Langsung ke konten

Organisasi Kementerian Negara (Lembaga Negara

PERMEN No. 0 Tahun 2015 berlaku

Ditetapkan: 2015-01-01

Pasal 1

www.hukumonline.com/pusatdata
Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 5, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 5655);
10.
Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaga Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 9);
11.
Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2015 tentang Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 13);
12.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan
Keuangan Pemerintah Pusat;
13.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.07/2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 156/PMK.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan tugas
Pembantuan;
14.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 249/PMK.02/2011 tentang Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Atas
Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga;
15.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.05/2012 tentang Perjalanan Dinas Jabatan Dalam
Negeri bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap;
16.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran Dalam
Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
17.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 136/PMK.02/2014 tentang Petunjuk Penyusunan dan
Penelaahan RKA-K/L;
18.
Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 6 Tahun 2015
tentang Organisasi Kementerian dan Tata Kerja Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,
dan Transmigrasi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 463).
MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI
TENTANG PEDOMAN PERENCANAAN, PELAKSANAAN, PENGENDALIAN DAN PELAPORAN
PROGRAM.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanjutnya disingkat APBN adalah rencana
keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
2.
Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga yang selanjutnya disingkat RKA-K/L, adalah
dokumen rencana keuangan tahunan Kementerian yang disusun menurut Bagian Anggaran
Kementerian.
3.
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran yang selanjutnya disebut DIPA adalah Dokumen Pelaksanaan
Anggaran yang digunakan sebagai acuan Pengguna Anggaran dalam melaksanakan kegiatan
pemerintahan sebagai pelaksanaan APBN.
4.
Revisi Anggaran adalah perubahan Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat yang telah
2 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

www.hukumonline.com/pusatdata
ditetapkan berdasarkan APBN, Surat Penetapan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga
(SP RKA-K/L) dan/atau Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
5.
Satuan Kerja, yang selanjutnya disebut Satker, adalah bagian dari suatu unit organisasi pada
Kementerian yang melaksanakan beberapa kegiatan dan memiliki kewenangan dan tanggung jawab
penggunaan anggaran.
6.
Unit Kerja adalah Unit Kerja Eselon I dan Unit Kerja Eselon II di Kementerian Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang akan melaksanakan kegiatan dan anggaran.
7.
Program adalah penjabaran dari kebijakan sesuai dengan visi dan misi Kementerian yang
rumusannya mencerminkan tugas dan fungsi unit Eselon I atau unit Kementerian yang berisi kegiatan
untuk mencapai dengan indikator kinerja yang terukur.
8.
Kegiatan adalah penjabaran dari program yang rumusannya mencerminkan tugas dan fungsi unit
Eselon II atau penugasan tertentu Kementerian yang berisi komponen kegiatan untuk mencapai
Keluaran dengan indikator kinerja tertentu.
9.
Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat PA adalah Menteri yang bertanggungjawab atas
pengelolaan anggaran pada Kementerian.
10.
Pengguna Barang yang selanjutnya disingkat PB adalah Menteri yang memiliki kewenangan
penggunaan Barang Milik Negara.
11.
Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat KPA adalah pejabat yang memperoleh kuasa
dari PA untuk melaksanakan sebagian kewenangan dan tanggung jawab penggunaan anggaran pada
Kementerian.
12.
Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disingkat PPK adalah pejabat yang melaksanakan
kewenangan PA/KPA untuk mengambil keputusan dan/atau tindakan yang dapat mengakibatkan
pengeluaran atas beban APBN;
13.
Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disebut PP-SPM adalah pejabat
yang diberi kewenangan oleh PA/KPA untuk melakukan pengujian atas permintaan pembayaran dan
menerbitkan perintah pembayaran.
14.
Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, membayarkan,
menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan Belanja Negara dalam
pelaksanaan APBN pada kantor/Satker Kementerian.
15.
Bendahara Pengeluaran Pembantu yang selanjutnya disingkat BPP adalah orang yang ditunjuk untuk
membantu Bendahara Pengeluaran untuk melaksanakan pembayaran kepada yang berhak guna
kelancaran pelaksanaan kegiatan tertentu.
16.
Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat UP adalah uang muka kerja dalam jumlah tertentu yang
diberikan kepada Bendahara Pengeluaran untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari Satker
atau membiayai pengeluaran yang menurut sifat dan tujuannya tidak mungkin dilakukan melalui
mekanisme pembayaran langsung.
17.
Pembayaran Langsung yang selanjutnya disebut Pembayaran LS adalah pembayaran yang dilakukan
langsung kepada Bendahara Pengeluaran/penerima hak lainnya atas dasar perjanjian kerja, surat
keputusan, surat tugas atau surat perintah kerja lainnya melalui penerbitan Surat Perintah Membayar
Langsung.
18.
Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat TUP adalah uang muka yang diberikan
kepada Bendahara Pengeluaran untuk kebutuhan yang sangat mendesak dalam 1 (satu) bulan
melebihi pagu UP yang telah ditetapkan.
19.
Pertanggungjawaban Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat PTUP adalah
pertanggungjawaban atas TUP.
20.
Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh
PPK, yang berisi permintaan pembayaran tagihan kepada negara.
21.
Surat Permintaan Pembayaran Langsung yang selanjutnya disebut SPP-LS adalah dokumen yang
3 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

www.hukumonline.com/pusatdata
diterbitkan oleh PPK, dalam rangka pembayaran tagihan kepada penerima hak/ Bendahara
Pengeluaran.
22.
Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPP-UP adalah dokumen
yang diterbitkan oleh PPK, yang berisi permintaan pembayaran UP.
23.
Surat Permintaan Pembayaran Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPP-TUP
adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK, yang berisi permintaan pembayaran TUP.
24.
Surat Permintaan Pembayaran Penggantian Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPP-GUP
adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK, yang berisi pertanggungjawaban dan permintaan kembali
pembayaran UP.
25.
Surat Permintaan Pembayaran Penggantian Uang Persediaan Nihil yang selanjutnya disebut SPP-
GUP Nihil adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK, yang berisi pertanggungjawaban UP.
26.
Surat Permintaan Pembayaran Pertanggungjawaban Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya
disebut SPP-PTUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK, yang berisi permintaan
pertanggungjawaban atas TUP.
27.
Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat SPM adalah dokumen yang diterbitkan oleh PP-
SPM untuk mencairkan dana yang bersumber dari DIPA.
28.
Surat Perintah Membayar Langsung yang selanjutnya disebut SPM-LS adalah dokumen yang
diterbitkan oleh PP-SPM untuk mencairkan dana yang bersumber dari DIPA dalam rangka
pembayaran tagihan kepada penerima hak/Bendahara Pengeluaran.
29.
Surat Perintah Membayar Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPM-UP adalah dokumen yang
diterbitkan oleh PP-SPM untuk mencairkan UP.
30.
Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPM-TUP adalah
dokumen yang diterbitkan oleh PP-SPM untuk mencairkan TUP.
31.
Surat Perintah Membayar Penggantian Uang Persediaan yang selanjutnya disebut SPM-GUP adalah
dokumen yang diterbitkan oleh PP-SPM dengan membebani DIPA, yang dananya dipergunakan untuk
menggantikan UP yang telah dipakai.
32.
Surat Perintah Membayar Penggantian Uang Persediaan Nihil yang selanjutnya disebut SPM-GUP
Nihil adalah dokumen yang diterbitkan oleh PP-SPM sebagai pertanggungjawaban UP yang
membebani DIPA.
33.
Surat Perintah Membayar Pertanggungjawaban Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disebut
SPM-PTUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh PP-SPM sebagai pertanggungjawaban atas TUP
yang membebani DIPA.
34.
Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjutnya disebut SP2D adalah surat perintah yang diterbitkan
oleh KPPN selaku Kuasa BUN untuk pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN berdasarkan SPM.
35.
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara yang selanjutnya disingkat KPPN adalah instansi vertikal
direktorat jenderal perbendaharaan yang memperoleh kewenangan selaku kuasa BUN.
36.
Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran/Barang, yang selanjutnya disingkat UAKPA/B, adalah Unit
Akuntansi yang melakukan kegiatan akuntansi dan pelaporan Tingkat Satuan Kerja.
37.
Unit Akuntansi Pengguna Anggaran/Barang, yang selanjutnya disingkat UAPA/B, adalah Unit
Akuntansi yang melakukan kegiatan akuntansi dan pelaporan Tingkat Kementerian.
38.
Aparat Pengawasan Intern Pemerintah Kementerian/Lembaga yang selanjutnya disingkat APIP K/L
adalah Inspektorat Jenderal/Inspektorat Utama/Inspektorat atau nama lain yang secara fungsional
melaksanakan pengawasan intern yang bertanggung jawab langsung kepada Menteri/Pimpinan
Lembaga.
39.
Sekretaris Jenderal adalah Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,
dan Transmigrasi.
40.
Menteri adalah Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.
4 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

# PERENCANAAN

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 2
Tujuan ditetapkannya Peraturan Menteri ini:
a.
sebagai pedoman dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pelaporan program dan
anggaran di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; dan
b.
untuk meningkatkan tertib administrasi, efektif, efisien, transparan, dan akuntabel dalam pelaksanaan
anggaran.
Pasal 3
Peraturan Menteri ini mencakup pedoman mengenai tata cara melakukan perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian dan pelaporan program dan anggaran Kementerian yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara.
BAB II
PERENCANAAN
Perencanaan Kegiatan
Pasal 4
Perencanaan kegiatan dan anggaran mencakup kegiatan:
a.
perencanaan;
b.
reviu; dan
c.
penilaian.
Pasal 5
(1)
Unit Kerja menyusun rencana kegiatan dan anggaran mengacu pada Renstra dan Renja Kementerian
berdasarkan RKP.
(2)
Rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3)
Pengusulan rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai
dengan:
a.
Kerangka Acuan Kegiatan/Term of Reference (KAK/ToR); dan
b.
Rencana Anggaran dan Biaya (RAB).
(4)
Penyusunan KAK/ToR sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a berpedoman pada Peraturan
Menteri Keuangan.
(5)
Penyusunan RAB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b berpedoman pada satuan biaya yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Pasal 6
Dalam rangka meningkatkan kualitas perencanaan penganggaran Kementerian, RKA-K/L unit eselon I yang
telah ditandatangani, disampaikan kepada:
a.
Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan untuk diteliti; dan
5 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

