Peraturan Badan Nomor 13 Tahun 2024 tentang STANDAR MUTU PRODUK PANGAN LOKAL DALAM RANGKA PENGANEKARAGAMAN PANGAN
Pasal 1
Dalam Peraturan Badan ini yang dimaksud dengan:
1. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.
2. Pangan Lokal adalah makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal.
3. Pangan Pokok adalah Pangan yang diperuntukkan sebagai makanan utama sehari-hari sesuai dengan potensi sumber daya dan kearifan lokal.
4. Penganekaragaman Pangan adalah upaya peningkatan ketersediaan dan konsumsi Pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan berbasis pada potensi sumber daya lokal.
5. Jagung adalah biji utuh tanaman jagung yang berasal dari tanaman Zea mays L.
6. Sagu adalah empulur dari tanaman Metroxylon sp.
7. Sorgum adalah biji dari tanaman Shorgum bicolor (L.) Moench.
8. Talas adalah umbi dari tanaman Colocasia esculenta (L) Schoot dan Xanthosoma sp.
9. Ubi Jalar adalah umbi dari tanaman Ipomoea batatas L.
10. Ubi Kayu adalah umbi dari tanaman Manihot sp.
Pasal 2
(1) Standar mutu produk Pangan Lokal digunakan sebagai acuan bagi pelaku usaha Pangan Lokal untuk memproduksi Pangan Pokok yang bermutu.
(2) Pelaku usaha Pangan Lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan orang perseorangan atau korporasi baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum yang bergerak pada satu atau lebih subsistem agribisnis Pangan Lokal.
(3) Subsistem agribisnis Pangan Lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. penyedia masukan produksi;
b. proses produksi;
c. pengolahan;
d. pemasaran;
e. perdagangan; dan
f. penunjang.
Pasal 3
(1) Standar mutu produk Pangan Lokal ditetapkan untuk 6 (enam) jenis Pangan Pokok yang terdiri atas:
a. Jagung;
b. Sagu;
c. Sorgum;
d. Talas;
e. Ubi Jalar; dan
f. Ubi Kayu.
(2) Selain jenis Pangan Pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1), standar mutu Pangan Lokal juga ditetapkan untuk produk turunan sebagai Pangan Pokok yang meliputi:
a. produk turunan Jagung berupa beras Jagung, tepung Jagung, dan pati Jagung;
b. produk turunan Sorgum berupa tepung Sorgum;
c. produk turunan Talas berupa tepung Talas;
d. produk turunan Ubi Jalar berupa tepung Ubi Jalar; dan
e. produk turunan Ubi Kayu berupa tepung Ubi Kayu, pati Ubi Kayu, dan tepung mocaf.
Pasal 4
(1) Standar mutu produk Pangan Lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 terdiri atas:
a. persyaratan mutu;
b. cara penanganan yang baik; dan
c. kemasan dan label.
(2) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berdasarkan pada kriteria:
a. organoleptik;
b. fisik;
c. kandungan gizi dan nongizi; dan
d. keberadaan benda asing.
Pasal 5
(1) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk Jagung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a meliputi parameter:
a. warna;
b. bau;
c. benda asing;
d. biji rusak;
e. biji pecah;
f. biji retak;
g. biji berjamur;
h. kadar air;
i. kadar karbohidrat;
j. kadar abu;
k. kadar lemak;
l. kadar protein; dan
m. serat Pangan.
(2) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk Sagu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b meliputi parameter:
a. warna;
b. bau;
c. kadar air;
d. kadar karbohidrat;
e. kadar abu;
f. kadar protein;
g. serat Pangan;
h. derajat keasaman; dan
i. pH.
(3) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk Sorgum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf c meliputi parameter:
a. warna;
b. bau;
c. benda asing;
d. biji rusak;
e. biji pecah;
f. biji cacat;
g. biji berpenyakit;
h. kadar air;
i. kadar karbohidrat;
j. kadar abu;
k. kadar lemak;
l. kadar protein;
m. serat Pangan; dan
n. kadar tanin.
