Langsung ke konten

Peraturan Menteri Nomor 50-permentan-ot-140-4-2014 Tahun 2014 tentang PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA TEH YANG BAIK (GOOD AGRICULTURE PRACTICES/GAP ON TEA)

PERMENTAN No. 50-permentan-ot-140-4-2014 Tahun 2014 berlaku

Pasal 1

Pedoman Teknis Budidaya Teh yang Baik (Good Agriculture Practices/GAP
on Tea) sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
2014, No.518

Pasal 2

Pedoman Teknis Budidaya Teh yang Baik (Good Agriculture Practices/GAP
on Tea) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 sebagai acuan dalam
melaksanakan budidaya teh yang baik dan berkelanjutan.

Pasal 3

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar
setiap
orang
mengetahuinya,
memerintahkan
pengundangan
Peraturan
Menteri
ini
dengan
penempatannya
dalam
Berita
Negara
Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 15 April 2014
MENTERI PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA,
SUSWONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 21 April 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
AMIR SYAMSUDIN
2014, No.518
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR
: 50/Permentan/OT.140/4/2014
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA TEH YANG BAIK
(Good Agriculture Practices/GAP on Tea)
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teh merupakan minuman yang menyegarkan dan menyehatkan.
Komoditas teh mempunyai peranan yang sangat strategis terhadap
perekonomian Indonesia. Pada tahun 2012 komoditas teh mampu
menghasilkan
devisa
sebesar
US$
156,74
juta.
Walaupun
jumlahnya relatif kecil namun yang dihasilkan dari teh merupakan
nett
devisa
karena
komponen
impornya
sangat
kecil.
Secara
nasional industri teh menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB)
sekitar Rp. 1,2 trilyun.
Komoditas
teh
di
Indonesia
berfungsi
juga
sebagai
sumber
penciptaan lapangan kerja di pedesaan dan mendorong agribisnis
dan agroindustri yang secara langsung maupun tidak langsung
juga
menciptakan
lapangan
kerja
di
sektor
jasa.
Diperkirakan
pengusahaan teh melibatkan kurang lebih 98 ribu tenaga kerja dan
mampu
mendorong
berkembangnya
ekonomi
wilayah-wilayah
tersebut.
Dalam aspek kelestarian sumber daya alam, pengembangan teh
terbukti
memperbaiki
kondisi
hidro-orologis
setempat
karena
perkebunan teh dapat mempertahankan fungsi hidrologi setara
dengan hutan karena tajuk tanaman menutup, perakaran beserta
seresah
dibawah
pohon
dapat
meningkatkan
infiltrasi
dan
mengurangi
volume
aliran
air
dan
kelembaban
udara
dapat
dipertahankan, serta lahan dengan kemiringan > 40% ditanami
hutan koloni. Perkebunan teh dapat mereduksi erosi hingga di
bawah erosi lapisan tanah di hutan, karena tajuk tanaman dapat
menahan energi kinetis air hujan sehingga pada saat jatuh ke
tanah tidak mengakibatkan erosi percikan. Volume gas rumah kaca
(CO2) yang dapat diserap oleh perkebunan teh setara dengan 2,5
ton CO2 per ha/tahun. Dengan demikian untuk setiap hektar
perkebunan teh dapat memperoleh Reduksi Emisi ber-Sertifikat
(RES) sebesar US$ 25.
2014, No.518
Pada
tahun
luas
areal
perkebunan
teh
di
Indonesia
seluruhnya seluas 123.938 ha yang tersebar di Provinsi Jawa
Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi,
Jawa
Timur,
Sumatera
Selatan,
Bengkulu,
D.I.
Yogyakarta,
Sulawesi
Selatan
dan
Kalimantan
Timur
yang
masing-masing
dikelola oleh Perkebunan Besar Negara (PBN) seluas 38.609 ha
(31,15%),
Perkebunan
Besar
Swasta
(PBS)
seluas
29.346
ha
(23,69%) dan Perkebunan Rakyat (PR) seluas 55.983 ha (45,16%).
Produksi yang dihasilkan oleh perkebunan teh seluruhnya 150.776
ton, dengan rincian berturut-turut yaitu dari PBN sebesar 65.144
ton (43,20%), PBS sebesar 34.125 ton (22,63%) dan PR sebesar
51.507 ton (34,16%).
Tingkat produktivitas tanaman teh pada
Perkebunan Besar Negara (PBN) pada tahun 2011 sebesar 1.687
kg/ha pada Perkebunan Besar Swasta (PBS) sebesar 1.162 kg/ha,
dan Perkebunan Rakyat (PR) sebesar 920 kg/ha. Volume ekspor
teh mengalami penurunan rata-rata sebesar 3,04% per tahun,
namun nilai devisa yang diperoleh cenderung mengalami kenaikan
sebesar 4,99% per tahun.
Pada era globalisasi ini, pelaksanaan pembangunan perkebunan di
Indonesia
harus
memperhatikan
kelestarian
ekosistem
dan
memberdayakan
masyarakat
sekitar
sehingga
tidak
akan
mengakibatkan terjadinya degradasi lahan maupun permasalahan
sosial
yang
lain,
karena
pada
dasarnya
program
pembangunan
pertanian berkelanjutan berawal dari permasalahan pokok tentang
bagaimana mengelola sumberdaya alam secara bijaksana sehingga
bisa
menopang
kehidupan
yang
berkelanjutan,
bagi
peningkatan
kualitas
hidup
masyarakat
dari
generasi
ke
generasi.
Bentuk
pendekatan dan implementasinya harus bersifat multi sektoral dan
holistik yang berorientasi pada hasil nyata dan kongkrit yakni (1)
adanya
peningkatan
ekonomi
masyarakat;
(2)
pemanfaatan
sumberdaya
lokal
untuk
pelestarian
lingkungan;
(3)
penerapan
teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, serta (4) pemerataan
akses
dan
keadilan
bagi
masyarakat
dari
generasi
ke
generasi.
Berdasarkan
pertimbangan
hal-hal
tersebut
di
atas,
maka
perlu
menyusun Pedoman Teknis Budidaya Teh Yang Baik (Good Agriculture
Practices /GAP on Tea).
B. Maksud dan Tujuan
Maksud penyusunan Pedoman ini sebagai acuan bagi petugas
lapangan, petani, dan pemangku kepentingan (stakeholders) dalam
melakukan budidaya komoditas teh yang baik dan berkelanjutan,
dan
bertujuan untuk meningkatkan produksi, produktivitas, dan
mutu tanaman teh.
2014, No.518
Penerapan GAP teh diharapkan mencakup pengembangan baru dan
kebun existing, dimulai dari penanaman, peremajaan, pengutuhan
populasi per luasan kebun, pemeliharaan, panen dan pasca panen.
Penerapan GAP teh diharapkan dilakukan oleh seluruh pelaku
usaha yang mengelola kebun teh.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pedoman ini meliputi:
1. Produksi Teh Berkelanjutan;
2. Budidaya Teh Yang Baik;
3. Pemetikan;
4. Panen dan Pascapanen;
5. Pengolahan Teh;
6. Pengolahan Limbah;
7. Diversifikasi Usaha.
D. Pengertian
Dalam Pedoman ini yang dimaksud dengan:
1. Petani
adalah
warga
negara Indonesia
perseorangan
dan/atau
beserta
keluarganya
yang
melakukan
Usaha
Tani
di
bidang
tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan.
2. Benih adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk
memperbanyak dan/atau mengembangkan tanaman.
3. Benih stump adalah hasil dari pemangkasan daun, batang dan
sebagian akar serta pembuangan tanah dari polibeg dan tidak
mengurangi daya tahan juga kualitas bibit.
4. Setek adalah cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan
dengan menggunakan sebagian batang, akar, atau daun tanaman
untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru.
5. Sumber Benih adalah tempat di mana suatu kelompok benih
diproduksi.
6. Kebun Induk adalah kebun yang dibangun dengan rancangan
khusus sehingga perkawinan liar dapat dicegah dan persilangan
yang diinginkan dimungkinkan terlaksana.
7. Sertifikasi adalah keterangan tentang pemenuhan persyaratan
mutu yang diberikan oleh lembaga sertifikasi pada kelompok
benih yang disertifikasi atas permintaan produsen benih.
2014, No.518
II.
PRODUKSI TEH BERKELANJUTAN
1.
Konsepsi
Pembangunan
berkelanjutan
bertujuan
untuk
meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat
untuk
memenuhi
kebutuhan
dan
aspirasi
manusia.
Pembangunan
yang
berkelanjutan
pada
hakekatnya ditujukan untuk mencari pemerataan pembangunan
antar generasi pada masa kini maupun masa mendatang.
Konsepsi
produksi
teh
berkelanjutan
(sustainable
tea
production) tentunya harus mengacu pada konsepsi pertanian
berkelanjutan
(sustainable
agriculture)
yang
mulai
gencar
disosialisasikan
dalam
beberapa
dasawarsa
terakhir
ini.
Pertanian berkelanjutan yaitu pengelolaan sumberdaya yang
berhasil untuk usaha pertanian untuk memenuhi kebutuhan
manusia yang terus berubah dan sekaligus mempertahankan
atau
meningkatkan
kualitas
lingkungan
dan
melestarikan
sumberdaya alam.
Pembangunan
berkelanjutan
mencakup
tiga
aspek,
yaitu
pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan
lingkungan. Ketiga aspek tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama
lain,
karena
ketiganya
menimbulkan
hubungan
sebab-akibat.
Aspek
yang
satu
akan
mengakibatkan
aspek
yang
lainnya
terpengaruh.
Hubungan
antara
ekonomi
dan
sosial
diharapkan
dapat
menciptakan hubungan yang adil (equitable). Hubungan antara
ekonomi dan lingkungan diharapkan dapat terus berjalan (viable).
Hubungan antara sosial dan lingkungan bertujuan agar dapat
terus bertahan (bearable). Ketiga aspek yaitu aspek ekonomi, sosial
dan
lingkungan
akan
menciptakan
kondisi
berkelanjutan
(sustainable).
2014, No.518
Ciri-ciri pertanian berkelanjutan yaitu:
a.Mantap secara ekologis
Kualitas sumberdaya alam dipertahankan/ditingkatkan dan
kemampuan
agroekosistem
secara
keseluruhan
(manusia,
tanaman, hewan dan organisme tanah) ditingkatkan.
b. Bisa berlanjut secara ekonomis
Petani
dapat
memperoleh
pendapatan
yang
cukup
bagi
kebutuhan sendiri.
c.Adil
Distribusi
sumberdaya
dan
kekuasaan
sedemikian
rupa
sehingga semua anggota masyarakat terpenuhi kebutuhan
dasarnya.
d. Manusiawi
Semua bentuk kehidupan (manusia, hewan dan tanaman)
dihargai.
e.Luwes
Masyarakat
mampu
menyesuaikan
dengan
perubahan
kondisi usaha tani yang berlangsung terus.
Dalam kaitannya dengan keberlanjutan produksi teh, dewasa
ini berkembang bermacam-macam perdagangan yang diinisiasi
oleh konsumen teh di negara maju yang pada dasarnya semua
mengacu pada keberlanjutan produksi teh.
2. Dimensi Keberlanjutan Produksi Teh
Keberlanjutan sistem produksi teh meliputi 4 dimensi:
a. Dimensi Lingkungan Fisik
Dalam kaitannya dengan lingkungan fisik berlaku prinsip
environmentally
sustainable.
Yang
termasuk
dalam
lingkungan fisik yaitu tanah, air dan sumberdaya genetik
flora dan fauna di dalam maupun di atas tanah yang secara
umum
dapat
digunakan
terminologi
lahan.
Sistem
pengelolaan
lahan
yang
berkelanjutan
pada
dasarnya
mengacu pada sistem pertanian berkelanjutan. Pengelolaan
tanah yang berkelanjutan berarti suatu upaya pemanfaatan
lahan melalui pengendalian masukan (input) dalam suatu
proses untuk memperoleh produktivitas yang tinggi secara
berkelanjutan,
meningkatkan
kualitas
lahan,
serta
memperbaiki
karakteristik
lingkungan.
Dengan
demikian
diharapkan
kerusakan
lahan
dapat
ditekan
seminimal
mungkin
sampai
batas
yang
dapat
ditoleransi,
sehingga
sumber daya tersebut dapat dipergunakan secara lestari dan
dapat
diwariskan
kepada
generasi
yang
akan
datang.
2014, No.518
Komponen
pengelolaan
lahan
yang
berkelanjutan
yaitu
pengelolaan hara, pengendalian erosi, pengelolaan residu,
pengelolaan tanaman, dan pengelolaan air.
Pengelolaan
lahan
yang
berkelanjutan
mencakup
hal-hal
sebagai berikut:
1) Penggunaan sumberdaya lahan didasarkan pada
pertimbangan jangka panjang.
2) Memenuhi kebutuhan saat ini tanpa membahayakan
kebutuhan jangka panjang.
3) Meningkatkan produktivitas per kapita.
4) Mempertahankan kualitas lingkungan.
5) Mengembalikan produktivitas dan kapasitas pengaturan
oleh lingkungan pada ekosistem yang telah rusak.
Pengelolaan
lahan
yang
berkelanjutan
dapat
dilakukan
dengan
memilih
teknologi
yang
tepat
pada
setiap
agroekosistem
berdasarkan
kondisi
spesifik
dari
setiap
lokalita.
Pertimbangan
dalam
pemilihan
teknologi
yang
sesuai
tersebut
antara
lain
yaitu:
rencana
penggunaan
lahan, pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan upaya
mempertahankan produktivitas.
Tahap
pertama
untuk
mencapai
pengelolaan
yang
berkelanjutan yaitu dengan melakukan zonasi berdasarkan
karakteristik
agroekologinya.
Dari
hasil
zonasi
tersebut
dapat ditentukan sistem pengelolan lahan yang tepat untuk
tiap-tiap zona. Selanjutnya ditentukan sistem pengelolaan
dan
tehnologi
yang
sesuai
untuk
masing-masing
kondisi
agroekologi tersebut.
Jika tidak ada konservasi untuk mencegah kerusakan lahan,
maka
produktivitas
lahan
dan
pendapatan
petani
pada
awalnya lebih tinggi namun terus mengalami penurunan
seiring dengan makin lamanya lahan diusahakan sampai
pada suatu saat di mana lahan telah benar-benar rusak dan
tidak
memberikan
pendapatan.
Jika
dilakukan
tindakan
konservasi untuk mencegah kerusakan, maka produktivitas
dan pendapatan petani pada awalnya sedikit lebih rendah
dibandingkan
dengan
tanpa
usaha
konservasi
karena
tindakan
konservasi
memerlukan
biaya,
namun
produktivitas
dan
pendapatan
tersebut
akan
meningkat
sehingga lahan dapat dipakai secara lestari.
2014, No.518
b. Dimensi Ekonomi
Keberlanjutan
produksi
hanya
dapat
terjadi
jika
secara
ekonomi para pelaku yang terlibat dalam aktivitas tersebut
dapat memperoleh manfaat ekonomi yang memadai. Petani
sebagai
salah
satu
pelaku
utama
dapat
memperoleh
pendapatan yang memadai untuk memenuhi kebutuhannya,
pedagang memperoleh keuntungan yang layak untuk hidup
sehari-hari, eksportir mendapat keuntungan yang memadai
untuk menjalankan bisnisnya, pabrikan pengolah maupun
penjual minuman teh juga memperoleh keuntungan yang
wajar serta konsumen mampu membayar dengan harga yang
wajar.
Penekanan
salah
satu
pihak
terhadap
pihak
lain
hanya
akan
memberikan
keuntungan
sesaat
dan
pada
akhirnya akan mematikan pihak lain dalam mata rantai
bisnis teh tersebut. Petani teh sebagai salah satu pihak yang
lemah posisi tawarnya seringkali mendapat tekanan sehingga
tidak
memperoleh
keuntungan
yang
memadai
dari
hasil
usaha
taninya,
akan
mendorong
terjadinya
kerusakan
lingkungan fisik karena minimumnya tindakan pelestarian
dan pada akhirnya akan menyebabkan anjloknya pasokan
pucuk teh. Keberlanjutan ekonomi ini bisa diukur bukan
hanya diukur dalam hal produk usaha tani yang langsung
berupa pucuk teh, namun juga dalam hal fungsi pelestarian
sumberdaya alam untuk meminimalkan resiko kerusakan.