www.hukumonline.com/pusatdata
b.
APIP K/L untuk direviu.
Pasal 7
(1)
Penelitian RKA-K/L unit eselon I oleh Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan dilakukan melalui
verifikasi atas kelengkapan dan kebenaran dokumen yang dipersyaratkan serta kepatuhan dalam
penerapan kaidah-kaidah perencanaan penganggaran.
(2)
Verifikasi atas kelengkapan dan kebenaran dokumen yang dipersyaratkan serta kepatuhan dalam
penerapan kaidah-kaidah perencanaan penganggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
difokuskan untuk meneliti:
a.
konsistensi pencantuman sasaran Kinerja meliputi volume Keluaran dan indikator Kinerja
kegiatan dalam RKA-K/L sesuai dengan sasaran Kinerja dalam Renja K/L dan RKP;
b.
kesesuaian total pagu dalam RKA-K/L dengan Pagu Anggaran K/L;
c.
kesesuaian sumber dana dalam RKA-K/L dengan sumber dana yang ditetapkan dalam Pagu
Anggaran K/L;
d.
kepatuhan dalam pencantuman tematik APBN pada level Keluaran; dan
e.
kelengkapan dokumen pendukung RKA-K/L antara lain RKA Satker, ToR/RAB, dan dokumen
pendukung terkait lainnya.
(3)
Hasil penelitian RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada:
a.
APIP K/L untuk direviu; dan
b.
unit eselon I yang memiliki alokasi anggaran (portofolio) dan sebagai penanggung jawab
program untuk dilakukan perbaikan atau penyesuaian apabila diperlukan.
(4)
Pedoman penelitian RKA-K/L unit eselon I oleh Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan sesuai
dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(5)
Pelaksanaan reviu oleh APIP K/L sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 8
(1)
Reviu RKA-K/L unit eselon I oleh APIP K/L sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b dilakukan
untuk memberikan keyakinan terbatas (limited assurance) dan memastikan kepatuhan penerapan
kaidah-kaidah perencanaan penganggaran.
(2)
Reviu RKA-K/L unit eselon I oleh APIP K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difokuskan pada:
a.
Kelayakan Anggaran untuk menghasilkan sebuah Keluaran;
b.
Kepatuhan dalam penerapan kaidah-kaidah perencanaan penganggaran antara lain:
1.
penerapan standar biaya masukan dan standar biaya keluaran;
2.
penggunaan akun;
3.
hal-hal yang dibatasi;
4.
pengalokasian anggaran untuk kegiatan yang didanai dari penerimaan Negara bukan
pajak, pinjaman/hibah luar negeri, pinjaman/hibah dalam negeri, dan surat berharga
syariah Negara;
5.
kontrak tahun jamak; dan
6.
pengalokasian anggaran yang akan diserahkan menjadi penyertaan modal Negara pada
badan usaha milik Negara;
c.
kelengkapan dokumen pendukung RKA-K/L antara lain RKA Satker, ToR/RAB, dan dokumen
6 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 2

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 2
Tujuan ditetapkannya Peraturan Menteri ini:
a.
sebagai pedoman dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pelaporan program dan
anggaran di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; dan
b.
untuk meningkatkan tertib administrasi, efektif, efisien, transparan, dan akuntabel dalam pelaksanaan
anggaran.
Pasal 3
Peraturan Menteri ini mencakup pedoman mengenai tata cara melakukan perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian dan pelaporan program dan anggaran Kementerian yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara.
BAB II
PERENCANAAN
Perencanaan Kegiatan
Pasal 4
Perencanaan kegiatan dan anggaran mencakup kegiatan:
a.
perencanaan;
b.
reviu; dan
c.
penilaian.
Pasal 5
(1)
Unit Kerja menyusun rencana kegiatan dan anggaran mengacu pada Renstra dan Renja Kementerian
berdasarkan RKP.
(2)
Rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3)
Pengusulan rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai
dengan:
a.
Kerangka Acuan Kegiatan/Term of Reference (KAK/ToR); dan
b.
Rencana Anggaran dan Biaya (RAB).
(4)
Penyusunan KAK/ToR sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a berpedoman pada Peraturan
Menteri Keuangan.
(5)
Penyusunan RAB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b berpedoman pada satuan biaya yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Pasal 6
Dalam rangka meningkatkan kualitas perencanaan penganggaran Kementerian, RKA-K/L unit eselon I yang
telah ditandatangani, disampaikan kepada:
a.
Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan untuk diteliti; dan
5 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 3

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 2
Tujuan ditetapkannya Peraturan Menteri ini:
a.
sebagai pedoman dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pelaporan program dan
anggaran di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; dan
b.
untuk meningkatkan tertib administrasi, efektif, efisien, transparan, dan akuntabel dalam pelaksanaan
anggaran.
Pasal 3
Peraturan Menteri ini mencakup pedoman mengenai tata cara melakukan perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian dan pelaporan program dan anggaran Kementerian yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara.
BAB II
PERENCANAAN
Perencanaan Kegiatan
Pasal 4
Perencanaan kegiatan dan anggaran mencakup kegiatan:
a.
perencanaan;
b.
reviu; dan
c.
penilaian.
Pasal 5
(1)
Unit Kerja menyusun rencana kegiatan dan anggaran mengacu pada Renstra dan Renja Kementerian
berdasarkan RKP.
(2)
Rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3)
Pengusulan rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai
dengan:
a.
Kerangka Acuan Kegiatan/Term of Reference (KAK/ToR); dan
b.
Rencana Anggaran dan Biaya (RAB).
(4)
Penyusunan KAK/ToR sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a berpedoman pada Peraturan
Menteri Keuangan.
(5)
Penyusunan RAB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b berpedoman pada satuan biaya yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Pasal 6
Dalam rangka meningkatkan kualitas perencanaan penganggaran Kementerian, RKA-K/L unit eselon I yang
telah ditandatangani, disampaikan kepada:
a.
Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan untuk diteliti; dan
5 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 4

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 2
Tujuan ditetapkannya Peraturan Menteri ini:
a.
sebagai pedoman dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pelaporan program dan
anggaran di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; dan
b.
untuk meningkatkan tertib administrasi, efektif, efisien, transparan, dan akuntabel dalam pelaksanaan
anggaran.
Pasal 3
Peraturan Menteri ini mencakup pedoman mengenai tata cara melakukan perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian dan pelaporan program dan anggaran Kementerian yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara.
BAB II
PERENCANAAN
Perencanaan Kegiatan
Pasal 4
Perencanaan kegiatan dan anggaran mencakup kegiatan:
a.
perencanaan;
b.
reviu; dan
c.
penilaian.
Pasal 5
(1)
Unit Kerja menyusun rencana kegiatan dan anggaran mengacu pada Renstra dan Renja Kementerian
berdasarkan RKP.
(2)
Rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3)
Pengusulan rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai
dengan:
a.
Kerangka Acuan Kegiatan/Term of Reference (KAK/ToR); dan
b.
Rencana Anggaran dan Biaya (RAB).
(4)
Penyusunan KAK/ToR sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a berpedoman pada Peraturan
Menteri Keuangan.
(5)
Penyusunan RAB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b berpedoman pada satuan biaya yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Pasal 6
Dalam rangka meningkatkan kualitas perencanaan penganggaran Kementerian, RKA-K/L unit eselon I yang
telah ditandatangani, disampaikan kepada:
a.
Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan untuk diteliti; dan
5 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 5

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 2
Tujuan ditetapkannya Peraturan Menteri ini:
a.
sebagai pedoman dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pelaporan program dan
anggaran di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; dan
b.
untuk meningkatkan tertib administrasi, efektif, efisien, transparan, dan akuntabel dalam pelaksanaan
anggaran.
Pasal 3
Peraturan Menteri ini mencakup pedoman mengenai tata cara melakukan perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian dan pelaporan program dan anggaran Kementerian yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara.
BAB II
PERENCANAAN
Perencanaan Kegiatan
Pasal 4
Perencanaan kegiatan dan anggaran mencakup kegiatan:
a.
perencanaan;
b.
reviu; dan
c.
penilaian.
Pasal 5
(1)
Unit Kerja menyusun rencana kegiatan dan anggaran mengacu pada Renstra dan Renja Kementerian
berdasarkan RKP.
(2)
Rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3)
Pengusulan rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai
dengan:
a.
Kerangka Acuan Kegiatan/Term of Reference (KAK/ToR); dan
b.
Rencana Anggaran dan Biaya (RAB).
(4)
Penyusunan KAK/ToR sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a berpedoman pada Peraturan
Menteri Keuangan.
(5)
Penyusunan RAB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b berpedoman pada satuan biaya yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Pasal 6
Dalam rangka meningkatkan kualitas perencanaan penganggaran Kementerian, RKA-K/L unit eselon I yang
telah ditandatangani, disampaikan kepada:
a.
Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan untuk diteliti; dan
5 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 6

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 2
Tujuan ditetapkannya Peraturan Menteri ini:
a.
sebagai pedoman dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pelaporan program dan
anggaran di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; dan
b.
untuk meningkatkan tertib administrasi, efektif, efisien, transparan, dan akuntabel dalam pelaksanaan
anggaran.
Pasal 3
Peraturan Menteri ini mencakup pedoman mengenai tata cara melakukan perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian dan pelaporan program dan anggaran Kementerian yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara.
BAB II
PERENCANAAN
Perencanaan Kegiatan
Pasal 4
Perencanaan kegiatan dan anggaran mencakup kegiatan:
a.
perencanaan;
b.
reviu; dan
c.
penilaian.
Pasal 5
(1)
Unit Kerja menyusun rencana kegiatan dan anggaran mengacu pada Renstra dan Renja Kementerian
berdasarkan RKP.
(2)
Rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3)
Pengusulan rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai
dengan:
a.
Kerangka Acuan Kegiatan/Term of Reference (KAK/ToR); dan
b.
Rencana Anggaran dan Biaya (RAB).
(4)
Penyusunan KAK/ToR sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a berpedoman pada Peraturan
Menteri Keuangan.
(5)
Penyusunan RAB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b berpedoman pada satuan biaya yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Pasal 6
Dalam rangka meningkatkan kualitas perencanaan penganggaran Kementerian, RKA-K/L unit eselon I yang
telah ditandatangani, disampaikan kepada:
a.
Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan untuk diteliti; dan
5 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 7

www.hukumonline.com/pusatdata
b.
APIP K/L untuk direviu.
Pasal 7
(1)
Penelitian RKA-K/L unit eselon I oleh Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan dilakukan melalui
verifikasi atas kelengkapan dan kebenaran dokumen yang dipersyaratkan serta kepatuhan dalam
penerapan kaidah-kaidah perencanaan penganggaran.
(2)
Verifikasi atas kelengkapan dan kebenaran dokumen yang dipersyaratkan serta kepatuhan dalam
penerapan kaidah-kaidah perencanaan penganggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
difokuskan untuk meneliti:
a.
konsistensi pencantuman sasaran Kinerja meliputi volume Keluaran dan indikator Kinerja
kegiatan dalam RKA-K/L sesuai dengan sasaran Kinerja dalam Renja K/L dan RKP;
b.
kesesuaian total pagu dalam RKA-K/L dengan Pagu Anggaran K/L;
c.
kesesuaian sumber dana dalam RKA-K/L dengan sumber dana yang ditetapkan dalam Pagu
Anggaran K/L;
d.
kepatuhan dalam pencantuman tematik APBN pada level Keluaran; dan
e.
kelengkapan dokumen pendukung RKA-K/L antara lain RKA Satker, ToR/RAB, dan dokumen
pendukung terkait lainnya.
(3)
Hasil penelitian RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada:
a.
APIP K/L untuk direviu; dan
b.
unit eselon I yang memiliki alokasi anggaran (portofolio) dan sebagai penanggung jawab
program untuk dilakukan perbaikan atau penyesuaian apabila diperlukan.
(4)
Pedoman penelitian RKA-K/L unit eselon I oleh Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan sesuai
dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(5)
Pelaksanaan reviu oleh APIP K/L sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 8
(1)
Reviu RKA-K/L unit eselon I oleh APIP K/L sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b dilakukan
untuk memberikan keyakinan terbatas (limited assurance) dan memastikan kepatuhan penerapan
kaidah-kaidah perencanaan penganggaran.
(2)
Reviu RKA-K/L unit eselon I oleh APIP K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difokuskan pada:
a.
Kelayakan Anggaran untuk menghasilkan sebuah Keluaran;
b.
Kepatuhan dalam penerapan kaidah-kaidah perencanaan penganggaran antara lain:
1.
penerapan standar biaya masukan dan standar biaya keluaran;
2.
penggunaan akun;
3.
hal-hal yang dibatasi;
4.
pengalokasian anggaran untuk kegiatan yang didanai dari penerimaan Negara bukan
pajak, pinjaman/hibah luar negeri, pinjaman/hibah dalam negeri, dan surat berharga
syariah Negara;
5.
kontrak tahun jamak; dan
6.
pengalokasian anggaran yang akan diserahkan menjadi penyertaan modal Negara pada
badan usaha milik Negara;
c.
kelengkapan dokumen pendukung RKA-K/L antara lain RKA Satker, ToR/RAB, dan dokumen
6 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 8

