Langsung ke konten

Peraturan Menteri Nomor p-33-menhut-ii-2009 Tahun 2009 tentang PEDOMAN INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA (IHMB) PADA USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN PRODUKSI

PERMENHUT No. p-33-menhut-ii-2009 Tahun 2009 berlaku

Pasal 1

Pedoman Pelaksanaan Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala pada Izin
Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) pada Hutan Produksi
sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan ini.

Pasal 2

(1) Pedoman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 merupakan acuan dalam
melaksanakan kegiatan Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB).
(2) Hasil IHMB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai dasar
penyusunan Rencana Kerja Usaha (RKU) jangka panjang 10 (sepuluh)
tahun Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam
(IUPHHK-HA) dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan
Tanaman (IUPHHK-HT).
(3) Selain sebagai dasar penyusunan RKU sebagaimana dimaksud pada ayat
(2), dapat juga digunakan sebagai dasar penyusunan proposal teknis
permohonan IUPHHK.

Pasal 3

Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri Kehutanan ini, maka Peraturan
Menteri
Kehutanan
Nomor:
P.
34/Menhut-II/2007
tentang
Pedoman
Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB) pada Usaha Pemanfaatan
Hasil Hutan Kayu pada Hutan Produksi, dinyatakan tidak berlaku lagi.

Pasal 4

Peraturan Menteri Kehutanan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
2009, No.110
Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Menteri Kehutanan ini
diundangkan dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 11 Mei 2009
MENTERI KEHUTANAN
REPUBLIK INDONESIA,

H. M.S. KABAN

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 15 Mei 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ANDI MATTALATTA

2009, No.110

Lampiran Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia
Nomor
: P.33/Menhut-II/2009
Tanggal
: 11 Mei 2009

PEDOMAN INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
PADA USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN PRODUKSI

2009, No.110
DAFTAR ISI

I.
PENDAHULUAN

1.1.
Latar Belakang
1.2.
Tujuan IHMB
1.3.
Ruang Lingkup
1.4.
Pengertian

II.
PRASYARAT PELAKSANAAN KEGIATAN

2.1.
Ketentuan Umum
2.2.
Waktu Pelaksanaan
2.3.
Pengendalian
2.4.
Perencanaan Kegiatan
2.5.
Evaluasi Hasil IHMB

III.
PELAKSANAAN KEGIATAN IHMB PADA HUTAN ALAM

3.1.
Tim Pelaksana dan Perlengkapan dalam Kegiatan IHMB
3.2.
Stratifikasi Tutupan Hutan Plot Contoh
A. Bentuk dan Ukuran Plot Contoh
B. Penentuan Jumlah Plot Contoh
C. Penentuan Koordinat Plot Contoh
3.3.
Penempatan Plot Contoh di Lapangan
3.4.
Pembuatan Plot Contoh
3.5.
Pemasangan Label Pohon
3.6.
Pencatatan Informasi Umum
3.7.
Pendataan Pohon pada Hutan Alam
A. Pendataan Tingkat Pancang
B. Pendataan Tingkat Tiang
C. Pendataan Tingkat Pohon Kecil
D. Pendataan Tingkat Pohon Besar
3.8.
Penentuan Posisi Pohon yang Diukur di Dalam Sub-Plot

2009, No.110

IV.
PELAKSANAAN KEGIATAN IHMB PADA HUTAN TANAMAN

4.1.
Petunjuk Umum
4.2.
Tim Pelaksana dan Perlengkapan dalam Kegiatan IHMB
4.3.
Stratifikasi Tutupan Hutan
4.4.
Plot Contoh
A. Bentuk dan Ukuran Plot Contoh
B. Penentuan Jumlah Plot Contoh
C. Penentuan Koordinat Plot Contoh
4.5.
Penempatan Plot Contoh di Lapangan
4.6.
Pembuatan Plot Contoh
4.7.
Pemasangan Label Pohon
4.8.
Pencatatan Informasi Umum
4.9.
Pendataan Pohon pada Hutan Tanaman
A. Hutan Tanaman untuk Kayu Pulp
B. Hutan Tanaman untuk Kayu Pertukangan
4.10. Penentuan Posisi Pohon yang Diukur Dalam Plot Contoh

V.
ALAT BANTU INVENTARISASI HUTAN

5.1.
Kurva Tinggi
A. Pengertian
B. Tahap Pengukuran Pohon Contoh
C. Membentuk Kurva Tinggi
5.2.
Tabel Volume
A. Pengertian
B. Tahap Pembentukan Persamaan Volume
C. Analisis Data
5.3.
Tabel Berat

VI.
PEMASUKAN DATA

VII. ANALISIS DATA

7.1.
Hutan Alam
A. Kondisi Umum Areal Tegakan
B. Kondisi Tegakan

2009, No.110
7.2.
Hutan Tanaman
A. Kondisi Umum Areal Tegakan
B. Kondisi Tegakan
C. Analisis Data Plot Contoh Berbentuk Tree Sampling
D. Penyusunan Distribusi Diameter untuk Tree Sampling

VIII. PENGATURAN KELESTARIAN TEGAKAN HUTAN

IX.
PELAPORAN HASIL PELAKSANAAN IHMB

X.
EVALUASI HASIL IHMB

2009, No.110
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan
Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan, para pemegang Izin
Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam (IUPHHK-HA) dan Izin Usaha
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) diwajibkan menyusun
Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu sepuluh tahunan (Pasal 73 dan 75
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007) yang disusun berdasarkan inventarisasi
hutan berkala sepuluh tahunan yang selanjutnya disebut sebagai Inventarisasi Hutan
Menyeluruh Berkala (IHMB).

Menteri Kehutanan menetapkan Pedoman IHMB sebagai pedoman pelaksanaan
IHMB di lapangan oleh pemegang IUPHHK-HA atau IUPHHK-HT dan pengelola Kesatuan
Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP).

1.2. Tujuan IHMB

Tujuan IHMB antara lain:
1. Untuk mengetahui kondisi sediaan tegakan (timber standing stock) pada hutan alam
dan kondisi sediaan tegakan tanaman pokok pada hutan tanaman secara berkala pada
tegakan hutan yang sama;
2. Sebagai bahan dasar penyusunan RKUPHHK-HA atau RKUPHHK-HT atau RKUPHHK-
KPHP sepuluh tahunan, khususnya dalam menyusun rencana pengaturan hasil dalam
mewujudkan pengelolaan hutan produksi lestari (sustainable forest management);
3. Sebagai bahan pemantauan kecenderungan (trend) kelestarian sediaan tegakan hutan
di areal IUPHHK-HA atau IUPHHK-HT dan atau KPHP.

1.3. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pedoman ini meliputi pengaturan tata cara penyelenggaraan IHMB
pada hutan produksi yang dikelola dalam IUPHHK-HA dan IUPHHK-HT (kayu pulp dan
kayu pertukangan) serta KPHP.

Pedoman ini tidak diwajibkan pada IUPHHK-HT Transmigrasi (IUPHHK-HT Trans),
Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Tanaman Hasil Rehabilitasi (HTHR) dan hutan
tanaman yang dikelola Perum Perhutani di Jawa dan Madura.

1.4. Pengertian

1. Petak (compartment) adalah unit areal yang merupakan unit administrasi terkecil
dalam kesatuan pengelolaan/manajemen hutan.
2. Plot contoh (sample unit) adalah suatu petak dengan bentuk dan ukuran tertentu yang
dibuat di lapangan dimana di dalam petak tersebut dilakukan pengukuran-pengukuran
terhadap dimensi pohon/tegakan dan pencatatan informasi-informasi tentang
pohon/tegakan yang diperlukan yang penempatannya bersifat semi permanen.
2009, No.110
3. Rectangular plot adalah plot contoh berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran
panjang dan lebar tertentu yang menghasilkan plot contoh dengan luasan tertentu.
4. Circular plot adalah plot contoh berbentuk lingkaran dengan panjang jari-jari lingkaran
tertentu dan menghasilkan plot contoh dengan luasan tertentu.
5. Plot contoh tree sampling adalah suatu bentuk plot contoh yang bukan didasarkan
pada luasan plot contoh tertentu tetapi didasarkan pada sejumlah pohon tertentu yang
tercakup dalam plot contoh tersebut.
6. Sediaan tegakan hutan (standing stock) adalah kondisi tegakan hutan yang ada pada
saat dilaksanakan inventarisasi hutan, yang dinyatakan dalam komposisi jenis,
penyebaran ukuran diameter dan dugaan tinggi pohon penyusun tegakan, luas areal,
volume tegakan hutan, keadaan permudaan alam atau tumbuhan bawah serta bentang
lahan dari areal yang diinventarisasi.
7. Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala yang selanjutnya disebut IHMB adalah
kegiatan pengumpulan data dan informasi tentang kondisi sediaan tegakan hutan
(timber standing stock), yang dilaksanakan secara berkala 1 (satu) kali dalam 10
(sepuluh) tahun pada seluruh petak di dalam kawasan hutan produksi setiap wilayah
unit pengelolaan/manajemen.
8. Alat bantu IHMB adalah alat untuk memperlancar kegiatan IHMB dalam hal ini adalah
Kurva/Tabel Tinggi Pohon, Tabel Volume Pohon dan Tabel Berat Pohon yang disusun
berdasarkan data pohon contoh dengan menggunakan analisa data free hand method
ataupun dengan regression analysis methods.
9. Pohon contoh atau pohon model adalah pohon yang diambil sebagai contoh atau
sampel yang diukur diameter, tinggi dan volumenya dengan lebih akurat untuk
digunakan sebagai bahan dasar dalam penyusunan alat bantu IHMB, dengan kriteria
pohon yang dipilih adalah pohon sehat, pertumbuhan normal, berbatang lurus dan
tajuknya tidak patah.
10. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam hutan alam pada hutan produksi yang
selanjutnya disebut IUPHHK-HA adalah izin usaha yang diberikan untuk memanfaatkan
hasil hutan berupa kayu dalam hutan alam pada hutan produksi melalui kegiatan
pemanenan dan atau penebangan, pengayaan, pemeliharaan, dan pemasaran.
11. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam hutan tanaman pada hutan produksi
yang selanjutnya disebut IUPHHK-HT adalah izin usaha yang diberikan untuk
memanfaatkan hasil hutan berupa kayu dalam hutan tanaman pada hutan produksi
melalui kegiatan penyiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan
dan pemasaran.
12. Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi yang selanjutnya disebut KPHP adalah unit
pengelolaan hutan produksi terkecil yang dapat dikelola secara efisien dan lestari.
13. Pengawas Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang selanjutnya disebut
Wasganis PHPL adalah pegawai kehutanan yang memiliki kompetensi di bidang
pengawasan dan pemeriksaan pengelolaan hutan produksi lestari sesuai dengan
kualifikasinya yang diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Balai Pemantauan
Pemanfaatan Hutan Produksi (BPPHP) atas nama Direktur Jenderal Bina Produksi
Kehutanan.
14. Pengawas Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Perencanaan Hutan yang
selanjutnya disebut Wasganis PHPL Canhut adalah Wasganis PHPL yang memiliki
2009, No.110
kompetensi timber cruising dan perencanaan hutan serta mempunyai tugas dan
wewenang mengawasi, memeriksa, mengevaluasi, dan melaporkan hasil kerja Tenaga
Teknis PHPL Timber Cruising dan Tenaga Teknis PHPL Perencanaan Hutan.
15. Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Timber Cruising yang selanjutnya
disebut Ganis PHPL TC adalah petugas perusahaan pemegang izin di bidang
pengelolaan dan pemanfaatan hutan produksi lestari yang memiliki kompetensi dalam
kegiatan IHMB, timber cruising, penyusunan LHC petak kerja tebangan tahunan, LHC
blok kerja tebangan tahunan, serta pengukuran berkala pada Petak Ukur Permanen
(PUP) yang diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Balai Pemantauan Pemanfaatan
Hutan Produksi (BPPHP) atas nama Direktur Jenderal.
16. Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Perencanaan Hutan Produksi yang
selanjutnya disebut Ganis PHPL Canhut adalah petugas perusahaan pemegang izin di
bidang pengelolaan dan pemanfaatan hutan produksi lestari yang memiliki kompetensi
dalam kegiatan cruising, penyusunan RKUPHHK-HA atau RKUPHHK Restorasi
Ekosistem atau RKUPHHK-HT atau RKUPHHK-HTR, serta penyusunan Usulan RKT dan
pembuatan peta areal kerja dalam rangka penyiapan pemanfaatan hutan produksi
pada hutan alam atau hutan tanaman yang diangkat dan diberhentikan oleh Kepala
Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BPPHP) atas nama Direktur Jenderal.

2009, No.110
II. PRASYARAT PELAKSANAAN KEGIATAN

2.1. Ketentuan Umum

1. Skala dan nilai yang tercantum dalam metode IHMB ini merupakan persyaratan
minimal (minimum requirement);
2. IHMB pada prinsipnya berbasis keragaman potensi hutan dan dilaksanakan oleh
pemegang IUPHHK-HA dan IUPHHK-HT serta pengelola KPHP;
3. Inventarisasi pada hutan alam dilakukan pada semua jenis pohon dan inventarisasi
pada hutan tanaman dilakukan pada pohon hasil tanaman pada tanaman pokok.
4. Pengambilan plot contoh (sampling unit) dalam IHMB berbasis petak didasarkan pada
kondisi areal efektif dalam areal kerjanya;
5. Plot contoh untuk pengamatan pohon:
a. Pada hutan alam:
Berbentuk empat persegi panjang (rectangular plot) luas 0,25 hektar dengan
ukuran lebar 20 meter dan panjang 125 meter.
b. Pada hutan tanaman:
Berbentuk lingkaran (circular plot) atau dapat pula berbentuk contoh pohon (tree-
sampling) dengan berbagai ukuran, tergantung pada umur atau kelas umur
tanaman.

2.2. Waktu Pelaksanaan

1. Pelaksanaan IHMB dilaksanakan 1 (satu) kali dalam setiap 10 (sepuluh) tahun;
2. Hasil IHMB menjadi dasar perhitungan Annual Alowable Cut (AAC) untuk IUPHHK-HA
dan dasar perhitungan etat untuk IUPHHK-HT kayu pertukangan;
3. Pada IUPHHK-HT yang baru, IHMB dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan
pembangunan tanamannya;
4. Bagi IUPHHK sedang berjalan, IHMB diselesaikan selambat-lambatnya tanggal 31
Agustus 2010.

2.3. Pengendalian

Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan melaksanakan pengendalian IHMB
melalui Wasganis PHPL Canhut sesuai Peraturan Menteri Kehutanan No. P.58/Menhut-
II/2008 Tentang Kompetensi dan Sertifikasi Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi
Lestari.

2.4. Perencanaan Kegiatan

1. Pemegang IUPHHK menyusun rencana kegiatan IHMB dilengkapi dengan:
a. Peta areal kerja digital dengan skala 1:50.000 atau skala 1:100.000 serta hasil
cetaknya (hardcopy) dari areal yang akan disurvey, yang bersumber pada peta
dasar. Apabila peta dasar belum tersedia, maka dapat digunakan peta SK IUPHHK;
b. Data penginderaan jauh resolusi spasial sedang (10 m - 30 m) dengan umur
perekaman data tidak lebih dari 2 tahun serta mempunyai kualitas citra yang baik
dengan maksimum tutupan awan sebesar 5%;
2009, No.110
c. Peta hasil stratifikasi tutupan hutan sebagaimana yang dimaksud dalam Bab III
Sub-Bab 3.2.
d. Peta petak dalam areal kerja, peta jalan, sungai dan lokasi pemukiman atau
perkampungan baik dalam bentuk digital maupun hasil cetak (hardcopy);
e. Rencana bagan sampling dan bentuk plot contoh;
f. Rencana alat dan perlengkapan di lapangan;
g. Tata waktu pelaksanaan;
h. Rencana penyediaan tenaga kerja dan organisasi;
i. Recana pengolahan, analisis data dan pelaporan hasil;
j. Rencana luaran (output).
2. Agar tidak terjadi kesalahan teknis dalam pelaksanaan kegiatannya, pemegang
IUPHHK dapat mengkonsultasikan rencana kegiatan IHMB kepada Wasganis PHPL
Canhut yang ada di Dinas Kehutanan Provinsi atau Balai Pemantauan Pemanfaatan
Hutan Produksi (BPPHP) sebelum rencana tersebut diserahkan kepada Direktur
Jenderal Bina Produksi Kehutanan.
3. Rencana kegiatan IHMB disampaikan kepada Direktur Jenderal Bina Produksi
Kehutanan c.q. Direktur yang diserahi tugas dan tanggung jawab di bidang penilaian
dan pengesahan RKUPHHK-HA atau RKUPHHK-HT.