Dimensi
ekonomi
sangat
berkaitan
dengan
dimensi
lingkungan fisik dan keduanya saling mempengaruhi.
c.
Dimensi Sosial
Keberlanjutan usaha produksi teh sangat ditentukan oleh
faktor sosial antara lain tingkat penerimaan para pelaku
aktivitas
produksi
pucuk
teh
terhadap
suatu
masukan
ataupun
tehnologi
tertentu.
Sebagai
contoh
penggunaan
pupuk
alam
berupa
limbah
peternakan
tertentu
secara
teknis akan sangat baik dalam mendukung keberlanjutan
usaha tani teh, namun bagi masyarakat tertentu tidak dapat
menerima teknologi tersebut sehingga tidak dapat berjalan.
Yang lebih pokok yaitu bagaimana usaha tani teh dapat
mensejahterakan
pelaku
agribisnis
dan
masyarakat
pada
umumnya.
d. Dimensi Kesehatan
Dewasa ini terdapat indikasi terus meningkatnya kesadaran
manusia
akan
pentingnya
kesehatan.
Implementasi
peningkatan kesadaran terhadap kesehatan tersebut antara
2014, No.518
lain
berupa
peningkatan
kebutuhan
bahan
pangan
dan
bahan
penyegar
yang
aman
dari
logam
berat,
residu
pestisida
maupun
jamur
dan
toksin
berbahaya.
Pada
komoditas teh
untuk
tujuan ekspor
ke
beberapa negara
tertentu
telah
ditetapkan
batas
kandungan
logam
berat,
residu
pestisida
maupun
jamur
dan
toksin
sehingga
menekan
pemasaran
produk
teh
yang
tidak
memenuhi
persyaratan
tersebut.
Sistem
pertanian
berkelanjutan
diyakini
akan
lebih
menjamin
fungsi
sumberdaya
alam
dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional yang
cenderung bersifat eksploitatif.
3. Tahapan Menuju Produksi Teh Berkelanjutan
Tahapan untuk menuju produksi teh yang berkelanjutan yaitu
sebagai berikut:
a. Survei
Survei dilakukan untuk mengetahui kondisi kebun terakhir,
antara lain: kondisi tanah (kesuburan, kadar bahan organik
tanah, besarnya erosi tanah dan topografi), keanekaragaman
hayati, pelaksanaan pengendalian OPT, energi yang digunakan,
kondisi
sosial
dan
sumber
daya
manusianya,
keterlibatan
masyarakat
sekitar
dan
produk
yang
dihasilkan.
Pada
umumnya
tiap
kebun
telah
memiliki
data
tentang
tanah,
tanaman, hama dan penyakit, sumber air dan lain-lain. Dari
hasil survei tersebut disusun diagram yang bertujuan untuk
mengetahui posisi atau kondisi sebenarnya dari komponen
yang disurvei.
b.Identifikasi
Setelah mengetahui hasil survei, identifikasi kekurangan dapat
lebih mudah dilakukan. Hal ini bermanfaat untuk menentukan
arah
dan
prioritas
perbaikan
menuju
perkebunan
teh
berkelanjutan.
c. Penyusunan program dan strategi
Program
dan
strategi
disusun
berdasarkan
identifikasi
kekurangan
yang
diarahkan
untuk
perbaikan
dan
penyempurnaan
dari
kekurangan
yang
ada.
Program
dan
strategi harus konsisten sesuai prinsip berkelanjutan namun
fleksibel agar dapat diterima dan diterapkan sesuai kondisi
lingkungan sekitarnya.
d.Analisis biaya dan manfaat (2–3 tahun)
Penerapan aspek GAP harus diaudit minimal dua kali dalam
2014, No.518
setahun,
sedangkan
biaya
dan
manfaat
usaha
tani
harus
dianalisis 2–3 tahun sekali. Manfaat yang didapat meliputi
keuntungan yang diperoleh baik yang dapat diukur dengan
nilai uang maupun yang tidak (perbaikan kualitas lingkungan,
peningkatan kesuburan tanah, penurunan tingkat erosi tanah,
peningkatan ketahanan lingkungan, dll).
e. Evaluasi
Pada kebun petani perlu dilakukan evaluasi pada tiap kebun
dan ada persetujuan dari tiap petani untuk mematuhi program
perbaikan kebun yang telah ditetapkan menuju perkebunan teh
yang berkelanjutan.
4. Sertifikasi
dan
Maximum
Residue
Limits
(MRLs
-
Batas
Maksimum Residu)
Untuk dapat diakui dan dihargai sebagai produk yang layak
dikonsumsi
diperlukan
sertifikasi
agar
dapat
memperoleh
tingkat
harga
yang
lebih
baik.
Sertifikasi
dapat
diberikan
setelah dilakukan inspeksi. Standar inspeksi dan sertifikasi
ditentukan oleh negara tujuan ekspor atau negara konsumen
karena setiap negara tujuan ekspor dapat memiliki standar
yang berbeda-beda. Secara umum standar sertifikasi antara lain
mencakup
MRLs,
kesejahteraan
pekerja
dan
kelestarian
lingkungan.
Di
dalam
cakupan
sertifikat
(scope
sertificate)
dicantumkan
gambaran tentang proses, produk dan usaha tani yang disertifikasi
per lisensi. Sertifikasi yang sudah diterapkan di Indonesia antara
lain oleh UTZ, Ethical Tea Partnership (ETP), Rainforest Alliance
(RA) dan Standar Indonesia Lestari.
Penerapan MRLs berkaitan dengan keamanan pangan (food safety)
dan ditetapkan oleh masing-masing negara tujuan ekspor. Sebagai
contoh untuk tujuan ekspor ke Eropa harus memenuhi standar
MRLs yang ditetapkan oleh Economic Europe Community (EEC)
dan untuk tujuan ekspor ke Jepang harus mengikuti standar
Jepang.
III.
BUDIDAYA TEH YANG BAIK
1.
Syarat Tumbuh Tanaman
a. Tanah
1) Tanah mempunyai derajat keasaman (pH) antara 4,5–5,5.
2) Jenis tanah yaitu tanah Andisol, Latosol dan Inceptisol.
2014, No.518
3) Tanah mempunyai kedalaman-efektif (effective depth) dan
berstruktur remah lebih dari 40 cm.
b. Iklim
1) Suhu udara berkisar antara 13 °C – 25 °C.
2) Cahaya matahari yang cerah dan kelembaban relatif pada
siang hari tidak kurang 70%.
3) Curah
hujan
rata-rata
sepuluh
tahun
terakhir
menunjukkan bulan kemarau curah hujannya kurang
dari 60 mm selama dua bulan berturut-turut.
4) Jumlah hujan tidak kurang dari 2.000 mm per tahun.
5) Makin banyak sinar matahari makin cepat pertumbuhan,
sepanjang curah hujan mencukupi.
c. Tinggi Tempat
Tinggi tempat 600–2.000 m atau lebih di atas permukaan
laut (dpl).
2. Kesesuaian Lahan
a. Tanah yang serasi
1) Tanah
mempunyai
kedalaman-efektif
(effective
depth)
dan berstruktur remah lebih dari 40 cm.
2) Curah hujan di atas 2.500 mm/tahun.
3) pH tanah rendah 4,5–5,5.
4) Jenis tanah yang serasi yaitu Andisol.
b. Tanah yang serasi bersyarat
1) Tanah
yang
mempunyai
kedalaman
efektif
dan
berstruktur remah/gumpal minimal 40 cm.
2) Curah hujan 2.500–3.000 mm/tahun.
3) Jenis tanah kategori ini yaitu tanah Latosol dan Podzolik
(Inceptisol), curah hujan tinggi dan dari ketinggian pantai
sampai 900 m diatas permukaan laut.
4) pH tanah rendah 4,5–5,5.
c. Tanah yang tidak serasi
1) Tanah dengan kedalaman efektif sangat dangkal kurang
dari 40 cm dengan struktur tanah mampat atau jenuh
air.
2) Topografi
miring
30
derajat,
bergelombang
sampai
pegunungan.
2014, No.518
3) Jenis tanah Entisol
3. Persiapan Lahan
a. Persiapan lahan untuk penanaman baru (newplanting)
1) Lahan
untuk
penanaman
baru
dapat
berupa
semak
belukar atau lahan yang dikonversikan ke tanaman teh.
2) Kedalaman solum 40 cm, tanah harus dalam keadaan
gembur, tanah harus bersih dari sisa-sisa akar dan kayu-
kayuan.
3) Jangka waktu persiapan lahan dengan waktu penanaman
kurang lebih 2–3 bulan.
Gambar 2. Persiapan lahan untuk penanaman baru.
a.1. Survei dan pemetaan tanah
Survei dilakukan untuk menentukan: jalan-jalan kebun
untuk
transportasi
dan
kontrol,
lokasi
emplasemen
(pabrik,
perumahan
dan
lain-lain),
pembuatan
peta
kebun
dan
peta
kemampuan
lahan
secara
detail,
pembuatan fasilitas air dan lain-lain.
a.2. Pembongkaran pohon-pohon dan tunggul
Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu:
1) Pohon dimatikan terlebih dahulu sebelum dibongkar
dengan cara pengulitan pohon (ring barking) setinggi
1 m dari leher akar.
2) Pohon dimatikan dengan menggunakan arborisida 5
ml dicampur dengan solar 95 ml yang dioleskan pada
batang yang telah dikuliti sekelilingnya selebar 10–20
cm pada tinggi
50–60 cm di atas tanah. Pohon akan
mati dalam 6–12 bulan.
3) Pembongkaran pohon atau tunggul secara manual
sampai
ke
akar-akarnya
dengan
mempergunakan
pengungkit (takel) yang berkekuatan 3–5 ton agar
tidak menjadi sumber penyakit.
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
a.3.
Babad dan membersihkan (nyasap) semak belukar
1) Kegiatan
babad
dan
nyasap
dilakukan
setelah
pembongkaran
pohon-pohon
dan
tunggul
selesai.
Sampah
babadan
dibuang
ke
tempat
yang
tidak
ditanami teh (jurang/dandang). Sampah tidak boleh
dibakar pada tempat/lahan yang akan ditanami teh.
2) Setelah pembabadan, tanah disasap dengan cangkul
sedalam 5–10 cm untuk membersihkan gulma.
3) Pembersihan
gulma
menggunakan
herbisida
glyphosate.
Pekerjaan
babad
dan
nyasap
ini
dikerjakan pada musim kemarau.
a.4. Pengolahan tanah
1) Pengolahan tanah dengan cara mencangkul sedalam
40 cm untuk pencangkulan kedua sedalam 30–40 cm
dilakukan
setelah
2–3
minggu
pencangkulan
pertama.
2) Pembuatan
teras
dilakukan
pada
areal
dengan
kemiringan
15
derajat
dengan
tujuan
untuk
mencegah erosi.
a.5. Pembuatan jalan dan saluran drainase
1) Lebar
jalan
kebun
cukup
meter,
sedangkan
panjangnya
tergantung
keadaan.
Dipertimbangkan
juga faktor kemiringan lahan serta faktor pekerjaan
pemeliharaan dan pengangkutan pucuk.
2) Saluran drainase untuk mencegah bahaya erosi dan
memperbaiki drainase bagi lahan yang terletak pada
cekungan. Pembuatan saluran drainase disesuaikan
dengan keadaan lahan, kemiringan serta letak jalan
kebun.
b. Persiapan lahan untuk penanaman ulang (replanting)
Persyaratan penanaman ulang apabila populasi tanaman tua
(umur lebih dari 50 tahun) 30–50%, kepadatan populasi
<40%. Lahan untuk penanaman ulang terdiri dari tanaman
tua dengan
populasi 30–50%.
1) Pembongkaran
pohon
pelindung
seperti
pada
pembongkaran pohon dan tunggul pada persiapan lahan
untuk penanaman baru.
2) Pembongkaran perdu tua dengan cara pencabutan.
3) Pada lahan miring >30% pembongkaran dilakukan secara
kimiawi menggunakan arborisida, dengan tujuan untuk
menghindari terjadinya erosi.
2014, No.518
4) Pelaksanaan mematikan perdu teh dengan bahan kimia
yaitu sebagai berikut:
Perdu teh terlebih dahulu dipangkas setinggi 5 cm
(pangkasan leher akar).
Luka pangkasan dibersihkan, kemudian diberi larutan
arborisida 5 ml yang dicampur dengan minyak solar 95
ml, cukup untuk 15 perdu dan dilakukan secepatnya
tidak boleh lebih dari 1 jam setelah pemangkasan.
4. Penanaman Tanaman Pelindung
a. Tanaman pelindung sementara
1) Tanaman
pelindung
sementara yang digunakan yaitu
jenis Crotalaria sp. dan Tephrosia sp.
Gambar 3. Tephrosia sp sebagai tanaman pelindung
sementara.
2) Dengan menebarkan biji-bijinya sebanyak 8–10 kg/ha
diantara
barisan
tanaman
dengan
selang
baris,
dilakukan setelah selesai penanaman teh.
b. Tanaman pelindung tetap
1) Tanaman pelindung tetap yang digunakan pada dataran
rendah
(<800
m
dpl)
yaitu
jenis
lamtoro
(Leucena
leucocephala),
grevillia
(Grevillia
robusta),
nimba
(Azadirachta
indica)
dan
sagawe
(Adenanthera
macropherma), dengan jarak tanam 10 x 10 meter (100
pohon/ha).
2) Tanaman pelindung tetap yang digunakan pada dataran
sedang (800 - 1200 m dpl)
yaitu jenis grevillia (Grevillia
robusta), albasia (Albizia falcata), mindi (Melia azadirach),
dengan jarak tanam 15 x 10 meter (67 pohon/ha).
3) Tanaman pelindung tetap yang digunakan pada dataran
tinggi
(>1200
m
dpl)
yaitu
jenis
grevillia
(Grevillia
robusta), lamtoro (Leucena leucocephala), suren (Toona
sureni), akasia (Acacia decurens, Acacia merensii), dengan
jarak tanam 20 x 20 meter (50 pohon/ha).
Pusat Penelitian Teh dan Kina
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
4) Tanaman pelindung tetap diperlukan setelah tanaman
pelindung sementara tidak lagi dapat dipertahankan (2–3
tahun).
5) Tanaman
pelindung
tetap
ditanam
tahun
setelah
penanaman teh atau bersamaan dengan tanaman teh.
Gambar 4. Pohon pelindung di kebun teh.
5. Penyiapan Bahan Tanam
Saat
ini
umumnya
bahan
tanam
yang
digunakan
pada
budidaya teh yaitu benih asal setek daun (cutting). Penyiapan
bahan tanam dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Setek teh diambil dari kebun induk yang telah dipersiapkan
sebagai sumber benih dan dalam pengawasan oleh Balai /
Pusat Penelitian dan dipangkas + 4 bulan sebelumnya.
2) Ranting setek (setekres) dipotong setinggi sekitar 45 cm dari
bidang pangkas pada perbatasan warna coklat dan hijau.
Satu setekres dapat diambil 3–4 cutting.
(a)
(b)
(c)
(d)
Gambar 5. (a) Pengambilan/pemotongan setekres pada
perbatasan
batang
warna
coklat
dan
hijau.
(b)
Satu
setekres dapat diambil 3–4 setek (cutting). (c) Pemotongan
setekres menjadi setek. (d) Setek sepanjang 1 ruas dan 1
helai daun.
3) Setek (cutting) diambil dari ranting setek sepanjang + 1 ruas
dan 1 helai daun.