www.hukumonline.com/pusatdata
b.
APIP K/L untuk direviu.
Pasal 7
(1)
Penelitian RKA-K/L unit eselon I oleh Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan dilakukan melalui
verifikasi atas kelengkapan dan kebenaran dokumen yang dipersyaratkan serta kepatuhan dalam
penerapan kaidah-kaidah perencanaan penganggaran.
(2)
Verifikasi atas kelengkapan dan kebenaran dokumen yang dipersyaratkan serta kepatuhan dalam
penerapan kaidah-kaidah perencanaan penganggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
difokuskan untuk meneliti:
a.
konsistensi pencantuman sasaran Kinerja meliputi volume Keluaran dan indikator Kinerja
kegiatan dalam RKA-K/L sesuai dengan sasaran Kinerja dalam Renja K/L dan RKP;
b.
kesesuaian total pagu dalam RKA-K/L dengan Pagu Anggaran K/L;
c.
kesesuaian sumber dana dalam RKA-K/L dengan sumber dana yang ditetapkan dalam Pagu
Anggaran K/L;
d.
kepatuhan dalam pencantuman tematik APBN pada level Keluaran; dan
e.
kelengkapan dokumen pendukung RKA-K/L antara lain RKA Satker, ToR/RAB, dan dokumen
pendukung terkait lainnya.
(3)
Hasil penelitian RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada:
a.
APIP K/L untuk direviu; dan
b.
unit eselon I yang memiliki alokasi anggaran (portofolio) dan sebagai penanggung jawab
program untuk dilakukan perbaikan atau penyesuaian apabila diperlukan.
(4)
Pedoman penelitian RKA-K/L unit eselon I oleh Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan sesuai
dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(5)
Pelaksanaan reviu oleh APIP K/L sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 8
(1)
Reviu RKA-K/L unit eselon I oleh APIP K/L sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b dilakukan
untuk memberikan keyakinan terbatas (limited assurance) dan memastikan kepatuhan penerapan
kaidah-kaidah perencanaan penganggaran.
(2)
Reviu RKA-K/L unit eselon I oleh APIP K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difokuskan pada:
a.
Kelayakan Anggaran untuk menghasilkan sebuah Keluaran;
b.
Kepatuhan dalam penerapan kaidah-kaidah perencanaan penganggaran antara lain:
1.
penerapan standar biaya masukan dan standar biaya keluaran;
2.
penggunaan akun;
3.
hal-hal yang dibatasi;
4.
pengalokasian anggaran untuk kegiatan yang didanai dari penerimaan Negara bukan
pajak, pinjaman/hibah luar negeri, pinjaman/hibah dalam negeri, dan surat berharga
syariah Negara;
5.
kontrak tahun jamak; dan
6.
pengalokasian anggaran yang akan diserahkan menjadi penyertaan modal Negara pada
badan usaha milik Negara;
c.
kelengkapan dokumen pendukung RKA-K/L antara lain RKA Satker, ToR/RAB, dan dokumen
6 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

# PELAKSANAAN

www.hukumonline.com/pusatdata
pendukung terkait lainnya; dan
d.
rincian anggaran yang di gunakan untuk mendanai inisiatif baru dan/atau rincian anggaran
angka dasar yang mengalami perubahan pada level komponen.
(3)
Hasil reviu RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada:
a.
Unit eselon I yang memiliki alokasi anggaran (portofolio) dan sebagai penanggungjawab
program untuk dilakukan perbaikan atau penyesuaian apabila diperlukan; dan
b.
Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan.
(4)
Pedoman reviu RKA-K/L unit eselon I oleh APIP K/L sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
BAB III
PELAKSANAAN
Pasal 9
Pelaksanaan kegiatan dan anggaran mencakup kegiatan:
a.
pembentukan Pejabat Perbendaharaan Negara;
b.
pelaksanaan anggaran kegiatan dan pencairan; dan
c.
revisi atau perubahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
Bagian Pertama
Pembentukan Pejabat Perbendaharaan Negara
Pasal 10
(1)
Dalam melaksanakan kegiatan dan anggaran, Kementerian menetapkan Pejabat Perbendaharaan
Negara.
(2)
Pejabat Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a.
Pengguna Anggaran (PA);
b.
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA);
c.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK);
d.
Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (PP-SPM); dan
e.
Bendahara Pengeluaran (BP).
Pasal 11
Hubungan dan prosedur kerja antara Pejabat Perbendaharaan Negara dengan Pejabat Struktural ditetapkan
dengan Keputusan Menteri.
Paragraf 1
Pengusulan Pejabat Perbendaharaan Negara
Pasal 12
7 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

www.hukumonline.com/pusatdata
(1)
Pejabat Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b huruf c,
huruf d, dan huruf e diusulkan oleh Pejabat Eselon I.
(2)
Pengusulan Pejabat Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada
awal bulan Desember tahun anggaran berjalan.
(3)
Usulan Penetapan Pejabat Perbendaharaan Negara disampaikan kepada PA dan/atau KPA pada
bulan Desember tahun anggaran berjalan.
Paragraf 2
Kuasa Pengguna Anggaran
Pasal 13
(1)
KPA dan bendahara Pengeluaran ditetapkan oleh PA.
(2)
KPA memiliki tugas dan kewenangan sesuai pelimpahan dari PA sebagaimana ditetapkan dalam
Keputusan Menteri;
(3)
Dalam melaksanakan tugas KPA menetapkan:
a.
PPK;
b.
PP-SPM;
c.
Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP);
d.
Pejabat Pengadaan Barang/Jasa;
e.
Panitia/pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP);
(4)
KPA mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Paragraf 3
Pejabat Pembuat Komitmen
Pasal 14
Dalam hal pengadaan barang/jasa, PPK mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 4
Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PP-SPM)
Pasal 15
Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PP-SPM) mempunyai tugas dan wewenang sesuai
dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 5
Bendahara Pengeluaran
8 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 16
Bendahara Pengeluaran mempunyai tugas dan wewenang sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 6
Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP)
Pasal 17
BPP mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan Peraturan Menteri
Bagian Kedua
Tata Cara Pelaksanaan Kegiatan dan Pencairan Anggaran
Pasal 18
(1)
Pelaksanaan kegiatan dan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dijalankan
sesuai dengan rencana kerja dan jadual kegiatan yang telah ditetapkan.
(2)
Pelaksanaan kegiatan dan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan
pada DIPA dan RKA yang telah ditetapkan oleh Kementerian Keuangan.
Paragraf 1
Pembuatan Komitmen
Pasal 19
(1)
Pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran pada DIPA yang mengakibatkan pengeluaran
negara, dilakukan melalui pembuatan komitmen.
(2)
Pembuatan komitmen sebagaimana dimaksud ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 2
Pencatatan Komitmen oleh PPK dan KPPN
Pasal 20
(1)
Perjanjian/kontrak yang pembayarannya akan dilakukan melalui SPM-LS, PPK mencatatkan
perjanjian/kontrak yang telah ditandatangani ke dalam suatu sistem yang disediakan oleh Direktorat
Jenderal Perbendaharaan.
(2)
Pencatatan perjanjian/kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Paragraf 3
Mekanisme Penyelesaian Tagihan dan Penerbitan SPP
9 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 21
(1)
Penerima hak mengajukan tagihan kepada negara atas komitmen berdasarkan bukti-bukti yang sah
untuk memperoleh pembayaran.
(2)
Atas dasar tagihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PPK melakukan pengujian.
(3)
Pelaksanaan pembayaran tagihan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(4)
Dalam hal Pembayaran LS tidak dapat dilakukan, pembayaran tagihan kepada penerima hak
dilakukan dengan UP.
(5)
Khusus untuk pembayaran komitmen dalam rangka pengadaan barang/jasa sesuai dengan Peraturan
Menteri Keuangan.
Pasal 22
(1)
Pembayaran LS ditujukan kepada:
a.
penyedia barang/jasa atas dasar perjanjian/kontrak;
b.
bendahara Pengeluaran/pihak lainnya untuk keperluan belanja pegawai non gaji induk,
pembayaran honorarium, dan perjalanan dinas atas dasar surat keputusan.
(2)
Pembayaran tagihan kepada penyedia barang/jasa sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(3)
Pembayaran tagihan kepada Bendahara Pengeluaran/pihak lainnya sesuai dengan Peraturan Menteri
Keuangan.
Paragraf 4
Penerbitan SPP-LS
Pasal 23
(1)
Dalam hal pengujian telah memenuhi persyaratan, PPK mengesahkan dokumen tagihan dan
menerbitkan SPP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(2)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja pegawai sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 24
(1)
SPP-LS untuk pembayaran non belanja pegawai diterbitkan oleh PPK dan disampaikan kepada PP-
SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah dokumen pendukung diterima secara lengkap dan benar
dari penerima hak.
(2)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran pengadaan barang/jasa atas beban belanja barang, belanja
modal, belanja bantuan sosial, dan belanja lain-lain dilengkapi dengan dokumen pendukung.
(3)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja bantuan sosial kepada penerima bantuan sosial diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan.
(4)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja pembayaran kewajiban utang, belanja subsidi, belanja
hibah, masing- masing diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 25
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran Honorarium sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
10 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