2.5. Evaluasi Hasil IHMB

1. Pemegang IUPHHK yang telah melaksanakan kegiatan IHMB wajib menyerahkan
laporan hasil IHMB dengan lampiran berupa Buku Hasil IHMB kepada Direktur
Jenderal Bina Produksi Kehutanan untuk dievaluasi oleh Tim Wasganis PHPL Canhut.
2. Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan meminta kepada Kepala Dinas Kehutanan
Provinsi untuk menugaskan Tim Wasganis PHPL Canhut untuk melaksanakan evaluasi
paling lambat 3 (tiga) bulan setelah laporan hasil IHMB diterima oleh Direktorat
Jenderal Bina Produksi Kehutanan dari pemegang IUPHHK.
3. Terhadap laporan hasil IHMB yang telah diterima dan dievaluasi oleh Tim Wasganis
PHPL Canhut, selambat-lambatnya 30 hari setelah pelaksanaan evaluasi, Tim
Wasganis PHPL Canhut memberikan pertimbangan mengenai hasil IHMB kepada
pemegang IUPHHK sebagai dasar penyusunan RKUPHHK sepuluh tahunan.

2009, No.110
III. PELAKSANAAN KEGIATAN IHMB PADA HUTAN ALAM

3.1. Tim Pelaksana dan Perlengkapan dalam Kegiatan IHMB

1. Tim Pelaksana Kegiatan IHMB

Untuk pelaksanaan kegiatan IHMB perlu dibentuk Tim Pelaksana IHMB yang terdiri
dari:
a. Ketua Tim Pelaksana,
b. Kepala Regu,
c. Anggota Regu.

Ketua Tim Pelaksana IHMB dipersyaratkan telah memiliki sertifikat kompetensi
Ganis PHPL TC atau Ganis PHPL Canhut sebagai tanda kelulusan pelatihan IHMB yang
diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Bidang Kehutanan, atau Perguruan Tinggi Kehutanan
atau oleh Lembaga Pendidikan yang ditunjuk oleh Departemen Kehutanan sesuai
Peraturan Menteri Kehutanan No. P.58/Menhut-II/2008.

Ketua Tim Pelaksana bertanggung jawab penuh terhadap semua pelaksanaan
kegiatan IHMB, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun dalam pelaporan hasil
IHMB. Ketua regu bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan, pencatatan data dan
pelaporan hasil kerja regunya.

Prestasi kerja satu regu untuk membuat dan mengukur 1 plot contoh diperlukan 3 -
4 jam maka diperkirakan dalam 1 hari dapat mengukur 2 plot contoh. Jika dalam 1 bulan
tersedia 25 HOK (dikurangi hari hujan), maka tiap regu dapat mengukur sekitar 50 plot
contoh per bulan. Jumlah regu dan waktu yang diperlukan dapat disesuaikan dengan
jumlah plot contoh yang akan diukur.

Jumlah anggota setiap regu sekurang-kurangnya terdiri dari:
a. 1 Kepala Regu, bertanggung jawab terhadap semua pencatatan data;
b. 2 personil untuk pembentukan/pembuatan plot contoh dan perintisan jalur;
c. 2 personil untuk pengukuran dan identifikasi jenis pohon;
d. 1 tukang masak.

2. Perlengkapan regu

Perlengkapan yang diperlukan dalam tiap regu meliputi:
a. Peta Kerja skala 1:50.000 atau skala 1:100.000 (yang mencakup informasi jaringan
jalan, sungai, perkampungan/desa/pemukiman, dan sebagainya);
b. Peta Rencana IHMB skala 1:50.000 atau skala 1:100.000 yang berisi petak-petak
(compartments), sampling design (penyebaran plot contoh dengan nomor ID jalur dan
petak) serta keadaan tutupan lahannya.
c. Tally sheet dan buku panduan;
d. Pensil;
e. 1 buah kompas;
f. 1 unit GPS (Global Positioning System)
g. 1 buah clinometer untuk mengukur lereng dan tinggi pohon;
2009, No.110
h. 1 pita ukur 30 m atau tali sepanjang 25 m;
i. 2 pita ukur diameter (phi-band);
j. 1 alat pengukur pohon contoh (tinggi, volume dan berat), seperti hagameter;
k. 2 buah tali untuk pembentukan sub-plot tiang (10 m);
l. 1 buah tali untuk pembentukan sub-plot lingkaran (2,82 m);
m. Label untuk penandaan pohon dan patok;
n. Perlengkapan personal (botol air, tas, parang, P3K, dan sebagainya).

3.2. Stratifikasi Tutupan Hutan

1. Pembentukan kelas tutupan hutan dimaksudkan untuk meningkatkan ketelitian hasil
pendugaan hasil inventarisasi dan keterwakilan.
2. Pelaksanaan pembentukan kelas tutupan hutan dilakukan melalui kaidah sebagai
berikut:
a. Membagi habis seluruh tutupan vegetasi yang ada (exhaustive);
b. Mengorganisir/menggabung kelas-kelas tutupan hutan (mutually exclusive);
c. Mempunyai ukuran yang jelas untuk setiap kelas tutupan hutan yang dibuat:
1) Kelas tutupan hutan primer (Virgin Forest) adalah hutan alam produksi yang
belum pernah dieksploitasi secara terencana.
2) Kelas tutupan hutan bekas tebangan (Logged Over Area) adalah hutan yang
pernah dan atau sedang dieksploitasi secara terencana.
d. Hirarkis, dimana kelas-kelas yang dibuat mempunyai hirarki (tingkatan) dan
mengikuti kaidah diagram pohon (dendrogram).
3. Hasil stratifikasi tutupan hutan sementara akan divalidasi dengan mendasarkan pada
hasil IHMB.
4. Sebagai acuan, dalam pembuatan kelas-kelas tutupan hutan dapat dilihat pada
Gambar 1. Pembuatan kelas-kelas hutan (stratifikasi) menurut kerapatan tegakannya
dapat dikelompokkan sebagai berikut:
(1)
Hutan lahan kering primer – kerapatan vegetasi jarang (HKp1)
(2)
Hutan lahan kering primer – kerapatan vegetasi sedang (HKp2)
(3)
Hutan lahan kering primer – kerapatan vegetasi rapat (HKp3)
(4)
Hutan lahan kering sekunder – kerapatan vegetasi jarang (HKs1)
(5)
Hutan lahan kering sekunder – kerapatan vegetasi sedang (HKs2)
(6)
Hutan lahan kering sekunder – kerapatan vegetasi rapat (HKs3)
(7)
Hutan lahan rawa primer – kerapatan vegetasi jarang (HRp1)
(8)
Hutan lahan rawa primer – kerapatan vegetasi sedang (HRp2)
(9)
Hutan lahan rawa primer – kerapatan vegetasi rapat (HRp3)
(10) Hutan lahan rawa sekunder – kerapatan vegetasi jarang (HRs1)
(11) Hutan lahan rawa sekunder – kerapatan vegetasi sedang (HRs2)
(12) Hutan lahan rawa sekunder – kerapatan vegetasi rapat (HRs3)
(13) Hutan lahan mangrove primer – kerapatan vegetasi jarang (HMp1)
(14) Hutan lahan mangrove primer – kerapatan vegetasi sedang (HMp2)
(15) Hutan lahan mangrove primer – kerapatan vegetasi rapat (HMp3)
(16) Hutan lahan mangrove sekunder – kerapatan vegetasi jarang (HMs1)
(17) Hutan lahan mangrove sekunder – kerapatan vegetasi sedang (HMs2)
(18) Hutan lahan mangrove sekunder – kerapatan vegetasi rapat (HMs3)

2009, No.110

Gambar 1. Skema Kelas-kelas Tutupan Hutan

Tutupan Lahan
Vegetasi
Bukan vegetasi
Hutan
Bukan Hutan:
Hutan Tanaman
Hutan Alam
KU I
KU II
dst
Hutan Mangrove
Hutan Rawa
Hutan Lahan Kering
Hutan Mangrove Primer
Hutan Mangrove Sekunder
Hutan Rawa Primer
Hutan Rawa Sekunder
Hutan Lahan Kering Primer
Hutan Lahan Kering Sekunder
Alang-alang
Semak/Belukar
Badan-badan air
Lahan kosong
Tahun Lepas Tebang
Tahun Lepas Tebang
Tahun Lepas Tebang
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 6,5 pt
Formatted: Font: 6,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 6,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
Formatted: Font: 6,5 pt
Formatted: Font: 6,5 pt
Formatted: Font: 7,5 pt
2009, No.110
3.3. Plot Contoh

Tujuan penarikan plot contoh pada hutan alam adalah untuk menghitung volume
tegakan semua jenis (all species) yang terdiri dari pohon-pohon dengan berdiameter
setinggi dada (dbh) sama dengan atau lebih besar dari 10 (sepuluh) cm.

A. Bentuk dan Ukuran Plot Contoh

Plot contoh untuk pengamatan pohon pada hutan alam berbentuk empat persegi
panjang (rectangular plot) berukuran paling sedikit 0,25 hektar dengan lebar 20 meter
dan panjang 125 meter. Di dalam plot contoh tersebut dibuat 4 buah sub plot, yaitu sub-
plot pancang berbentuk lingkaran dengan jari-jari 2,82 meter, sub-plot tiang berbentuk
bujur sangkar berukuran 10 meter x 10 meter, sub-plot pohon kecil berbentuk bujur
sangkar berukuran 20 meter x 20 meter dan sub-plot pohon besar berbentuk empat
persegi panjang berukuran 20 meter x 125 meter.

B. Penentuan Jumlah Plot Contoh

1. Plot contoh diletakkan dan dipilih pada jalur ukur terpilih secara sistematik dengan
jarak antar jalur telah ditetapkan sebesar 1.000 meter (1 km). Jarak antar plot di
dalam jalur (JP) ditentukan oleh luas efektif IUPHHK, jumlah plot contoh yang akan
diukur (n) dan jarak antar jalur ukur (JL) dalam meter, dengan rumusan sebagaimana
di bawah ini.

)
(
)
(
)
(
)
(
LW
Contoh
Plot
tiap
diwakili
yang
m
Areal
Luas
m
IUPHHK
Efektif
Luas
n
Contoh
Plot
Jumlah
=

JL
x
JP
LW =
atau
JL
Lw
JP =

dimana Lw: luas areal yang diwakili oleh satu plot contoh (m2)

2. Jumlah plot contoh yang diperlukan tiap IUPHHK ditentukan berdasarkan keterwakilan
areal petak (compartment) untuk diukur melalui plot contoh terpilih.
3. Untuk IUPHHK yang luas areal efektifnya < 10.000 ha digunakan pendekatan setiap
plot mewakili 50 ha, atau 1.000 m (jarak antar jalur ukur) x 500 m (jarak antar plot
contoh dalam jalur ukur) dan diperoleh rataan menjadi 200 plot contoh (koefisien
variasi sekitar 31%).

Untuk IUPHHK yang luasnya lebih kecil dari 10.000 ha maka jarak antar plot contohnya
dibuat 500 m, sedangkan IUPHHK yang luasnya 10.000 – 100.000 ha, jarak antar plot
contohnya menjadi sekitar 1.000 m. Untuk luasan IUPHHK yang lebih besar dari
100.000 ha dengan menggunakan pendekatan empiris berdasarkan asumsi bahwa
koefisien variasi (CV) = 85% dan kesalahan contoh (sampling error) yang diharapkan
sebesar 5%, maka pada kondisi ini jumlah plot contoh yang harus diambil adalah 1.200
plot contoh (dibulatkan).
2009, No.110

Jika ditetapkan jarak plot contoh 1 km dengan jarak antar jalur 1 km (intensitas
sampling sebesar 0,25%), maka untuk areal IUPHHK yang luasnya 10.000 ha
memerlukan hanya 100 plot contoh. Pada kasus ini maka CV-nya akan setara dengan
hanya 25% (relatif homogen). Pada hutan sekunder di Kalimantan, Sumatera dan
Sulawesi, keragaman yang rendah ini menjadi kurang logis.

Oleh karena ukuran plot contoh adalah 20 m x 125 m (0,25 ha) maka intensitas
sampling (IS) dari suatu IHMB dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

%
Lw
Lp
Is =
, atau

%
JL
JP
Lp
Is
×
=

dimana Lw
: luas areal yang diwakili oleh satu plot contoh (m2)

Lp
: luas plot contoh (m2)
JP
: jarak antar plot contoh dalam jalur (m)
JL
: jarak antar jalur (m)

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa untuk luas areal IUPHHK yang berkisar antara
10.000 ha sampai dengan 100.000 ha, maka intensitas samplingnya akan berkisar
antara 0,25% sampai dengan 0,50%, sedangkan untuk luas areal yang lebih besar dari
100.000 ha, intensitas samplingnya menjadi lebih kecil dari 0,25%.

Secara keseluruhan, dengan pola penentuan jumlah plot contoh yang telah diuraikan di
atas, dengan memperhatikan jarak minimal antar plot contoh dalam jalur adalah 500 m
(lebar antar jalur 1.000 m), maka jumlah plot contoh, jarak antar jalur ukur, jarak
antar plot contoh dalam jalur ukur, luas yang diwakili oleh setiap plot contoh serta
intensitas sampling yang dihasilkannya untuk setiap kelas luasan efektif dari IUPHHK
dapat diihat dalam Tabel 1 di bawah ini.

Karena jumlah plot contoh ditentukan berdasarkan kelas luasan IUPHHK, maka jumlah
plot contoh dalam Tabel 1 merupakan patokan jumlah plot contoh. Patokan utama
dalam rancangan sampling untuk menentukan jumlah plot contoh yang akan diukur
dalam IHMB digunakan jarak antar plot dalam jalur (JP). Contoh:
(1) Suatu IUPHHK luas areal efektifnya 8.500 ha, maka berdasarkan Tabel 1 diperoleh
jumlah plot minimalnya adalah 200 plot. Karena JL = 1.000 m maka JP = (8.500 ha
x 10.000 m2/ha) : (200 plot x 1.000 m) = 425 m.
(2) Suatu IUPHHK luas areal efektifnya 42.500 ha, maka berdasarkan Tabel 1
diperoleh jumlah plot minimalnya adalah 600 plot. Karena JL = 1.000 m maka JP =
(42.500 ha x 10.000 m2/ha) : (600 plot x 1.000 m) = 708 m.
(3) Suatu IUPHHK luas areal efektifnya 86.400 ha, maka berdasarkan Tabel 1
diperoleh jumlah plot minimalnya adalah 950 plot. Karena JL = 1.000 m maka JP =
(86.400 ha x 10.000 m2/ha) : (950 plot x 1.000 m) = 909 m.
2009, No.110
(4) Suatu IUPHHK luas areal efektifnya 180.000 ha, maka berdasarkan Tabel 1
diperoleh jumlah plot minimalnya adalah 1.200 plot. Karena JL = 1.000 m maka JP
= (180.000 ha x 10.000 m2/ha) : (1.200 plot x 1.000 m) = 1.500 m.

Tabel 1. Jumlah Plot yang Perlu Dibuat untuk Kelas Luasan Efektif Tertentu
Luas Efektif
IUPHHK
(ha)
Perkiraan
Jumlah
Plot Contoh
(plot)
JL
(m)
LW
(m2/plot)
JP
(m)
IS
(%)
<10.000
1.000
500.000
0,50
10.000 - <20.000
1.000
500.000
0,50
20.000 - <30.000
1.000
625.000
0,40
30.000 - <40.000
1.000
700.000
0,36
40.000 - <50.000
1.000
750.000
0,33
50.000 - <60.000
1.000
846.154
0,30
60.000 - <70.000
1.000
866.667
0,29
70.000 - <80.000
1.000
882.353
0,28
80.000 - <90.000
1.000
894.737
0,28
90.000 - <100.000
1.000
1.000
1.000.000
1.000
0,25
100.000
1.200
1.000
1.250.000
1.250
0,20
Keterangan: LW, JP, dan IS pada tabel ini dihitung berdasarkan luas dari nilai tengah kisaran.
Contoh: untuk luas efektif 20.000 - <30.000 ha, diperoleh nilai tengahnya adalah 25.000 ha. Oleh karena jumlah plotnya
ditetapkan 400 plot, maka LW = 625.000 m2, JP = 625 m, dan IS = 0,40%.

Untuk areal IUPHHK yang luasnya lebih besar dari 100.000 ha maka akan diperoleh
jarak antar plot dalam jalur akan menjadi lebih besar dari 1 km.

Berdasarkan
hasil
tersebut
di
atas,
maka
semua
bentuk
metode
inventarisasi sistematik berjalur dengan intensitas sampling lebih tinggi dari
0,5% dapat diterima selama koordinat titik pusat plot atau koordinat sumbu
jalurnya diketahui.

Catatan:
Dengan asumsi bahwa petak (compartment) berbentuk persegi dengan ukuran 1 km x
1 km, maka jika areal IUPHHK luasnya lebih besar dari 100.000 ha dengan keragaman
volume tinggi (misalnya di atas 85%), maka jarak antar plot contoh dalam jalurnya
ada yang lebih besar dari 1.000 m. Dalam hal ini berarti ada petak yang tidak diwakili
oleh plot contoh. Untuk memperoleh informasi dari petak tersebut, digunakan asumsi
bahwa perubahan volume dari satu titik plot contoh ke titik plot contoh lainnya
berlangsung secara gradual, karena itu dapat digunakan transformasi linear
berdasarkan jarak.