Pusat Penelitian Teh dan Kina
Pusat
Penel
itian
Teh
dan
Kina
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
4) Sebelum ditanam, setek direndam selama + 3 menit ke
dalam larutan fungisida kemudian dicelupkan ke dalam zat
perangsang akar.
5) Setek ditanam dengan menancapkan tangkainya ke dalam
tanah di polibeg dengan daun menghadap ke arah tangan,
arah daun harus condong ke atas dan tidak boleh saling
menutupi satu sama lain.
6) Selama 3 bulan pertama setek tersebut disungkup dan
tidak boleh dibuka.
7) Seleksi benih dilakukan setelah umur 6–7 bulan. Benih
yang tumbuh sehat dan seragam dipilih dan dipisahkan.
8) Kriteria benih siap tanam yaitu, umur benih minimum 8
bulan (dataran rendah) dan minimum 10 bulan (dataran
tinggi),
tinggi
minimum
cm
dengan
jumlah
daun
sempurna minimal 5 helai, batang berwarna coklat, tumbuh
sehat, kekar dan berdaun normal, sistem perakaran cukup
baik,
terdapat
akar
tunggang
semu
dan
tidak
ada
pembengkakan
kalus
dan
beradaptasi
terhadap
sinar
matahari langsung minimal 1 bulan.
Klon Anjuran
Berdasarkan
Surat
Keputusan
Menteri
Pertanian
Nomor:
260/Kpts/KB.230/04/1988;267/Kpts/KB.230/04/1988;266/Kpt
s/KB.230/04/1988;265/Kpts/KB.230/04/1988;264/Kpts/KB.23
0/04/1988;684/Kpts/IX/1988;684.a/Kpts-IX/1988; 684.b/Kpts-
IX/1988;
684.c/Kpts-IX/1988;
684.d/Kpts-IX/1988
dan
684.e/Kpts-IX/1988 telah dilepas klon unggulan seri Gambung
yaitu : GMB 1 sampai dengan GMB 11.
Klon anjuran seri Gambung dibedakan menjadi:
1) Dataran rendah
: GMB 1, GMB 2, GMB 3, GMB 6, GMB 7,
GMB 9
2) Dataran sedang
: GMB 3, GMB 4, GMB 5, GMB 6, GMB 7,
GMB 8, GMB 9, GMB
10, GMB 11
3) Dataran tinggi
: GMB 1, GMB 2, GMB 3, GMB 4, GMB 5,
GMB 6, GMB 7, GMB 8, GMB 9, GMB 10,
GMB 11
GMB 1 sampai dengan GMB 5, mempunyai potensi hasil 4.000–
5.000 kg/ha teh kering, tahan terhadap penyakit cacar dan per-
tumbuhan awal baik di dataran tinggi, sedangkan GMB 6 sampai
dengan GMB 11 memiliki sifat-sifat hampir sama dengan klon
2014, No.518
GMB 1 sampai GMB 5, hanya potensi hasilnya lebih tinggi, yaitu
ada yang dapat mencapai 5.500 kg/ha.
6. Penanaman
a. Jarak tanam
Jarak tanam yang dianjurkan yaitu sebagai berikut:
Tabel 1. Rekomendasi jarak tanam yang dianjurkan
Kemiringan
Jarak tanam
Jumlah
tanaman/ha
tanah
(cm)
(pohon)
Datar s.d.
15%
120 x 90
9.260
15 – 30%
120 x 75
11.110
30%
120 x 60
13.888
Batas
tertentu*
120 x 60 x
18.500
*Batas tertentu : jarak tanam khusus untuk pemanenan
secara mekanis.
Gambar 6. Penanaman teh sesuai jarak tanam.
1) Jarak tanam antar barisan tanaman minimal 120 cm dan
jarak tanam dalam barisan beragam antara 60–90 cm.
2) Pada lahan miring jarak tanam dilaksanakan dengan pola
kontour
dengan
barisan
tanaman
memotong
arah
kemiringan, jarak tanam antar barisan minimal 120 cm dan
jarak tanam dalam barisan 60 cm.
3) Sebelum penanaman lubang diberi pupuk dasar terdiri dari
11 g Urea + 5 g TSP/SP36 + 5 g KCI .
4) Tanah mempunyai pH tinggi (>6) terlebih dahulu diberi
belerang murni (belerang cirus) sebanyak 10–15 gram atau
50–100 gram belerang lumpur untuk tiap lubang.
5) Pembuatan rorak dengan ukuran 200 cm x 40 cm x 40 cm
setiap dua baris tanaman.
Pusat Penelitian Teh dan Kina
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
6) Untuk perluasan lahan baru, perlu membuat perencanaan
kebun
yang
berkaitan
dengan
cara
pemetikan.
Jika
direncanakan pemetikan menggunakan mesin, sebaiknya
menggunakan jarak tanam double row (120 cm x 60 cm x 60
cm).
7) Untuk
peremajaan
pada
lahan
existing
perlu
memperhatikan keberadaan penyakit jamur akar pada saat
pengolahan lahan. Jika terdapat gejala penyakit jamur akar,
area tersebut harus dibersihkan agar penyakit tersebut
tidak semakin berkembang. Jarak tanam yang digunakan
bisa menggunakan jarak tanam yang disarankan.
8) Untuk area yang akan direhabilitasi, sebaiknya mengganti
bahan tanaman dengan klon unggul.
9) Untuk penanaman baru, harus dimulai dengan penanaman
pohon pelindung sementara.
b. Pengajiran
1) Ajir terbuat dari bambu berukuran panjang 50 cm, tebal
1 cm.
2) Alat
untuk
menentukan
jarak
dan
barisan
tanaman
dibuat dari rantai kawat atau tambang plastik yang biasa
disebut kenca.
3) Pengajiran
dimulai
dari
tempat
yang
tinggi
turun
ke
bawah.
4) Menentukan titik tertinggi dan menancapkan ajir. Dari
titik itu dibuat ajir induk dengan jarak tanam antar
barisan (120 cm) dari atas lereng turun ke bawah.
5) Ajir induk kedua terletak kira-kira 20 m, di sebelah ajir
induk.
6) Sesudah ajir induk kedua ditentukan, maka dibuat ajir
induk ketiga tepat pada garis kontur.
7) Menentukan letak ajir induk menggunakan alat teodolit,
atau cukup mengandalkan pandangan mata biasa dan
kemudian dicek dengan berjalan kaki.
8) Jarak tanam antar barisan (120 cm) pada lahan miring
bukan
jarak
tanam
proyeksi,
tetapi
jarak
yang
sebenarnya.
c. Pembuatan lubang tanam
1) Lubang tanam dibuat 1–2 minggu sebelum penanaman.
2014, No.518
2) Lubang tanam dibuat tepat di tengah-tengah di antara
dua ajir.
3) Untuk benih asal biji ukuran lubang tanam yaitu 30 cm x
30 cm x 40 cm.
4) Untuk benih asal setek ukuran lubang tanam yaitu 20 cm
x 20 cm x 40 cm.
d. Penanaman benih
d.1. Cara penanaman benih asal stump
1) Benih berupa stump telah berumur 2 tahun dengan
panjang akar 30 cm dan tinggi batang 60 cm.
2) Benih stump dimasukkan di tengah-tengah lubang
dengan
leher
akar
tepat
pada
permukaan
tanah,
lubang ditimbun tanah kemudian dipadatkan dengan
cara diinjak.
3) Menanam stump harus tegak tidak boleh miring.
4) Tanah
sekitar
lubang
tanam
kemudian
diratakan
agar bekas penanaman tidak nampak cekung atau
cembung.
5) Benih asal stump, digunakan terutama untuk infilling
atau pemadatan populasi.
d.2. Cara
penanaman
benih
asal
setek
dalam
polibeg
(bekong)
1) Menyobek Polibeg bagian bawah, kemudian bagian
samping juga disobek dari atas ke bawah sampai
bertemu dengan sobekan pada bagian bawah. Ujung
polibeg bagian bawah yang telah sobek tadi ditarik ke
atas sehingga bagian bawah polibeg terbuka.
2) Benih dipegang dengan tangan kiri, disangga dengan
belahan
bambu,
kemudian
dimasukkan
ke
dalam
lubang, sementara tangan kanan menimbun lubang
dengan tanah yang berada di sekitar lubang dengan
menggunakan kored.
3) Setelah tanah penuh menutup bagian akar benih,
belahan bambu dan polibeg ditarik dengan hati-hati
keluar dari lubang tanam.
4) Plastik
disimpan
pada
ujung
ajir
yang
berada
di
sebelahnya,
kemudian
tanah
di
sekitar
benih
dipadatkan dengan tangan dan
tidak dipadatkan
dengan cara diinjak.
2014, No.518
5) Selesai menanam, tanah disekitar lubang diratakan
agar tidak nampak cekung atau cembung.
7. Pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
Pembentukan bidang petik
Pemeliharaan TBM dilakukan pada tanaman umur 0–36 bulan.
Tujuan pembentukan bidang petik agar diperoleh bidang petik
semaksimal
mungkin
dengan
cabang
yang
banyak
untuk
mendapatkan produksi pucuk sebanyak-banyaknya.
1. Cara Pemangkasan
Cara pemangkasan dilakukan pada tanaman yang berasal dari
stump. Benih yang akan ditanam (berumur ± 2 tahun), satu
bulan sebelumnya dipangkas setinggi 10–15 cm (pangkasan
indung). Setelah berumur 1–1,5 tahun di lapangan, tanaman
dipangkas setinggi 30 cm (pangkasan bentuk I). Pada waktu
tanaman berumur 2,5 tahun tanaman kembali dipangkas
selektif bagi dahan setinggi 45 cm (pangkas bentuk II). Tiga
sampai empat bulan kemudian dilakukan jendangan (tipping)
setinggi 60–65 cm dari pemukaan tanah atau 15–20 cm dari
bidang pangkasan.
2. Cara Pemenggalan (Centering)
Cara pemenggalan (centering) mudah dikerjakan dibandingkan
dengan cara perundukan (bending) dan memerlukan tenaga
kerja
lebih
sedikit.
Waktu
untuk
melakukannya
dapat
beberapa bulan setelah penanaman dimana mulai terlihat
pertumbuhan.
Keterlambatan
melakukan
centering
akan
memperlambat pembentukan bidang petik (frame). Ketinggian
centering ditentukan oleh sifat percabangan dari tanaman teh.
Makin tinggi centering, makin besar pertambahan diameter
batang. Selain itu, makin tinggi centering makin muda bagian
yang dipangkas. Pertumbuhan pada bagian muda akan lebih
cepat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bagian tua.
Centering dilakukan pada tanaman yang baru berumur satu
tahun di lapangan. Oleh sebab itu pertumbuhan tunas sangat
cepat. Karena pertumbuhan tunas pada bagian atas cepat
tumbuh, tunas-tunas ini secara cepat memproduksi makanan.
Dengan adanya makanan yang cukup berarti pertumbuhan
akan
lebih
kuat
baik
pertumbuhan
ke
atas
maupun
ke
samping. Sedangkan tunas-tunas yang tumbuh dari bagian
yang agak bawah akan dipaksa agak ke samping. Dengan
demikian pembentukan bidang petik (frame) akan lebih cepat.
Pelaksanaan centering yaitu sebagai berikut:
2014, No.518
1) Setelah benih ditanam di lapang dan telah menunjukkan
pertumbuhan yaitu kira-kira berumur 4–6 bulan, batang
utama
di-centering
setinggi
15–20
cm
dengan
meninggalkan
minimal
lembar
daun.
Apabila
pada
ketinggian
tersebut
tidak
ada
daun
maka
centering
dilakukan lebih tinggi lagi.
2) Kemudian setelah cabang baru tumbuh setinggi 50–60 cm
yaitu kira-kira 6–9 bulan setelah centering dan terdapat
cabang yang tumbuh kuat ke atas, maka perlu dipotong
(decentering)
pada
ketinggian
cm
untuk
memacu
pertumbuhan ke samping/melebar.
3) Tiga sampai enam bulan kemudian, jika percabangan baru
telah tumbuh mencapai ketinggian 60–70 cm, dilakukan
pemangkasan
selektif/bagi
cabang
(selective
cut
cross)
setinggi 45 cm. Tunas-tunas yang tumbuh setelah selective
cut cross dibiarkan selama 3–6 bulan, kemudian dijendang
(tipping) pada ketinggian 60–65 cm atau 15–20 cm dari
bidang pangkas.
Keuntungan
cara
centering
yaitu
perlakuannya
mudah
dilakukan dan biaya lebih murah. Sedangkan kerugiannya
tanaman lama dapat menutup tanah, biaya pemeliharaan
(penyiangan)
tinggi
dan
perakaran
tanaman
mengalami
gangguan. Selain itu terjadi kehilangan sebagian cadangan
makanan
berupa
karbohidrat
(pati)
pada
batang
yang
dipangkas
sehingga
energi
yang
dibutuhkan
pada
awal
pertumbuhan menjadi berkurang. Selain itu terjadi kematian
pada cabang-cabang lateral paling bawah setelah tanaman
berproduksi.
Makin tinggi centering, makin besar pertambahan diameter
frame. Selain itu makin tinggi centering, maka makin muda
bagian
batang/cabang
yang
dipangkas.
Ini
menyebabkan
pertumbuhan tunas akan lebih cepat dibandingkan bagian
yang lebih tua. Centering dilakukan ketika tanaman baru
berumur satu tahun, maka untuk bertunas pada bagian
bawah juga masih banyak. Tunas bagian atas juga cepat
tumbuh,
sehingga
tunas-tunas
ini
akan
cepat
dapat
memproduksi makanan. Dengan adanya bahan makanan yang
cukup,
berarti
akan
lebih
kuat
pertumbuhannya,
baik
pertumbuhan ke atas maupun ke samping.
2014, No.518
(a)
(b)
Gambar 7.
(a)
Tanaman
teh
yang
sudah
dipenggal/pemotongan cabang utama. (b) Cabang utama
dipotong, tinggi tanaman sekitar 25–30 cm.
Tunas-tunas
yang
tumbuh
kemudian
dari
bagian
batang/cabang lebih bawah akan dipaksa untuk tumbuh agak
ke samping dengan telah banyaknya tunas yang tumbuh pada
bagian atas. Hal ini masih dimungkinkan karena cabangnya
masih muda. Dengan lebih cepatnya terbentuk tunas, maka
lebih
banyak
zat
makanan
yang
diproduksi
akibatnya
pertumbuhan lebih kuat. Oleh sebab itu makin tinggi centering
akan menghasilkan pertambahan diameter frame yang lebih
besar. Pertambahan diameter frame lebih banyak ditentukan
oleh cabang sekunder maupun tertier. Cabang ini yang sudah
besar berasal dari bagian bawah, bukan yang tumbuh pada
ujung atau bagian atas cabang primer.
3. Cara Perundukan (Bending)
Bending yaitu satu cara pembentukan bidang petik dengan
melengkungkan batang utama dan cabang-cabang sekunder
tanpa
mengurangi
bagian-bagian
tanaman.
Dengan
cara
melengkungkan batang dan cabang tersebut menyebabkan
terakumulasinya bahan makanan (karbohidrat) ke bagian atas
batang/cabang tadi sehingga akan merangsang pertumbuhan
tunas pada bagian-bagian tersebut. Jika pelaksanaan bending
tidak dikerjakan dengan cermat dapat menyebabkan tanaman
menjadi rusak.
Pelaksanaan bending yaitu sebagai berikut:
1) Setelah benih dipindahkan ke lapangan dan menunjukkan
pertumbuhan (4–6 bulan), batang utama dilengkungkan
(dirundukkan)
dengan
membentuk
sudut
45º
dengan
permukaan
tanah,
dan
pucuk
peko
dipotong.
Untuk
melengkungkan batang/cabang dipergunakan tali bambu,
cagak kayu dan lain-lain.
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
Gambar 8. Cara bending pada tanaman teh.