www.hukumonline.com/pusatdata
Paragraf 5
Mekanisme Pembayaran dengan Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan
Pasal 26
(1)
UP digunakan untuk keperluan membiayai kegiatan operasional sehari-hari Satker dan membiayai
pengeluaran yang tidak dapat dilakukan melalui mekanisme Pembayaran LS.
(2)
UP merupakan uang muka kerja dari Kuasa BUN kepada Bendahara Pengeluaran yang dapat
dimintakan penggantiannya (revolving).
(3)
KPA dapat mengajukan TUP kepada Kepala KPPN dalam hal sisa UP pada Bendahara Pengeluaran
tidak cukup tersedia untuk membiayai kegiatan yang sifatnya mendesak/tidak dapat ditunda.
(4)
Mekanisme Pembayaran dengan Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan sesuai dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 6
Mekanisme Penerbitan SPP-UP/GUP/GUP NIHIL
Pasal 27
(1)
Berdasarkan rencana kegiatan yang telah disusun, Bendahara Pengeluaran menyampaikan
kebutuhan UP kepada PPK.
(2)
Atas dasar kebutuhan UP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PPK menerbitkan SPP-UP untuk
pengisian UP yang dilengkapi dengan perhitungan besaran UP sesuai pengajuan dari Bendahara
Pengeluaran.
(3)
SPP-UP diterbitkan oleh PPK dan disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 2 (dua) hari kerja
setelah diterimanya permintaan UP dari Bendahara Pengeluaran.
Pasal 28
(1)
Bendahara Pengeluaran/BPP melakukan pembayaran atas UP berdasarkan surat perintah bayar
(SPBy) yang disetujui dan ditandatangani oleh PPK atas nama KPA.
(2)
SPBy sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(3)
Dalam hal penyedia barang/jasa tidak mempunyai kuitansi/bukti pembelian sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a, Bendahara Pengeluaran/BPP membuat kuitansi yang dibuat sesuai dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 29
(1)
PPK menerbitkan SPP-GUP untuk pengisian kembali UP.
(2)
Penerbitan SPP-GUP dilengkapi dengan dokumen pendukung sebagai berikut:
a.
Daftar Rincian Permintaan Pembayaran;
b.
Bukti pengeluaran; dan
c.
SSP yang telah dikonfirmasi KPPN.
(3)
Perjanjian/Kontrak beserta faktur pajaknya dilampirkan untuk nilai transaksi yang harus menggunakan
perjanjian/Kontrak sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan mengenai pengadaan
barang/jasa pemerintah.
11 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

www.hukumonline.com/pusatdata
(4)
SPP-GUP disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah bukti-bukti
pendukung diterima secara lengkap dan benar.
Pasal 30
(1)
Sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan pembayaran dengan UP minimal sama dengan nilai UP
yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran.
(2)
Dalam hal pengisian kembali UP akan mengakibatkan sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan
pembayaran dengan UP lebih kecil dari UP yang dikelola Bendahara Pengeluaran:
a.
pengisian kembali UP dilaksanakan maksimal sebesar sisa dana dalam DIPA yang dapat
dibayarkan dengan UP; dan
b.
selisih antara sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan pembayaran dengan UP dan UP
yang dikelola Bendahara Pengeluaran dibukukan/ diperhitungkan sebagai potongan
Penerimaan Pengembalian UP.
Pasal 31
(1)
Penerbitan SPP-GUP Nihil dilakukan dalam hal:
a.
sisa dana pada DIPA yang dapat dibayarkan dengan UP minimal sama dengan besaran UP
yang diberikan;
b.
sebagai pertanggungjawaban UP yang dilakukan pada akhir tahun anggaran; atau
c.
UP tidak diperlukan lagi.
(2)
Penerbitan SPP-GUP Nihil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
pengesahan/pertanggungjawaban UP.
(3)
SPP-GUP Nihil dilengkapi dengan dokumen pendukung.
(4)
SPP-GUP Nihil disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah bukti-bukti
pendukung diterima secara lengkap dan benar.
Paragraf 7
Mekanisme Penerbitan SPP-TUP/PTUP
Pasal 32
PPK menerbitkan SPP-TUP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 8
Mekanisme Pengujian SPP dan Penerbitan SPM
Pasal 33
PP-SPM melakukan pemeriksaan dan pengujian SPP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 9
Pembatalan SPP, SPM dan SP2D
12 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 34
(1)
Pembatalan SPP hanya dapat dilakukan oleh PPK sepanjang SP2D belum diterbitkan.
(2)
Pembatalan SPM hanya dapat dilakukan oleh PP-SPM secara tertulis sepanjang SP2D belum
diterbitkan.
(3)
Dalam hal SP2D telah diterbitkan dan belum mendebet kas negara, pembatalan SPM dapat dilakukan
setelah mendapat persetujuan Direktur Jenderal Perbendaharaan atau pejabat yang ditunjuk.
(4)
Koreksi SP2D atau daftar nominatif untuk penerima lebih dari satu rekening hanya dapat dilakukan
oleh Kepala KPPN berdasarkan permintaan KPA.
(5)
Pembatalan SP2D tidak dapat dilakukan dalam hal SP2D telah mendebet Kas Negara.
Paragraf 10
Prosedur Pengajuan Surat Tugas dan Surat Perintah
Pasal 35
(1)
Prosedur penerbitan Surat Tugas dan Surat Perintah sebagai berikut:
a.
setiap Surat Tugas dan Surat Perintah harus didasarkan pada Surat Tugas yang telah
ditandatangani oleh Menteri dan/atau Sekretaris Jenderal dan Direktur Jenderal serta telah di
paraf koordinasi atasan langsung;
b.
Surat Tugas dan Surat Perintah harus diberi nomor terlebih dahulu secara tertib;
c.
Surat Tugas dan Surat Perintah dibuat dalam 3 (tiga) rangkap yaitu: 1 (satu) untuk PPK, 1
(satu) untuk Bendahara Pengeluaran dan 1 (satu) Penandatangan SPM, dimana didalamnya
tercantum maksud dan tujuan perjalanan dinas dalam formulir Surat Tugas dan Surat Perintah
(nama program dan kegiatan);
d.
penanggung jawab kegiatan mengajukan permohonan pencairan dana perjalanan dinas dalam
waktu 10 (sepuluh) hari sebelum tanggal keberangkatan/pelaksanaan perjalanan dinas kepada
KPA dengan tembusan kepada Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan;
e.
KPA membuat disposisi kepada PPK atas surat yang diterima dari penanggung jawab kegiatan
tersebut;
f.
jumlah orang dan lamanya perjalanan dinas disesuaikan dengan kebutuhan yang riil dalam
melaksanakan kegiatan tersebut. Setiap orang yang melakukan perjalanan dinas harus
mempunyai tugas dan tanggungjawab yang jelas selama yang bersangkutan berada di lokasi
atau daerah yang dikunjungi;
g.
setiap usulan perjalanan dinas yang telah memenuhi persyaratan formal agar segera diproses
oleh KPA, PPK, dan Bendaharawan Pengeluaran, apabila terdapat kekurangan persyaratan
dalam usulan tersebut maka KPA, PPK, dan Bendaharawan Pengeluaran agar segera
memberitahukan kepada penanggung jawab kegiatan yang bersangkutan dalam rangka
memperbaiki usulan tersebut;
h.
pelaksana Surat Tugas dan Surat Perintah mempertanggungjawabkan pelaksanaan Perjalanan
Dinas kepada pemberi tugas dan biaya Perjalanan Dinas kepada PPK paling lambat 5 (lima)
hari kerja setelah Perjalanan Dinas dilaksanakan;
i.
kepada pejabat/pegawai yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud huruf h, tidak
diperkenankan melaksanakan perjalanan dinas selanjutnya; dan
j.
untuk kelancaran tugas pokok setiap satuan kerja, maka sewaktu-waktu Inspektorat bersama-
13 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

www.hukumonline.com/pusatdata
sama dengan KPA akan meneliti sebab-sebab adanya hambatan yang berasal dari internal
maupun eksternal.
(2)
Penandatanganan Surat Tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diatur sebagai berikut :
a.
Pejabat Eselon I terdiri atas Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal, Para Direktur Jenderal,
Kepala Badan, Staf Ahli Menteri dan Staf Khusus ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal atas
nama Menteri;
b.
Pejabat Eselon II ditandatangani oleh Pejabat Eselon I di masing-masing Satker;
c.
Pejabat Eselon III, IV dan Staf Pelaksana dapat ditandatangani oleh Pejabat Eselon II di
masing-masing Satker.
d.
Pejabat Eselon III, IV dan Staf Pelaksana di lingkungan Unit Pelaksana Teknis dapat
ditandatangani oleh Kepala Balai.
Pasal 36
Dalam hal Pelaksana Surat Tugas dan Surat Perintah tidak menggunakan biaya penginapan berlaku
ketentuan sebagai berikut:
a.
Pelaksana Surat Tugas dan Surat Perintah diberikan biaya penginapan sebesar 30% (tiga puluh
persen) dari tarif hotel di Kota Tempat Tujuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan
mengenai Standar Biaya; dan
b.
biaya penginapan sebagaimana dimaksud pada huruf a dibayarkan secara lumpsum.
Pasal 37
(1)
Dalam hal terjadi pembatalan pelaksanaan Perjalanan Dinas Jabatan, biaya pembatalan dapat
dibebankan pada DIPA satuan kerja berkenaan.
(2)
Dokumen yang harus dilampirkan dalam rangka pembebanan biaya pembatalan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 11
Kelengkapan Bukti-bukti Pengeluaran
Pasal 38
Bukti-bukti pengeluaran ditetapkan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Bagian Ketiga
Revisi atau Perubahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)
Pasal 39
(1)
Revisi atau perubahan DIPA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c dilakukan berdasarkan
kebutuhan riil sesuai dengan tugas dan fungsi kementerian.
(2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara revisi atau perubahan DIPA berpedoman kepada Peraturan
Menteri Keuangan.
14 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 10

www.hukumonline.com/pusatdata
pendukung terkait lainnya; dan
d.
rincian anggaran yang di gunakan untuk mendanai inisiatif baru dan/atau rincian anggaran
angka dasar yang mengalami perubahan pada level komponen.
(3)
Hasil reviu RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada:
a.
Unit eselon I yang memiliki alokasi anggaran (portofolio) dan sebagai penanggungjawab
program untuk dilakukan perbaikan atau penyesuaian apabila diperlukan; dan
b.
Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan.
(4)
Pedoman reviu RKA-K/L unit eselon I oleh APIP K/L sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
BAB III
PELAKSANAAN
Pasal 9
Pelaksanaan kegiatan dan anggaran mencakup kegiatan:
a.
pembentukan Pejabat Perbendaharaan Negara;
b.
pelaksanaan anggaran kegiatan dan pencairan; dan
c.
revisi atau perubahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
Bagian Pertama
Pembentukan Pejabat Perbendaharaan Negara
Pasal 10
(1)
Dalam melaksanakan kegiatan dan anggaran, Kementerian menetapkan Pejabat Perbendaharaan
Negara.
(2)
Pejabat Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a.
Pengguna Anggaran (PA);
b.
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA);
c.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK);
d.
Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (PP-SPM); dan
e.
Bendahara Pengeluaran (BP).
Pasal 11
Hubungan dan prosedur kerja antara Pejabat Perbendaharaan Negara dengan Pejabat Struktural ditetapkan
dengan Keputusan Menteri.
Paragraf 1
Pengusulan Pejabat Perbendaharaan Negara
Pasal 12
7 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 11

www.hukumonline.com/pusatdata
pendukung terkait lainnya; dan
d.
rincian anggaran yang di gunakan untuk mendanai inisiatif baru dan/atau rincian anggaran
angka dasar yang mengalami perubahan pada level komponen.
(3)
Hasil reviu RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada:
a.
Unit eselon I yang memiliki alokasi anggaran (portofolio) dan sebagai penanggungjawab
program untuk dilakukan perbaikan atau penyesuaian apabila diperlukan; dan
b.
Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan.
(4)
Pedoman reviu RKA-K/L unit eselon I oleh APIP K/L sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
BAB III
PELAKSANAAN
Pasal 9
Pelaksanaan kegiatan dan anggaran mencakup kegiatan:
a.
pembentukan Pejabat Perbendaharaan Negara;
b.
pelaksanaan anggaran kegiatan dan pencairan; dan
c.
revisi atau perubahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
Bagian Pertama
Pembentukan Pejabat Perbendaharaan Negara
Pasal 10
(1)
Dalam melaksanakan kegiatan dan anggaran, Kementerian menetapkan Pejabat Perbendaharaan
Negara.
(2)
Pejabat Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a.
Pengguna Anggaran (PA);
b.
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA);
c.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK);
d.
Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (PP-SPM); dan
e.
Bendahara Pengeluaran (BP).
Pasal 11
Hubungan dan prosedur kerja antara Pejabat Perbendaharaan Negara dengan Pejabat Struktural ditetapkan
dengan Keputusan Menteri.
Paragraf 1
Pengusulan Pejabat Perbendaharaan Negara
Pasal 12
7 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 12