4. Petak-petak (compartments) yang tidak terwakili oleh plot contoh, dapat diduga
volumenya dengan menggunakan interpolasi secara gradual, apabila berdasarkan citra
satelit resolusi sedang maupun resolusi tinggi ataupun berdasarkan pengamatan di
lapangan, kondisi areal hutan pada petak-petak tersebut dibandingkan dengan petak-
petak di sekitarnya adalah relatif homogen.
2009, No.110
Pada Gambar 2 berikut ini, petak yang diwakili oleh plot contoh A100 tidak ditempati
plot contoh dan akan diduga volumenya berdasarkan volume plot contoh di plot contoh
A099 (misalnya V1 = 25 m3) dan plot contoh A101 (misalnya V2 = 64 m3). Kondisi
petak yang diwakili oleh plot contoh A100 tidak begitu ekstrim dibandingkan dengan
kondisi petak yang diwakili oleh plot contoh A099 dan plot contoh A101.

Gambar 2. Teknik Pendugaan Volume pada Petak yang Tidak Terwakili Plot Contoh

Tahapan pendugaan adalah sebagai berikut:
(1) Ukur jarak dari plot contoh A099 ke titik tengah plot contoh A100 (misalkan P1 =
550 m).
(2) Ukur jarak dari plot contoh A101 ke titik tengah plot contoh A100 (misalkan P2 =
750 m).
(3) Hitung beda volume (DV) dari kedua plot contoh tersebut, DV = 64 m3 – 25 m3 =
39 m3.
(4) Gunakan rumus transformasi linear sebagai berikut:







×
+
±
=
ΔV
P
P
P
V
V

Gunakan operator + (tambah) kalau V1 lebih kecil dari V2 dan gunakan operator -
(kurang) kalau V1 lebih besar dari V2. Untuk contoh di atas, volume di A100 adalah:






×
+
+
=

V
= 41,5 m3

Secara praktis, pembuatan sebaran spasial potensi hutan tersebut dapat menggunakan
interpolasi spasial dengan metode spline pada sistem informasi geografis.

5. Petak-petak (compartments) yang tidak terwakili oleh plot contoh, tidak boleh diduga
volumenya dengan menggunakan interpolasi secara gradual, apabila berdasarkan citra
satelit resolusi sedang maupun resolusi tinggi ataupun berdasarkan pengamatan di
lapangan, kondisi areal hutan pada petak-petak tersebut dibandingkan dengan petak-
petak di sekitarnya adalah sangat bervariasi (sangat heterogen). Dalam keadaan
seperti ini, maka pada petak-petak dengan kondisi tersebut wajib dibuat plot contoh
tambahan (suplemen) di luar plot contoh yang telah direncanakan, atau menggunakan
pendekatan homogenitas hasil penafsiran citra satelit resolusi sedang/tinggi.
Letak/lokasi plot contoh suplemen ditentukan berdasarkan desain awal, yaitu jarak
antara plot contoh yang diukur terhadap petak suplemen sama dengan jarak yang
sudah ditetapkan sebelumnya.
A099
A100
A101
P1
P2
2009, No.110
C. Penentuan Koordinat Plot Contoh

Peletakan plot contoh (sample unit) dalam areal dilakukan dengan sampling
sistematik dimulai secara acak (systematic sampling with random start) dalam jalur
berplot, dengan lebar jalur 20 meter. Jarak antar jalur sebesar 1 km (satu kilometer)
dengan tujuan mengusahakan agar semua petak yang ada dapat terwakili. Letak jalur
pertama dan lokasi plot contoh pertama dalam jalur diletakkan secara acak. Secara teknis
dilakukan pengacakan terhadap (a) lokasi jalur yaitu dengan mencari bilangan acak (BAX)
yang berkisar antara 10 sampai dengan JL dan (b) lokasi plot contoh dalam jalur dengan
mencari bilangan acak (BAY) yang berkisar antara 62,5 sampai dengan JP (10 adalah
setengah lebar plot contoh dan 62,5 adalah setengah panjang plot contoh. Lokasi
(koordinat planimetris) dari plot contoh pertama dapat dihitung sebagai berikut:
PE = AE + BAX
PN = AN + BAY
dimana PE
: koordinat Easting dari titik pusat plot contoh pertama
PN
: koordinat Northing dari titik pusat plot contoh pertama
AE, AN
: koordinat Easting dan Northing dari titik batas terluar di
sebelah Barat dan sebelah Selatan areal
BAX, BAY : bilangan acak untuk koordinat Easting dan Northing dari titik
pertama

Sebagai ilustrasi, peletakan plot contoh pertama secara acak disajikan pada Gambar 3.

2009, No.110

Jika
JL = 1.000 m
JP = 1.512 m
Gambar 3. Pemilihan plot contoh pertama secara acak
AE = 500.000
AN = 9.000.000
BAY = 900 (< JP)
Plot contoh pertama
EP = 500.000 + 837
NP = 9.000.000 + 900
JP
Catatan: pada batas areal kerja yang tidak beraturan, ada kemungkinan
ditemukan plot pertama (plot paling pojok kiri (Barat) - bawah (Selatan))
terdapat di luar batas areal kerja. Semua plot-plot yang terdapat di luar
batas areal kerja dikeluarkan dari rancangan pengambilan contoh.
BAX = 837 (< JL)
Gambar 3. Pemilihan Plot Contoh Pertama Secara Acak
JL
Formatted: Font: Italic
Formatted: Font: (Default)
Tahoma, Bold
2009, No.110
3.4. Penempatan Plot Contoh di Lapangan

1. Lokasi setiap plot contoh harus digambarkan pada peta topografi atau peta jaringan
jalan yang telah dibuat dengan skala 1:50.000 atau lebih besar.

Catatan:
Penentuan titik ikat pada peta berupa bentuk-bentuk fisik permanen seperti simpang
sungai, simpang jalan, jembatan atau landmark lainnya. Titik ikat ini dimaksudkan
untuk menentukan lokasi awal plot contoh yaitu dengan mengukur jarak dan sudut
arah atau azimuth dari titik ikat. Posisi titik ikat harus diukur dengan GPS atau
menggunakan koordinat peta yang ada.

2. Pengukuran jalan masuk
a. Ukur azimuth atau sudut arah dan jarak dari titik ikat ke titik awal jalur di lapangan.
b. Gambarkan jalan masuk menuju plot contoh yang memperlihatkan keadaan setiap
50 m berdasarkan arah dan jarak rintisan dari titik ikat.
c. Saat membuat rintisan masuk, sedapat mungkin mengurangi kerusakan terhadap
sumber daya seperti rotan atau jenis-jenis komersil lainnya dengan berbagai
ukuran. Patok dibuat hanya dari pancang jenis non komersil.
d. Pada titik pusat plot contoh dibuat gundukan tanah setinggi 0,5 m. Kemudian
ditanamkan pada gundukan itu sebuah patok sepanjang kurang lebih 2 m yang
diperkirakan tidak mudah rusak sampai 10 tahun, ditanam antara 0,5 – 0,7 m lalu
diberi tanda nomor jalur dan nomor plot contoh.
e. Pada setiap jalur diberi tanda berupa patok permanen minimal dua buah yang
diletakkan pada awal jalur dan pada satu perpotongan jalur dengan jalan atau
perpotongan jalur dengan sungai. Bahan patok dibuat dari bahan yang tidak
mudah rusak sampai 10 tahun, misalnya paralon, besi, dan sebagainya. Tanda jalur
diberi nomor jalur.
f. Pada setiap titik pusat plot contoh 2, plot contoh 3 dan seterusnya, dibuat
gundukan tanah setinggi 0,5 m dan ditegakkan pancang kayu yang dicat dengan
nomor jalur dan nomor plot contoh. Penomoran plot contoh harus konsisten,
misalnya J04,03 berarti jalur 4 plot contoh nomor 3.

3.5. Pembuatan Plot Contoh

1. Plot contoh di hutan alam diletakkan dalam jalur inventarisasi dengan arah Utara-
Selatan dan di dalamnya terdapat beberapa plot contoh yang jumlahnya tergantung
dari panjang jalur. Dalam satu plot contoh terdapat 4 sub-plot contoh (sub-plot) yang
luasnya dibedakan berdasarkan tingkat pertumbuhan pohon dan tingkat permudaan
yang ada (lihat Gambar 4).
a. Sub-plot pancang
Ukur dari titik awal plot contoh masing-masing 10 m ke arah Barat atau Timur,
pada ujung sisi kiri dibuat sub-plot pancang berbentuk lingkaran dengan tali
sepanjang 2,82 m (jari-jari plot 2,82 m). Amati keberadaan pancang dalam sub-
plot. Pasang pasak pada pusat sub-plot untuk memasang tali tersebut, lalu amati
sub-plot secara berputar dengan ujung tali sebagai batas sub-plot hingga selesai.
2009, No.110
b. Sub-plot tiang
Dari titik awal plot contoh, dibentuk sub-plot tiang berbentuk bujur sangkar
berukuran 10 m x 10 m di sisi kiri jalur. Dengan bantuan tali sepanjang 10 m
sebanyak 2 buah dan kompas, dari titik awal plot contoh tarik tali ke arah kiri tegak
lurus jalur (270º) dan searah jalur (0º) lalu pasang patok.
c. Sub-plot pohon kecil
Bentuk sub-plot bujur sangkar berukuran 20 m x 20 m, sepanjang 10 m sebelah
Barat dan 10 m sebelah Timur jalur, kemudian rintis 20 m ke arah Utara.
d. Sub-plot pohon besar
Bentuk sub-plot persegi panjang berukuran 20 m x 125 m sebagai perpanjangan
dari sub-plot pohon kecil ke arah Utara.

2009, No.110

IV

III

Gambar 4. Desain Plot Contoh dengan 4 Sub-plot (I-IV)

2,82 m
IV
II
I
10 m
10 m
20 m
Titik awal plot
20 m
125 m
Formatted: Font: Bold
Formatted: Font: (Default)
Tahoma, Bold
Formatted: Font: 10 pt
Formatted: Font: (Default)
Tahoma, Bold
2009, No.110
2. Pemindahan plot contoh
Pemindahan plot contoh hanya dilakukan bila (lihat Gambar 5):
a. Plot contoh terpotong oleh sungai besar (lebar lebih atau sama dengan 3 m), jalan
utama atau TPn.
b. Sub-plot tingkat pohon kecil (20 m x 20 m), sub-plot tingkat tiang (10 m x 10 m)
atau sub-plot tingkat pancang terpotong oleh sungai dengan lebar lebih dari 1 m
dan kurang dari 3 m atau jalan cabang.
c. Sub-plot tingkat pancang terpotong oleh sungai atau jalan.

Gambar 5. Kaidah-kaidah di Dalam Perubahan/Pemindahan Plot Contoh

2009, No.110
Pemindahan dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Membagi plot contoh ke dalam dua jalur yang berdekatan/berhimpitan (lihat
Gambar 5(a2)).
b. Merubah posisi plot contoh dengan memajukan atau memundurkan plot contoh
dengan tetap berada pada jalur (Gambar 5(b2) atau 5(b3)).
c. Bila sub-plot tingkat pancang (sub-plot lingkaran) terpotong oleh sungai kecil <1
meter, pemindahan plot contoh dilakukan hanya terhadap sub-plot tingkat pancang
saja.

3.6. Pemasangan Label Pohon

1. Pemasangan label pohon pada hutan alam dilakukan pada seluruh jenis pohon (all
species) berdiameter 10 cm ke atas atau mulai dari tingkat tiang yang berada dalam
plot contoh.
2. Label pohon dipasang pada ketinggian 15 cm di atas lingkar pengukuran diameter dan
menghadap jalur, agar lebih mudah dilihat dari jalur rintisan. Label pohon yang
dipasang terbuat dari material yang tidak rusak sampai 2 tahun misalnya plat
aluminium atau plastik berukuran 7 cm x 4 cm.
3. Label pohon ini akan digunakan sebagai bahan monitoring oleh Tim Pengendali
Teknis.
4. Setiap plot contoh yang dibuat akan mempunyai 4 daftar isian (tally sheet), yaitu DI-1
yang berisi informasi plot contoh secara umum, DI-2 yang berisi data pohon tingkat
pancang dan tiang, DI-3 yang berisi data pohon kecil dan DI-4 yang berisi data pohon
besar. Nama jenis pohon yang diperoleh terlebih dahulu disusun menurut abjad nama
daerahnya. Hal ini dilakukan untuk mempermudah mencari nama botani serta
informasi lain yang dianggap perlu. Jenis-jenis ini kemudian dikelompokkan menjadi
kelompok-kelompok jenis: (1) komersial satu (meranti), komersial dua (jenis kayu
rimba campuran), (3) kayu indah satu (jenis-jenis eboni), (4) kayu indah dua, (5)
kelompok jenis yang dilindungi dan, (6) jenis lainnya (SK Menteri Kehutanan
No.163/Kpts-II/2003 tentang Pengelompokan Jenis Kayu Sebagai Dasar Pengenaan
Iuran Kehutanan).

3.7. Pencatatan Informasi Umum

Informasi dan data yang akan dikumpulkan untuk DI-1 adalah sebagai berikut:
1. Nomor petak
Catat nomor petak sesuai dengan nomor pada peta topografi atau peta jaringan jalan
yang disediakan. Pada setiap petak diberikan informasi akan ditebang (D) atau tidak
ditebang (TD). Petak akan ditebang apabila ada pohon komersial berdiameter lebih
besar dari 50 cm pada saat inventarisasi. Contoh nomor petak: Ptk01/D (petak 01,
ditebang).
2. Nomor plot contoh
Nomor plot contoh terdiri dari 2 bagian, nomor jalur dan nomor plot contoh. Misal,
jalur 3, plot contoh nomor 20, maka ditulis J03,20.
3. Nomor regu inventarisasi
Masukan nomor regu yang telah ditentukan sebelumnya dengan 1 digit.
2009, No.110

4. Tanggal inventarisasi
Catat tanggal pengukuran plot tersebut dengan pola “HHBBTT” (H untuk tanggal, B
untuk bulan dan T untuk tahun).
5. Ketinggian
Tentukan ketinggian dari permukaan laut (mdpl) dengan mengacu pada peta topografi
yang disediakan.
6. Kemiringan lereng (slope)
Ukur kemiringan lereng dalam persen (%) pada jalur sejauh 20 m mulai dari titik awal
plot contoh ke arah Utara, Timur, Selatan, dan Barat.
7. Fisiografi (keadaan muka bumi)
Tentukan keadaan fisiografi daerah di sekitar petak contoh berdasarkan kriteria
berikut:
8. Kondisi tapak
Kondisi tapak ditentukan di dalam sub-plot 20 m x 20 m dan dinyatakan dalam 2
kategori yaitu kondisi tapak khusus dan kelas tekstur tanah. Kondisi tapak khusus
dinyatakan dalam kelas berikut ini:
(1) Tidak ada : tidak ada ciri khas tentang kondisi tapak di daerah tersebut.
(2) Berbatu
: lebih dari 1/3 areal merupakan areal berbatu.
(3) Rawa
: lebih dari separuh areal merupakan areal yang digenangi air (terutama
pada musim hujan).
(4) Labil
: lebih dari 1/3 areal dipengaruhi oleh erosi seperti tanah longsor atau
terkikis air.