2) Kira-kira 6 bulan setelah bending I, tunas-tunas sekunder
telah mencapai panjang 40–50 cm dan dilakukan bending
II dengan arah menyebar ke segala arah. Pada umumnya
tunas
sekunder
mempunyai
kecepatan
tumbuh
yang
berbeda-beda sehingga bending dilakukan 2–3 kali sampai
cabang menutup ke segala arah.
3) Cabang yang tumbuh kuat ke atas setelah bending II
dipotong setinggi 30 cm.
4) Tunas-tunas yang tumbuh setelah bending II (kecuali yang
tumbuh
kuat
ke
atas)
dibiarkan
sampai
mencapai
ketinggian
60–70
cm
(6–9
bulan
setelah
bending
II),
kemudian di cut cross/dipangkas setinggi 45 cm.
5) Dua sampai tiga bulan setelah cut-cross pucuk-pucuk yang
tumbuh mulai dijendang (tipping) pada ketinggian 60–65
cm atau 15–20 cm dari bidang pangkas.
Keuntungan dan kerugian cara bending yaitu sebagai berikut:
Keuntungan:
a) Bentuk rangka perdu (frame) sudah diatur lebih awal,
sehingga pertumbuhan tajuk akan penuh dan melebar.
b) Bentuk frame lebih rata dan rendah serta batang lebih
kuat.
c)
Cepat menutup tanah, sehingga biaya penyiangan gulma
dapat ditekan.
d) Tidak ada pembuangan bagian tanaman, berarti tidak ada
pembuangan energi, sehingga pertumbuhan tetap terjamin
baik. Tidak ada gangguan pertumbuhan.
e)
Produksi
pada
periode
awal
akan
lebih
tinggi
bila
dibandingkan dengan cara centering.
f)
Semua
cabang
primer
yang
terbentuk
sejak
awal
pertumbuhan dapat hidup terus dan semakin kuat.
Kerugian:
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
a) Memerlukan biaya dan tenaga yang lebih besar.
b) Pemeliharaan (penyiangan) pada tahun pertama agak sulit.
c)
Hanya baik untuk dataran tinggi/sedang, kurang baik
untuk dataran rendah (dapat terserang sengatan matahari
atau sun scorsh).
d) Memerlukan keterampilan khusus dan pengawasan yang
lebih ketat.
e)
Keseimbangan kadar air mudah terganggu akibat tingginya
shoot-root ratio, tertama pada musim kemarau di daerah
rendah.
4. Cara Kombinasi Centering-Bending
Cara kombinasi centering-bending yaitu suatu pembentukan
bidang petik yang diawali dengan centering batang utama dan
dilanjutkan dengan bending. Maksud dari centering-bending
yaitu mengkombinasikan kedua keuntungan cara centering-
bending serta mengurangi kerugian yang ditimbulkan dari
kedua cara tersebut. Cara ini dapat pula dilakukan terhadap
tanaman asal biji yang ditanam berupa stump. Pelaksanaan
centering-bending yaitu sebagai berikut:
1) Seperti pada cara centering, pemotongan batang utama
dilakukan
apabila
tanaman
sudah
menunjukkan
pertumbuhan 4–6 bulan setelah tanam pada ketinggian
15–20 cm dari permukaan tanah dengan meninggalkan
minimal 5 lembar daun.
2) Tunas-tunas
sekunder
yang
tumbuh
setelah
centering
dibiarkan sampai mencapai 40–50 cm (6–9 bulan setelah
centering), kemudian dilakukan perundukan (bending) ke
segala arah dengan seimbang.
3) 6–9 bulan setelah bending tunas-tunas baru telah tumbuh
mencapai 60–70 cm, saat yang tepat untuk melakukan cut-
cross setinggi 45 cm. Jendangan (tipping) setinggi 60–65 cm
dilakukan 2–3 bulan setelah cut-cross.
2014, No.518
Gambar 9. Cara kombinasi centering–bending pada
tanaman teh.
Keuntungan cara kombinasi centering-bending yaitu pekerjaan
mudah
dilakukan,
frame
telah
terbentuk
sejak
awal
dan
tingkat kesalahan bending lebih kecil. Kerugiannya sebagian
dari tanaman terbuang pada saat centering, sehingga energi
pertumbuhan berkurang; terjadi gangguan pada perakaran;
pada tahap awal tanaman agak sulit dalam penyiangan serta
tidak dapat menutup tanah secepat cara bending.
Di dataran rendah (<800 m dpl), perlakuan bidang petik yang
tepat yaitu dengan di-centering untuk menghindari cabang-
cabang setelah dipangkas terkena sengatan matahari (sun-
scorch). Akibat sun-scorch jaringan cabang jadi mati akibat
terbakar
sinar
matahari.
Dengan
cara
di-bending
jumlah
cabang
yang
dekat
permukaan
tanah
lebih
banyak
dan
mempunyai frame yang paling luas dibandingkan dengan cara
di-centering. Ini membuktikan bahwa dengan cara di-bending
tanaman
dapat
dipetik
lebih
cepat
dibandingkan
dengan
tanaman yang di-centering atau kombinasi centering-bending
(Tabel 2).
Tabel
2.
Pengaruh
berbagai
perlakuan
terhadap
jumlah
cabang dan luas bidang petik pada tanaman the
Perlakuan
Jumlah cabang per
perdu pada
ketinggian (cm)
Luas bidang
petik
(frame)(cm²)
Centering
Bending
Kombinasi
3.69
5.99
4.32
9.49
14.82
14.32
15.42
26.81
28.74
2.666
3.771
3.597
Pada Tabel 3 terlihat pengaruh perlakuan terhadap lebarnya
diameter frame (bidang petikan).
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
Tabel 3. Pengaruh cara pembentukan perdu terhadap
lebarnya bidang petikan (cm)
Perlakuan
Umur (bulan)
Bending
Tipping
Centering
Kombinasi centering dan
tipping
107.76
110.07
106.46
113.98
130.01
126.26
132.46
122.31
Pembentukan bidang petik dapat dibentuk dengan cara:
a. Centering atau pemenggalan
Centering dilakukan dengan pemotongan batang utama
setinggi
lima
lapis
daun
atau
sekitar
cm
dari
permukaan tanah. Centering dilakukan sebanyak 3-4 kali
untuk mendapatan bidang petik yang diinginkan.
b. Bending atau perundukan
Cara bending dilakukan dengan merundukkan batang ke
tanah dan menjepitnya dengan bambu. Cara ini untuk
merangsang pembentukan cabang-cabang baru.
c. Kombinasi centering dan bending
Gambar 10. Pembentukan bidang petik pada tanaman teh muda.
Pusat Penelitian Teh dan
2014, No.518
8.
Pemupukan
Pada dasarnya dosis pemupukan diberikan berdasarkan hasil
analisa tanah dan daun dan secara simultan dirangkum dalam
tabel sebagai berikut:
a.
Dosis
pemupukan
dalam
kg/ha/thn
untuk
Tanaman
Belum
Menghasilkan
(TBM)*
aplikasi
5–6
kali
dalam
setahun dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Dosis pemupukan dalam kg/ha/thn untuk TBM*
aplikasi 5 kali dalam setahun
Kadar
bahan
organik
topsoil
Umur
sejak
ditanam
Andisol / Regosol
Latosol / Podzolik
N
P2O5
K2O
MgO)
N
P2O5
K2O
MgO)
< 5%
Tahun 1
-
-
Tahun 2
Tahun 3
5-8%
Tahun 1
-
-
Tahun 2
Tahun 3
8%
Tahun 1
-
-
Tahun 2
Tahun 3
Ket:
*) Aplikasi 5 - 6 kali dalam setahun.
**) Apabila ada gejala kahat Mg.
b. Dosis
pemupukan
untuk
Tanaman
Menghasilkan
(TM)
dengan
target
produksi
minimal
2.000
kg
teh
kering/ha/tahun dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Dosis
pemupukan
untuk
tm
dengan
target
produksi minimal 2.000 kg teh kering/ha/tahun
Jenis
pupuk
Hara
Dosis
optimal
Aplikasi
setahun
Urea, Za
N
250–350
3–4 kali
TSP, PARP
P2O5
60–120*
1–2 kali
15–40**
1–2 kali
MOP, ZK
K2O
60–180
2–3 kali
Kieserit
MgO
30–75
2–3 kali
Seng
Sulfat
ZnO
5–10
7–10 kali
Keterangan :
*) Untuk tanah Andisol/Regosol.
**) Untuk tanah Latosol/Podzolik.
2014, No.518
c. Cara pemupukan
1) Benamkan pupuk pada daerah perakaran yang aktif
dengan
jarak
30–40
cm
dari
perdu
teh
dengan
kedalaman tanah 10–15 cm.
2) Cara pemberian pupuk dapat dengan rorak pada tanah
yang miring, garitan (alur) keliling pada Tanaman Belum
Menghasilkan (TBM) atau dapat juga dengan penaburan
pada tanah yang datar sampai landai.
Pemupukan yang efektif dan efisien disamping dosis pupuk
yang
tepat
juga
harus
disertai
dengan
pelaksanaan
pemupukan yang mengacu kepada jenis pupuk, tepat waktu
dan tepat cara pemupukan.
d. Jenis dan pencampuran pupuk
d.1. Pupuk campuran
1) Pupuk
campuran
dengan
imbangan
NPK
tertentu
yang sudah tetap, berbentuk butiran, biasa disebut
pupuk majemuk NPK.
2) Pupuk campuran dari bahan baku pupuk tunggal
dengan imbangi NPK Mg-S mikro. Pupuk ini disebut
pupuk majemuk fleksibel formula dari proses bulk
blending compaction. Pupuk ini dicampur merata dan
dipadatkan menjadi bentuk tablet.
3) Pupuk campuran yang berasal dari pupuk tunggal
yang dilakukan oleh pekebun sendiri di lapangan.
Banyaknya pupuk disesuaikan dengan rekomendasi
pemupukan untuk suatu areal.
d.2. Pupuk tunggal
Jenis
pupuk
tunggal
yang
ada
di
pasaran
dan
kandungan
unsur
hara
diantaranya
yaitu
sebagai
berikut:
2014, No.518
Tabel 4. Jenis pupuk tunggal
No
Jenis Pupuk
Persentase
(%)
Urea, dengan kandungan N
46%
ZA, dengan kandungan N
21%
SP-36 dengan kandungan
P205
36%
Fosfat alam, dengan
kandungan P205
20 - 30%
MOP/KCI, dengan
kandungan K20
60%
ZK, dengan kandungan K20
50%
Seng suffat, dengan
kandungan Zn
22 %
Kiserit, dengan kandungan
MgO
27%
9. Pemangkasan
Pemangkasan
dapat
dilakukan
secara
manual
ataupun
mekanis. Tetapi pangkasan mekanis menggunakan alat tetap
harus diikuti dengan pangkasan manual untuk membuang
bagian-bagian yang kecil (< ukuran pensil).
Pedoman umum pangkasan yaitu sebagai berikut:
1) Pangkasan
pada
dataran
rendah
(400–800
dpl):
tinggi
pangkasan 60–70 cm (cut cross/kepris) dengan membiarkan
daun-daun dan ranting atau pangkasan jambul tinggi 50–60
cm.
2) Pangkasan
pada
dataran
sedang
(800–1.200
dpl):
tinggi
pangkasan 50–60 cm dengan membersihkan cabang-cabang
kecil dan daun-daun serta membiarkan 1–2 cabang berdaun.
3) Pangkasan pada dataran tinggi (>1.200 dpl): tinggi pangkasan
50–60 cm dengan membersihkan cabang-cabang kecil dan
daun
(pangkasan
bersih),
serta
membiarkan
1–2
cabang
berdaun (pangkasan jambul) terutama pada tanaman muda
yang berumur kurang dari 10 tahun.
Pada umumnya tinggi pangkasan bagi kebun produktif berkisar
antara 40–70 cm. Tinggi pangkasan yang lebih rendah dari 40 cm
akan menyebabkan percabangan yang terbentuk menjadi terlalu
rendah sehingga akan menyulitkan pemetik dalam melaksanakan
pemetikan.
Sebaliknya
jika
lebih
tinggi
dari
cm
akan
menyulitkan dalam pelaksanaan.
2014, No.518
Berbagai
jenis
pangkasan
hubungannya
dengan
ketinggian
pangkasan seperti yang terlihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Hubungan ketinggian pangkasan dengan jenis
pangkasan.
10. Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)
Sebelum
dilakukan
pengendalian,
sebaiknya
dilakukan
monitoring
untuk
mendeteksi
jenis
OPT
yang
menyerang,
tingkat
serangan,
tingkat
kerusakan
tanaman
dan
cara
pengendalian.
OPT utama pada tanaman teh:
1. Hama
a.
Empoasca/Wereng Hijau (Empoasca flavescens)
Serangga ini menyerang pucuk teh, dengan menusuk
dan menghisap cairannya. Jika pucuk sudah habis,
serangan
dapat
berlanjut
ke
daun
muda
dan
tua.
Gejala serangan berupa perubahan warna tulang daun
teh menjadi merah coklat. Pada daun, timbul noda-
noda berwarna kemerahan seperti terbakar (leaf burn),
kemudian
menguning.
Pertumbuhan
daun
menjadi
terhambat dan pucuk daun teh tumbuh tidak normal.
Serangan
dapat
menyebabkan
tanaman
jadi
gundul
dengan produksi sangat menurun.
Daur Hidup
Telur diletakkan satu demi satu, diselipkan pada tulang
daun teh. Telur sangat kecil dan berwarna putih serta
tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Setelah 4–7
hari
telur menetas jadi nimfa. Nimfa berwarna putih
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
kekuning-kuningan berganti kulit 4 kali dalam 7–12
hari.
Hidup pada
permukaan
bawah
daun,
sesekali
naik ke atas permukaan daun, dengan menusuk dan
menghisap cairan terutama dari tulang daun muda.
Ciri
khas
serangga
ini
yaitu
jalannya
menyamping,
sesekali saja naik ke atas daun.
Dewasa
berwarna
hijau
muda
kekuning-kuningan,
dapat
terbang
kemana-mana,
apalagi
bila
bertiup
angin.
Lama
daur
hidup
dari
telur
sampai
dewasa
berkisar 14–18 hari.
Pengendalian
-
Bisa dilakukan menggunakan musuh alami predator
(Coccinella sp. dan Chrysopa sp.)
-
Mengelola tanaman pelindung selama musim panas.
(a)
(b)
(c)
Gambar 12. (a) Empoasca pada permukaan bawah daun. (b)
dan (c) Daun berkerut dengan pinggir terbakar.
b. Helopeltis (Helopeltis antonii)
Kepik pengisap daun atau Helopeltis menyerang pucuk
daun muda. Kepik ini menusuk dan mengisap daun teh
sehingga
membentuk
bercak-bercak
hitam.
Musuh
alami Helopeltis ini banyak. Nimfa-nya dimangsa oleh
laba-laba lompat, belalang sembah dan predator lain.
Dewasa yang terbang ditangkap oleh capung dan laba-
laba pembuat jaring.
Daur Hidup
Jangka
waktu
dari
telur
sampai
dewasa
yaitu
3–5
minggu. Dewasa bisa hidup sampai 2 minggu. Telur
panjangnya 1,5 mm diletakkan masuk ke tulang daun
teh atau cabang pucuknya sehingga tersembunyi dari
serangan predator. Telur juga dimasukkan ke dalam
ujung
cabang
hijau
yang
baru
dipangkas.
Jumlah
telurnya kira-kira 80 per betina. Nimfa-nya berwarna
orange
kemerah-merahan.
Dewasa
berwarna
hitam
putih menjadi hitam merah untuk Helopeltis antonii
Pusat Penelitian Teh
2014, No.518
atau hitam hijau untuk Helopeltis hiheivora. Dewasa
Helopeltis mempunyai tiang kecil seperti jarum yang
menonjol dari tengah punggungnya (thorax).