www.hukumonline.com/pusatdata
pendukung terkait lainnya; dan
d.
rincian anggaran yang di gunakan untuk mendanai inisiatif baru dan/atau rincian anggaran
angka dasar yang mengalami perubahan pada level komponen.
(3)
Hasil reviu RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada:
a.
Unit eselon I yang memiliki alokasi anggaran (portofolio) dan sebagai penanggungjawab
program untuk dilakukan perbaikan atau penyesuaian apabila diperlukan; dan
b.
Sekretariat Jenderal c.q. Biro Perencanaan.
(4)
Pedoman reviu RKA-K/L unit eselon I oleh APIP K/L sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
BAB III
PELAKSANAAN
Pasal 9
Pelaksanaan kegiatan dan anggaran mencakup kegiatan:
a.
pembentukan Pejabat Perbendaharaan Negara;
b.
pelaksanaan anggaran kegiatan dan pencairan; dan
c.
revisi atau perubahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
Bagian Pertama
Pembentukan Pejabat Perbendaharaan Negara
Pasal 10
(1)
Dalam melaksanakan kegiatan dan anggaran, Kementerian menetapkan Pejabat Perbendaharaan
Negara.
(2)
Pejabat Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a.
Pengguna Anggaran (PA);
b.
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA);
c.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK);
d.
Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (PP-SPM); dan
e.
Bendahara Pengeluaran (BP).
Pasal 11
Hubungan dan prosedur kerja antara Pejabat Perbendaharaan Negara dengan Pejabat Struktural ditetapkan
dengan Keputusan Menteri.
Paragraf 1
Pengusulan Pejabat Perbendaharaan Negara
Pasal 12
7 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 13

www.hukumonline.com/pusatdata
(1)
Pejabat Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b huruf c,
huruf d, dan huruf e diusulkan oleh Pejabat Eselon I.
(2)
Pengusulan Pejabat Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada
awal bulan Desember tahun anggaran berjalan.
(3)
Usulan Penetapan Pejabat Perbendaharaan Negara disampaikan kepada PA dan/atau KPA pada
bulan Desember tahun anggaran berjalan.
Paragraf 2
Kuasa Pengguna Anggaran
Pasal 13
(1)
KPA dan bendahara Pengeluaran ditetapkan oleh PA.
(2)
KPA memiliki tugas dan kewenangan sesuai pelimpahan dari PA sebagaimana ditetapkan dalam
Keputusan Menteri;
(3)
Dalam melaksanakan tugas KPA menetapkan:
a.
PPK;
b.
PP-SPM;
c.
Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP);
d.
Pejabat Pengadaan Barang/Jasa;
e.
Panitia/pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP);
(4)
KPA mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Paragraf 3
Pejabat Pembuat Komitmen
Pasal 14
Dalam hal pengadaan barang/jasa, PPK mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 4
Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PP-SPM)
Pasal 15
Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PP-SPM) mempunyai tugas dan wewenang sesuai
dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 5
Bendahara Pengeluaran
8 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 14

www.hukumonline.com/pusatdata
(1)
Pejabat Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b huruf c,
huruf d, dan huruf e diusulkan oleh Pejabat Eselon I.
(2)
Pengusulan Pejabat Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada
awal bulan Desember tahun anggaran berjalan.
(3)
Usulan Penetapan Pejabat Perbendaharaan Negara disampaikan kepada PA dan/atau KPA pada
bulan Desember tahun anggaran berjalan.
Paragraf 2
Kuasa Pengguna Anggaran
Pasal 13
(1)
KPA dan bendahara Pengeluaran ditetapkan oleh PA.
(2)
KPA memiliki tugas dan kewenangan sesuai pelimpahan dari PA sebagaimana ditetapkan dalam
Keputusan Menteri;
(3)
Dalam melaksanakan tugas KPA menetapkan:
a.
PPK;
b.
PP-SPM;
c.
Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP);
d.
Pejabat Pengadaan Barang/Jasa;
e.
Panitia/pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP);
(4)
KPA mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Paragraf 3
Pejabat Pembuat Komitmen
Pasal 14
Dalam hal pengadaan barang/jasa, PPK mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 4
Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PP-SPM)
Pasal 15
Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PP-SPM) mempunyai tugas dan wewenang sesuai
dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 5
Bendahara Pengeluaran
8 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 15

www.hukumonline.com/pusatdata
(1)
Pejabat Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b huruf c,
huruf d, dan huruf e diusulkan oleh Pejabat Eselon I.
(2)
Pengusulan Pejabat Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada
awal bulan Desember tahun anggaran berjalan.
(3)
Usulan Penetapan Pejabat Perbendaharaan Negara disampaikan kepada PA dan/atau KPA pada
bulan Desember tahun anggaran berjalan.
Paragraf 2
Kuasa Pengguna Anggaran
Pasal 13
(1)
KPA dan bendahara Pengeluaran ditetapkan oleh PA.
(2)
KPA memiliki tugas dan kewenangan sesuai pelimpahan dari PA sebagaimana ditetapkan dalam
Keputusan Menteri;
(3)
Dalam melaksanakan tugas KPA menetapkan:
a.
PPK;
b.
PP-SPM;
c.
Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP);
d.
Pejabat Pengadaan Barang/Jasa;
e.
Panitia/pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP);
(4)
KPA mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Paragraf 3
Pejabat Pembuat Komitmen
Pasal 14
Dalam hal pengadaan barang/jasa, PPK mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 4
Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PP-SPM)
Pasal 15
Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PP-SPM) mempunyai tugas dan wewenang sesuai
dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 5
Bendahara Pengeluaran
8 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 16

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 16
Bendahara Pengeluaran mempunyai tugas dan wewenang sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 6
Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP)
Pasal 17
BPP mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan Peraturan Menteri
Bagian Kedua
Tata Cara Pelaksanaan Kegiatan dan Pencairan Anggaran
Pasal 18
(1)
Pelaksanaan kegiatan dan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dijalankan
sesuai dengan rencana kerja dan jadual kegiatan yang telah ditetapkan.
(2)
Pelaksanaan kegiatan dan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan
pada DIPA dan RKA yang telah ditetapkan oleh Kementerian Keuangan.
Paragraf 1
Pembuatan Komitmen
Pasal 19
(1)
Pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran pada DIPA yang mengakibatkan pengeluaran
negara, dilakukan melalui pembuatan komitmen.
(2)
Pembuatan komitmen sebagaimana dimaksud ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 2
Pencatatan Komitmen oleh PPK dan KPPN
Pasal 20
(1)
Perjanjian/kontrak yang pembayarannya akan dilakukan melalui SPM-LS, PPK mencatatkan
perjanjian/kontrak yang telah ditandatangani ke dalam suatu sistem yang disediakan oleh Direktorat
Jenderal Perbendaharaan.
(2)
Pencatatan perjanjian/kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Paragraf 3
Mekanisme Penyelesaian Tagihan dan Penerbitan SPP
9 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 17

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 16
Bendahara Pengeluaran mempunyai tugas dan wewenang sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 6
Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP)
Pasal 17
BPP mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan Peraturan Menteri
Bagian Kedua
Tata Cara Pelaksanaan Kegiatan dan Pencairan Anggaran
Pasal 18
(1)
Pelaksanaan kegiatan dan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dijalankan
sesuai dengan rencana kerja dan jadual kegiatan yang telah ditetapkan.
(2)
Pelaksanaan kegiatan dan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan
pada DIPA dan RKA yang telah ditetapkan oleh Kementerian Keuangan.
Paragraf 1
Pembuatan Komitmen
Pasal 19
(1)
Pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran pada DIPA yang mengakibatkan pengeluaran
negara, dilakukan melalui pembuatan komitmen.
(2)
Pembuatan komitmen sebagaimana dimaksud ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 2
Pencatatan Komitmen oleh PPK dan KPPN
Pasal 20
(1)
Perjanjian/kontrak yang pembayarannya akan dilakukan melalui SPM-LS, PPK mencatatkan
perjanjian/kontrak yang telah ditandatangani ke dalam suatu sistem yang disediakan oleh Direktorat
Jenderal Perbendaharaan.
(2)
Pencatatan perjanjian/kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Paragraf 3
Mekanisme Penyelesaian Tagihan dan Penerbitan SPP
9 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 18

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 16
Bendahara Pengeluaran mempunyai tugas dan wewenang sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 6
Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP)
Pasal 17
BPP mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan Peraturan Menteri
Bagian Kedua
Tata Cara Pelaksanaan Kegiatan dan Pencairan Anggaran
Pasal 18
(1)
Pelaksanaan kegiatan dan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dijalankan
sesuai dengan rencana kerja dan jadual kegiatan yang telah ditetapkan.
(2)
Pelaksanaan kegiatan dan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan
pada DIPA dan RKA yang telah ditetapkan oleh Kementerian Keuangan.
Paragraf 1
Pembuatan Komitmen
Pasal 19
(1)
Pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran pada DIPA yang mengakibatkan pengeluaran
negara, dilakukan melalui pembuatan komitmen.
(2)
Pembuatan komitmen sebagaimana dimaksud ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 2
Pencatatan Komitmen oleh PPK dan KPPN
Pasal 20
(1)
Perjanjian/kontrak yang pembayarannya akan dilakukan melalui SPM-LS, PPK mencatatkan
perjanjian/kontrak yang telah ditandatangani ke dalam suatu sistem yang disediakan oleh Direktorat
Jenderal Perbendaharaan.
(2)
Pencatatan perjanjian/kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Paragraf 3
Mekanisme Penyelesaian Tagihan dan Penerbitan SPP
9 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 19

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 16
Bendahara Pengeluaran mempunyai tugas dan wewenang sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 6
Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP)
Pasal 17
BPP mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan Peraturan Menteri
Bagian Kedua
Tata Cara Pelaksanaan Kegiatan dan Pencairan Anggaran
Pasal 18
(1)
Pelaksanaan kegiatan dan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dijalankan
sesuai dengan rencana kerja dan jadual kegiatan yang telah ditetapkan.
(2)
Pelaksanaan kegiatan dan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan
pada DIPA dan RKA yang telah ditetapkan oleh Kementerian Keuangan.
Paragraf 1
Pembuatan Komitmen
Pasal 19
(1)
Pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran pada DIPA yang mengakibatkan pengeluaran
negara, dilakukan melalui pembuatan komitmen.
(2)
Pembuatan komitmen sebagaimana dimaksud ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 2
Pencatatan Komitmen oleh PPK dan KPPN
Pasal 20
(1)
Perjanjian/kontrak yang pembayarannya akan dilakukan melalui SPM-LS, PPK mencatatkan
perjanjian/kontrak yang telah ditandatangani ke dalam suatu sistem yang disediakan oleh Direktorat
Jenderal Perbendaharaan.
(2)
Pencatatan perjanjian/kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Paragraf 3
Mekanisme Penyelesaian Tagihan dan Penerbitan SPP
9 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 20