(1) Datar

: - kelerengan tidak melebihi 10%
- beda ketinggian antara titik tertinggi dengan
terendah tidak lebih dari 2 meter
(2) Bergelombang
: - kelerengan berkisar antara 11 – 25 %
- beda ketinggian antara titik tertinggi dengan
terendah sekitar 2 – 5 meter
(3) Puncak punggungan
: - kelerengan melebihi 25%
- dua kelerengan yang bertentangan mencapai titik
tertinggi
(4) Lereng atas
: - kelerengan melebihi 25%
- terletak pada bagian ketiga teratas dari lereng
(5) Lereng tengah
: - kelerengan melebihi 25 %
- terletak antara lereng atas dan lereng bawah
(6) Lereng bawah
: - kelerengan melebihi 25 %
- terletak pada bagian ketiga terendah dari lereng
(7) Lembah
: - terletak
pada
daerah
lembah
yang
lebar
minimalnya 20 m
(8) Lembah curam
: - kelerengan melebihi 25 %
- dua kelerengan yang bertentangan mencapai titik
terendah

2009, No.110

Sedangkan untuk penentuan kelas tekstur tanah (metodenya dijelaskan dalam diagram
alur pada Gambar 6) dinyatakan dalam kelas-kelas berikut ini:

(a) Pasir;
(b) Pasir berlempung;
(c) Lempung berpasir;
(d) Lempung liat berpasir;
(e) Liat berpasir;
(f) Lempung;
(g) Lempung berliat;
(h) Liat;
(i) Lempung berdebu;
(j) Lempung berliat;
(k) Liat berdebu;
(l) Debu
9. Bekas tebangan
(1) Baru : umur tebangan ≤ 5 tahun
(2) Lama : umur tebangan > 5 tahun
10. Tahun pelaksanaan tebang
Adalah tahun tebangan terakhir oleh HPH/IUPHHK-HA untuk menentukan umur lepas
tebang (years-elapsed after logging) pada saat inventarisasi, yang akan digunakan
dalam penaksiran volume tebangan berikutnya. Tahun operasi penebangan RKT ditulis
dalam 4 digit. Contoh: 86/87.
11. Bekas kebakaran/kekeringan

2009, No.110

Gambar 6. Diagram Alur Penentuan Kelas Tekstur Tanah Berdasarkan Metode Rasa
Rabaan dan Gejala Konsistensi (Poerwowidodo, 1992; DEPTAN, 1992)

2009, No.110

Format Daftar Isian 1 (DI-1) adalah sebagai berikut:

Daftar Isian 1

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
INFORMASI UMUM HUTAN ALAM

Lokasi

:
Kordinat GPS titik awal
:
Nomor Petak

:
Nomor Plot Contoh

:
Nomor Regu

:
Tanggal Pengukuran

:
Pimpinan Regu

:
Ketinggian tempat

: ... mdpl
Kelerengan

: Utara ...%, Timur ... %, Selatan ....% dan Barat ... %
Fisiografi

: datar = 1, bergelombang = 2, puncak = 3, lereng atas = 4,

lereng tengah = 5, lereng bawah = 6, lembah = 7,

lembah curam = 8
Tapak

: tidak ada = 1, berbatu = 2, rawa = 3, labil = 4
Tekstur tanah

: A , B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L
Bekas tebangan

: baru ≤ 5 tahun, lama > 5 tahun
Tahun Penebangan

: ...
Bekas terbakar/kekeringan
: ada/tidak ada
Kelas tutupan pada citra
: hutan primer rapat = 1, hutan primer sedang = 2, hutan primer jarang =
3, hutan sekunder rapat = 4, hutan sekunder sedang = 5, hutan
sekunder jarang = 6, belukar = 7, lainnya = 8

PETA SKETSA POSISI
Peta sketsa menggambarkan posisi plot contoh dan jalan masuk

3.8. Pendataan Pohon pada Hutan Alam

A. Pendataan Tingkat Pancang

Dalam sub-plot lingkaran dengan jari-jari 2,82 m, dilakukan pengamatan terhadap
pancang semua jenis yaitu anakan jenis-jenis pohon dengan tinggi minimal 1,5 m hingga
diameter kurang dari 10 cm. Data yang diambil berupa keberadaan pancang (ada atau
tidak ada) di sub-plot tersebut.

B. Pendataan Tingkat Tiang

Semua pohon hidup di dalam sub-plot 10 m x 10 m yang berdiameter mulai dari 10
cm hingga kurang dari 20 cm termasuk dalam tingkat tiang dan harus dicatat dalam
Daftar Isian 2 (DI-2) seperti di halaman berikut. Diameter diukur dengan menggunakan
pita diameter (phi-band) dalam 1 digit di belakang koma.

2009, No.110

Format Daftar Isian 2 (DI-2) adalah sebagai berikut:

Daftar Isian 2

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA TINGKAT PANCANG DAN TIANG

DI

No.
Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal

• PANCANG (tinggi 1,5 m s/d diameter <10cm): ADA/TIDAK ADA
• TIANG (10 cm ≥ Ø > 20 cm)
Data yang dikumpulkan adalah semua tingkat tiang di dalam sub-plot
10 x 10 m dengan dbh mulai dari 10 cm hingga dbh kurang dari 20 cm

No.
Nama Jenis
Kelompok
Jenis
Dbh
(cm)
Kualitas
Tajuk
Pohon
1/T

2/T

3/T

4/T

5/T

6/T

7/T

8/T

9/T

10/T

11/T

12/T

13/T

14/T

15/T

Kualitas Tajuk Pohon:

1 = Tajuk bebas dari
pemanjat, sehat,
kerusakan di bawah
20%
2 = Kerusakan tajuk 20 –
50%, atau sebagian
tajuk ditutupi rotan,
tumbuhan pemanjat
lain atau berdesakan
dengan tajuk pohon
lain
3 = Kerusakan tajuk di atas
50%, atau sebagian
besar tajuk ditutupi
rotan atau tumbuhan
pemanjat lain
U
2009, No.110
C. Pendataan Tingkat Pohon Kecil

Semua pohon hidup yang berdiameter mulai dari 20 cm hingga kurang dari 35 cm
di dalam sub-plot 20 m x 20 m termasuk ke dalam tingkat pohon kecil dan harus diukur
dan dicatat dalam Daftar Isian 3 (DI-3). Data-data yang harus dikumpulkan adalah:
1. Keterangan
Masukkan keterangan nomor petak, nomor jalur, nomor regu serta tanggal.
2. Nomor Pohon
Catat nomor pohon sesuai dengan nomor pada label pohon.
3. Nama jenis
Tentukan nama jenis dan catat ke dalam tally sheet.
4. Simbol jenis
Catat simbol jenis sesuai dengan daftar pada Lampiran 1.
5. Diameter
Ukur dan catat diameter setinggi dada (dbh) atau diameter di atas banir seperti pada
Gambar 7.
6. Tinggi pohon
Tinggi pohon yang dibutuhkan adalah tinggi total dan tinggi bebas cabang. Tinggi
pohon tidak diisi di lapangan dan nilainya ditentukan dengan menggunakan kurva
tinggi (kurva atau persamaan yang menggambarkan hubungan antara diameter
dengan tinggi total atau tinggi bebas cabang pohon). Pembuatan kurva tinggi akan
dicantumkan dalam bagian lain.
7. Kualitas pohon
Kualitas pohon ditentukan berdasarkan kualitas tajuk dan cacat pada batang. Kualitas
tajuk ditentukan sebagaimana pada pengukuran tingkat tiang. Kelas cacat pada batang
ditentukan berdasarkan bentuk kerusakan yang ada pada batang dan dicantumkan
dalam tabel berikut.

Tabel 2. Kelas Cacat, Kode dan Kriterianya

Kelas Cacat
Kode
Kriteria
Bebas Cacat
Batang sehat, tidak ada cabang mati, bengkak,
retak atau kerusakan kulit lainnya juga tidak
berlubang

Cacat Kecil
Batang memiliki kerusakan pada kulit tetapi
dapat
pulih
kembali
dan
masih
dapat
dimanfaatkan

Cacat Besar
Batang
terbakar
hingga
gubal,
growong,
banyak
mata
buaya
dan
tidak
dapat
dimanfaatkan

2009, No.110
Format Daftar Isian 3 (DI-3) adalah sebagai berikut:

Daftar Isian 3

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA TINGKAT POHON KECIL

DI

No.
Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal

POHON KECIL (20 cm ≥ Ø > 35 cm)
Data yang dikumpulkan adalah semua pohon dalam sub-plot 20 m x
20 m dengan dbh/dab mulai dari 20 cm hingga kurang dari 35 cm.

No.
Nama
Jenis
Kelompok
Jenis
Dbh
(cm)
TBC
(m)
TTotal
(m)
Kualitas
Tajuk
Cacat
Batang
1/PK

2/PK

3/PK

4/PK

5/PK

6/PK

7/PK

8/PK

9/PK

10/PK

11/PK

12/PK

13/PK

14/PK

15/PK

U
Kualitas Tajuk Pohon:
1 = Tajuk bebas dari
pemanjat, sehat,
kerusakan di bawah
20%
2 = Kerusakan tajuk 20 –
50%, atau sebagian
tajuk ditutupi rotan,
tumbuhan pemanjat lain
atau berdesakan dengan
tajuk pohon lain
3 = Kerusakan tajuk di atas
50%, atau sebagian
besar tajuk ditutupi
rotan atau tumbuhan
pemanjat lain

Cacat Batang:
1 = Batang sehat, tidak ada
cabang mati, bengkak,
retak atau kerusakan
kulit lainnya dan tidak
berlubang
2 = Batang memiliki
kerusakan pada kulit
tetapi dapat pulih
kembali dan masih dapat
dimanfaatkan
3 = Batang terbakar hingga
gubal, growong, banyak
mata buaya dan tidak
dapat dimanfaatkan
Formatted: Font: (Default)
Tahoma, Indonesian
2009, No.110

Pohon biasa di tempat datar
Pengukuran pada 1,30 m
Pohon biasa di tempat miring
Pengukuran pada 1,30 m dari lereng yang lebih
tinggi

Pohon miring di tempat datar
Pengukuran pada 1,30 m
mengikuti arah condong pohon
Batang cacat, tinggi batas
bawah cacat kurang dari 1,30 m
Pengukuran tepat di 1,30 m

Pohon berakar nafas
Pengukuran pada 1,30 m di atas akar
Pohon berbanir di atas 1,30 m
pengukuran dilakukan 20 cm di atas banir

Batang bercagak di bawah 1,30 m
Pengukuran di 2 batang
Batang bercagak, tinggi cagak = 1,30 m
Pengukuran di bawah batas cagak luar

Gambar 7. Penentuan Posisi untuk Pengukuran Diameter

1.3 m
1,3 m
2009, No.110

D. Pendataan Tingkat Pohon Besar

Semua pohon yang hidup dalam plot contoh 20 m x 125 m, dengan diameter (dbh
dan dab) mulai dari 35 cm ke atas merupakan tingkat pohon besar dan harus diukur dan
dicatat dalam Daftar Isian 4 (DI-4). Data yang dikumpulkan adalah:
1. Keterangan
Masukkan keterangan nomor petak, nomor jalur, nomor regu serta tanggal seperti
pada tally sheet TS-1 (Lampiran 2).
2. Nama jenis
Tentukan nama jenis dan catat ke dalam tally sheet.
3. Simbol jenis
Catat simbol jenis sesuai dengan daftar pada Lampiran 1.
4. Diameter
Ukur dan catat diameter setinggi dada (dbh) atau diameter di atas banir (dab).
5. Tinggi bebas cabang dan tinggi total
Tinggi bebas cabang maupun tinggi total tidak diukur oleh regu inventarisasi melainkan
diduga nilainya berdasarkan kurva tinggi.
6. Kualitas log
Penentuan kualitas log berdasarkan pada seluruh batang bebas cabang yang dapat
dimanfaatkan untuk keperluan industri. Kualitas log dinilai berdasarkan kelurusan dan
kerusakan batang sebagaimana tercantum dalam Tabel 5 sebagai berikut:

Tabel 3. Kelas Kualitas Batang (Log) Berdasarkan Kelurusan dan Kerusakan
Tipe Kualitas
Kualitas Log
Kode
Keterangan
Kelurusan

Kerusakan
Lurus

Melengkung

Bengkok

Terpilin

Sehat

Cacat kecil

Cacat besar

Batang yang tidak melengkung, bengkok dan
terpilin

Sumbu batang pohon menyimpang dari garis
vertikal yang melalui pangkal pohon kemudian di
sebelah atas kembali ke garis tersebut

Sumbu batang pohon menyimpang dari garis
vertikal yang melalui pangkal pohon dan tidak
kembali ke garis tersebut

Serat kayu terpilin dari pangkal hingga ujung

Batang tidak bercacat, sehat

Batang memiliki kerusakan kecil atau besar pada
kulit tetapi dapat pulih kembali dan masih dapat
dimanfaatkan

Batang terbakar hingga gubal, growong, banyak
mata buaya dan tidak dapat dimanfaatkan

2009, No.110

Dari beberapa kategori kualitas batang, diperoleh 12 kombinasi kategori kualitas log
yang kemudian dapat dikelompokkan berdasarkan kegunaannya, yaitu log yang dapat
dimanfaatkan dan log yang tidak dapat dimanfaatkan. Kategori kegunaan log adalah
sebagai berikut:
(1) Dapat dimanfaatkan, meliputi:
a. 15 : lurus dan sehat
b. 16 : lurus dan cacat kecil
c. 25 : melengkung dan sehat
d. 26 : melengkung dan cacat kecil
e. 35 : bengkok dan sehat
f. 36 : bengkok dan cacat kecil
(2) Tidak dapat dimanfaatkan, meliputi:
a. 17 : lurus dan cacat besar
b. 27 : melengkung dan cacat besar
c. 37 : bengkok dan cacat besar
d. 45 : terpilin dan sehat
e. 46 : terpilin dan cacat kecil
f. 47 : terpilin dan cacat besar

2009, No.110
Format Data Isian 4 (DI-4) adalah sebagai berikut:

Daftar Isian 4

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA TINGKAT POHON BESAR

DI

No.
Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal

POHON BESAR (Ø > 35 cm)
Data yang dikumpulkan adalah semua pohon dalam petak contoh 20 m x 125 m dengan dbh mulai
dari 35 cm.

No.
Nama
Jenis
Kelompok
Jenis
Dbh
(cm)
TBC
(m)
TTotal
(m)
Kelurusan
Batang
Kerusakan
Batang
Slope ke
Utara
Slope ke
Timur
Slope ke
Selatan
Slope ke
Barat
1/PB

2/PB

3/PB

4/PB

5/PB

6/PB

7/PB

8/PB

9/PB

10/PB

11/PB

12/PB

13/PB

14/PB

15/PB

Kelurusan Batang:
1 = batang tidak melengkung, bengkok dan terpilin
2 = lebar lengkungan terdalam dari sumbu garis lurus antara ujung dan pangkal batang lebih dari setengah diameter ujung
3 = lebar antara sumbu garis batang lurus dengan sumbu garis batang yang bengkok lebih dari setengah diameter ujung
4 = serat kayu terpilin dari pangkal hingga ujung

Kerusakan Batang:
1 = batang sehat, tidak ada cabang mati, bengkak, retak atau kerusakan kulit lainnya dan tidak berlubang
2 = batang memiliki kerusakan kecil atau besar pada kulit tetapi dapat pulih kembali dan masih dapat dimanfaatkan
3 = batang terbakar hingga gubal, growong, banyak mata buaya dan tidak dapat dimanfaatkan
U
Formatted: Space After: 0 pt
Formatted: Norwegian
(Bokmål)
2009, No.110
3.9. Penentuan Posisi Pohon yang Diukur di Dalam Sub-plot

Pengambilan keputusan tentang penentuan posisi pohon apakah masuk atau tidak
di dalam suatu sub-plot terkadang agak menyulitkan/membingungkan. Untuk itu
ditetapkan beberapa kriteria. Bagian tengah pohon (inti pohon) sangat menentukan di
dalam penentuan “pohon masuk” atau “pohon keluar”, sehingga bila suatu pohon berada
di tepi garis plot, inti pohon harus benar-benar diperiksa. Kaidah yang digunakan adalah
sebagai berikut (lihat Gambar 8):
a. Bila inti pohon terletak di dalam plot, maka pohon termasuk di dalam plot.
b. Jika inti pohon terletak di luar batas plot maka pohon tidak termasuk dalam plot.
c. Jika inti pohon tepat berada pada batas plot maka pohon pertama dengan kondisi
demikian adalah termasuk di dalam plot, kemudian pohon kedua dengan kondisi
demikian tidak termasuk di dalam plot, begitu seterusnya.

Gambar 8. Penentuan Posisi “Pohon Masuk” (•) dan “Pohon Keluar”(X)

2009, No.110
IV. PELAKSANAAN KEGIATAN IHMB PADA HUTAN TANAMAN

4.1. Petunjuk Umum

1. Petunjuk dimaksudkan untuk hutan tanaman industri, baik untuk tujuan kayu pulp,
maupun untuk tujuan kayu pertukangan pada areal efektif yang dapat dikembangkan
menjadi hutan tanaman (termasuk areal hutan alam bekas tebangan/logged over area
(LOA) yang berdasarkan deliniasi dapat dikembangkan menjadi hutan tanaman
dengan sistem silvikultur Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB) maupun
non-THPB.
2. Pengambilan plot contoh (sampling unit) dalam IHMB berbasis petak dan kelas umur.
3. Pembagian kelas umur pada hutan tanaman untuk kayu pulp digunakan interval umur
1 – 2 tahun dan untuk hutan tanaman kayu pertukangan digunakan interval umur 5
tahun. Untuk hutan tanaman dengan rotasi di atas 50 tahun, digunakan interval 10
tahun.
4. Pendugaan volume dilakukan pada umur di atas 4 tahun untuk kayu pulp dan di atas 5
tahun untuk kayu pertukangan, dengan tujuan untuk monitoring perkembangan
produksi dan menduga besarnya produksi di saat tebangan.
5. Pada tegakan umur di bawah 4 tahun, tujuan IHMB diarahkan untuk penilaian
keberhasilan tanaman, penentuan kualitas tapak (site quality) dan pengendalian
hama/penyakit.

4.2. Tim Pelaksana dan Perlengkapan dalam Kegiatan IHMB

1. Tim Pelaksana Kegiatan IHMB

Untuk pelaksanaan kegiatan IHMB perlu dibentuk Tim Pelaksana IHMB yang terdiri
dari:
a. Ketua Tim Pelaksana IHMB,
b. Kepala Regu,
c. Anggota Regu.

Anggota regu sekurang-kurangnya terdiri dari:
- 2 personil untuk pembentukan/pembuatan plot contoh dan perintis jalur,
- 2 personil untuk pengukuran dan identifikasi jenis pohon,
- 1 tukang masak.