Pengendalian:
1) Pengendalian
secara
kultur
teknik
dengan
cara
melakukan
pemetikan dengan
daur
petik kurang
dari 7 hari; pemupukan berimbang, dengan unsur N
yang
tidak
terlalu
banyak;
pemangkasan
diatur
tidak bertepatan waktu berkembangnya hama dan
pengendalian gulma khususnya gulma yang menjadi
inang Helopeltis (gulma yang berdaun lebar).
2) Pengendalian
secara
mekanis
dengan
cara
pemetikan
daun
teh
yang
terdapat
telur
hama
Helopeltis antonii (ditemukan pada internodus).
3) Pengendalian secara hayati dengan menggunakan
beberapa musuh alami antara lain Hierodula dan
Tenodera.
4) Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan
insektisida yang diizinkan untuk dipakai di kebun
teh.
(a)
(b)
(c)
Gambar 13. (a) Nimfa Helopeltis di daun teh. (b) Gejala
serangan
nimfa
Helopeltis.
(c)
Tanaman
teh
yang
terserang Helopeltis.
c. Tungau Jingga (Brevipalpus phoenicis)
Tungau jingga sangat merusak tanaman teh, terutama teh
pada
dataran
tinggi.
Serangga
ini
menyerang
daun
biasa/bukan tunas petik, menyebabkan kematian urat
daun dan pangkal daun.
Daun yang terserang berat
berubah warna menjadi kemerahan, lalu mengering dan
gugur.
Tungau betina panjang 0,30 mm berwarna merah tua.
Satu generasi memerlukan waktu 6 minggu. Iklim kering
menunjang
peningkatan
populasi,
hujan
menurunkan
populasi tungau.
Pro
yek
PH
T-
PR
Dit
jen
bu
n
Pusat Penelitian Teh dan Kina
Ditli b
Ditj
b
Ditli b
Ditj
b
2014, No.518
Pengendalian:
1) Pengendalian
secara
mekanis
dengan
cara
pemangkasan
ringan
atau
berat
perdu
teh
yang
diserang; pengendalian gulma yang merupakan inang
dari tungau; dan pemupukan yang berimbang dengan
tidak memberikan unsur nitrogen lebih banyak.
2) Pengendalian secara hayati dengan menggunakan
predator seperti Amblyseius.
3) Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan
beberapa
insektisida
yang
diizinkan
secara
bijaksana.
Gambar
14.
Tanaman
teh
yang
terserang
hama
tungau.
d. Ulat
Jengkal
(Hyposidra
talaca,
Ectropis
bhurmitra,
Biston suppressaria)
Ulat jengkal menyerang daun, pupus daun, dan pentil
teh. Serangan berat menyebabkan daun berlubang dan
pucuk tanaman gundul sehingga tinggal tulang daun
saja.
Ketiga
jenis
ulat
jengkal
tersebut
dapat
makan
bermacam
tanaman
lain
selain teh.
Ulat Hyposidra
talaca dapat menyerang tanaman kopi, kakao, kina,
Aleurites,
jambu
klutuk,
rami
dan
beberapa
jenis
kacang-kacangan. Ectropis bhurmitra bisa menyerang
pohon
kina,
gambir,
kakao,
jeruk,
pisang,
kacang
tanah,
singkong
dan
Sambucus.
Ulat
Biston
suppressaria
dapat
menyerang
tanaman
mangga,
Aleurites, Eucalytus, Litchi dan jambu biji. Jenis-jenis
tanaman yang merupakan tanaman inang untuk ulat
jengkal
ini
sebaiknya
tidak
ditanam
di
kebun
teh
karena
keberadaannya
akan
membantu
hama
ini
berkembangbiak.
Pengendalian:
1) Pengendalian
secara
kultur
teknis
dengan
cara
membersihkan
serasah
di
bawah
perdu
teh
dan
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
gulma; melakukan pemupukan yang berimbang (N,
P, K, Mg).
2) Pengendalian
secara
mekanis
dengan
cara
mengambil kepompong di bawah perdu kemudian
dimusnahkan.
3) Pengendalian
secara
kimiawi
dengan
cara
penyemprotan dengan insektisida.
4) Pengendalian secara hayati merupakan cara yang
amat penting dan akan berjalan sendiri jika musuh
alami
tersedia
dan
dilestarikan
(menggunakan
parasitoid (Apanteles sp.,Charops obtusus, Telenomus
periparitus) dan menggunakan jamur patogen seperti
Fusarium sp. dan Paecilomyces fumosa.)
(a)
(b)
Gambar 15.
(a)
Ulat
jengkal
di
daun
teh.
(b)
Tanaman teh yang diserang ulat jengkal.
e. Ulat Penggulung Daun (Homona coffearia)
Ulat
penggulung
daun
membuat
tempat
berlindung
untuk
diri
sendiri
dari
daun
teh,
caranya
dengan
menyambungkan dua (atau lebih) daun bersama-sama
dengan sutra, atau dengan menggulung satu daun lalu
menyambungkan
pinggirnya.
Daun
yang
terserang
tidak dapat dipetik sebagai hasil panen teh.
Daur Hidup
Ngengat Homona mengeluarkan telur yang berbentuk
datar. Telur tersebut tersusun dalam kelompok yang
berbaris-baris di atas permukaan daun teh. Larva yang
menetas akan mulai memakan daun teh muda sehingga
mengurangi
hasil
panen.
Larva
membuat
semacam
sarang dengan menyambungkan daun, lama kelamaan
sarang
tersebut
menjadi
campuran
potongan
daun,
Pro
yek
PH
T-
PR
Dit
jen
bu
n
Pusat Penelitian Teh dan Kina
Ditli b
Ditj
b
2014, No.518
sutra dan kotoran ulat. Beberapa sarang dibuat oleh
satu ulat selama dia berkembang.
Setelah larva tumbuh hingga panjangnya 18–26 mm,
akan menjadi kepompong dalam sarang terakhir yang
dibuatnya kemudian keluar sebagai ngengat dewasa.
Ngengat
aktif
hanya
malam
hari.
Betina
dapat
mengeluarkan beratus-ratus telur.
Pengendalian:
1) Pengendalian secara mekanis dengan melakukan
pemetikan daun yang terserang dan mengambil
telur yang ada pada daun teh.
2) Pengendalian secara hayati dengan menggunakan
musuh alami antara lain Macrocentrus homonae,
Elasmus homonae, jamur penyebab Wilt disease dan
bakteria.
3) Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan
insektisida yang diizinkan untuk mengendalikan
hama ulat penggulung daun.
f.
Ulat Penggulung Pucuk (Cydia leucostoma)
Ulat penggulung pucuk menyerang bagian tanaman teh
yang
akan
dipanen.
Ulat
menggulung
daun
pucuk
dengan memakai benang-benang halus untuk mengikat
daun
pucuk
sehingga
tetap
tergulung.
Cara
ulat
menggulung daun cukup khas.
Gambar 16. (a) Pucuk daun teh yang terserang Cydia
Leucostoma. b) Pucuk daun teh sehat.
Daur Hidup
Ngengat betina bertelur dengan meletakkan satu atau
dua telur per daun teh, biasanya pada daun yang tua di
bagian atas tanaman teh. Setelah larva (ulat) menetas,
dia berjalan ke pucuk dan masuk kedalamnya. Setelah
Proyek PHT-PR
Ditjenbun
Ditlinbun
Ditjenbun
2014, No.518
masuk,
dia
mulai
makan.
Ulat
yang
baru
menetas
hanya
bisa
hidup
lama
di
dalam
pucuk.
Biasanya
terdapat hanya satu ulat per pucuk.
Ulat secara bertahap membuat semacam sarang dan
makan
dari
dalamnya.
Dua
hari
sebelum
menjadi
kepompong, ulat berhenti makan dan mulai melipat
daun dipinggirnya. Dalam lipatan daun, ulat membuat
kokon (kepompong) putih.
Pengendalian:
1) Pengendalian
secara
mekanis
dengan
cara
melakukan
pemetikan
pucuk
daun
teh
yang
terserang dan pengambilan kelompok telur.
2) Pengendalian secara hayati dengan menggunakan
beberapa musuh alami seperti Apanteles.
3) Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan
beberapa insektisida yang diizinkan .
2. Penyakit
a. Penyakit Cacar Daun /Blister blight (Exobasidium vexans)
Umumnya serangan penyakit cacar daun teh terjadi pada
peko (pucuk daun pertama, kedua dan ketiga). Gejala awal
terlihat bintik-bintik kecil tembus cahaya, kemudian bercak
melebar dengan pusat tidak berwarna dibatasi oleh cincin
berwarna hijau, lebih hijau dari sekelilingnya dan menonjol
ke bawah (Gambar a). Bercak berubah warna menjadi putih
yang mengandung spora (Gambar b). Gejala lanjut, pusat
bercak berwarna coklat tua, mati dan daun berlubang
(Gambar
c).
Selain
menyerang
daun,
penyakit
ini
juga
menyerang jaringan muda/tunas dan cabang.
(a)
(b)
(c)
Gambar 17. Gejala serangan penyakit cacar daun teh.
Penyakit
tersebar
melalui
spora
yang
terbawa
angin,
serangga
atau
manusia.
Perkembangan
penyakit
dipengaruhi oleh kelembaban udara yang tinggi, angin,
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
ketinggian lokasi kebun dan sifat tanaman. Banyaknya
bulu
daun
pada
peko
dapat
mempertinggi
ketahanan
terhadap penyakit cacar. Kedatangan cacar daun dapat
diramalkan apabila dalam 7–10 hari berturut-turut turun
hujan.
Pengendalian
Pengendalian secara kultur teknik
1) Memangkas
yang
sejajar
dengan
permukaan
tanah
dahan
atau
ranting
pohon
pelindung
yang
terlalu
rimbun dilakukan menjelang musim kemarau.
2) Pemetikan dengan daur petik yang pendek kurang dari
9 hari.
3) Penanaman
klon
teh
yang
tahan
terhadap
cacar
antara lain : PS 1, RB 1, GMB 1, GMB 2, GMB 3, GMB
4 dan GMB 5.
Pengendalian secara kimiawi/pestisida
1) Penyemprotan
fungisida
sistemik
seperti
Tridemorf,
Bitertanol dan Benomyl diberikan dengan dosis 750
cc/ha Tridemorf setiap dua kali pemetikan.
2) Penyemprotan fungisida tembaga dengan motor pompa
(mist blower) sehari setelah pemetikan, dosis 125 gram
bahan aktif atau 250 gram fungisida dalam bentuk
formulasi.
3) Giliran penyemprotan kurang lebih 1 minggu atau
disesuaikan dengan giliran petik.
b.Penyakit
Busuk
Daun
(Cylindrocladium
scoparium
dan
Glomerella cingulata)
Penyakit busuk daun ini tanaman teh di persemaian,
dapat
mengakibatkan
matinya
setek
teh.
Pada
bibit
terserang,
timbul
bercak-bercak
coklat
pada
daun
induknya, dimulai dari bagian ujung atau dari ketiak
daun. Pada serangga lanjut, daun induk terlepas dari
tangkai,
akhirnya
setek
mengering/mati.
Serangan
dimulai dari ujung tunas, kemudian meluas ke bawah
akhirnya seluruh tunas mengering.
Pencegahan
penyakit
dilakukan
dengan
mengatur
kelembaban di persemaian dan membuat parit penyalur
air drainase untuk mencegah penggenangan.
Pengendalian
2014, No.518
1)
Setek yang akan ditanam dicelupkan ke dalam larutan
fungisida Mancozeb dengan konsentrasi 0,2% formula-
si.
2)
Gunakan
fungisida
Benomyl
dengan
konsentrasi
0,2% disemprotkan
ke
dalam
tanah persemaian
setelah setek ditanam.
c.
Penyakit
Mati
Ujung
pada
Bidang
Petik/Die-Back
(Pestalotia thea)
Faktor pendukung peningkatan serangan penyakit ini yaitu:
1) Pemetikan yang terlalu berat.
2) Keadaan tanah yang kekurangan N dan K.
3) Cuaca kering dan angin yang berembus kencang.
Gejala Serangan
1) Gejala awal serangan pada ranting dan daun pucuk
berupa bercak coklat.
2) Bercak membesar dengan pusat bercak berwarna abu-
abu
dan
bintik
hitam
sebesar
jarum
pentul
yang
merupakan kumpulan spora.
3) Serangan
lanjut
menyebabkan
pucuk/ranting
yang
terserang mengalami kekeringan.
Pengendalian
1) Melakukan pemupukan tepat waktu dan pemetikan
pucuk dempok.
2) Sanitasi kebun.
3) Penyemprotan dengan fungisida tembaga dengan dosis
125 gram / hektar.
d.Penyakit Akar (Penyakit Akar Merah Anggur/Ganoderma
pseudoferreum,
Penyakit
Akar
Merah
Bata/Poria
hypolateritia, Penyakit Akar Hitam (Rosellinia bunodes/R.
arcuata), Penyakit Kanker Belah (Armillaria mellea), Penyakit
Leher Akar (Ustulina deusta)
Di atas tanah, gejala serangan untuk semua jenis jamur
sama, yaitu:
1) Tanaman tiba-tiba layu dan mengering, tetapi daun tidak
gugur.
2014, No.518
2) Daun berubah warna menjadi merah tembaga, tetap
melekat pada ranting dan cabang, beberapa hari
kemudian gugur.
Gejala
serangan
di
bawah
tanah
berbeda
antar
jamur
patogen. Jenis jamur patogen akan terlihat dari warna
benang jamur yang menyerang. Penularan penyakit melalui
kontak akar sakit dengan akar sehat atau melalui benang
jamur yang menjalar bebas di dalam tanah atau pada
sampah-sampah di atas permukaan tanah.
Gambar 18. Gejala serangan penyakit akar pada tanaman
teh.
Pengendalian
1) Membongkar dan membakar tanaman-tanaman yang
telah diserang penyakit, termasuk pohon pelindung
yang terserang, sampai ke akar-akarnya.
2) Menggali selokan sedalam 6-100 cm dan diberi serbuk
belerang pada sekeliling blok yang terserang.
3) Tanaman
dibongkar
sampai
ke
akarnya
dan
dibuang/dibakar di tempat lain, tanahnya ditanami
rumput Guatemala atau Crotalaria selama 2-3 tahun
baru dapat ditanami teh kembali.
4) Melakukan
fumigasi
dengan
Methyl
Bromida
atau
Vapam.
5) Cara fumigasi dengan Methyl Bromida yaitu dengan
mengalirkan Methyl Bromida melalui pipa plastik dosis
227 g/10 m2 tanah disungkup selama 14 hari, dan
kemudian satu bulan setelah sungkup dibuka tanah
dapat
ditanami
teh,
sedangkan
fumigasi
dengan
Vapam yaitu dengan menyuntikkan 8 ml Vapam setiap
lubang dengan kedalaman 30 cm dan jarak antar lu-
bang satu sama lain juga 30 cm; satu bulan setelah
fumigasi tanah dapat ditanami teh kembali.
Pro
yek
PH
T-
PR
Dit
jen
bu
n
Ditli b
Ditj
b
2014, No.518
6) Membuat saluran-saluran drainase secukupnya dan
menanam
pohon
pelindung
yang
tahan
terhadap
jamur akar.
7) Pemberian jamur Trichoderma sp. 200 gram per pohon
pada
lubang
bekas
tanaman
yang
dibongkar
dan
tanaman sekitarnya pada awal musim hujan, diulang
setiap 6 bulan sekali sampai tidak ditemukan gejala
penyakit akar di daerah tersebut.
8) Membersihkan sampah-sampah yang ada pada tempat
yang diserang kemudian dibakar.
3.Musuh Alami OPT
Musuh
alami
terdiri
dari
pemangsa/predator,
parasitoid
dan pathogen. Musuh alami sebaiknya dilestarikan karena
dapat membantu petani untuk mengendalikan hama dan
penyakit. Karena itu, musuh alami jangan dibunuh atau
dimusnahkan. Gambar-gambar musuh alami dapat dilihat
pada Lampiran.
Langkah
pertama dalam
hal
melestarikan musuh
alami
yaitu:
1)Mengurangi penggunaan pestisida kimia.