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 16
Bendahara Pengeluaran mempunyai tugas dan wewenang sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 6
Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP)
Pasal 17
BPP mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan Peraturan Menteri
Bagian Kedua
Tata Cara Pelaksanaan Kegiatan dan Pencairan Anggaran
Pasal 18
(1)
Pelaksanaan kegiatan dan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dijalankan
sesuai dengan rencana kerja dan jadual kegiatan yang telah ditetapkan.
(2)
Pelaksanaan kegiatan dan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan
pada DIPA dan RKA yang telah ditetapkan oleh Kementerian Keuangan.
Paragraf 1
Pembuatan Komitmen
Pasal 19
(1)
Pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran pada DIPA yang mengakibatkan pengeluaran
negara, dilakukan melalui pembuatan komitmen.
(2)
Pembuatan komitmen sebagaimana dimaksud ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 2
Pencatatan Komitmen oleh PPK dan KPPN
Pasal 20
(1)
Perjanjian/kontrak yang pembayarannya akan dilakukan melalui SPM-LS, PPK mencatatkan
perjanjian/kontrak yang telah ditandatangani ke dalam suatu sistem yang disediakan oleh Direktorat
Jenderal Perbendaharaan.
(2)
Pencatatan perjanjian/kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Paragraf 3
Mekanisme Penyelesaian Tagihan dan Penerbitan SPP
9 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 21

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 21
(1)
Penerima hak mengajukan tagihan kepada negara atas komitmen berdasarkan bukti-bukti yang sah
untuk memperoleh pembayaran.
(2)
Atas dasar tagihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PPK melakukan pengujian.
(3)
Pelaksanaan pembayaran tagihan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(4)
Dalam hal Pembayaran LS tidak dapat dilakukan, pembayaran tagihan kepada penerima hak
dilakukan dengan UP.
(5)
Khusus untuk pembayaran komitmen dalam rangka pengadaan barang/jasa sesuai dengan Peraturan
Menteri Keuangan.
Pasal 22
(1)
Pembayaran LS ditujukan kepada:
a.
penyedia barang/jasa atas dasar perjanjian/kontrak;
b.
bendahara Pengeluaran/pihak lainnya untuk keperluan belanja pegawai non gaji induk,
pembayaran honorarium, dan perjalanan dinas atas dasar surat keputusan.
(2)
Pembayaran tagihan kepada penyedia barang/jasa sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(3)
Pembayaran tagihan kepada Bendahara Pengeluaran/pihak lainnya sesuai dengan Peraturan Menteri
Keuangan.
Paragraf 4
Penerbitan SPP-LS
Pasal 23
(1)
Dalam hal pengujian telah memenuhi persyaratan, PPK mengesahkan dokumen tagihan dan
menerbitkan SPP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(2)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja pegawai sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 24
(1)
SPP-LS untuk pembayaran non belanja pegawai diterbitkan oleh PPK dan disampaikan kepada PP-
SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah dokumen pendukung diterima secara lengkap dan benar
dari penerima hak.
(2)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran pengadaan barang/jasa atas beban belanja barang, belanja
modal, belanja bantuan sosial, dan belanja lain-lain dilengkapi dengan dokumen pendukung.
(3)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja bantuan sosial kepada penerima bantuan sosial diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan.
(4)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja pembayaran kewajiban utang, belanja subsidi, belanja
hibah, masing- masing diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 25
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran Honorarium sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
10 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 22

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 21
(1)
Penerima hak mengajukan tagihan kepada negara atas komitmen berdasarkan bukti-bukti yang sah
untuk memperoleh pembayaran.
(2)
Atas dasar tagihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PPK melakukan pengujian.
(3)
Pelaksanaan pembayaran tagihan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(4)
Dalam hal Pembayaran LS tidak dapat dilakukan, pembayaran tagihan kepada penerima hak
dilakukan dengan UP.
(5)
Khusus untuk pembayaran komitmen dalam rangka pengadaan barang/jasa sesuai dengan Peraturan
Menteri Keuangan.
Pasal 22
(1)
Pembayaran LS ditujukan kepada:
a.
penyedia barang/jasa atas dasar perjanjian/kontrak;
b.
bendahara Pengeluaran/pihak lainnya untuk keperluan belanja pegawai non gaji induk,
pembayaran honorarium, dan perjalanan dinas atas dasar surat keputusan.
(2)
Pembayaran tagihan kepada penyedia barang/jasa sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(3)
Pembayaran tagihan kepada Bendahara Pengeluaran/pihak lainnya sesuai dengan Peraturan Menteri
Keuangan.
Paragraf 4
Penerbitan SPP-LS
Pasal 23
(1)
Dalam hal pengujian telah memenuhi persyaratan, PPK mengesahkan dokumen tagihan dan
menerbitkan SPP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(2)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja pegawai sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 24
(1)
SPP-LS untuk pembayaran non belanja pegawai diterbitkan oleh PPK dan disampaikan kepada PP-
SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah dokumen pendukung diterima secara lengkap dan benar
dari penerima hak.
(2)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran pengadaan barang/jasa atas beban belanja barang, belanja
modal, belanja bantuan sosial, dan belanja lain-lain dilengkapi dengan dokumen pendukung.
(3)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja bantuan sosial kepada penerima bantuan sosial diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan.
(4)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja pembayaran kewajiban utang, belanja subsidi, belanja
hibah, masing- masing diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 25
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran Honorarium sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
10 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 23

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 21
(1)
Penerima hak mengajukan tagihan kepada negara atas komitmen berdasarkan bukti-bukti yang sah
untuk memperoleh pembayaran.
(2)
Atas dasar tagihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PPK melakukan pengujian.
(3)
Pelaksanaan pembayaran tagihan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(4)
Dalam hal Pembayaran LS tidak dapat dilakukan, pembayaran tagihan kepada penerima hak
dilakukan dengan UP.
(5)
Khusus untuk pembayaran komitmen dalam rangka pengadaan barang/jasa sesuai dengan Peraturan
Menteri Keuangan.
Pasal 22
(1)
Pembayaran LS ditujukan kepada:
a.
penyedia barang/jasa atas dasar perjanjian/kontrak;
b.
bendahara Pengeluaran/pihak lainnya untuk keperluan belanja pegawai non gaji induk,
pembayaran honorarium, dan perjalanan dinas atas dasar surat keputusan.
(2)
Pembayaran tagihan kepada penyedia barang/jasa sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(3)
Pembayaran tagihan kepada Bendahara Pengeluaran/pihak lainnya sesuai dengan Peraturan Menteri
Keuangan.
Paragraf 4
Penerbitan SPP-LS
Pasal 23
(1)
Dalam hal pengujian telah memenuhi persyaratan, PPK mengesahkan dokumen tagihan dan
menerbitkan SPP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(2)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja pegawai sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 24
(1)
SPP-LS untuk pembayaran non belanja pegawai diterbitkan oleh PPK dan disampaikan kepada PP-
SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah dokumen pendukung diterima secara lengkap dan benar
dari penerima hak.
(2)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran pengadaan barang/jasa atas beban belanja barang, belanja
modal, belanja bantuan sosial, dan belanja lain-lain dilengkapi dengan dokumen pendukung.
(3)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja bantuan sosial kepada penerima bantuan sosial diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan.
(4)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja pembayaran kewajiban utang, belanja subsidi, belanja
hibah, masing- masing diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 25
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran Honorarium sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
10 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 24

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 21
(1)
Penerima hak mengajukan tagihan kepada negara atas komitmen berdasarkan bukti-bukti yang sah
untuk memperoleh pembayaran.
(2)
Atas dasar tagihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PPK melakukan pengujian.
(3)
Pelaksanaan pembayaran tagihan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(4)
Dalam hal Pembayaran LS tidak dapat dilakukan, pembayaran tagihan kepada penerima hak
dilakukan dengan UP.
(5)
Khusus untuk pembayaran komitmen dalam rangka pengadaan barang/jasa sesuai dengan Peraturan
Menteri Keuangan.
Pasal 22
(1)
Pembayaran LS ditujukan kepada:
a.
penyedia barang/jasa atas dasar perjanjian/kontrak;
b.
bendahara Pengeluaran/pihak lainnya untuk keperluan belanja pegawai non gaji induk,
pembayaran honorarium, dan perjalanan dinas atas dasar surat keputusan.
(2)
Pembayaran tagihan kepada penyedia barang/jasa sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(3)
Pembayaran tagihan kepada Bendahara Pengeluaran/pihak lainnya sesuai dengan Peraturan Menteri
Keuangan.
Paragraf 4
Penerbitan SPP-LS
Pasal 23
(1)
Dalam hal pengujian telah memenuhi persyaratan, PPK mengesahkan dokumen tagihan dan
menerbitkan SPP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(2)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja pegawai sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 24
(1)
SPP-LS untuk pembayaran non belanja pegawai diterbitkan oleh PPK dan disampaikan kepada PP-
SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah dokumen pendukung diterima secara lengkap dan benar
dari penerima hak.
(2)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran pengadaan barang/jasa atas beban belanja barang, belanja
modal, belanja bantuan sosial, dan belanja lain-lain dilengkapi dengan dokumen pendukung.
(3)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja bantuan sosial kepada penerima bantuan sosial diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan.
(4)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja pembayaran kewajiban utang, belanja subsidi, belanja
hibah, masing- masing diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 25
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran Honorarium sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
10 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 25