Ketua Tim Pelaksana IHMB dipersyaratkan telah memiliki sertifikat kompetensi
Ganis PHPL TC atau Ganis PHPL Canhut sebagai tanda kelulusan pelatihan IHMB yang
diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Bidang Kehutanan, atau Perguruan Tinggi Kehutanan
atau oleh Lembaga Pendidikan yang ditunjuk oleh Departemen Kehutanan sesuai
Peraturan Menteri Kehutanan No. P.58/Menhut-II/2008.

Ketua Tim Pelaksana bertanggung jawab penuh terhadap semua pelaksanaan
kegiatan IHMB, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun dalam pelaporan hasil
IHMB. Ketua regu bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan, pencatatan data dan
pelaporan hasil kerja regunya.
2009, No.110
Prestasi kerja sangat tergantung kepada kondisi lapangan Unit Manajemen. Satu
regu dapat membuat dan mengukur 6 (enam) plot contoh per hari dengan perkiraan
untuk membuat dan mengukur tiap plot contoh diperlukan waktu 1 jam. Jika dalam 1
bulan tersedia 25 HOK (dikurangi hari hujan), maka tiap regu dapat mengukur sekitar 150
plot contoh per bulan. Jumlah regu dan waktu yang diperlukan dapat disesuaikan dengan
jumlah plot contoh yang akan diukur.

3. Perlengkapan Regu

Perlengkapan yang diperlukan dalam tiap regu meliputi:
a. Peta kerja skala 1:50.000 atau skala 1:100.000 (mencakup informasi jaringan jalan,
sungai, kampung/desa, dan sebagainya);
b. Peta Rencana IHMB skala 1:50.000 atau skala 1:100.000 yang mencakup informasi
petak (compartment), sebaran plot contoh (sampling design) lengkap dengan ID
nomor jalur dan nomor plot contoh dan tutupan lahan;
c. Tally sheet dan buku panduan;
d. Pensil;
e. 1 buah kompas;
f. 1 unit GPS (Global Positioning System);
g. 1 buah clinometer untuk mengukur lereng;
h. 1 buah tambahan clinometer untuk pengukuran ketinggian pohon jika perlu;
i. 1 pita ukur 30 m atau tali sepanjang 25 m;
j. 2 pita ukur diameter (phi-band);
k. 1 alat pengukur pohon contoh (tinggi, volume dan berat), seperti hagameter;
l. 2 buah tali untuk pembentukan sub-plot tiang (10 m);
m. 1 buah tali untuk pembentukan sub-plot lingkaran (2,82 m);
n. Label untuk penandaan pohon dan patok;
o. Perlengkapan personal (botol air, tas, parang, P3K, dan sebagainya).

4.3. Stratifikasi Tutupan Hutan

1. Pembentukan stratifikasi kelas tutupan hutan dimaksudkan untuk meningkatkan
ketelitian hasil pendugaan dari hasil inventarisasi dan keterwakilan.
2. Stratifikasi dilakukan berdasarkan kelas umur dan tanaman pokok/utama.

2009, No.110
DI-5 (KU > V) dan miskin riap
DI-3 (tanaman muda berumur
4 tahun)
DI-1 (informasi plot contoh
secara umum)
DI-4 (KU I - II)
DI-5 (KU III - IV)
3 Daftar Isian (DI)
4 Daftar Isian (DI)
DI-1 (informasi plot contoh
secara umum)
DI-2 (tanaman muda berumur
< 4 tahun)
Hutan Tanaman Industri
Kayu Pulp
Kayu Pertukangan
Interval KU 2 tahun
Interval KU 5 tahun

Gambar 9. Stratifikasi Hutan Tanaman Industri

4.4. Plot Contoh

A. Bentuk dan Ukuran Plot Contoh

Plot contoh pada hutan tanaman dibedakan sebagai berikut:

1.
Hutan tanaman kayu pulp
a. Untuk tanaman berumur < 4 tahun (kelas umur I – II) digunakan plot contoh
berbentuk lingkaran berukuran luas 0,02 hektar (jari-jari lingkaran 7,98 m) atau
plot contoh berbentuk 6-contoh pohon (6-tree sampling).
b. Untuk tanaman berumur ≥ 4 tahun (kelas umur III – IV) digunakan plot contoh
berbentuk lingkaran luas 0,04 hektar (jari-jari lingkaran 11,28 m) atau plot contoh
berbentuk 8-contoh pohon (8-tree sampling).

2.
Hutan tanaman kayu pertukangan
a. Untuk tanaman kelas umur I – II digunakan plot contoh berbentuk lingkaran luas
0,02 ha (jari-jari lingkaran 7,98 m) atau plot contoh berbentuk 6-contoh pohon
(6-tree sampling).
b. Untuk tanaman kelas umur III – IV digunakan plot contoh berbentuk lingkaran
luas 0,04 ha (jari-jari lingkaran 11,28 m) atau plot contoh berbentuk 8-contoh
pohon (8-tree sampling).
c. Untuk tanaman kelas umur ≥ V serta hutan tanaman miskin riap digunakan plot
contoh berbentuk lingkaran luas 0,10 ha (jari-jari lingkaran 17,84 m) atau plot
contoh berbentuk 10-contoh pohon (10-tree sampling).
2009, No.110
Tabel 4. Bentuk Plot Contoh untuk Kelas Perusahaan Kayu Pulp
Bentuk Plot Lingkaran (Circular Plot)
Kelas Umur
Luas Plot (ha)
Radius Plot (m)
Bentuk Contoh Pohon
(Tree-sampling)
I – II
0,02
7,98
6 pohon
III – IV
0,04
11,28
8 pohon

Tabel 5. Bentuk Plot Contoh untuk Kelas Perusahaan Kayu Pertukangan
Bentuk Plot Lingkaran (Circular Plot)
Kelas Umur
Luas Plot (ha)
Radius Plot (m)
Bentuk Contoh Pohon
(Tree-sampling)
I – II
0,02
7,98
6 pohon
III – IV
0,04
11,28
8 pohon
V up
0,10
17,84
10 pohon

B. Penentuan Jumlah Plot Contoh

Pada hutan tanaman, ukuran plot yang akan dipergunakan disesuaikan dengan
kelas umurnya. Pada tegakan dengan kelas perusahaan kayu pertukangan, luas plot
contohnya dibuat berkisar antara 0,02 ha sampai dengan 0,10 ha atau contoh pohon
antara 6 pohon sampai 10 pohon. Sedangkan untuk kayu pulp dibuat dengan luas plot
contoh antara 0,02 ha sampai dengan 0,04 ha atau contoh pohon antara 6 pohon sampai
8 pohon. Tegakan yang lebih muda diperkirakan akan mempunyai kondisi tegakan yang
lebih homogen dibandingkan dengan tegakan yang telah masak tebang. Pada hutan
tanaman kayu pertukangan diperkirakan akan ada sekitar 4 sampai 8 kelas umur
sedangkan untuk hutan tanaman kayu pulp dibuat sebanyak 4 sampai 5 kelas umur.

Dengan mempertimbangkan tingkat homogenitas tegakan per kelas umur serta
pertimbangan variasi luas efektif per kelas umur maka diperkirakan koefisien variasi (CV)
hutan tanaman berkisar antara 25% sampai dengan 35%. Atas dasar nilai CV tersebut
serta kesalahan penarikan contoh sebesar 5% maka jumlah plot per kelas umurnya adalah
berkisar antara 100 plot sampai dengan 200 plot. Dengan kata lain total plot yang perlu
dibuat oleh pemegang IUPHHK adalah 100 sampai dengan 200 plot kali jumlah kelas
umurnya. Jumlah plot yang perlu dibuat (n) dalam suatu IUPHHK hutan tanaman dihitung
sebagai berikut:
Ku
KU
J
x
n
n =

dimana
plot
x
SE
t
CV
nKU
=






=






=
, untuk CV = 25%

plot
x
SE
t
CV
nKU

=






=






=
, untuk CV = 35%
JKU = banyaknya kelas umur dalam suatu IUPHHK hutan tanaman
2009, No.110
Dengan mempertimbangkan luas efektif dari suatu wilayah kerja IUPHHK hutan
tanaman, pada Tabel 6 berikut ini disajikan perkiraan jumlah plot yang diperlukan pada
setiap kelas umur hutan tanaman, yaitu berkisar antara 100 sampai dengan 200 plot.
Untuk IUPHHK dengan luasan < 10.000 ha perlu membuat plot minimal sekitar 100 plot
per kelas umur. Sedangkan untuk IUPHHK yang luas efektif areal kerjanya > 200.000 ha,
jumlah plot yang perlu dibuat sekitar 200 plot per kelas umur. Jumlah plot yang perlu
dibuat IUPHHK yang mempunyai luas efektif antara 10.000 ha sampai dengan 200.000 ha
dihitung dengan melakukan interpolasi (lihat Tabel 6).

Tabel 6. Perkiraan Jumlah Plot dan Jarak Antar Plot pada Setiap Kisaran Luas IUPHHK
Hutan Tanaman
Jumlah Total Plot per IUPHHK
Perkiraan Jarak Antar Plot (m)
Luas Efektif
IUPHHK (ha)
4 KU
5 KU
6 KU
4 KU
5 KU
6 KU
<10.000
10.000 - <20.000
20.000 - <30.000
30.000 - <40.000
40.000 - <50.000
50.000 - <60.000
1.045
60.000 - <70.000
1.111
70.000 - <80.000
1.171
1.047
80.000 - <90.000
1.223
1.094
90.000 - <100.000
1.269
1.135
1.037
100.000 - <110.000
1.311
1.173
1.071
110.000 - <120.000
1.349
1.207
1.102
120.000 - <130.000
1.384
1.238
1.130
130.000 - <140.000
1.011
1.416
1.266
1.156
140.000 - <150.000
1.042
1.445
1.292
1.180
150.000 - <160.000
1.074
1.472
1.316
1.202
160.000 - <170.000
1.105
1.496
1.338
1.222
170.000 - <180.000
1.137
1.520
1.359
1.241
180.000 - <190.000
1.168
1.541
1.378
1.258
190.000
1.000
1.200
1.561
1.396
1.275
Keterangan: perkiraan jarak antar plot dihitung berdasarkan nilai tengah dari kisaran luas daerah efektif IUPHHK.
Contoh: untuk nilai tengah luas efektif antara 150.000 ha - <160.000 ha adalah 155.000 ha. Oleh karena jumlah plot untuk 4 KU, 5 KU
dan 6 KU berturut-turut adalah 716 plot, 895 plot dan 1.074 plot, maka jarak antar plotnya untuk 4 KU, 5 KU, dan 6 KU berturut-turut
adalah 1.472 m, 1.316 m dan 1.202 m.

Pada hutan tanaman, jarak antar plot contohnya dibuat sama baik jarak antar jalur
maupun jarak antar plot contoh dalam jalur. Jarak antar plot contoh pada hutan tanaman
ini selanjutnya diberi notasi k. Jarak antar plot dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut:
n
m
HT
IUPHHK
efektif
Luas
Lw
)
(

=

2009, No.110
)
(
n
m
HT
IUPHHK
efektif
Luas
Lw
k

=
=

Contoh:

1. Suatu IUPHHK hutan tanaman dengan 4 KU mempunyai luas areal efektif 4.000 ha.
Berdasarkan Tabel 6 di atas diperoleh minimal jumlah total plotnya sebanyak 400
plot, sedangkan besarnya jarak antar plotnya (k) dapat dihitung sebagai berikut:

k = √(4.000 ha x 10.000 m2/ha) : 400 plot ≈ 316 m

Pada luasan yang sama, jika IUPHHK tersebut mempunyai 5 KU atau 6 KU, maka
perkiraan jumlah plotnya adalah 500 untuk 5 KU atau 600 plot untuk 6 KU, dengan
jarak antar plotnya adalah 283 m untuk 5 KU atau 258 m untuk 6 KU.

2. Untuk IUPHHK hutan tanaman yang mempunyai 4 KU dengan luas areal efektifnya
83.500 ha, maka berdasarkan Tabel 6 di atas diperoleh minimal jumlah total plotnya
adalah 568 plot, sedangkan jarak antar plotnya dapat dihitung sebagai berikut:

k = √(83.500 ha x 10.000 m2/ha) : 568 plot ≈ 1.212 m

Jika IUPHHK tersebut mempunyai 5 KU atau 6 KU, maka perkiraan jumlah plotnya
adalah 711 plot untuk 5 KU atau 853 plot untuk 6 KU, dengan jarak antar plotnya
diperkirakan sekitar 1.084 m untuk 5 KU atau 990 m untuk 6 KU.

3. Suatu IUPHHK hutan tanaman dengan luas efektif seluas 210.000 ha dan mempunyai
4 KU. Berdasarkan Tabel 6, minimal jumlah total plotnya adalah 800 plot, sedangkan
jarak antar plotnya dapat dihitung sebagai berikut:

k = √(210.000 ha x 10.000 m2/ha) : 800 plot ≈ 1.620 m

Jika IUPHHK tersebut mempunyai 5 KU atau 6 KU, maka perkiraan jumlah plotnya
adalah 1.000 plot untuk 5 KU atau 1.200 plot untuk 6 KU dengan jarak antar plotnya
sekitar 1.449 m untuk 5 KU atau 1.323 m untuk 6 KU.

Catatan:
Jumlah plot contoh pada setiap kelas umur (KU) dihitung secara proporsional terhadap
luasan kelas umur masing-masing.

Contoh:
Areal IUPHHK pulp yang luas efektifnya 10.000 ha mempunyai 4 KU, yaitu KU I luasnya
3.000 ha, KU II luasnya 2.500 ha, KU III luasnya 2.500 ha dan KU IV luasnya 2.000 ha.
Pada IUPHHK ini, jumlah plot contoh yang diperlukan adalah sebanyak 400 plot.
Perkiraan jumlah plot contoh pada setiap KU adalah sebagai berikut (catatan: jarak antar
plot contoh untuk semua kelas umur dibuat sama):
2009, No.110

KU I : (3.000 Ha/10.000 Ha) x 400 plot contoh = 120 plot contoh
KU II : (2.500 Ha/10.000 Ha) x 400 plot contoh = 100 plot contoh
KU III : (2.500 Ha/10.000 Ha) x 400 plot contoh = 100 plot contoh
KU IV : (2.000 Ha/10.000 Ha) x 400 plot contoh = 80 plot contoh
Intensitas sampling untuk setiap kelas umur tertentu dengan luas plot contoh (Lp) yang
berbeda-beda dapat dihitung sebagai berikut:

%
k
Lp
Is =

B. Penentuan Koordinat Plot Contoh

Peletakan (desain) lokasi plot contoh dilakukan secara sistematik dengan awal
teracak. Pada tahap ini hanya dicari bilangan acak yang berkisar antara 17,84 atau
dibulatkan menjadi 18 (delapan belas) sampai dengan k (catatan: 17,84 adalah jari-jari
plot lingkaran 0,10 ha). Jika bilangan acak tersebut diberi notasi BAk, maka koordinat plot
contoh pertama (P) dapat dihitung sebagai berikut:

EP = EA + BAk dan NP = NA + BAk
dimana EP
: koordinat Easting dari titik plot pertama
NP
: koordinat Northing dari titik pusat plot contoh pertama
EA, NA : koordinat Easting dan Northing dari batas titik terluar di sebelah
Barat dan sebelah Selatan areal

Lokasi plot-plot contoh selanjutnya ditentukan secara sistematik dengan jarak antar
plot sebesar k.

2009, No.110

JL
k
EA = 550.000
NA = 9.500.000
BAk = 400
BAk = 400
Plot contoh pertama
k
Misalnya: luas IUPHHK 10.000 ha, k = 500 m, bilangan acak k (BAk) = 400 dan
jarak antar plot (k) = 500 m
EP = 550.000 + 400 = 550.400
NP = 9.500.000 + 400 = 9.500.400
EP’ = 550.400 + 500
NP’ = 9.500.400 + 500
KU I
2009, No.110
4.5. Penempatan Plot Contoh di Lapangan

1. Lokasi setiap plot contoh harus digambarkan pada peta topografi atau peta jaringan
jalan yang telah dibuat dengan skala 1:25.000 atau lebih besar.

Catatan:
Penentuan titik ikat pada peta berupa bentuk-bentuk fisik permanen seperti batas
petak tanaman, simpang sungai, simpang jalan, jembatan atau landmark lainnya. Titik
ikat ini dimaksudkan untuk mendapatkan posisi awal plot contoh dengan mengukur
jarak dan sudut arah atau azimuth dari titik ikat. Posisi titik ikat harus diukur dengan
GPS atau menggunakan koordinat peta yang ada.