2)Menjaga berbagai jenis tanaman terutama tanaman
berbunga, di kebun atau sekitar kebun. Jika terdapat
bermacam-macam tanaman di kebun, biasanya jumlah
musuh alami yang berada di kebun juga lebih banyak.
3)Mengusahakan lingkungan yang sesuai untuk kehidupan
musuh alami tersebut (konservasi).
a. Pemangsa/Predator
Pemangsa/predator yaitu binatang (serangga, laba-laba
dan
binatang
lain)
yang
memangsa
binatang
lain
(serangga hama tanaman) yang menyebabkan kematian
sekaligus.
Contoh pemangsa:
1) Semua
jenis
laba-laba
(misalnya
laba-laba
lompat,
laba- laba serigala, laba-laba tutul, laba-laba bermata
tajam, laba-laba pembuat jaring). Laba-laba tersebut
biasanya memangsa kepik seperti Helopeltis, ngengat,
ulat jengkal, dan serangga/hama lain.
2) Capung
besar
dan
capung
jarum
(Ordo
Odonata).
Capung
dapat
menangkap
dan
memakan
kutu,
nyamuk dan kepik (Helopeltis).
2014, No.518
3) Tungau
pemangsa/predator.
Tungau
yang
terkenal
sebagai predator yaitu Phytoseiulus dan Typhlodromus.
Kebanyakan
spesies
dari
genus
Amblyseius
yaitu
predator
juga.
Tungau
predator
memangsa
tungau
lain, thrips, dan kutu putih.
4) Semut
pada
umumnya
tidak
merusak
tanaman
budidaya. Di kebun teh, semut menyerang ulat dan
beberapa jenis hama lain seperti Helopeltis.
5) Tawon kertas (Famili Vespidae, Ordo Hymenoptera).
Tawon ini efektif untuk memburu berbagai jenis ulat
termasuk ulat jengkal dan mampu menangkap ulat
besar serta serangga lainnya.
6) Belalang sembah (Famili Mantidae, Ordo Orthopthora).
Belalang
sembah
memakan
banyak
jenis
serangga
termasuk hama-hama teh seperti Helopeltis.
7) Jangkrik
dan
belalang
antena
panjang
(Famili
Gryllidae dan Tettgoniidae, Ordo Orthoptera). Jangkrik
yang bertindak sebagai predator salah satunya yaitu
jangkrik
Metioche
yang
memakan
telur
serangga.
Beberapa jenis jangkrik dan belalang antena panjang
memakan telur atau serangga lain seperti ulat atau
kutu. Memang tidak semua jenis jangkrik dan belalang
antena panjang menjadi predator.
8) Lalat
(lalat
menari/lalat
kaki
panjang,
lalat
apung/lalat
bunga,
lalat
sayap
jala).
Lalat-lalat
tersebut biasanya memangsa kutu daun (aphid/aphis)
dan hama/serangga kecil.
9) Kumbang
(kumbang
kubah/kumbang
helm/koksi,
kumbang
harimau,
kumbang
tanah).
Kumbang
biasanya memangsa
beberapa
jenis
kutu
termasuk
aphis, berbagai jenis ulat dan serangga lainnya.
10)Kepik (kepik leher, kepik perisai Andrallus) memangsa
ulat-ulat, kutu, kepik penghisap seperti Helopeltis dan
serangga lainnya.
11)Cecopet (Ordo Dermaptera) memangsa telur, larva dan
nimfa serangga yang badannya lembut.
12)Katak memakan ngengat, kepik dan serangga hama
lainnya.
2014, No.518
13)Bunglon dan kadal menangkap dan memakan banyak
jenis
serangga
seperti
kepik
pengisap
daun
teh
(Helopeltis) dan ngengat.
b.Parasitoid
Parasitoid yaitu serangga yang hidup di dalam atau pada
tubuh serangga lain dan membunuhnya secara perlahan
dari
dalam.
Parasitoid
berguna
karena
membunuh
serangga
hama,
sedangkan
parasit
tidak
membunuh
inangnya hanya melemahkan.
Contoh parasitoid:
1) Tawon (Tawon Ichneumonid/tawon pinggang ramping,
tawon
braconid/tawon
pinggang
pendek).
Tawon-
tawon
tersebut
dapat
menjadi
parasitoid
dan
menyerang
ulat/ulat
jengkal,
kutu,
kepik/kepik
penghisap (Helopeltis), wereng dan serangga lain.
2) Lalat Tachinid (Famili Tachinidae, Ordo Diptera) yaitu
parasitoid hama ulat jengkal.
c. Patogen
Seperti
manusia
dan
hewan,
serangga
juga
dapat
terserang
penyakit.
Penyakit
pada
serangga
bisa
dimanfaatkan
oleh
manusia
untuk
mengendalikan
berbagai jenis hama. Patogen yaitu kategori musuh alami
selain predator dan parasitoid. Ada patogen yang bersifat
khusus yaitu hanya menyerang satu jenis patogen dan
ada patogen yang bersifat umum yaitu dapat menyerang
banyak jenis serangga. Ada beberapa jenis patogen antara
lain jamur, bakteri, virus, protozoa dan nematoda.
Contoh patogen:
1) Jamur
Beauveria bassiana
(Bb)
menyerang
banyak
jenis serangga diantaranya kumbang, ngengat, ulat,
kepik dan belalang. Jenis Bb yang hanya menyerang
Helopeltis
pada tanaman teh yaitu Bb GB 1.
Jamur
Bb berwarna putih dan cukup kelihatan pada badan
inangnya.
Spora
tumbuh
berkelompok
sehingga
berupa bola-bola spora.
2) Jamur
Trichoderma
(Trichoderma
koningii,
T.
harzianum
dan
T.
viridae)
yang
telah
banyak
dikembangkan
untuk
pengendalian
penyakit
jamur
akar. Kumpulan spora Trichoderma mulanya berwarna
putih
jernih
kemudian
menjadi
kehijauan
dan
2014, No.518
akhirnya berwarna hijau gelap. Jamur ini lebih efektif
untuk
pencegahan
penyebaran
jamur
akar
pada
sekitar tanaman teh yang sudah terserang berat atau
mati akibat jamur akar.
4.Pengendalian Gulma
a. Pengendalian
di
areal
Tanaman
Belum
Menghasilkan
(TBM).
Pengendalian secara kultur teknis:
1) Penerapan seluruh teknis bercocok tanam teh secara
benar dan tepat.
2) Penanaman tanaman pupuk hijau seperti Tephrosia
spp. dan Crotalaria spp. di antara barisan tanaman
teh.
3) Pemberian mulsa.
Pengendalian secara manual/mekanis:
1) Mencabut gulma yang tumbuh di sekitar tanaman teh
muda dengan tangan.
2) Memotong gulma di permukaan tanah atau di bawah
permukaan
tanah
dengan
alat
parang,
kored
atau
bahkan cangkul.
Pengendalian secara kimia:
Menggunakan herbisida pra-tumbuh dengan bahan aktif
antara lain:
1) Oksifluorfen dengan dosis 1,0-2,0 liter per hektar.
2) Metribuzin 70% dengan dosis 0,5-1,0 kg per hektar.
3) Glifosat.
b.Pengendalian di areal Tanaman Menghasilkan (TM)
Pengendalian secara kultur teknis:
1) Melaksanakan seluruh tindakan kultur teknis yang
tepat dan
pemeliharaan yang cukup dapat menekan
pertumbuhan gulma.
2) Melaksanakan
petikan
rata
agar
tajuk
tanaman
tumbuh melebar dan rapat menutup tanah.
3) Melaksanakan
program
penyulaman
secara
intensif
untuk
menghilangkan
sumber
infeksi/penyebaran
gulma.
4) Pemberian mulsa.
2014, No.518
Pengendalian secara manual/mekanis:
1) Mencabut
gulma
dengan
tangan
atau
memotong
dengan parang.
2) Memotong gulma di permukaan tanah atau di bawah
permukaan tanah dengan alat parang, kored, gacok
atau garpu.
Pengendalian secara kimia, menggunakan herbisida pra-
tumbuh:
1) Diuron 70% dengan dosis 1,0-1,5 kg per hektar.
2) Ametrin 70% dengan dosis 2,0-3,0 liter per hektar.
3) Oksifluorfen dengan dosis 1,0-2,0 liter per hektar.
4) Metribuzin 70% dengan dosis 0,5-1,0 kg per hektar.
5) Penyemprotan
dilakukan
setelah
pelaksanaan
pengoredan/penyiangan bersih pada keadaan tanah
yang lembab.
IV. PEMETIKAN
1. Jenis Pemetikan
a. Pemetikan Jendangan
Pemetikan Jendangan yaitu pemetikan yang dilakukan pada
tahap awal setelah tanaman dipangkas, untuk membentuk
bidang petik yang lebar dan rata dengan ketebalan lapisan
daun. Tinggi bidang petik jendangan dari bidang pangkasan
tergantung pada tinggi rendahnya pangkasan yaitu:
1) Pangkasan 40-45 cm, tinggi jendangan 20-25 cm.
2) Pangkasan 45-50 cm, tinggi jendangan 15-20 cm.
3) Pangkasan 50-55 cm, tinggi jendangan 15-20 cm
4) Pangkasan 55-60 cm, tinggi jendangan 10-15 cm
5) Pangkasan 60-65 cm, tinggi jendangan 10-15 cm.
6) Pemetikan jendangan dilakukan apabila 60% areal telah
memenuhi syarat untuk dijendang.
7) Pemetikan jendangan dianggap cukup atau dihentikan
apabila tunas sekunder telah dipetik dan bidang petik
telah melebar dengan ketebalan daun pemeliharaan yang
cukup.
2014, No.518
8) Pemetikan
jendangan
dilakukan
6-10
kali
petikan,
kemudian diteruskan dengan pemetikan produksi.
b. Pemetikan Produksi
Pemetikan produksi merupakan pengambilan pucuk pada
tanaman teh.
Berdasarkan daun yang ditinggalkan, pemetikan produksi
dibedakan: pemetikan ringan, apabila daun yang tertinggal
pada perdu satu atau dua daun di atas kepel, biasanya
ditulis dengan rumus k+1 atau k+2, artinya kepel + satu
daun atau kepel + dua daun; pemetikan sedang, apabila
daun yang tertinggal pada bagian tengah perdu tidak ada
tetapi pada bagian pinggir perdu ditinggalkan satu daun di
atas kepel (bagian tengah k+0, pada bagian pinggir (k+1);
dan pemetikan berat, apabila pemetikan tidak meninggalkan
daun sama sekali pada perdu di atas kepel (k+0).
2. Jenis Petikan Produksi
Jenis petikan produksi dapat dibedakan menjadi 3 kategori,
yaitu:
a. Petikan halus, apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari
pucuk peko (p) dengan satu daun, atau pucuk burung (b)
dengan satu daun yang muda (m), biasa ditulis dengan
rumus p+1 atau b+1 m.
b. Petikan medium, apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari
pucuk peko dengan dua daun, tiga daun muda, serta pucuk
burung dengan satu, dua atau tiga daun muda (p+2, p+3,
b+1 m, b+2m, b+3m).
c. Petikan kasar, apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari
pucuk peko dengan empat daun atau lebih, dan pucuk
burung dengan beberapa daun tua p+4 atau lebih, b+(1-4t).
Umumnya jenis petikan yang dikehendaki yaitu jenis petikan
medium,
dengan
komposisi
minimal
70%
pucuk
medium,
maksimal 10% pucuk halus dan 20% pucuk kasar.
3. Daur Petik dan Pengaturan Areal Petikan
Kecepatan
pertumbuhan
pucuk
sangat
dipengaruhi
oleh
beberapa faktor antara lain:
a. Umur pangkas; makin tua umur pangkas makin lambat
pertumbuhan, sehingga makin panjang daur petik.
2014, No.518
b. Elevasi atau ketinggian tempat; makin tinggi letak kebun dari
permukaan laut, makin lambat pertumbuhan, sehingga makin
panjang daur petik.
c. Iklim; musim kemarau pertumbuhan tunas makin lambat
sehingga
daur
petik
lebih
panjang
daripada
musim
penghujan.
d. Kesehatan
tanaman;
makin
sehat
tanaman,
makin
cepat
pertumbuhan
pucuk,
makin
pendek
daur
petik
bila
dibandingkan dengan tanaman yang kurang sehat.
e.
Pengaturan
areal/hanca
petik
mempertimbangkan
keseragaman
pucuk
yang
dihasilkan
setiap
hari
dengan
komposisi pucuk dari umur pangkas yang seimbang; baik
umur
pangkas
tahun
pertama,
kedua,
ketiga
maupun
keempat.
4. Pengaturan Tenaga Pemetik
Untuk menghitung kebutuhan tenaga pemetik harus diketahui
rata-rata kapasitas
petik/HK dalam setahun, jumlah hari
kerja setahun, persentase absensi pemetik dalam setahun (A),
rata-rata produksi pucuk/ha/tahun.
Jumlah pemetik (TP) yang dibutuhkan dapat dihitung dengan
rumus sebagai berikut:
Produksi pucuk/ha/tahun
TP =
--------------------------------------------- x (100 + A) %
Kapasitas petik/HK/tahun x HK setahun
Untuk
menempatkan
pemetik
berdasarkan
keterampilannya
umur pangkas yaitu sebagai berikut:
1) Pemetik
yang
keterampilannya
rendah
ditempatkan
di
kebun tinggi (umur pangkas 4 tahun).
2) Pemetik yang keterampilannya cukup/sedang ditempatkan
di kebun rendah (umur pangkas 2-3 tahun).
3) Pemetikan
yang
ketrampilannya
tinggi
ditempatkan
di
kebun jendangan dan kebun pendek (umur
pangkas 1-2
tahun).
5. Pelaksanaan Pemetikan
a. Pemetikan Jendangan
1) Dua sampai tiga bulan setelah pangkasan, pemetikan
dapat dimulai apabila 60% areal tersebut telah memenuhi
syarat untuk dijendang.
2014, No.518
2) Tinggi petikan jendangan berkisar 10-20 cm tergantung
tinggi-rendahnya pangkasan.
3) Jenis
petikan
yang
dilakukan
ialah
petikan
medium,
yaitu pucuk peko dengan dua daun (p+2) atau pucuk
burung dengan satu/dua daun muda (b+1m/b+2m).
4) Daur petik berkisar 5-6 hari.
5) Bidang
petik
harus
rata
pada
ketinggian
yang
sama
selama masa pemetikan jendangan.
6) Pemetikan jendangan dilakukan sebanyak 6-10 kali.
b.Pemetikan Produksi
1) Pemetikan
produksi
dilakukan
setelah
pemetikan
jendangan dianggap cukup pada umumnya untuk petikan
medium
dengan
cara
pemetikan
sedang,
daur
petik
berkisar antara 8-10 hari untuk daerah rendah, 10-12
hari untuk daerah sedang dan daerah tinggi.
2) Pelaksanaan
pemetikan
dilakukan
mengikuti
barisan
perdu dalam barisan berbanjar.
3) Pemetikan pucuk dilakukan dengan ibu jari dan telunjuk
satu per satu (ditaruk) sesuai dengan jenis petikan yang
dikehendaki.
4) Bidang petik harus rata antara satu perdu dengan perdu
yang lain.
5) Wadah pucuk hasil petikan, harus menggunakan keran-
jang yang digendong di atas punggung
6) Waring
digunakan
untuk
menampung
hasil
petikan,
dengan ukuran waring minimal 150 x 160 cm dengan
daya muat ± 20-25 kg.
6. Pemetikan dengan Alat
Pada saat terjadi kekurangan tenaga pemetik, pemetikan dapat
dibantu
menggunakan
alat.
Secara
umum
apabila
ratio
pemetik dengan luas areal teh 1 ha yaitu 1, bisa menggunakan
tangan (manual). Jika ratio pemetik 0.7 hingga 0.8, disarankan
untuk menggunakan gunting. Sedangkan jika ratio pemetik <
0.7, sebaiknya menggunakan mesin.