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 21
(1)
Penerima hak mengajukan tagihan kepada negara atas komitmen berdasarkan bukti-bukti yang sah
untuk memperoleh pembayaran.
(2)
Atas dasar tagihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PPK melakukan pengujian.
(3)
Pelaksanaan pembayaran tagihan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(4)
Dalam hal Pembayaran LS tidak dapat dilakukan, pembayaran tagihan kepada penerima hak
dilakukan dengan UP.
(5)
Khusus untuk pembayaran komitmen dalam rangka pengadaan barang/jasa sesuai dengan Peraturan
Menteri Keuangan.
Pasal 22
(1)
Pembayaran LS ditujukan kepada:
a.
penyedia barang/jasa atas dasar perjanjian/kontrak;
b.
bendahara Pengeluaran/pihak lainnya untuk keperluan belanja pegawai non gaji induk,
pembayaran honorarium, dan perjalanan dinas atas dasar surat keputusan.
(2)
Pembayaran tagihan kepada penyedia barang/jasa sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(3)
Pembayaran tagihan kepada Bendahara Pengeluaran/pihak lainnya sesuai dengan Peraturan Menteri
Keuangan.
Paragraf 4
Penerbitan SPP-LS
Pasal 23
(1)
Dalam hal pengujian telah memenuhi persyaratan, PPK mengesahkan dokumen tagihan dan
menerbitkan SPP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(2)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja pegawai sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 24
(1)
SPP-LS untuk pembayaran non belanja pegawai diterbitkan oleh PPK dan disampaikan kepada PP-
SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah dokumen pendukung diterima secara lengkap dan benar
dari penerima hak.
(2)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran pengadaan barang/jasa atas beban belanja barang, belanja
modal, belanja bantuan sosial, dan belanja lain-lain dilengkapi dengan dokumen pendukung.
(3)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja bantuan sosial kepada penerima bantuan sosial diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan.
(4)
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran belanja pembayaran kewajiban utang, belanja subsidi, belanja
hibah, masing- masing diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 25
Penerbitan SPP-LS untuk pembayaran Honorarium sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
10 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 26

www.hukumonline.com/pusatdata
Paragraf 5
Mekanisme Pembayaran dengan Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan
Pasal 26
(1)
UP digunakan untuk keperluan membiayai kegiatan operasional sehari-hari Satker dan membiayai
pengeluaran yang tidak dapat dilakukan melalui mekanisme Pembayaran LS.
(2)
UP merupakan uang muka kerja dari Kuasa BUN kepada Bendahara Pengeluaran yang dapat
dimintakan penggantiannya (revolving).
(3)
KPA dapat mengajukan TUP kepada Kepala KPPN dalam hal sisa UP pada Bendahara Pengeluaran
tidak cukup tersedia untuk membiayai kegiatan yang sifatnya mendesak/tidak dapat ditunda.
(4)
Mekanisme Pembayaran dengan Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan sesuai dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 6
Mekanisme Penerbitan SPP-UP/GUP/GUP NIHIL
Pasal 27
(1)
Berdasarkan rencana kegiatan yang telah disusun, Bendahara Pengeluaran menyampaikan
kebutuhan UP kepada PPK.
(2)
Atas dasar kebutuhan UP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PPK menerbitkan SPP-UP untuk
pengisian UP yang dilengkapi dengan perhitungan besaran UP sesuai pengajuan dari Bendahara
Pengeluaran.
(3)
SPP-UP diterbitkan oleh PPK dan disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 2 (dua) hari kerja
setelah diterimanya permintaan UP dari Bendahara Pengeluaran.
Pasal 28
(1)
Bendahara Pengeluaran/BPP melakukan pembayaran atas UP berdasarkan surat perintah bayar
(SPBy) yang disetujui dan ditandatangani oleh PPK atas nama KPA.
(2)
SPBy sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(3)
Dalam hal penyedia barang/jasa tidak mempunyai kuitansi/bukti pembelian sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a, Bendahara Pengeluaran/BPP membuat kuitansi yang dibuat sesuai dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 29
(1)
PPK menerbitkan SPP-GUP untuk pengisian kembali UP.
(2)
Penerbitan SPP-GUP dilengkapi dengan dokumen pendukung sebagai berikut:
a.
Daftar Rincian Permintaan Pembayaran;
b.
Bukti pengeluaran; dan
c.
SSP yang telah dikonfirmasi KPPN.
(3)
Perjanjian/Kontrak beserta faktur pajaknya dilampirkan untuk nilai transaksi yang harus menggunakan
perjanjian/Kontrak sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan mengenai pengadaan
barang/jasa pemerintah.
11 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 27

www.hukumonline.com/pusatdata
Paragraf 5
Mekanisme Pembayaran dengan Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan
Pasal 26
(1)
UP digunakan untuk keperluan membiayai kegiatan operasional sehari-hari Satker dan membiayai
pengeluaran yang tidak dapat dilakukan melalui mekanisme Pembayaran LS.
(2)
UP merupakan uang muka kerja dari Kuasa BUN kepada Bendahara Pengeluaran yang dapat
dimintakan penggantiannya (revolving).
(3)
KPA dapat mengajukan TUP kepada Kepala KPPN dalam hal sisa UP pada Bendahara Pengeluaran
tidak cukup tersedia untuk membiayai kegiatan yang sifatnya mendesak/tidak dapat ditunda.
(4)
Mekanisme Pembayaran dengan Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan sesuai dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 6
Mekanisme Penerbitan SPP-UP/GUP/GUP NIHIL
Pasal 27
(1)
Berdasarkan rencana kegiatan yang telah disusun, Bendahara Pengeluaran menyampaikan
kebutuhan UP kepada PPK.
(2)
Atas dasar kebutuhan UP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PPK menerbitkan SPP-UP untuk
pengisian UP yang dilengkapi dengan perhitungan besaran UP sesuai pengajuan dari Bendahara
Pengeluaran.
(3)
SPP-UP diterbitkan oleh PPK dan disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 2 (dua) hari kerja
setelah diterimanya permintaan UP dari Bendahara Pengeluaran.
Pasal 28
(1)
Bendahara Pengeluaran/BPP melakukan pembayaran atas UP berdasarkan surat perintah bayar
(SPBy) yang disetujui dan ditandatangani oleh PPK atas nama KPA.
(2)
SPBy sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(3)
Dalam hal penyedia barang/jasa tidak mempunyai kuitansi/bukti pembelian sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a, Bendahara Pengeluaran/BPP membuat kuitansi yang dibuat sesuai dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 29
(1)
PPK menerbitkan SPP-GUP untuk pengisian kembali UP.
(2)
Penerbitan SPP-GUP dilengkapi dengan dokumen pendukung sebagai berikut:
a.
Daftar Rincian Permintaan Pembayaran;
b.
Bukti pengeluaran; dan
c.
SSP yang telah dikonfirmasi KPPN.
(3)
Perjanjian/Kontrak beserta faktur pajaknya dilampirkan untuk nilai transaksi yang harus menggunakan
perjanjian/Kontrak sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan mengenai pengadaan
barang/jasa pemerintah.
11 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 28

www.hukumonline.com/pusatdata
Paragraf 5
Mekanisme Pembayaran dengan Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan
Pasal 26
(1)
UP digunakan untuk keperluan membiayai kegiatan operasional sehari-hari Satker dan membiayai
pengeluaran yang tidak dapat dilakukan melalui mekanisme Pembayaran LS.
(2)
UP merupakan uang muka kerja dari Kuasa BUN kepada Bendahara Pengeluaran yang dapat
dimintakan penggantiannya (revolving).
(3)
KPA dapat mengajukan TUP kepada Kepala KPPN dalam hal sisa UP pada Bendahara Pengeluaran
tidak cukup tersedia untuk membiayai kegiatan yang sifatnya mendesak/tidak dapat ditunda.
(4)
Mekanisme Pembayaran dengan Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan sesuai dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 6
Mekanisme Penerbitan SPP-UP/GUP/GUP NIHIL
Pasal 27
(1)
Berdasarkan rencana kegiatan yang telah disusun, Bendahara Pengeluaran menyampaikan
kebutuhan UP kepada PPK.
(2)
Atas dasar kebutuhan UP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PPK menerbitkan SPP-UP untuk
pengisian UP yang dilengkapi dengan perhitungan besaran UP sesuai pengajuan dari Bendahara
Pengeluaran.
(3)
SPP-UP diterbitkan oleh PPK dan disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 2 (dua) hari kerja
setelah diterimanya permintaan UP dari Bendahara Pengeluaran.
Pasal 28
(1)
Bendahara Pengeluaran/BPP melakukan pembayaran atas UP berdasarkan surat perintah bayar
(SPBy) yang disetujui dan ditandatangani oleh PPK atas nama KPA.
(2)
SPBy sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(3)
Dalam hal penyedia barang/jasa tidak mempunyai kuitansi/bukti pembelian sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a, Bendahara Pengeluaran/BPP membuat kuitansi yang dibuat sesuai dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 29
(1)
PPK menerbitkan SPP-GUP untuk pengisian kembali UP.
(2)
Penerbitan SPP-GUP dilengkapi dengan dokumen pendukung sebagai berikut:
a.
Daftar Rincian Permintaan Pembayaran;
b.
Bukti pengeluaran; dan
c.
SSP yang telah dikonfirmasi KPPN.
(3)
Perjanjian/Kontrak beserta faktur pajaknya dilampirkan untuk nilai transaksi yang harus menggunakan
perjanjian/Kontrak sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan mengenai pengadaan
barang/jasa pemerintah.
11 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 29

www.hukumonline.com/pusatdata
Paragraf 5
Mekanisme Pembayaran dengan Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan
Pasal 26
(1)
UP digunakan untuk keperluan membiayai kegiatan operasional sehari-hari Satker dan membiayai
pengeluaran yang tidak dapat dilakukan melalui mekanisme Pembayaran LS.
(2)
UP merupakan uang muka kerja dari Kuasa BUN kepada Bendahara Pengeluaran yang dapat
dimintakan penggantiannya (revolving).
(3)
KPA dapat mengajukan TUP kepada Kepala KPPN dalam hal sisa UP pada Bendahara Pengeluaran
tidak cukup tersedia untuk membiayai kegiatan yang sifatnya mendesak/tidak dapat ditunda.
(4)
Mekanisme Pembayaran dengan Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan sesuai dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 6
Mekanisme Penerbitan SPP-UP/GUP/GUP NIHIL
Pasal 27
(1)
Berdasarkan rencana kegiatan yang telah disusun, Bendahara Pengeluaran menyampaikan
kebutuhan UP kepada PPK.
(2)
Atas dasar kebutuhan UP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PPK menerbitkan SPP-UP untuk
pengisian UP yang dilengkapi dengan perhitungan besaran UP sesuai pengajuan dari Bendahara
Pengeluaran.
(3)
SPP-UP diterbitkan oleh PPK dan disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 2 (dua) hari kerja
setelah diterimanya permintaan UP dari Bendahara Pengeluaran.
Pasal 28
(1)
Bendahara Pengeluaran/BPP melakukan pembayaran atas UP berdasarkan surat perintah bayar
(SPBy) yang disetujui dan ditandatangani oleh PPK atas nama KPA.
(2)
SPBy sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(3)
Dalam hal penyedia barang/jasa tidak mempunyai kuitansi/bukti pembelian sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a, Bendahara Pengeluaran/BPP membuat kuitansi yang dibuat sesuai dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 29
(1)
PPK menerbitkan SPP-GUP untuk pengisian kembali UP.
(2)
Penerbitan SPP-GUP dilengkapi dengan dokumen pendukung sebagai berikut:
a.
Daftar Rincian Permintaan Pembayaran;
b.
Bukti pengeluaran; dan
c.
SSP yang telah dikonfirmasi KPPN.
(3)
Perjanjian/Kontrak beserta faktur pajaknya dilampirkan untuk nilai transaksi yang harus menggunakan
perjanjian/Kontrak sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan mengenai pengadaan
barang/jasa pemerintah.
11 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 30