2. Pengukuran Jalan Masuk
a. Ukur azimuth atau sudut arah dan jarak dari titik ikat ke titik awal jalur di lapangan.
b. Gambarkan jalan masuk menuju plot contoh yang memperlihatkan keadaan setiap
50 m berdasarkan arah dan jarak rintisan dari titik ikat.
c. Saat membuat rintisan masuk, sedapat mungkin mengurangi kerusakan terhadap
tegakan hutan. Patok dibuat hanya dari pancang jenis kayu non komersil.
d. Pada titik pusat plot contoh dibuat gundukan tanah setinggi 0,5 m. Kemudian
ditanamkan pada gundukan itu sebuah patok sepanjang kurang lebih 2 m yang
diperkirakan tidak mudah rusak sampai 10 tahun, ditanam antara 0,5 – 0,7 m lalu
diberi tanda nomor jalur dan nomor plot contoh.
e. Pada setiap jalur diberi tanda berupa patok permanen minimal dua buah yang
diletakan pada awal jalur dan pada satu perpotongan jalur dengan jalan atau
perpotongan jalur dengan sungai. Bahan patok dibuat dari bahan yang tidak
mudah rusak sampai 10 tahun, misalnya paralon, besi, dan sebagainya. Tanda jalur
diberi nomor jalur.
f. Pada setiap titik pusat plot contoh 2, plot contoh 3 dan seterusnya, dibuat
gundukan tanah setinggi 0,5 m dan ditanamkan patok yang diperkirakan tidak
mudah rusak sampai 10 tahun, diberi tanda nomor jalur dan nomor plot contoh.
Penomoran plot contoh harus konsisten, misalnya J04,03 berarti jalur 4 plot contoh
nomor 3.

4.6. Pembuatan Plot Contoh

Bagian ini menjelaskan cara pembuatan plot contoh di hutan tanaman pada semua
kelas umur. Plot contoh di hutan tanaman dapat berbentuk lingkaran (circular plot) atau
berbentuk contoh pohon (tree-sampling) yang diletakkan secara sistematik pada jalur
dengan jarak antar plot contoh tergantung pada luasan IUPHHK dan kelas umur tanaman,
sedang jarak antar jalur adalah 1.000 m (1 km) dengan arah Utara-Selatan. Contoh
bentuk plot contoh lingkaran dan plot contoh tree-sampling dapat dilihat pada Gambar
11 dan Gambar 12.

1. Plot Contoh Berupa Lingkaran (Circular Plot)

Plot contoh berupa lingkaran (circular plot) adalah plot contoh (sample unit) yang
didasarkan pada suatu lingkaran maya (imajener) yang dibuat di lapangan dari titik pusat
lingkaran yang telah ditetapkan dengan metode sampling tertentu yang telah dipilih. Dari
2009, No.110
titik pusat tersebut ditarik jari-jari lingkaran dengan panjang jari-jari sesuai dengan ukuran
luas lingkaran yang dikehendaki, yaitu panjang jari-jari 7,94 m untuk mendapatkan luas
lingkaran 0,02 ha; panjang jari-jari 11,28 m untuk mendapatkan luas lingkaran 0,04 ha
dan panjang jari-jari 17,84 m untuk mendapatkan luas lingkaran 0,1 ha.

7,94 m 11,28 m

a. Plot contoh lingkaran luas 0,02 ha

b. Plot contoh lingkaran luas 0,04 ha

17,84 m Titik pusat petak contoh

Pohon dalam petak contoh

c. Plot contoh lingkaran luas 0,1 ha

Gambar 11. Plot Contoh Bentuk Lingkaran (Circular Plot)

2. Plot Contoh Berupa Contoh Pohon (Tree Sampling)

2009, No.110
Tree sampling adalah suatu plot contoh (sample unit) yang bukan didasarkan pada
luasan petak tertentu melainkan didasarkan pada sejumlah pohon tertentu yang tercakup
dalam plot contoh tersebut (n-tree sampling), misalnya 6-tree sampling, 8-tree sampling,
10-tree sampling, dan seterusnya. Untuk membuat plot contoh dengan cara ini adalah
dengan menetapkan terlebih dahulu jumlah pohon yang akan diukur dalam suatu plot
contoh. Dari titik pusat plot contoh yang telah ditetapkan, ditentukan n-pohon terdekat
dari titik pusat plot contoh tersebut.

Pohon ke-n (n = 6, 8, 10)

a. Plot contoh 6-tree sampling

b. Plot contoh 8-tree sampling

D6

D8
d6
d4
d2
d3
d6
d5
d7
d1
d8
Formatted: Font: 14 pt, Bold
Formatted: Font: 14 pt
Formatted: Font: 14 pt, Bold
2009, No.110

c. Plot contoh 10-tree sampling

Gambar 12. Plot contoh Bentuk Pohon Contoh (Tree Sampling)

3. Perhitungan Luas Plot Contoh Bentuk Contoh Pohon (Tree Sampling)

Plot contoh berbentuk contoh pohon (tree sampling) pada dasarnya merupakan
plot contoh berbentuk lingkaran, dimana untuk plot contoh dengan n-pohon yang sama,
akan memiliki luas plot contoh yang berbeda. Luas plot contoh didasarkan pada jari-jari
lingkaran yang ditentukan oleh jarak pohon ke-n (pohon yang terjauh dari n-pohon) dari
titik pusat plot contoh ditambah setengah diameter pohon ke-n .

Jari-jari lingkaran plot contoh dengan n-contoh pohon (n-tree sampling) ditentukan
dengan rumus:

Rn = Dn + 0.5dn

dimana Rn : jari-jari lingkaran pada plot contoh dengan n-contoh pohon (m)
Dn : jarak pohon ke-n dari titik pusat plot contoh (m)
dn : diameter pohon ke-n (m)

d9
d4
d3
d7
d5
d2
d1
d6
d8
D10
d10
Formatted: Font: 10 pt
Formatted: Font: 10 pt
Formatted: Font: 10 pt
Formatted: Font: 10 pt
Formatted: Font: 10 pt
Formatted: Font: 10 pt
Formatted: Font: 10 pt
Formatted: Font: 14 pt
Formatted: Font: 14 pt
Formatted: Font: 10 pt
Formatted: Font: Bold
Formatted: Font: Bold,
Subscript
Formatted: Font: 10 pt
2009, No.110
Luas plot contoh dengan n-contoh pohon ditentukan dengan rumus:

Ln = π (Rn)2

dimana Ln : luas plot contoh dengan n-contoh pohon (m2)
π : bilangan phi (= 22/7)

4. Pemindahan Plot Contoh

Seandainya posisi plot contoh berada pada posisi yang tidak memungkinkan untuk
dibuat (terpotong sungai, jalan, TPn, jurang, dan sebagainya dengan lebar lebih atau
sama dengan 3 meter), maka pemindahan plot contoh dilakukan dengan merubah posisi
plot contoh dengan memajukan atau memundurkan plot contoh 50 meter dari titik pusat
plot contoh semula, dengan tetap berada pada jalur ukur (Gambar 13).

Pada setiap titik awal jalur dan titik pusat plot contoh, buat gundukan tanah
setinggi 0,5 m dan tegakkan pancang kayu yang dicat dengan nomor petak tanaman,
nomor jalur dan nomor plot contoh. Lakukan pula penggundukan tanah dan pemancangan
patok pada titik-titik perpotongan jalur inventarisasi (jalur ukur) dengan jalan, walaupun
titik tersebut tidak terletak dalam plot contoh.

Gambar 13. Pemindahan Plot Contoh
Titik pusat petak contoh pindahan
Sungai, jalan, dll
Titik pusat petak contoh sebelum dipindah
50 m
Titik pusat petak contoh pindahan
50 m
Sumbu jalur ukur
Formatted: Font: (Default)
Tahoma
Formatted: Font: (Default)
Tahoma
2009, No.110
4.7. Pemasangan Label Pohon

1. Pemasangan label pohon pada hutan tanaman hanya pada jenis pohon utama yang
berada dalam plot contoh yang berdiameter 10 cm ke atas atau mulai dari tingkat
tiang.
2. Label pohon dipasang pada ketinggian 15 cm di atas lingkar pengukuran diameter dan
menghadap jalur ukur, agar lebih mudah dilihat dari jalur rintisan. Label pohon yang
dipasang terbuat dari material yang tidak rusak sampai 2 tahun misalnya plat
aluminium atau plastik berukuran 7 cm x 4 cm.
3. Label pohon ini akan digunakan sebagai bahan evaluasi.
4. Pada hutan tanaman untuk kayu pulp, setiap plot contoh yang dibuat akan mempunyai
3 daftar isian / tally sheet (DI), yaitu DI-1 yang berisi informasi plot contoh secara
umum, DI-2 yang berisi data pohon tanaman muda, yaitu tanaman berumur < 4 tahun
(kelas umur I dan kelas umur II), dan DI-3 yang berisi data tanaman berumur ≥ 4
tahun (kelas umur III dan kelas umur IV).
5. Pada hutan tanaman untuk kayu pertukangan, setiap plot contoh yang dibuat akan
mempunyai 4 DI, yaitu DI-1 yang berisi informasi plot contoh secara umum, DI-4 berisi
data pohon tanaman kelas umur I – II, DI-5 berisi data pohon tanaman kelas umur III
– IV, DI-6 yang berisi data pohon tanaman kelas umur > V dan miskin riap.

4.8. Pencatatan Informasi Umum

Informasi dan data yang akan dikumpulkan untuk DI-1 adalah sebagai berikut:
1. Nomor petak
Catat nomor petak sesuai dengan nomor pada peta topografi atau peta jaringan jalan
yang disediakan. Berikan informasi petak ini akan ditebang (D) atau tidak ditebang
(TD). Petak akan ditebang apabila umur tanaman telah mencapai umur daur. Contoh
nomor Petak : Ptk01/D (petak 01, ditebang).
2. Nomor plot contoh
Nomor plot contoh terdiri dari 2 bagian, nomor jalur dan nomor plot contoh di jalur.
Misal, jalur 3, plot contoh nomor 20, maka ditulis J03,20.
3. Nomor regu inventarisasi
Masukan nomor regu yang telah ditentukan sebelumnya dengan 1 digit.
4. Tanggal inventarisasi
Catat tanggal pengukuran plot contoh tersebut dengan pola “HHBBTT” (H untuk hari, B
untuk bulan dan T untuk tahun).
5. Ketinggian
Tentukan ketinggian dari permukaan laut (mdpl) dengan mengacu pada peta topografi
yang disediakan.
6. Kemiringan lereng (slope)
Ukur kemiringan lereng dalam persen (%) pada jalur sejauh 20 m mulai dari titik awal
plot contoh ke arah Utara, Timur, Selatan dan Barat.
7. Fisiografi (keadaan muka bumi)
Tentukan keadaan fisiografi daerah di sekitar plot contoh berdasarkan kriteria berikut:
2009, No.110

8. Kondisi tapak
Kondisi tapak ditentukan di dalam sub-plot 20 m x 20 m dan dinyatakan dalam 2
kategori yaitu kondisi tapak khusus dan kelas tekstur tanah. Kondisi tapak khusus
dinyatakan dalam kelas berikut ini:
(1) Tidak ada : tidak ada ciri khas tentang kondisi tapak di daerah tersebut.
(2) Berbatu
: lebih dari 1/3 areal merupakan areal berbatu.
(3) Rawa
: lebih dari separuh areal merupakan areal yang digenangi air (terutama
pada musim hujan).
(4) Labil
: lebih dari 1/3 areal dipengaruhi oleh erosi seperti tanah longsor atau
terkikis air.

Sedangkan untuk penentuan kelas tekstur tanah (metodenya dijelaskan dalam diagram
alur sama seperti pada hutan alam Gambar 6) dinyatakan dalam kelas-kelas berikut
ini:
(a) Pasir;
(b) Pasir berlempung;
(c) Lempung berpasir;
(d) Lempung liat berpasir;
(e) Liat berpasir;
(f) Lempung;
(g) Lempung berliat;
(h) Liat;
(i) Lempung berdebu;
(j) Lempung berliat;
(k) Liat berdebu;
(1) Datar

: - kelerengan tidak melebihi 10%
- beda ketinggian antara titik tertinggi dengan
terendah tidak lebih dari 2 meter
(2) Bergelombang
: - kelerengan berkisar antara 11 – 25 %
- beda ketinggian antara titik tertinggi dengan
terendah sekitar 2 – 5 meter
(3) Puncak punggungan
: - kelerengan melebihi 25%
- dua kelerengan yang bertentangan mencapai titik
tertinggi
(4) Lereng atas
: - kelerengan melebihi 25%
- terletak pada bagian ketiga teratas dari lereng
(5) Lereng tengah
: - kelerengan melebihi 25 %
- terletak antara lereng atas dan lereng bawah
(6) Lereng bawah
: - kelerengan melebihi 25 %
- terletak pada bagian ketiga terendah dari lereng
(7) Lembah
: - terletak
pada
daerah
lembah
yang
lebar
minimalnya 20 m
(8) Lembah curam
: - kelerengan melebihi 25 %
- dua kelerengan yang bertentangan mencapai titik
terendah
2009, No.110
(l) Debu
Catatan:
Penentuan tekstur tanah dengan metode lain yang telah dilakukan oleh perusahaan
pemegang IUPHHK di hutan tanaman diperkenankan.
9. Bekas tebangan
(1) Baru : umur tebangan ≤ 5 tahun
(2) Lama : umur tebangan > 5 tahun
10. Tahun pelaksanaan tebang
Adalah tahun tebangan terakhir oleh IUPHHK-HT. Tahun operasi penebangan RKT
ditulis dalam 4 digit. Contoh: 86/87.
11. Bekas kebakaran/kekeringan

2009, No.110
Format Daftar Isian 1 (DI-1) adalah sebagai berikut:

Daftar Isian 1

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
INFORMASI UMUM HUTAN TANAMAN

Lokasi

:
Kordinat GPS titik awal
:
Nomor Petak

:
Nomor Plot Contoh

:
Nomor Regu

:
Tanggal Inventarisasi

:
Pimpinan Regu

:
Jenis Tanaman Utama
:
Jarak Tanam

: ... m x ... m
Bulan dan Tahun Tanam
:
Penjarangan

: Ya / Tidak
Ketinggian tempat

: ... mdpl
Kelerengan

: Utara ...%, Timur ... %, Selatan ....% dan Barat ... %
Fisiografi

: datar = 1, bergelombang = 2, puncak = 3, lereng atas = 4,

lereng tengah = 5, lereng bawah = 6, lembah = 7,

lembah curam = 8
Tapak

: tidak ada = 1, berbatu = 2, rawa = 3, labil = 4
Tekstur tanah

: A , B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L
Bekas tebangan

: baru ≤ 5 tahun, lama > 5 tahun
Tahun Penebangan

: ...
Bekas terbakar/kekeringan
: ada/tidak ada

PETA SKETSA POSISI
Peta sketsa menggambarkan posisi plot contoh dan jalan masuk

4.9. Pendataan Pohon Hutan Tanaman

A. Hutan Tanaman untuk Kayu Pulp

Setiap plot contoh yang dibuat untuk hutan tanaman kayu pulp akan mempunyai 3
daftar isian (DI), yaitu DI-1 yang berisi informasi plot contoh secara umum, DI-2 yang
berisi data pohon tanaman muda berumur < 4 tahun berupa diameter pada ketinggian
1,30 m (cm), diameter pada ketinggian 0,5 m (cm), tinggi total (m), dan keterangan
gangguan tanaman, serta DI-3 yang berisi data pohon tanaman umur ≥ 4 tahun berupa
diameter pada ketinggian 1,30 m (cm), diameter pada ketinggian 0,5 m (cm), tinggi total
(m), tinggi bebas cabang (m), volume pohon (m3) dan keterangan gangguan tanaman.

1. Pendataan Tanaman Muda Berumur < 4 tahun

Semua tanaman utama di dalam plot contoh berbentuk lingkaran luas 0,02 ha atau plot
contoh berbentuk 6-contoh pohon (6-tree sampling) harus diukur diameternya.
Pengukuran diameter pada sebuah tanaman sehat dilakukan dua kali yaitu pada
2009, No.110
diameter pada ketinggian 1,30 meter dari tanah dan pada ketinggian 0,5 meter dari
tanah. Tinggi total diduga berdasarkan kurva tinggi sesuai dengan jenis yang
bersangkutan. Teknik pembuatan kurva tinggi dijelaskan dalam Bab V. Hasil
pengukuran dan pendugaan dicatat dalam Daftar Isian 2a untuk yang diukur dengan
menggunakan plot contoh bentuk lingkaran luas 0,02 ha atau dalam Daftar Isian 2b
untuk yang diukur dengan menggunakan plot contoh berbentuk 6-contoh pohon.

Cara pengisian Daftar Isian 2a adalah sebagai berikut:
(1) Masukkan keterangan nomor petak, nomor jalur, nomor regu serta tanggal.
(2) Catat nomor pohon sesuai dengan nomor label pohon.
(3) Tentukan nama jenis dan catat ke dalam daftar isian.
(4) Ukur dan catat diameter batang setinggi dada yaitu 1,3 meter dan diameter pada
ketinggian 0,5 meter dari muka tanah.
(5) Tinggi total diperoleh dari kurva tinggi untuk jenis yang bersangkutan.
(6) Gangguan diisi dengan ada (A) atau tidak ada (TA). Bentuk gangguan adalah
terbelit liana, patah pucuk, ada bentuk serangan hama atau penyakit atau semua
bentuk gangguan yang nampak pada batang dan tajuk.