Kapasitas pemetik dengan tangan 50–60 kg/hari, pemetikan
dengan gunting 120–150 kg/hari, pemetikan dengan mesin
200–250 kg/hari.
Pemetikan dengan alat bisa dilaksanakan mulai tahun pangkas
kedua
(tanaman
berumur
pangkas
12
bulan).
Sebelum
2014, No.518
dilakukan
pemetikan
dengan
alat
terlebih
dahulu
dibuat
bidang petik yang sesuai untuk penggunaan gunting/mesin.
Pemetikan dengan alat dihentikan jika:
a) kapasitas pemetik <50 kg/hari;
b) persentase pucuk burung >80%;
c) terjadi penurunan bobot pucuk (bobot p+3 <2 gram);
d) tinggi bidang petik >120 cm;
e) daun pemeliharaan <10 cm.
a. Pemetikan secara semi mekanis dengan gunting
Dalam upaya menggali potensi dan menanggulangi kekurangan
pemetik pada musim plus, perlu menggunakan pemetikan
dengan alat (gunting atau mesin petik). Mekanisasi pemetikan
disarankan pada tanaman yang sehat, dan telah memasuki
tahun pangkas II (TP II). Tebal lapisan daun pemeliharaan
(maintenance
leaves)
15–20
cm
atau
4–5
lapis
daun
pemeliharaan. Pertumbuhan pucuk peko di atas 70%, kadar
pati di atas 12% (test kuantitatif di laboratorium, atau test
kualitatif menggunakan larutan Yudium Kl3 pada akar sebesar
pensil akan terjadi reaksi berwarna coklat kehitam-hitaman).
Tinggi bidang petik ideal yaitu 80–110 cm. Waktu pemetikan
yang baik yaitu musim plus yaitu menjelang atau akhir musim
hujan. Mekanisasi petikan disarankan dilakukan pada musim
kemarau kecuali pada kebun-kebun yang mempunyai curah
hujan merata sepanjang bulan (>100 mm/bulan).
(a)
(b)
Gambar 19. (a) Pemetikan dengan gunting. (b) Gunting petik.
a.1.
Bahan Tanaman
Dapat dilakukan terhadap tanaman teh yang berasal dari
klon maupun seedling yang sehat. Pemetikan gunting dan
mesin tergolong petikan berat sehingga tanaman tehnya
perlu yang betul-betul sehat agar potensi hasil tergali
secara
optimal.
Ciri-ciri
tanaman
teh
sehat:
(a)
tebal
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
lapisan daun pemeliharaan (maintenance leaves) 15-20 cm
kira-kira
atau
lapis
daun
pemeliharaan,
(b)
pertumbuhan pucuk peko >70%, dan (c) kadar pati dalam
akar tinggi. Tes secara kualitatif menggunakan larutan
yodium KI2 pada akar sebesar pensil yang akan timbul
reaksi berwarna coklat kehitam-hitaman.
a.2. Tanaman Tahun Pangkas Kedua (TP II)
Tanaman TP II, kondisinya masih terlalu lemah, sebab
daun pemeliharaan belum terbentuk dengan baik atau
diharapkan tanaman sudah kembali normal kesehatannya
setelah mengalami stress akibat dipangkas. Tinggi bidang
petik yang ideal 80-110 cm.
-
Gunting Petik
Spesifikasi : Tipe gunting bantalan
Dimensi
:
panjang
cm;
tinggi
bantalan
cm;
penampung/wadah
pucuk
berbentuk
setengah
lingkaran, tinggi 10 cm, lebar 20 cm; pemukul pucuk
berbentuk sudut 60º, berat 0,8 kg; kapasitas kerja: 3–4
patok (80 kg/HOK).
-
Membuat atau menyiapkan bidang petik (papakan)
1) Gunting
berikut
wadah
diletakan
di
atas
perdu,
kemudian
perdu
digunting
hingga
rata.
Dalam
pengguntingan pertama, selain pucuk juga banyak
tergunting daun tua dan ranting, sehingga harus
dilakukan
pemilihan/pembuangan
atau
sortasi
pucuk secara baik.
2) Pembuatan
bidang
petik
(papakan)
pada
tahun
pangkas II dan III harus dilakukan berulang-ulang
sampai 2–3 kali dengan siklus 15–20 hari.
-
Teknik Pemetikan
1) Gunting dan wadah tidak boleh dimiringkan, tetapi
harus rata dengan bidang papakan, juga tidak boleh
menggunting pucuk dari sisi bawah perdu.
2) Gunting
tidak
diperbolehkan
untuk
menggunting
bagian tanaman teh yang keras atau ranting dan
cabang tua.
3) Kenaikan bidang petik akan terjadi setiap 2 bulan
tergantung tebal bantalan dan tinggi tempat (elevasi)
atau kecepatan pertumbuhan pucuk.
2014, No.518
- Saat pengguntingan dihentikan
1) Tanaman
sudah
tertalu
tinggi
sehingga
melebihi
tinggi operator. Tinggi bidang papakan yang optimal
80 cm dan paling tinggi 120 cm.
2) Daun pemeliharaan sudah terlalu menipis (<10 cm).
Jika pemetikan gunting terlalu lama dilakukan tanpa
ada
penambahan
daun
pemeliharaannya
akan
menjadi tua dan banyak yang gugur terutama pada
lapisan
paling
bawah
sehingga
keadaan
menjadi
sangat jarang dan sebagaian sinar dapat menerobos
perdu sampai ke tanah. Dalam kondisi demikian
maka
peng-guntingan
diberhentikan
untuk
menambah daun pemeliharaan dengan cara memetik
ringan (k+1, 2).
3) Kapasitas pemetik menurun (<50 kg) atau di bawah
pemetikan tangan, persentase pucuk burung lebih
dari
80%
dan
ukurannya
kecil-kecil
(penurunan
bobot pucuk) dan daun-daunnya keras menyebabkan
produksi turun dan kualitas rendah.
b. Pemetikan dengan mesin
Di Indonesia mesin petik yang biasa digunakan ada 2 tipe, yaitu
tipe GT 120 dan tipe GT 60.
Gambar 20. Pemetikan daun teh menggunakan mesin
Spesifikasi mesin petik GT 120:
-
Motor penggerak : motor bensin 2 langkah, 2,5 HP, 7.200
rpm.
-
Dimensi : panjang mesin 165 cm, lebar 45 cm, tinggi 27,5
cm, panjang pisau 120 cm, dan panjang handle 100–140
cm.
-
Berat mesin 18 kg; lebar kerja efektif 110 cm, kapasitas
petik 0,25 ha/jam (400–750 kg/jam).
-
Bahan bakar 1,1–1,2 liter/jam.
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
-
Operator : 3–5 orang, dua orang sebagai operator mesin,
seorang
memegang
kantong
pucuk,
dua
orang
sebagai
penganalisa
pucuk
dan
pengangkut
pucuk
ke
los
penampungan.
-
Kapasitas pemetik 250-300 kg pucuk basah/HK.
Spesifikasi mesin petik GT 60
-
Motor penggerak : motor bensin 2 langkah, 2 HP, 7.200 rpm.
-
Dimensi : panjang mesin 80 cm, lebar 20 cm, tinggi 20 cm,
panjang pisau 60 cm.
-
Berat mesin 6, kg, lebar kerja efektif 50 cm, kapasitas petik
0,50 ha/4 jam efektif (500 kg/ha).
-
Bahan Bakar: 1,1–1,2 liter/jam.
Gambar 21. Mesin petik teh
7. Analisa Pemetikan
Untuk mengevaluasi pelaksanaan pemetikan setiap hari, baik
cara maupun hasilnya, perlu dilakukan analisa pemetikan yang
terdiri dari:
Analisa Petik
Analisa
petik
yaitu
pemisahan
bagian
pucuk
hasil
suatu
pemetikan yang didasarkan pada jenis pucuk yang dinyatakan
dalam persen.
Pelaksanaan analisa:
(a) Pucuk dari masing-masing pemetik (30 orang/mandor), setiap
waring pucuk diambil segenggam, dikumpulkan lalu dicampur
merata kemudian diambil 1 kg;
(b) Dari 1 kg tersebut diambil contoh sebanyak 200 g untuk
dianalisa.
Contoh hasil analisa:
p+1
=
g
=
%
p+2t =
g
=
2,5
%
Pusat Penelitian Teh dan Kina
2014, No.518
P+2m
=
g
=
12,7 %
p+3t =
g
=
20,4 %
p+3
=
g
=
5,1
%
p+4m
=
g
=
2,5
%
p+1m
=
g
=
10,3 %
b+1m
=
g
=
10,3 %
b+2m
=
g
=
18,9 %
b+1t =
g
=
2,5
%
b+2t =
g
=
2,5
%
b+3t =
g
=
12,7 %
Rusak muda (Rm)
=
g
=
2,5%
Rusak tua (Rt)
=
g
=
1,0%
Lembar muda (Lm)
=
g
=
1,5%
Lembar tua (Lt)
=
g
=
2,5%
Daun tua dan ranting =
g
=
2,5%
----------------------------------------------------------
Jumlah
=
g
=
100%
Dari hasil contoh analisa petik tersebut dapat diketahui bahwa
sistem pemetikan yang dilakukan:
Pemetikan medium, sebab jumlah pucuk medium (p+2t, p+3m,
b+1m, b+2m dan b+3m) = 84,8% atau sebanyak 14,8% di atas
angka patokan (>70%).
Daur
petik
cukup
tepat
karena
angka
pucuk
yang
tidak
memenuhi syarat cukup kecil (7,6%) yaitu p+1 = 0%; p+2m=
2,5%; b+1t = 2,5% dan b+2m = 2,6%.
Keterampilan para pemetik cukup memadai, kesalahan petik
cukup kecil 3,6% (Rm + Rt).
Kegunaannya:
1. Menilai sistem petik (cara) pemetikan, baik daur petik maupun
jenis pemetikan. Daur petik yang terlalu pendek terlihat angka
persentase pucuk yang belum masak petik (p+1, p+2m) tinggi,
sebaliknya daur petik panjang terlihat persentase pucuk kasar
(p+>, b + xt).
2. Menilai keterampilan pemetik, pemetik yang kurang terampil
akan terpetik pucuk-pucuk di luar ketentuan (pucuk yang
belum manjing) dan ini dapat dikaitkan dengan premi/upah
pemetik.
3. Menilai kondisi tanaman. Tanaman yang kurang sehat ditandai
dengan angka persentase pucuk burung yang tinggi (60%).
2014, No.518
Analisa Pucuk
Analisa
pucuk
yaitu
pemisahan
bagian
pucuk
hasil
suatu
pemetikan yang didasarkan pada bagian muda dan bagian tua
serta kerusakannya yang dinyatakan dalam persen.
Pelaksanaan analisa pucuk sebagai berikut:
Pucuk yang telah tiba di pabrik (dalam waring) diambil 10% dari
jumlah
wadah
sekitar
segenggam,
lalu
dikumpulkan
dalam
wadah, diaduk merata, kemudian diambil 1 kg.
Dari pucuk 1 kg tersebut, diambil 200 g sebagai contoh.
Contoh hasil analisa:
- Bagian pucuk muda
=
g
=
70,70
%
- Bagian pucuk tua, batang
pucuk di atas daun ketiga muda
dipotes, ditambah burung tua
(b+1, b+2t, b+3t =
g
=
17,17
%
- Rusak muda (Rm)
=
g
=
2,53 %
- Rusak tua (Rt)
=
g
=
2,53 %
- Lembar muda (Lm)
=
g
=
3,03 %
- Lembar tua (Lt)
=
g
=
2,53 %
- Daun tua dan ranting =
g
=
1,51 %
Jumlah
=
g
=
%
Dari hasil contoh analisa petik di bawah ini dapat diketahui
bahwa sistem pemetikan yang dilakukan:
Pemetikan medium, sebab jumlah pucuk medium (p+2t, p+3m,
b+1m, b+2m dan b+3m) = 84,8% atau sebanyak 14,8% di atas
angka patokan (>70%).
Daur
petik
cukup
tepat
karena
angka
pucuk
yang
tidak
memenuhi syarat cukup kecil (7,6%) yaitu p+1 = 0%; p+2m =
2,5%; b+1t = 2,5% dan b+2m = 2,6%.
Keterampilan para pemetik cukup memadai, kesalahan petik
cukup kecil 3,6% (Rm + Rt).
Kegunaannya:
1. Menilai sistem petik (cara) pemetikan, baik daur petik maupun
jenis pemetikan. Daur petik yang terlalu pendek terlihat angka
persentase pucuk yang belum masak petik (p+1, p+2m) tinggi,
sebaliknya daur petik panjang terlihat persentase pucuk kasar
(p+>, b + xt).
2014, No.518
2. Menilai keterampilan pemetik, pemetik yang kurang terampil
akan
terpetik
pucuk-pucuk
diluar
ketentuan
(pucuk
yang
belum manjing), dan ini dapat dikaitkan dengan premi/upah
pemetik.
3. Menilai kondisi tanaman. Tanaman yang kurang sehat ditandai
dengan angka persentase pucuk burung yang tinggi (60%).
V.
PANEN DAN PASCAPANEN
Dalam rangka menghasilkan teh yang bermutu tinggi, penanganan
pucuk
teh
yang
dipanen
sebagai
bahan
baku
perlu
ditangani
sebaik mungkin sebelum diprosesdari kebun sampai ke pabrik.
Saat ini pucuk teh sesuai dengan pasaran adayang dibuat teh
hitam, teh hijau, teh oolong dan teh wangi. Selain itu cita rasa teh
juga disajikan dalam
berbagai produk kemasan dan minuman
langsung di dalam restauran dengan cara mencampur
dengan
bahan
yang
membuat
rasa
teh
bertambah
enak.
Kegiatan
pengelolaan
dan
pemeliharaan
tanaman
semuanya
bertujuan
untuk menghasilkan kualitas yang tinggi.
1. Perawatan Pucuk dalam Pemetikan
a) Untuk pemetikan dengan tangan, jangan dijambret/dirampas.
b) Genggaman pucuk ditangan jangan terlalu banyak.
c)
Alat penampung pucuk para pemetik menggunakan keranjang
dan tidak boleh menggunakan kantong waring atau bahan lain.
d) Pucuk dalam keranjang jangan terlalu dipadatkan, ukuran
keranjang mampu menampung 15 kg pucuk.
2. Perawatan dalam Pengumpulan dan Penyimpanan Pucuk
a) Mengisi waring penyimpanan pucuk maksimal 20 kg, lebih dari
itu pucuk menjadi rusak.
b) Waring penyimpanan diletakkan dalam los pucuk atau tempat
yang teduh, hindari sinar matahari langsung karena pucuk
akan melangas menjadi merah coklat, tidak akan menghasilkan
teh jadi yang bermutu tinggi.
c)
Pucuk jangan disiram air, karena akan menimbulkan aroma
yang kurang baik, kualitas teh akan turun dan biaya peng-
olahan menjadi lebih tinggi.
d) Penyimpanan waring pucuk di los, waring harus dibuka, jangan
ditumpuk atau diduduki.
2014, No.518
e)
Pada waktu mengangkut pucuk (dalam waring) dari kebun ke
los sebaiknya di atas kepala, diangkat dan diturunkan dengan
hati-hati, jangan dibanting.
3. Perawatan dalam Pengangkutan Pucuk
a) Alat pengangkutan menggunakan truk yang diberi tutup, agar
pucuk terhindar dari sinar matahari langsung.
b) Mengangkut pucuk dalam waring sebaiknya bak truk dibuat 2-
rak
dari
papan
agar
waring
pucuk
tidak
saling
menindih/bertumpuk.
c)
Kalau
pucuk
yang
akan
diangkut
itu
dalam
keranjang
bambu/rotan, maka rak truk tidak diperlukan.
d) Memuat dan membongkar pucuk dari truk harus dilakukan de-
ngan
hati-hati,
jangan
sampai
dibanting
atau
pucuk
berceceran.
e)
Pucuk yang diangkut maksimal 2 ton/truk (colt diesel double)
atau setengah daya angkut kendaraan. Sarana jalan, jarak dan
teknik mengemudikan kendaraan juga berpengaruh terhadap
mutu pucuk yang diangkut.
f)
Dalam truk, pucuk tidak boleh ada yang ikut menumpang di
atas pucuk.