www.hukumonline.com/pusatdata
(4)
SPP-GUP disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah bukti-bukti
pendukung diterima secara lengkap dan benar.
Pasal 30
(1)
Sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan pembayaran dengan UP minimal sama dengan nilai UP
yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran.
(2)
Dalam hal pengisian kembali UP akan mengakibatkan sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan
pembayaran dengan UP lebih kecil dari UP yang dikelola Bendahara Pengeluaran:
a.
pengisian kembali UP dilaksanakan maksimal sebesar sisa dana dalam DIPA yang dapat
dibayarkan dengan UP; dan
b.
selisih antara sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan pembayaran dengan UP dan UP
yang dikelola Bendahara Pengeluaran dibukukan/ diperhitungkan sebagai potongan
Penerimaan Pengembalian UP.
Pasal 31
(1)
Penerbitan SPP-GUP Nihil dilakukan dalam hal:
a.
sisa dana pada DIPA yang dapat dibayarkan dengan UP minimal sama dengan besaran UP
yang diberikan;
b.
sebagai pertanggungjawaban UP yang dilakukan pada akhir tahun anggaran; atau
c.
UP tidak diperlukan lagi.
(2)
Penerbitan SPP-GUP Nihil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
pengesahan/pertanggungjawaban UP.
(3)
SPP-GUP Nihil dilengkapi dengan dokumen pendukung.
(4)
SPP-GUP Nihil disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah bukti-bukti
pendukung diterima secara lengkap dan benar.
Paragraf 7
Mekanisme Penerbitan SPP-TUP/PTUP
Pasal 32
PPK menerbitkan SPP-TUP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 8
Mekanisme Pengujian SPP dan Penerbitan SPM
Pasal 33
PP-SPM melakukan pemeriksaan dan pengujian SPP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 9
Pembatalan SPP, SPM dan SP2D
12 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 31

www.hukumonline.com/pusatdata
(4)
SPP-GUP disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah bukti-bukti
pendukung diterima secara lengkap dan benar.
Pasal 30
(1)
Sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan pembayaran dengan UP minimal sama dengan nilai UP
yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran.
(2)
Dalam hal pengisian kembali UP akan mengakibatkan sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan
pembayaran dengan UP lebih kecil dari UP yang dikelola Bendahara Pengeluaran:
a.
pengisian kembali UP dilaksanakan maksimal sebesar sisa dana dalam DIPA yang dapat
dibayarkan dengan UP; dan
b.
selisih antara sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan pembayaran dengan UP dan UP
yang dikelola Bendahara Pengeluaran dibukukan/ diperhitungkan sebagai potongan
Penerimaan Pengembalian UP.
Pasal 31
(1)
Penerbitan SPP-GUP Nihil dilakukan dalam hal:
a.
sisa dana pada DIPA yang dapat dibayarkan dengan UP minimal sama dengan besaran UP
yang diberikan;
b.
sebagai pertanggungjawaban UP yang dilakukan pada akhir tahun anggaran; atau
c.
UP tidak diperlukan lagi.
(2)
Penerbitan SPP-GUP Nihil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
pengesahan/pertanggungjawaban UP.
(3)
SPP-GUP Nihil dilengkapi dengan dokumen pendukung.
(4)
SPP-GUP Nihil disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah bukti-bukti
pendukung diterima secara lengkap dan benar.
Paragraf 7
Mekanisme Penerbitan SPP-TUP/PTUP
Pasal 32
PPK menerbitkan SPP-TUP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 8
Mekanisme Pengujian SPP dan Penerbitan SPM
Pasal 33
PP-SPM melakukan pemeriksaan dan pengujian SPP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 9
Pembatalan SPP, SPM dan SP2D
12 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 32

www.hukumonline.com/pusatdata
(4)
SPP-GUP disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah bukti-bukti
pendukung diterima secara lengkap dan benar.
Pasal 30
(1)
Sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan pembayaran dengan UP minimal sama dengan nilai UP
yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran.
(2)
Dalam hal pengisian kembali UP akan mengakibatkan sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan
pembayaran dengan UP lebih kecil dari UP yang dikelola Bendahara Pengeluaran:
a.
pengisian kembali UP dilaksanakan maksimal sebesar sisa dana dalam DIPA yang dapat
dibayarkan dengan UP; dan
b.
selisih antara sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan pembayaran dengan UP dan UP
yang dikelola Bendahara Pengeluaran dibukukan/ diperhitungkan sebagai potongan
Penerimaan Pengembalian UP.
Pasal 31
(1)
Penerbitan SPP-GUP Nihil dilakukan dalam hal:
a.
sisa dana pada DIPA yang dapat dibayarkan dengan UP minimal sama dengan besaran UP
yang diberikan;
b.
sebagai pertanggungjawaban UP yang dilakukan pada akhir tahun anggaran; atau
c.
UP tidak diperlukan lagi.
(2)
Penerbitan SPP-GUP Nihil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
pengesahan/pertanggungjawaban UP.
(3)
SPP-GUP Nihil dilengkapi dengan dokumen pendukung.
(4)
SPP-GUP Nihil disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah bukti-bukti
pendukung diterima secara lengkap dan benar.
Paragraf 7
Mekanisme Penerbitan SPP-TUP/PTUP
Pasal 32
PPK menerbitkan SPP-TUP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 8
Mekanisme Pengujian SPP dan Penerbitan SPM
Pasal 33
PP-SPM melakukan pemeriksaan dan pengujian SPP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 9
Pembatalan SPP, SPM dan SP2D
12 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 33

www.hukumonline.com/pusatdata
(4)
SPP-GUP disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah bukti-bukti
pendukung diterima secara lengkap dan benar.
Pasal 30
(1)
Sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan pembayaran dengan UP minimal sama dengan nilai UP
yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran.
(2)
Dalam hal pengisian kembali UP akan mengakibatkan sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan
pembayaran dengan UP lebih kecil dari UP yang dikelola Bendahara Pengeluaran:
a.
pengisian kembali UP dilaksanakan maksimal sebesar sisa dana dalam DIPA yang dapat
dibayarkan dengan UP; dan
b.
selisih antara sisa dana dalam DIPA yang dapat dilakukan pembayaran dengan UP dan UP
yang dikelola Bendahara Pengeluaran dibukukan/ diperhitungkan sebagai potongan
Penerimaan Pengembalian UP.
Pasal 31
(1)
Penerbitan SPP-GUP Nihil dilakukan dalam hal:
a.
sisa dana pada DIPA yang dapat dibayarkan dengan UP minimal sama dengan besaran UP
yang diberikan;
b.
sebagai pertanggungjawaban UP yang dilakukan pada akhir tahun anggaran; atau
c.
UP tidak diperlukan lagi.
(2)
Penerbitan SPP-GUP Nihil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
pengesahan/pertanggungjawaban UP.
(3)
SPP-GUP Nihil dilengkapi dengan dokumen pendukung.
(4)
SPP-GUP Nihil disampaikan kepada PP-SPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah bukti-bukti
pendukung diterima secara lengkap dan benar.
Paragraf 7
Mekanisme Penerbitan SPP-TUP/PTUP
Pasal 32
PPK menerbitkan SPP-TUP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 8
Mekanisme Pengujian SPP dan Penerbitan SPM
Pasal 33
PP-SPM melakukan pemeriksaan dan pengujian SPP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Paragraf 9
Pembatalan SPP, SPM dan SP2D
12 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 34

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 34
(1)
Pembatalan SPP hanya dapat dilakukan oleh PPK sepanjang SP2D belum diterbitkan.
(2)
Pembatalan SPM hanya dapat dilakukan oleh PP-SPM secara tertulis sepanjang SP2D belum
diterbitkan.
(3)
Dalam hal SP2D telah diterbitkan dan belum mendebet kas negara, pembatalan SPM dapat dilakukan
setelah mendapat persetujuan Direktur Jenderal Perbendaharaan atau pejabat yang ditunjuk.
(4)
Koreksi SP2D atau daftar nominatif untuk penerima lebih dari satu rekening hanya dapat dilakukan
oleh Kepala KPPN berdasarkan permintaan KPA.
(5)
Pembatalan SP2D tidak dapat dilakukan dalam hal SP2D telah mendebet Kas Negara.
Paragraf 10
Prosedur Pengajuan Surat Tugas dan Surat Perintah
Pasal 35
(1)
Prosedur penerbitan Surat Tugas dan Surat Perintah sebagai berikut:
a.
setiap Surat Tugas dan Surat Perintah harus didasarkan pada Surat Tugas yang telah
ditandatangani oleh Menteri dan/atau Sekretaris Jenderal dan Direktur Jenderal serta telah di
paraf koordinasi atasan langsung;
b.
Surat Tugas dan Surat Perintah harus diberi nomor terlebih dahulu secara tertib;
c.
Surat Tugas dan Surat Perintah dibuat dalam 3 (tiga) rangkap yaitu: 1 (satu) untuk PPK, 1
(satu) untuk Bendahara Pengeluaran dan 1 (satu) Penandatangan SPM, dimana didalamnya
tercantum maksud dan tujuan perjalanan dinas dalam formulir Surat Tugas dan Surat Perintah
(nama program dan kegiatan);
d.
penanggung jawab kegiatan mengajukan permohonan pencairan dana perjalanan dinas dalam
waktu 10 (sepuluh) hari sebelum tanggal keberangkatan/pelaksanaan perjalanan dinas kepada
KPA dengan tembusan kepada Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala
Badan;
e.
KPA membuat disposisi kepada PPK atas surat yang diterima dari penanggung jawab kegiatan
tersebut;
f.
jumlah orang dan lamanya perjalanan dinas disesuaikan dengan kebutuhan yang riil dalam
melaksanakan kegiatan tersebut. Setiap orang yang melakukan perjalanan dinas harus
mempunyai tugas dan tanggungjawab yang jelas selama yang bersangkutan berada di lokasi
atau daerah yang dikunjungi;
g.
setiap usulan perjalanan dinas yang telah memenuhi persyaratan formal agar segera diproses
oleh KPA, PPK, dan Bendaharawan Pengeluaran, apabila terdapat kekurangan persyaratan
dalam usulan tersebut maka KPA, PPK, dan Bendaharawan Pengeluaran agar segera
memberitahukan kepada penanggung jawab kegiatan yang bersangkutan dalam rangka
memperbaiki usulan tersebut;
h.
pelaksana Surat Tugas dan Surat Perintah mempertanggungjawabkan pelaksanaan Perjalanan
Dinas kepada pemberi tugas dan biaya Perjalanan Dinas kepada PPK paling lambat 5 (lima)
hari kerja setelah Perjalanan Dinas dilaksanakan;
i.
kepada pejabat/pegawai yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud huruf h, tidak
diperkenankan melaksanakan perjalanan dinas selanjutnya; dan
j.
untuk kelancaran tugas pokok setiap satuan kerja, maka sewaktu-waktu Inspektorat bersama-
13 / 20
DIVA | DIUNDUH PADA 16 AGUSTUS 2023

Pasal 35

www.hukumonline.com/pusatdata
Pasal 34
(1)
Pembatalan SPP hanya dapat dilakukan oleh PPK sepanjang SP2D belum diterbitkan.
(2)
Pembatalan SPM hanya dapat dilakukan oleh PP-SPM secara tertulis sepanjang SP2D belum
diterbitkan.
(3)
Dalam hal SP2D telah diterbitkan dan belum mendebet kas negara, pembatalan SPM dapat dilakukan
setelah mendapat persetujuan Direktur Jenderal Perbendaharaan atau pejabat yang ditunjuk.
(4)
Koreksi SP2D atau daftar nominatif untuk penerima lebih dari satu rekening hanya dapat dilakukan
oleh Kepala KPPN berdasarkan permintaan KPA.
(5)
Pembatalan SP2D tidak dapat dilakukan dalam hal SP2D telah mendebet Kas Negara.
Paragraf 10
Prosedur Pengajuan Surat Tugas dan Surat Perintah
Pasal 35
(1)
Prosedur pen