas Harian (PDH), dan
c. Pakaian Dinas Lapangan (PDL).
Pasal 9
(1) Jenis atribut untuk PDU yang diperuntukan bagi Polhut terdiri dari:
a. Logo Pangkat;
b. Lambang Polhut;
c. Tanda kepolisian;
d. Tanda Wilayah kepolisian;
e. Tanda Instansi/unit kerja;
f. Label Polhut;
g. Papan Nama Seragam.
(2) Bentuk, warna, ukuran dan penggunaan atribut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran ini.
Pasal 10
Selain jenis atribut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, bagi yang berprestasi dan mendapatkan tanda kecakapan khusus, tanda jabatan, tanda jasa dan tanda- tanda kehormatan lainnya dapat dikenakan sebagai kelengkapan pada pakaian seragam Polhut.
Pasal 11
(1) Jenis atribut PDH yang diperuntukkan bagi Polhut terdiri dari:
a. Logo Pangkat;
b. Lambang Polhut;
c. Tanda kepolisian;
d. Tanda Wilayah kepolisian;
e. Tanda Instansi/unit kerja;
f. Label Polhut;
g. Papan Nama Seragam.
(2) Bentuk, warna, ukuran dan penggunaan atribut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran ini.
Pasal 12
Selain jenis atribut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) bagi yang berprestasi dan mendapatkan tanda kecakapan khusus, tanda jasa, tanda jabatan dan tanda-tanda kehormatan lainnya dapat dikenakan sebagai kelengkapan pada pakaian seragam Polhut.
Pasal 13
(1) Jenis atribut PDL yang diperuntukkan bagi Polhut terdiri dari:
a. Logo Pangkat;
b. Lambang Polhut;
c. Tanda Induk Kepolisian (logo Polri);
d. Tanda lokasi kepolisian (Tanda Wilayah);
e. Tanda Instansi/unit kerja;
f. Label Polhut;
g. Label Nama Perorangan.
(2) Bentuk, warna, ukuran dan penggunaan atribut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran peraturan ini.
Pasal 14
Selain jenis atribut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) bagi yang berprestasi dan mendapatkan tanda kecakapan khusus dan tanda jabatan dapat dikenakan sebagai kelengkapan pada pakaian seragam Polhut.
Pasal 15
(1) Jenis atribut PDU dan PDH yang diperuntukkan bagi SPORC terdiri dari:
a. Emblim SPORC Pada Baret dan Dada sebelah kiri;
b. Tanda pangkat;
c. Badge SPORC;
d. Lambang Brigade;
e. Label SPORC;
f. Papan Nama Perorangan.
(2) Selain jenis atribut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi yang berprestasi dan mendapatkan tanda kecakapan khusus, tanda jabatan, tanda jasa dan tanda-tanda kehormatan lainya dapat dikenakan sebagai kelengkapan pada pakaian seragam Polhut.
(3) Bentuk, warna, ukuran dan penggunaan atribut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran peraturan ini.
Pasal 16
Selain jenis atribut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) bagi yang berprestasi dan mendapatkan tanda kecakapan khusus, tanda jasa dan tanda- tanda kehormatan lainnya dapat dikenakan sebagai kelengkapan pada pakaian seragam SPORC.
Pasal 17
(1) Jenis atribut PDL yang diperuntukkan bagi SPORC terdiri dari:
a. Emblim SPORC pada Baret;
b. Tanda pangkat;
c. Badge SPORC;
d. Lambang Brigade;
e. Label SPORC;
f. Label Nama Perorangan.
(2) Selain jenis atribut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi yang berprestasi dan mendapatkan tanda kecakapan khusus, tanda jabatan, tanda
jasa dan tanda-tanda kehormatan lainnya dapat dikenakan sebagai kelengkapan pada pakaian seragam SPORC.
(3) Bentuk, warna, ukuran dan penggunaan atribut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran peraturan ini.
Pasal 18
Selain jenis atribut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) bagi yang berprestasi dan mendapatkan tanda kecakapan khusus, tanda jasa dan tanda- tanda kehormatan lainnya dapat dikenakan sebagai kelengkapan pada pakaian seragam SPORC.
Pasal 19
(1) Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan kedinasan, Polhut dan SPORC dapat menggunakan perlengkapan diri.
(2) Perlengkapan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a. Borgol;
b. Senter;
c. Golok;
d. Buku Saku Polhut (dimasukkan dalam PDH dan PDL Polhut dan SPORC);
e. Pisau sangkur;
f. Pluit;
g. Ransel;
h. Tongkat karet;.
i. Nesting;
j. Veldples/tempat air;
k. Jas Hujan/ponco;
l. Tali-temali.
Pasal 20
Penggunaan pakaian seragam, atribut dan perlengkapan diri Polhut ditentukan sebagai berikut:
a. Polhut,
b. Pejabat Struktural yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab dibidang perlindungan hutan, dan
c. Pegawai Perum Perhutani yang diangkat menjadi Polhut.
Pasal 21
Penggunaan pakaian seragam, atribut dan perlengkapan diri SPORC ditentukan sebagai berikut:
a. SPORC,
b. Pejabat Struktural yang merangkap sebagai pembina SPORC.
Pasal 22
Dalam melaksanakan tugas yang bersifat rahasia, Polhut boleh tidak menggunakan pakaian dinas, atribut, tanda pangkat dan kelengkapan lainnya.
Pasal 23
(1) Pengadaan dan penyaluran pakaian seragam, atribut dan perlengkapan diri Polhut dan SPORC dilakukan berdasarkan standar dan spesifikasi teknis yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
(2) Dalam hal pengadaan pakaian seragam, atribut dan perlengkapan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah, penyalurannya dilakukan melalui Direktorat Penyidikan dan Perlindungan Hutan.
Pasal 24
Pengadaan pakaian seragam, atribut dan perlengkapan diri Polhut dan SPORC sekurang-kurangnya 1 (satu) stel untuk setiap 3 (tiga) tahun.
Pasal 25
Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ini maka Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 700/Kpts-II/93 dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 26
Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Menteri Kehutanan ini diundangkan dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik INDONESIA.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 31 Desember 2008 MENTERI KEHUTANAN,
H.M.S. KABAN
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 31 Desember 2008 .
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
ANDI MATTALATTA