VI. PENGOLAHAN TEH
1.
Jenis Pengolahan
Produk teh di Indonesia dibedakan atas teh hitam, teh hijau dan
teh putih. Perbedaan ketiga jenis pengolahan tersebut disebabkan
oleh perbedaan cara pengolahan dan peralatan yang digunakan.
Proses pengolahan teh hitam memerlukan proses full fermentasi
(oksidasi enzimatis), sedangkan teh hijau dan teh putih tidak
memerlukannya
sama
sekali.
Demikian
juga
pada
proses
pelayuan, teh hitam memerlukan waktu lama (16–20 jam) dengan
suhu rendah 25–300 C, sebaliknya pada proses pengolahan teh
hijau dan teh putih hanya memerlukan waktu pendek (6–7 menit)
dengan suhu yang tinggi (90–100
0C). Yang membedakan teh
hijau dan teh putih yaitu bahan baku yang dipakai yaitu teh
putih hanya menggunakan pucuk peko dan proses pengeringan
menggunakan sinar matahari pagi (1 hari + 3 jam selama 4 hari
berturut-turut).
a. Pengolahan Teh Hitam
2014, No.518
Pengolahan teh hitam di Indonesia dibagi menjadi 2 sistem,
yaitu : sistem orthodox dan sistem CTC.
Berikut ini yaitu proses pengolahan dan jenis produk teh hitam
orthodox dan teh hitam CTC:
Gambar 22. Tahapan proses pengolahan teh hitam orthodox
Jenis produk teh hitam orthodox :

Teh daun tertahan ayakan 7 mesh.
Jenis : OP, OPSUP, FOP, S, BS, BOP SUP, BOP Gr, BOP sp
dan LM.

Teh bubuk lolos 7 mesh, tertahan 20 mesh.
Jenis : BOP I/BOP, BOP II, F BOP, BP, BP II, BT, BT II,
BOPF, BOPF SUP dan BM.

Teh halus lolos ayakan 20 mesh.
Jenis : F, F II, TF, PF, PF II Dust, Dust II dan Dust III.

Teh campuran orthodox : campuran dari dua atau lebih
jenis mutu teh daun, teh bubuk dan teh halus.
Pucuk
Pelayuan
Penggulung
Penggiling
Sortasi
Sortasi
Kering
Pengeringa
Oksidasi
Pengemasan
2014, No.518
Gambar 23. Tahapan proses pengolahan teh hitam CTC
Jenis produk teh hitam CTC
Jenis : BP I, BMC, PF 1, Fann, PD, D1, D2, D3, PW Dust, Teh
campuran CTC (mixed CTC)
b. Pengolahan Teh Hijau
Berikut ini yaitu proses pengolahan teh hijau
Gambar 24. Tahapan proses pengolahan teh hijau
Jenis produk:
Peko super, Peko, Jikeng, Bubuk 1, Bubuk 2, Bubuk 3, Tulang, GP
1, GP 2, GP 3, CM 1, CM 2, CM 3, CM 4, SM 1, SM 2.
2. Standar Mutu
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia yang dikeluarkan oleh
Badan
Standarisasi
Nasional,
dikeluarkan
SN1
01-3945-1995
Ayakan
Pucuk
Pucuk Teh
Pelayuan
Pengeringan
Sortasi
Penggulungan
Pucuk Teh
Pengeringan
Kedua
Pengepakan
Gilingan
Gilingan
Fermentasi
Pengeringan
Pucuk
Pelayuan
Ayakan
Pucuk
Sortasi
Kering
2014, No.518
untuk teh hijau dan SN1 01-1902-1991 untuk teh hitam sebagai
berikut:
Tabel 5. SNI untuk teh hijau dan teh hitam.
No
Karakteristik/Jenis uji
Syarat mutu/Spesifikasi
Teh hitam
Teh hijau
1.
Kadar air % b/b maks
8,00
2.
Kadar ekstrak air % b/b min
3.
Kadar abu total % b/b min-maks
4-8
4-8
4.
Kadar abu larut dalam air % b/b min dari abu
total
5.
Kadar abu tidak larut dalam asam % b/b min-
maks
1,0
1,0
6.
Alkalinitas abu larut dalam air % b/b min-
maks
Kadar serat kasar % b/b maks
1,0-3,0
1,0-3,0
7.
Kadar gagang dan tulang (b/b)
16,5
-
VII. PENGOLAHAN LIMBAH
1. Limbah di Perkebunan Teh
Sisa pangkasan atau seresah dapat dijadikan pupuk hijau atau
dapat juga digunakan sebagai mulsa agar kondisi tanah tetap
lembab. Untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam
tanah dapat memanfaatkan seresah pangkasan daun teh yang
rata-rata
didapatkan
2–5
tahun
sekali
serta
off grade
hasil
pengolahan dari pabrik. Sebelum dibenamkan ke dalam tanah,
sisa pangkasan daun dan ranting teh ini dipotong-potong ± 5 cm.
Potongan daun dan ranting tersebut dimasukkan ke dalam rorak
yang dibuat di dalam kebun teh.
2. Limbah (off grade) Proses Pengolahan Teh
a. Limbah dalam proses pengolahan teh dapat berupa bubuk
yang dihasilkan jumlahnya sekitar 1-2% dari produk teh jadi.
Bubuk
yang
berasal
dari
hasil
pembakaran
dapat
dikembalikan ke kebun sebagai sumber hara. Limbah yang
berupa
serat-serat
diproses
menjadi
bokashi
selanjutnya
digunakan sebagai pupuk organik.
2014, No.518
b. Limbah yang berasal dari cucian peralatan berupa air bekas
cucian baki dan lantai ini tidak berbahaya bagi lingkungan.
VIII.DIVERSIFIKASI USAHA
Upaya peningkatan produksi, produktivitas dan mutu teh rakyat
selain
mengikuti
GAP
juga
dilakukan
usaha
diversifikasi
secara
vertikal dan horisontal.
1.
Diversifikasi Vertikal
Diversifikasi vertikal antara lain melalui proses produksi di pabrik
dengan
pengolahan
teh
berdasarkan
jenis
petik
dan
tingkat
oksidasi.
Setelah dipetik, daun teh (Camellia sinensis) segera layu dan
mengalami
oksidasi
kalau
tidak
segera
dikeringkan.
Proses
pengeringan membuat daun menjadi berwarna gelap, karena
terjadi pemecahan klorofil dan terlepasnya unsur tanin. Proses
selanjutnya berupa pemanasan basah dengan uap panas agar
kandungan air pada daun menguap dan proses oksidasi bisa
dihentikan pada tahap yang sudah ditentukan.
Pengolahan
daun
teh
sering
disebut
sebagai
"fermentasi"
walaupun
sebenarnya
penggunaan
istilah
ini
tidak
tepat.
Pemrosesan teh tidak menggunakan ragi dan tidak ada etanol
yang
dihasilkan
seperti
layaknya
proses
fermentasi
yang
sebenarnya.
Pengolahan
teh
yang
tidak
benar
memang
bisa
menyebabkan
teh
ditumbuhi
jamur
yang
mengakibatkan
terjadinya
proses
fermentasi.
Teh
yang
sudah
mengalami
fermentasi dengan jamur harus dibuang, karena mengandung
unsur racun dan unsur bersifat karsinogenik.
Pengelompokan teh berdasarkan tingkat oksidasi yaitu sebagai
berikut:
Teh Hijau
Daun teh yang dijadikan teh hijau biasanya langsung diproses
setelah dipetik. Setelah daun mengalami oksidasi dalam jumlah
minimal, proses oksidasi dihentikan dengan pemanasan (cara
tradisional
Jepang
dengan
menggunakan
uap
atau
cara
tradisional Tiongkok dengan menggongseng di atas wajan panas).
2014, No.518
Teh hijau diperoleh dengan cara pemanasan untuk mengoksidasi
daun. Setelah dikeringkan, daun-daun teh hijau tersebut lalu
digulung dengan maksud memecah struktur sel di dalamnya.Teh
yang sudah dikeringkan bisa dijual dalam bentuk lembaran daun
teh atau digulung rapat berbentuk seperti bola-bola kecil (teh
yang disebut gun powder).
Teh Hitam atau Teh Merah
Daun teh dibiarkan teroksidasi secara penuh sekitar 20–40 menit
2 minggu hingga 1 bulan. Teh hitam merupakan jenis teh yang
paling umum di Asia Selatan (India, Sri Langka, Bangladesh) dan
sebagian besar negara-negara di Afrika seperti: Kenya, Burundi,
Rwanda, Malawi dan Zimbabwe. Terjemahan harafiah dari aksara
hanzi untuk teh bahasa Tionghoa atau dalam bahasa Jepang
yaitu "teh merah" karena air teh sebenarnya berwarna merah.
Orang Barat menyebutnya sebagai "teh hitam" karena daun teh
berwarna hitam. Di Afrika Selatan, "teh merah" yaitu sebutan
untuk teh rooibos yang termasuk golongan teh herbal. Teh hitam
masih dibagi menjadi 2 jenis: Ortodoks (teh diolah dengan metode
pengolahan tradisional) atau CTC (metode produksi teh Crush,
Tear, Curling yang berkembang sejak tahun 1932).
Teh
hitam
yang
belum
diramu
(unblended)
dikelompokkan
berdasarkan asal grade pengolahan perkebunan, tahun produksi,
dan periode pemetikan (awal musim semi, pemetikan kedua, atau
musim gugur). Teh jenis Ortodoks dan CTC masih dibagi-bagi lagi
menurut
kualitas
daun
pasca
produksi
sesuai
standar
pengolahan misalnya BOP (Broken Orange Pekoe), BP1, DUST dan
lain-lain.
Teh Oolong
Teh Oolong pada dasarnya dihasilkan dari jenis daun teh yang
sama dengan teh hijau dan teh hitam. Namun yang membedakan
teh Oolong dengan teh jenis lainnya yaitu proses pembuatan serta
pengeringannya.
Berbeda
dengan
teh
hijau,
pada
proses
pembuatan teh Oolong, daun teh yang telah dipetik akan dijemur
di bawah matahari dalam kondisi kelembaban dan temperatur
tertentu
untuk
memungkinkan
terjadinya
oksidasi.
Namun,
proses oksidasi ini tidak seperti oksidasi pada teh hitam, sehingga
disebut semi fermentasi, dimana kondisi daun teh berwarna 30%
merah dan 70% berwarna hijau. Hal inilah yang justru memberi
teh Oolong memiliki manfaat lebih, bahkan dianggap yang terbaik
2014, No.518
dari jenis fermentasi teh lain. Setelah proses semi-fermentasi,
tahap berikutnya yang dilakukan yaitu chaoqing, dimana daun
teh akan dikeringkan lagi dalam wadah yang panas dan kering,
lalu
diakhiri
dengan
proses
menggulung
daun
teh
untuk
memberikan aroma tajam yang khas dari teh Oolong.
Teh Putih
Teh putih dengan kualitas terbaik berasal dari peko yng masih
menggulung tunas daun teh belum terbuka dan masih diselimuti
bulu-bulu halus berwarna putih terutama untuk jenis daun yang
memiliki banyak bulu misalnya klon GMB 7 dipetik hanya dalam
waktu dua hari pemrosesan teh putih dilakukan secara alami dan
sangat
minimal,
dimana
hanya
meliputi
pelayuan
dan
pengeringan segera setelah proses pemetikan dilakukan. Teh
putih dikeringkan secara alami dengan bantuan angin dan sinar
matahari pegunungan, tanpa melalui proses fermentasi maupun
penggilingan sehingga tidak merusak bentuk teh putih yang
sebenarnya.
Teh yang sangat berharga ini dipetik secara hati-hati dengan
tangan, mengambil hanya tunas dan daun teh termuda, dengan
standar yang sangat ketat yang diwariskan secara turun-temurun
sejak jaman Dinasti Ming (1364–1644).
Teh yang dibuat dari pucuk daun yang tidak mengalami proses
oksidasi
dan
sewaktu
belum
dipetik
dilindungi
dari
sinar
matahari untuk menghalangi pembentukan klorofil. Teh putih
diproduksi dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan teh jenis lain
sehingga harga menjadi lebih mahal.
2.
Diversifikasi Horisontal
Salah satu contoh pola diversifikasi horisontal yaitu program
Integrasi Tanaman Teh – Ternak.
Prinsip pengembangan integrasi usaha tani tanaman dengan
ternak dilakukan melalui optimalisasi kedua komoditas atau
spesies sehingga terjadi peningkatan efisiensi ’input’ dan ’output’
produksi. Dengan kata lain, tanaman yang diintegrasikan dengan
ternak mampu mengefisiensikan pemanfaatan sumber daya lokal
berupa limbah tanaman maupun ternak sebagai sumber pakan
dan pupuk. Integrasi usaha tanaman perkebunan dan ternak
merupakan bentuk diversifikasi usaha tani. Dengan sentuhan
2014, No.518
teknologi integrasi akan dapat meningkatkan pendapatan petani
secara nyata.
Tanaman
teh
dapat
diintegrasikan
dengan
berbagai
macam
ternak antara lain sapi, kambing, domba maupun ayam. Untuk
ternak sapi, kambing dan domba didapatkan bio gas dan pupuk
kandang sedangkan pada ternak ayam hanya dihasilkan pupuk
kandang. Berdasarkan hasil penelitian (Anita et al., 2012) dapat
disimpulkan bahwa pemberian tepung daun teh tua sebanyak
1,5-4,5% dalam ransum menurunkan konsumsi ransum, bobot
badan, konsumsi protein dan meningkatkan konversi ransum.
Pemberian tepung daun teh tua sebanyak 4,5% menurunkan
lemak abdominal ayam broiler jantan.
Selain dari limbah kebun, sisa industri minuman teh juga dapat
dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Cacahan daun teh dari
industri minuman teh hijau setelah ditampung, disterilkan dari
bakteri patogen kemudian dimasukkan ke dalam drum besar
untuk
difermentasi.
Setelah
tiga
bulan,
daun
teh
dapat
dicampurkan
dengan
pakan
ternak.
Hasil
penelitian
Prof.
Takehiro Nishida dari Universitas Obihiro Jepang, pemberian
limbah daun teh lebih dari 15% mampu mengurangi produksi
metan dalam kotoran ternak.
Selain
itu
dapat
meningkatkan
produksi
daging
karena
kandungan proteinnya lebih tinggi dibandingkan pakan biasa.
Upaya pengurangan kandungan gas metan ini penting untuk
membantu pelepasan gas metan ke udara dan menekan laju efek
rumah kaca.
IX.
PENUTUP
Pedoman
Teknis
Budidaya
Teh
Yang
Baik
(Good
Agriculture
Practices/GAP
on
Tea)
ini
menjadi
dasar
dalam
pelaksanaan
pembinaan, bimbingan, penyuluhan, dan pengembangan agribisnis
teh oleh para pemangku kepentingan (stakeholders).
Pedoman
Teknis
Budidaya
Teh
Yang
Baik
(Good
Agriculture
Practices/GAP
on
Tea)
ini
bersifat
dinamis
dan
akan
dilakukan
2014, No.518
perubahan
sesuai
dengan
perkembangan
ilmu
pengetahuan
dan
teknologi serta kebutuhan dinamika kehidupan masyarakat.
Untuk mewujudkan keberhasilan pengembangan agribisnis teh harus
dilakukan pembinaan, bimbingan, penyuluhan, dan pengembangan
dengan
dilandasi
komitmen
dan
tekad
oleh
para
pemangku
kepentingan (stakeholders) sesuai kewenangan dan tanggung jawab
berdasarkan pada Pedoman ini.
MENTERI PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA,
SUSWONO