(4) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk Talas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d meliputi parameter:
a. warna;
b. bau;
c. kadar air;
d. kadar karbohidrat;
e. kadar abu;
f. kadar protein; dan
g. serat Pangan.
(5) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk Ubi Jalar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf e meliputi parameter:
a. warna;
b. kadar air;
c. kadar karbohidrat;
d. kadar pati;
e. kadar abu;
f. kadar protein; dan
g. serat Pangan.
(6) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk Ubi Kayu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf f meliputi parameter:
a. warna;
b. rasa;
c. bau;
d. umbi keras;
e. umbi rusak;
f. kadar air;
g. kadar karbohidrat;
h. kadar pati;
i. kadar abu;
j. kadar protein;
k. serat Pangan; dan
l. asam sianida bebas.
Pasal 6
(1) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk produk turunan beras Jagung dan tepung Jagung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat
(2) huruf a meliputi:
a. kadar air;
b. kadar karbohidrat;
c. kadar abu;
d. kadar lemak;
e. kadar protein; dan
f. serat Pangan.
(2) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk produk turunan pati Jagung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a meliputi:
a. kadar air;
b. kadar pati;
c. kadar abu;
d. kadar lemak;
e. kadar protein;
f. pH;
g. derajat putih; dan
h. belerang oksida.
(3) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk produk turunan tepung Sorgum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf b meliputi:
a. warna;
b. bau;
c. kadar air;
d. kadar abu;
e. kadar lemak;
f. kadar protein;
g. serat Pangan; dan
h. kadar tanin.
(4) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk produk turunan tepung Talas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf c meliputi:
a. kadar air;
b. kadar karbohidrat;
c. kadar abu;
d. kadar lemak;
e. kadar protein; dan
f. serat Pangan.
(5) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk produk turunan tepung Ubi Jalar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf d meliputi:
a. benda asing;
b. kadar air;
c. kadar karbohidrat;
d. kadar abu;
e. kadar lemak;
f. kadar protein; dan
g. serat Pangan.
(6) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk produk turunan tepung Ubi Kayu dan tepung mocaf sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf e meliputi:
a. kadar air;
b. kadar karbohidrat;
c. kadar pati;
d. kadar abu;
e. kadar lemak;
f. kadar protein;
g. serat Pangan; dan
h. asam sianida.
(7) Persyaratan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a untuk produk turunan pati Ubi Kayu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf e meliputi:
a. kadar air;
b. kadar pati;
c. kadar abu;
d. kadar lemak;
e. kadar protein;
f. serat Pangan;
g. derajat putih; dan
h. derajat asam.
Pasal 7
Cara penanganan yang baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b dilakukan untuk:
a. meminimalkan kandungan komponen tertentu;
b. menjaga mutu; dan
c. memperpanjang umur simpan Pangan Lokal.
Pasal 8
(1) Kemasan Pangan Lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c untuk Pangan Lokal harus memenuhi standar kemasan yang aman untuk Pangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Label Pangan Lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c untuk Pangan Lokal harus memenuhi standar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
(3) Selain harus memenuhi ketentuan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), penggunaan kemasan dan label Pangan Lokal juga harus memenuhi standar sebagaimana tercantum dalam pedoman standar mutu produk Pangan Lokal.
Pasal 9
Selain memenuhi standar mutu produk Pangan Lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), Pangan Lokal juga harus memenuhi persyaratan keamanan Pangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 10
Ketentuan mengenai pedoman standar mutu produk Pangan Lokal tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Badan ini.
Pasal 11
Penambahan jenis Pangan Pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan perubahan Lampiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ditetapkan dengan Keputusan Kepala Badan setelah berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait.
Pasal 12
Peraturan Badan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Badan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik INDONESIA.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 13 November 2024
KEPALA BADAN PANGAN NASIONAL
Œ
ARIEF PRASETYO ADI
Diundangkan di Jakarta pada tanggal Д
DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA,
Ѽ
DHAHANA PUTRA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2024 NOMOR Ж