Cara pengisian Daftar Isian 2b adalah sebagai berikut:
(1) Masukkan keterangan nomor petak, nomor jalur, nomor regu serta tanggal.
(2) Tentukan pohon ke-1, ke-2, ke-3, sampai pohon ke-6 yang terdekat dari titik pusat
plot contoh (jadi hanya 6 pohon terdekat dari titik pusat plot contoh saja yang
diukur).
(3) Catat nomor pohon-pohon tersebut sesuai dengan nomor label pohon.
(4) Tentukan nama jenis dan catat ke dalam daftar isian.
(5) Ukur dan catat diameter batang setinggi dada yaitu 1,3 meter dan diameter pada
ketinggian 0,5 meter dari muka tanah.
(6) Ukur jarak mendatar pohon ke-6 dari titik pusat plot contoh (dalam meter).
(7) Tinggi total diperoleh dari kurva tinggi untuk jenis yang bersangkutan.
(8) Gangguan disi dengan ada (A) atau tidak ada (TA). Bentuk gangguan adalah
terbelit liana, patah pucuk, ada bentuk serangan hama atau penyakit atau semua
bentuk gangguan yang nampak pada batang dan tajuk.

2009, No.110
Format Daftar Isian 2a dan 2b adalah sebagai berikut:

Daftar Isian 2a.

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA TINGKAT TANAMAN MUDA

DI

No. Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal
2a

JENIS TANAMAN :
UMUR TANAMAN : ... tahun
Data yang dikumpulkan adalah data semua pohon dalam plot contoh lingkaran luas 0,02
ha (jari-jari lingkaran 7, 94 m)

No.
Nomor
Pohon/Label
Dia.
1,3 m
(cm)
Dia.
0,5 m
(cm)
T. Total
(m)
Gangguan
(A / TA)
1.

2.

3.

4.

...

...

2009, No.110

Daftar Isian 2b.

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA TINGKAT TANAMAN MUDA

DI

No. Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal
2b

JENIS TANAMAN :
UMUR TANAMAN : ... tahun
Data yang dikumpulkan adalah data semua pohon dalam plot contoh berbentuk 6-contoh
pohon (6-tree sampling)

Jarak pohon ke-6 : D6

: …………… m
Jari-jari plot contoh : R6 = D6 + 0,5d6
: …………… m
Luas plot contoh
: L6 = π x (R6)2
: …………… m2 = ………….ha

No.
Phn
Ke-
Nomor
Pohon/Label
Dia.
1,3 m
(cm)
Dia.
0,5 m
(cm)
T. Total
(m)
Gangguan
(A / TA)
1.

2.

3.

4.

5.

6.

2009, No.110
2. Pendataan Tanaman Berumur ≥ 4 tahun

Semua tanaman utama di dalam plot contoh berbentuk lingkaran luas 0,04 ha atau
plot contoh berbentuk 8-contoh pohon (8-tree sampling) harus diukur diameternya.
Pendataan tanaman berumur ≥ 4 tahun hampir sama dengan tanaman muda kecuali
ada pendugaan tinggi bebas cabang. Besarnya tinggi bebas cabang dapat
mempengaruhi kualitas kayu pulp yang dihasilkan. Tinggi bebas cabang diduga
berdasarkan kurva tinggi sesuai dengan jenis yang bersangkutan. Hasil pengukuran
dan pendugaan dicatat dalam Daftar Isian 3a untuk yang diukur dengan menggunakan
plot contoh bentuk lingkaran luas 0,04 ha atau dalam Daftar Isian 3b untuk yang
diukur dengan menggunakan plot contoh berbentuk 8-contoh pohon.

Cara pengisian Daftar Isian 3a adalah sebagai berikut:
(1) Masukkan keterangan nomor petak, nomor jalur, nomor regu serta tanggal.
(2) Catat nomor pohon sesuai dengan nomor label pohon.
(3) Tentukan nama jenis dan catat ke dalam daftar isian.
(4) Ukur dan catat diameter batang setinggi dada yaitu 1,3 meter dan diameter pada
ketinggian 0,5 meter dari muka tanah.
(5) Tinggi total dan tinggi bebas cabang (TBC) diperoleh dari kurva tinggi untuk jenis
yang bersangkutan.
(6) Volume pohon diduga dengan bantuan tabel volume pohon untuk jenis pohon yang
sama.
(7) Gangguan diisi dengan ada (A) atau tidak ada (TA). Bentuk gangguan adalah
terbelit liana, patah pucuk, ada bentuk serangan hama atau penyakit atau semua
bentuk gangguan yang nampak pada batang dan tajuk.

Cara pengisian Daftar Isian 3b adalah sebagai berikut:
(1) Masukkan keterangan nomor petak, nomor jalur, nomor regu serta tanggal.
(2) Tentukan pohon ke-1, ke-2, dan seterusnya sampai pohon ke-8 yang terdekat dari
titik pusat petak contoh (jadi hanya 8 pohon terdekat dari titik pusat petak contoh
saja yang diukur).
(3) Catat nomor pohon-pohon tersebut sesuai dengan nomor label pohon.
(4) Tentukan nama jenis dan catat ke dalam daftar isian.
(5) Ukur dan catat diameter batang setinggi dada yaitu 1,3 meter dan diameter pada
ketinggian 0,5 meter dari muka tanah.
(6) Ukur jarak mendatar pohon ke-8 dari titik pusat petak contoh ( dalam meter).
(7) Tinggi total dan tinggi bebas cabang (TBC) diperoleh dari kurva tinggi untuk jenis
yang bersangkutan.
(8) Volume pohon diduga dengan bantuan tabel volume pohon untuk jenis pohon yang
sama.
(9) Gangguan diisi dengan ada (A) atau tidak ada (TA). Bentuk gangguan adalah
terbelit liana, patah pucuk, ada bentuk serangan hama atau penyakit atau semua
bentuk gangguan yang nampak pada batang dan tajuk.

2009, No.110
Format Daftar Isian 3 adalah sebagai berikut:

Daftar Isian 3a.

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA TINGKAT TANAMAN BERUMUR ≥ 4 TAHUN

DI

No. Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal
3a

JENIS TANAMAN :
UMUR TANAMAN : ... tahun
Data yang dikumpulkan adalah data semua pohon dalam plot contoh lingkaran 0,04 ha
(jari-jari lingkaran 11, 28 m).
No.
Nomor
Pohon/Label
Dia.
1,3 m
(cm)
Dia.
0,5 m
(cm)
TTot
(m)
TBC
(m)
Volume
Total
(m3)
Gangguan
(A / TA)

2009, No.110

Daftar Isian 3b.

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA TINGKAT TANAMAN BERUMUR ≥ 4 TAHUN

DI

No. Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal
3b

JENIS TANAMAN :
UMUR TANAMAN : ... tahun
Data yang dikumpulkan adalah data semua pohon dalam plot contoh berbentuk 8-contoh
pohon (8-tree sampling).

Jarak pohon ke-8 : D8

: …………… m
Jari-jari plot contoh : R8 = D8 + 0,5d8 : …………… m
Luas plot contoh
: L8 = π x (R8)2
: …………… m2 = ………….ha

No. Phn
Ke-
Nomor
Pohon/Label
Dia.
1,3 m
(cm)
Dia.
0,5 m
(cm)
TTot
(m)
TBC
(m)
Volume
Pohon
(m3)
Gangguan
(A / TA)
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

2009, No.110
B. Hutan Tanaman untuk Kayu Pertukangan

Setiap plot contoh yang dibuat untuk hutan tanaman kayu pertukangan akan
mempunyai 4 daftar isian (DI), yaitu DI-1 yang berisi informasi plot contoh secara umum,
DI-4 yang berisi data pohon tanaman kelas umur I – II, DI-5 yang berisi data pohon
tanaman kelas umur III – IV dan DI-6 yang berisi data pohon tanaman kelas umur ≥ V
dan tanaman miskin riap. Data pohon yang dicatat berupa diameter pada ketinggian 1,30
m (cm), tinggi total (m), tinggi bebas cabang (m), volume pohon bebas cabang (m3),
volume total (m3), dan keterangan gangguan tanaman.

1. Pendataan Tanaman Kelas Umur I - II

Semua tanaman di dalam plot contoh berupa lingkaran luas 0,02 ha atau plot contoh
berupa 6-contoh pohon (6-tree sampling) harus diukur diameternya. Pengukuran
diameter pada sebuah tanaman sehat dilakukan pada ketinggian 1,30 meter dari tanah.
Tinggi total diduga berdasarkan kurva tinggi sesuai dengan jenis yang bersangkutan.
Hasil pengukuran dan pendugaan dicatat dalam Daftar Isian 4a untuk yang diukur
dengan menggunakan plot contoh lingkaran luas 0,02 ha atau dalam Daftar Isian 4b
untuk yang diukur dengan menggunakan plot contoh 6-contoh pohon.

Cara pengisian Daftar Isian 4a adalah sebagai berikut:
(1) Masukkan keterangan nomor petak, nomor jalur, nomor regu serta tanggal.
(2) Catat nomor pohon sesuai dengan nomor label pohon.
(3) Tentukan nama jenis dan catat ke dalam daftar isian.
(4) Ukur dan catat diameter batang setinggi dada yaitu 1,3 m.
(5) Tinggi total dan tinggi bebas cabang diperoleh dari kurva tinggi untuk jenis yang
bersangkutan.
(6) Volume pohon diperoleh dari tabel volume pohon untuk jenis pohon yang sama.
(7) Gangguan disi dengan ada (A) atau tidak ada (TA). Bentuk gangguan adalah
terbelit liana, patah pucuk, ada bentuk serangan hama atau penyakit atau semua
bentuk gangguan yang nampak pada batang dan tajuk.

Cara pengisian Daftar Isian 4b adalah sebagai berikut:
(1) Masukkan keterangan nomor petak, nomor jalur, nomor regu serta tanggal.
(2) Tentukan pohon ke-1, ke-2, ke-3 sampai pohon ke-6 yang terdekat dari titik pusat
plot contoh (jadi hanya 6 pohon terdekat dari titik pusat plot contoh saja yang
diukur).
(3) Catat nomor pohon-pohon tersebut sesuai dengan nomor label pohon.
(4) Tentukan nama jenis dan catat ke dalam daftar isian.
(5) Ukur dan catat diameter batang setinggi dada yaitu 1,3 meter.
(6) Ukur jarak mendatar pohon ke-6 dari titik pusat plot contoh (dalam meter).
(7) Tinggi total dan tinggi bebas cabang diperoleh dari kurva tinggi untuk jenis yang
bersangkutan.
(8) Volume pohon diperoleh dari dugaan dengan bantuan tabel volume pohon dari jenis
pohon yang sama.
(9) Gangguan diisi dengan ada (A) atau tidak ada (TA). Bentuk gangguan adalah
terbelit liana, patah pucuk, ada bentuk serangan hama atau penyakit atau semua
bentuk gangguan yang nampak pada batang dan tajuk.
2009, No.110
Format Daftar Isian 4 adalah sebagai berikut:

Daftar Isian 4a.

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA TANAMAN KELAS UMUR I - II

DI

No. Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal
4a

JENIS TANAMAN :
UMUR TANAMAN : ... tahun
Data yang dikumpulkan adalah data semua pohon dalam petak contoh lingkaran luas 0,02
ha (jari-jari lingkaran 7,94 meter).

No.
Nomor
Pohon/Label
Dia.
1,3 m
(cm)
TBC
(m)
TTot
(m)
Volume
Bebas
Cabang
(m3)
Volume
Total (m3)
Gangguan
(A / TA)

...

...

2009, No.110

Daftar Isian 4b.

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA POHON TANAMAN KELAS UMUR I – II

DI

No. Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal
4b

JENIS TANAMAN :
UMUR TANAMAN : ... tahun
Data yang dikumpulkan adalah data semua pohon dalam plot contoh berbentuk 6-contoh
pohon (6-tree sampling).

Jarak pohon ke-6 : D6

: …………… m
Jari-jari plot contoh : R6 = D6 + 0,5d6 : …………… m
Luas plot contoh
: L6 = π x (R6)2
: …………… m2 = ………….ha

No.
Phn
Ke-
Nomor
Pohon/Label
Dia.
1,3 m
(cm)
TBC
(m)
TTot
(m)
Volume
Bebas
Cabang
(m3)
Volume
Total
(m3)
Gangguan
(A / TA)
1.

2.

3.

4.

5.

6.

2009, No.110
2. Pendataan Tanaman Kelas Umur III – IV

Semua tanaman utama di dalam plot contoh berbentuk lingkaran luas 0,04 ha atau plot
contoh berbentuk 8-contoh pohon (8-tree sampling) harus diukur diameternya.
Pendataan tanaman kelas umur III – IV adalah sama dengan tanaman muda kelas
umur I – II. Tinggi pohon bebas cabang dan tinggi pohon total diduga berdasarkan
kurva tinggi sesuai dengan jenis yang bersangkutan. Demikian juga volume pohon
diduga berdasarkan bantuan tabel volume pohon untuk jenis pohon yang bersangkutan.
Hasil pengukuran dan pendugaan dicatat dalam Daftar Isian 5a untuk yang diukur
dengan menggunakan plot contoh bentuk lingkaran luas 0,04 ha atau dalam Daftar
Isian 5b untuk yang diukur dengan menggunakan plot contoh berbentuk 8-contoh
pohon.

Cara pengisian Daftar Isian 5a adalah sebagai berikut:
(1) Masukkan keterangan nomor petak, nomor jalur, nomor regu serta tanggal.
(2) Catat nomor pohon sesuai dengan nomor label pohon.
(3) Tentukan nama jenis dan catat ke dalam daftar isian.
(4) Ukur dan catat diameter batang setinggi dada yaitu pada ketinggian 1,3 m dari
permukaan tanah.
(5) Tentukan tinggi bebas cabang dan tinggi total dengan bantuan kurva tinggi untuk
jenis yang bersangkutan (m).
(6) Tentukan volume pohon bebas cabang dan volume pohon total (m3) dengan
bantuan tabel volume pohon.
(7) Gangguan diisi dengan ada (A) atau tidak ada (TA). Bentuk gangguan adalah
terbelit liana, patah pucuk, ada bentuk serangan hama atau penyakit atau semua
bentuk gangguan yang nampak pada batang dan tajuk.

Cara pengisian Daftar Isian 5b adalah sebagai berikut:
(1) Masukkan keterangan nomor petak, nomor jalur, nomor regu serta tanggal.
(2) Tentukan pohon ke-1, ke-2, dan seterusnya sampai pohon ke-8 yang terdekat dari
titik pusat plot contoh (jadi hanya 8 pohon terdekat dari titik pusat plot contoh saja
yang diukur)
(3) Catat nomor pohon-pohon tersebut sesuai dengan nomor label pohon.
(4) Tentukan nama jenis dan catat ke dalam daftar isian.
(5) Ukur dan catat diameter batang setinggi dada yaitu 1,3 meter dari muka tanah.
(6) Ukur jarak mendatar pohon ke-8 dari titik pusat plot contoh (dalam meter).
(7) Tentukan tinggi bebas cabang dan tinggi total (m) dengan bantuan kurva tinggi
untuk jenis yang bersangkutan.
(8) Tentukan volume pohon bebas cabang dan volume pohon total (m3) dengan
bantuan tabel volume pohon dari jenis pohon yang bersangkutan.
(9) Gangguan diisi dengan ada (A) atau tidak ada (TA). Bentuk gangguan adalah
terbelit liana, patah pucuk, ada bentuk serangan hama atau penyakit atau semua
bentuk gangguan yang nampak pada batang dan tajuk.

2009, No.110

Format Daftar Isian 5 adalah sebagai berikut:

Daftar Isian 5a.

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA POHON TANAMAN KELAS UMUR III – IV

DI

No. Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal
5a

JENIS TANAMAN :
UMUR TANAMAN : ... tahun
Data yang dikumpulkan adalah data semua pohon dalam plot contoh lingkaran 0,04 ha
(jari-jari lingkaran 11, 28 m).

No.
Nomor
Pohon/Label
Dia.
1,3 m
(cm)
TBC
(m)
TTot
(m)
Volume
Bebas
Cabang
(m3)
Volume
Total
(m3)
Gangguan
(A / TA)

2009, No.110

Daftar Isian 5b.

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA POHON TANAMAN KELAS UMUR III – IV

DI

No. Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal
5b

JENIS TANAMAN :
UMUR TANAMAN : ... tahun
Data yang dikumpulkan adalah data semua pohon dalam plot contoh berbentuk 8-contoh
pohon (8-tree sampling)

Jarak pohon ke-8
: D8

: …………… m
Jari-jari plot contoh : R8 = D8 + 0,5d8
: …………… m
Luas plot contoh
: L8 = π x (R8)2

: …………… m2 = ………….ha

No.
Phn
Ke-
Nomor
Pohon/Label
Dia.
1,3 m
(cm)
TBC
(m)
TTot
(m)
Volume
Bebas
Cabang
(m3)
Volume
Total
(m3)
Gangguan
(A / TA)

2009, No.110
3. Pendataan Tanaman Kelas Umur ≥ V dan Tanaman Miskin Riap

Semua tanaman utama di dalam plot contoh berbentuk lingkaran luas 0,1 ha atau plot
contoh berbentuk 10-contoh pohon harus diukur diameternya. Pendataan tanaman
kelas umur ≥ V dan miskin riap adalah sama dengan tanaman muda kelas umur I – II.
Tinggi pohon bebas cabang dan tinggi pohon total diduga berdasarkan kurva tinggi
sesuai dengan jenis yang bersangkutan. Demikian juga volume pohon diduga
berdasarkan bantuan tabel volume pohon untuk jenis pohon yang bersangkutan. Hasil
pengukuran dan pendugaan dicatat dalam Daftar Isian 6a untuk yang diukur dengan
menggunakan plot contoh bentuk lingkaran luas 0,1 ha atau dalam Daftar Isian 6b
untuk yang diukur dengan menggunakan plot contoh berbentuk 10-contoh pohon.

Cara pengisian Daftar Isian 6a adalah sebagai berikut:
(1) Masukkan keterangan nomor petak, nomor jalur, nomor regu serta tanggal.
(2) Catat nomor pohon sesuai dengan nomor label pohon.
(3) Tentukan nama jenis dan catat ke dalam daftar isian.
(4) Ukur dan catat diameter batang setinggi dada yaitu pada ketinggian 1,3 m dari
permukaan tanah.
(5) Tentukan tinggi bebas cabang dan tinggi total (m) diperoleh dari kurva tinggi untuk
jenis yang bersangkutan.
(6) Tentukan volume pohon bebas cabang dan volume pohon total (m3) dengan
bantuan tabel volume pohon.
(7) Gangguan diisi dengan ada (A) atau tidak ada (TA). Bentuk gangguan adalah
terbelit liana, patah pucuk, ada bentuk serangan hama atau penyakit atau semua
bentuk gangguan yang nampak pada batang dan tajuk.

Cara pengisian Daftar Isian 6b adalah sebagai berikut:
(1) Masukkan keterangan nomor petak, nomor jalur, nomor regu serta tanggal.
(2) Tentukan pohon ke-1, ke-2, dan seterusnya sampai pohon ke-10 yang terdekat dari
titik pusat plot contoh (jadi hanya 10 pohon terdekat dari titik pusat plot contoh
saja yang diukur).
(3) Catat nomor pohon-pohon tersebut sesuai dengan nomor label pohon.
(4) Tentukan nama jenis dan catat ke dalam daftar isian.
(5) Ukur dan catat diameter batang setinggi dada yaitu 1,3 m dari muka tanah.
(6) Ukur jarak mendatar pohon ke-10 dari titik pusat plot contoh (dalam meter).
(7) Tentukan tinggi bebas cabang dan tinggi total (m) yang diperoleh dari kurva tinggi
untuk jenis yang bersangkutan.
(8) Tentukan volume pohon bebas cabang dan volume pohon total (m3) dengan
bantuan tabel volume pohon.
(9) Gangguan diisi dengan ada (A) atau tidak ada (TA). Bentuk gangguan adalah
terbelit liana, patah pucuk, ada bentuk serangan hama atau penyakit atau semua
bentuk gangguan yang nampak pada batang dan tajuk.

2009, No.110
Format Daftar Isian 6 adalah sebagai berikut:

Daftar Isian 6a.

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA POHON TANAMAN KELAS UMUR ≥ V DAN MISKIN RIAP

DI

No. Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal
6a

JENIS TANAMAN :
UMUR TANAMAN : ... tahun
Data yang dikumpulkan adalah data semua pohon dalam plot contoh lingkaran 0,1 ha
(jari-jari lingkaran 17,8 m).

No.
Nomor
Pohon/Label
Dia.
1,3 m
(cm)
TBC
(m)
TTot
(m)
Volume
Bebas
Cabang
(m3)
Volume
Total
(m3)
Gangguan
(A / TA)

...

...

...

...

2009, No.110

Daftar Isian 6b.

INVENTARISASI HUTAN MENYELURUH BERKALA
DATA POHON TANAMAN KELAS UMUR ≥ V DAN MISKIN RIAP

DI

No. Petak
No. Plot Contoh
No.
Regu
Tanggal
6b

JENIS TANAMAN :
UMUR TANAMAN : ... tahun
Data yang dikumpulkan adalah data semua pohon dalam plot contoh berbentuk 10-contoh
pohon (10-tree sampling).

Jarak pohon ke-10 : D10

: …………… m
Jari-jari plot contoh : R10 = D10 + 0,5d10
: …………… m
Luas plot contoh
: L10 = π x (R10)2

: …………… m2 = ………….ha

No.
Phn
Ke-
Nomor
Pohon/Label
Dia.
1,3 m
(cm)
TBC
(m)
TTot
(m)
Volume
Bebas
Cabang
(m3)
Volume
Total
(m3)
Gangguan
(A / TA)
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

2009, No.110

4.10. Penentuan Posisi Pohon yang Diukur Dalam Plot Contoh

Pengambilan keputusan tentang penentuan posisi pohon apakah masuk atau tidak
di dalam suatu plot contoh terkadang agak menyulitkan/membingungkan. Untuk itu
ditetapkan beberapa kriteria. Bagian tengah pohon (inti pohon) sangat menentukan di
dalam penentuan “pohon masuk” atau “pohon keluar”, sehingga bila suatu pohon berada
di tepi garis plot contoh, inti pohon harus benar-benar diperiksa. Kaidah yang digunakan
adalah sebagai berikut (lihat Gambar 14):
a. Bila inti pohon terletak di dalam plot contoh, maka pohon termasuk di dalam plot
contoh.
b. Jika inti pohon terletak di luar batas plot contoh maka pohon tidak termasuk dalam
plot contoh.
c. Jika inti pohon tepat berada pada batas plot contoh maka pohon pertama dengan
kondisi demikian adalah termasuk di dalam plot contoh, kemudian pohon kedua
dengan kondisi demikian tidak termasuk di dalam plot contoh, begitu seterusnya.

Gambar 14. Penentuan Posisi “Pohon Masuk” (•) dan “Pohon Keluar” (X)

?

2009, No.110
V. ALAT BANTU INVENTARISASI HUTAN

5.1. Kurva tinggi

A. Pengertian

Kurva tinggi adalah kurva yang memberikan gambaran tentang hubungan diameter
dengan tinggi. Hubungan antara diameter dengan tinggi dibentuk dengan melalui
pengukuran diameter dan tinggi sejumlah individu pohon, kemudian menghubungkan
keduanya dengan analisis regresi sehingga bisa dibentuk sebuah persamaan kurva tinggi.
Cara lain yang lebih sederhana untuk membentuk kurva tinggi adalah dengan
menghitung tinggi rataan tiap-tiap kelas diameter yang kemudian diplotkan dalam sistem
kordinat XY. Dengan demikian akan diperoleh sebuah pencaran titik. Tahap berikutnya
adalah menarik garis lengkung yang melewati tengah titik-titik tersebut. Akurasi dari
teknik ini memang tidak tinggi, tetapi sudah bisa digunakan untuk pengelolaan hutan
masyarakat yang banyak membutuhkan teknik-teknik sederhana.

Untuk hutan tanaman, kurva tinggi yang digunakan adalah kurva tinggi total, yaitu
kurva yang menggambarkan hubungan antara diameter dengan tinggi total. Pada hutan
ini, kurva tinggi digunakan untuk menduga volume dan menduga kualitas tapak (site
quality). Kurva tinggi hutan tanaman disusun berdasarkan kelas umur, seandainya ada 5
kelas umur maka akan ada 5 buah kurva tinggi.

Pada hutan alam, kurva tinggi yang digunakan adalah kurva tinggi komersial
(merchantable height curve), yaitu kurva yang memberikan hubungan antara diameter
dengan tinggi komersial (tinggi yang dapat dimanfaatkan). Sampai sekarang kayu yang
diambil dalam penebangan hutan alam hanya sampai pada batas panjang komersial,
sedangkan sisanya ditinggal di hutan. Hutan alam mempunyai jenis pohon yang banyak,
jenis-jenis tersebut biasanya digolongkan dalam kelompok-kelompok jenis. Umumnya
pengelompokkan jenis di hutan alam masih berdasarkan nilai komersialnya. Sehubungan
dengan itu, kurva tinggi yang digunakan di hutan ini adalah kurva tinggi dari berbagai
kelompok jenis.

B. Tahap Pengukuran Pohon Contoh

1. Pembentukkan Kelas Diameter

Untuk hutan alam bekas tebangan, lakukan pengelompokkan jenis misalnya kelompok
meranti, kelompok dipterokarp non meranti, kelompok komersial dan kelompok jenis
lainnya. Untuk setiap kelompok jenis buat kelas diameter mulai dari 10 cm dengan
interval 5 cm, misalnya kelas 10 – 14,9 cm, 15 – 19,9 cm, 20 – 24,9 cm, dan
seterusnya. Jumlah pohon sampel (pohon contoh) dalam kelas diameter 10 – 14,9 cm
sampai 30 – 34,9 cm ditentukan sebanyak 15 buah, untuk selanjutnya sampai 45,0 –
49,9 cm besar pohon sampel 10 buah. Untuk pohon di atas 50 cm, interval kelas yang
digunakan 10 cm, dengan jumlah sampel 10 buah per kelas. Contoh jumlah pohon
sampel untuk satu kelompok jenis disajikan dalam Tabel 6 berikut:
Tabel 6. Jumlah Pohon Sampel untuk Satu Kelompok Jenis

2009, No.110
Kelas Diameter (cm)
Jumlah Sampel (pohon)
10,0 – 14,9
15,0 – 19,9
20,0 – 24,9
25,0 – 29,9
30,0 – 34,9
35,0 – 39,9
40,0 – 44,9
45,0 – 49,9
50,0 – 59,9
60,0 – 69,9
70,0 – 79,9
≥ 80,0

Untuk hutan tanaman, kurva tinggi dibuat untuk semua kelas umur. Dalam satu
tegakan dibuat kelas-kelas diameter dimana kelas diameter mulai dari diameter 5 cm
atau diameter terkecil dalam tegakan tersebut dengan interval 2,5 cm. Dengan
demikian kelas-kelas diameternya adalah 5 – 7,4 cm, 7,5 – 10,0 cm dan seterusnya.
Jumlah sampel dalam setiap kelas diameter adalah 20 buah. Pohon sampel
diusahakan diambil dari site yang berbeda-beda.

Tabel 7. Jumlah Pohon Sampel untuk Satu Kelas Umur

Kelas Diameter (cm)
Jumlah Sampel (pohon)
5,0 – 7,4
7,5 – 9,9
10,0 – 12,4
12,5 – 14,9
15,0 – 19,9

dst

Kriteria pohon yang dapat digunakan sebagai sampel (pohon contoh) untuk diukur
tingginya adalah pohon sehat, pertumbuhan normal, berbatang lurus dan tajuknya
tidak patah.

2. Pengukuran Tinggi Pohon Sampel

Metode yang digunakan merupakan metode gabungan antara metode trigonometri
dan metode geometri. Metode ini tidak menggunakan alat ukur yang mahal dan
canggih, tidak menggunakan pengukuran jarak dan mudah dilakukan baik di hutan
tanaman maupun di hutan alam. Perhitungan nilai tinggi dilakukan di kantor.

Alat-alat yang digunakan untuk mengukur tinggi adalah:
a. Clinometer;
2009, No.110
b. Tongkat
bantu
untuk
mengukur
tinggi
sepanjang
5,5
m
(dapat
dipanjangpendekkan) atau dengan menggunakan laser distance meter yang ada
untuk memudahkan pengukuran;
c. Alat tulis-menulis dan perlengkapan lapangan.

Variabel-variabel yang diukur dalam pengukuran tinggi adalah tinggi total (ht), tinggi
bebas cabang (hbc), ujung tongkat aluminium (hp) dan tinggi pada ketinggian 1,5 m
dari atas tanah (hb). Perhatikan bahwa posisi tongkat ukur harus di sisi pohon (lihat
Gambar 14 di bawah).

Gambar 15. Pengukuran Tinggi Pohon dengan Clinometer

Pengukuran dilakukan dengan clinometer dan yang dibaca adalah
kelerengan dalam satuan % (tidak boleh dalam satuan derajat). Hasil-hasil
pengukuran dimasukkan dalam daftar isian pengukuran tinggi sebagai berikut:

Tabel 8. Form Isian Hasil Pengukuran Clinometer Untuk Pengukuran Tinggi Pohon

Nama jenis :
Kelas umur : … tahun
Jarak tanam :
Lokasi :
No.
Pohon
Diameter
(cm)
ht
(%)
hbc
(%)
hp
(%)
hb
(%)
Keterangan

ht

hbc
hp
hb
Tongkat aluminium
Formatted: Font: 10 pt
2009, No.110
Tinggi total pohon dihitung dengan rumus sebagai berikut:

5,1
)
(
+
×


=
b
p
b
t
h
h
h
h
tinggi

dimana ht adalah pembacaan clinometer (%) pada tinggi total, hb adalah pembacaan
clinometer (%) pada ketinggian 1,5 m dari tanah dan hp adalah pembacaan clinometer
(%) pada ujung tongkat.

Untuk mencari tinggi bebas cabang digunakan rumus sebagai berikut:

5,1
)
(
+
×


=
b
p
b
bc
h
h
h
h
tinggi

dimana hbc adalah pembacaan clinometer (%) pada tinggi bebas cabang, hb adalah
pembacaan clinometer (%) pada ketinggian 1,5 m dari tanah dan hp adalah
pembacaan clinometer (%) pada ujung tongkat.

Semua pengukuran tinggi pohon dengan menggunakan alat ukur yang lain, dapat
diterima sepanjang teknik pengukurannya memenuhi kaidah ilmiah.

C. Membentuk Kurva Tinggi

Data lapangan yang sudah dihitung akan menghasilkan informasi tentang diameter,
tinggi bebas cabang dan tinggi total dari semua pohon contoh. Untuk menghubungkan
diameter dengan tinggi total, atau antara diameter dengan tinggi bebas cabang gunakan
model persamaan kuadratik sebagai berikut:

h = b0 + b1d + b2 d2

dimana h adalah tinggi total (m), d adalah diameter (cm) sedang b0, b1 dan b2 adalah
koefisien-koefisien yang harus dicari melalui analisis regresi. Teknik mencari koefisien
regresi dapat dilihat pada buku-buku statistika, karena itu tidak dijelaskan di bagian ini.
Program komputer statistika atau program spreadsheet seperti Microsoft Excel juga
menyediakan modul analisis regresi yang dapat digunakan untuk mencari koefisien-
koefisien regresi, termasuk kekuatan hubungan antar variabelnya. Kurva tinggi yang dapat
digunakan adalah kurva yang hubungan antara diameter dan tingginya cukup kuat.

Berikut ini contoh gambar kurva tinggi beserta persamaannya yang menggunakan
model lain.

2009, No.110
Hubungan diameter-tinggi total
hutan alam, semua jenis pohon
t = 10.822Ln(d) - 16.002
R2 = 0.7026
Diameter (cm)
Tinggi total (m)

Gambar 16. Diagram Pencar (Scatter Diagram) Hubungan Antara Tinggi Pohon dengan
Diameter Pohon

Berikut ini adalah persamaan-persamaan kurva tinggi untuk berbagai kelompok
jenis yang diperoleh dari data hutan bekas tebangan di Kalimantan.

Tabel 9. Kurva Tinggi Berbagai Kelompok Jenis Hutan Bekas Tebangan di Kalimantan
Jenis Pohon
Jenis Tinggi Pohon
Lokasi 1
Lokasi 2
Tinggi Total
h = 5,58 + 0,54d – 0,002d2
h = 9,27 + 0,93d – 0,01d2
Meranti
Tinggi Bebas Cabang
h = 1,23 + 0,47d – 0,000d2
h = 6,48 + 0,55d – 0,00d2
Tinggi Total
h = 5,36 + 0,58d – 0,003d2
h = 10,69 + 0,93d – 0,01d2
Dipterokarpa non
meranti
Tinggi Bebas Cabang
h = 0,56 + 0,53d – 0,003d2
h = 6,35 + 0,66d – 0,01d2
Tinggi Total
h = 4,01 + 0,64d – 0,004d2
h = 7,96 + 0,93d – 0,01d2
Komersial
Tinggi Bebas Cabang
h = -0,06 + 0,56d – 0,003d2
h = 3,70 + 0,65d – 0,00d2
Tinggi Total
h = 5,62 + 0,52d – 0,002d2
h = 4,90 + 1,23d – 0,01d2
Jenis lain
Tinggi Bebas Cabang
h = 1,37 + 0,44d – 0,002d2
h = 3,90 + 0,69d – 0,01d2

Perbedaan kurva tinggi untuk kelompok jenis yang sama menyatakan perbedaan
site di mana pohon sampel diambil. Hal ini menunjukkan bahwa pada lokasi yang berbeda,
dapat diperoleh kurva tinggi yang berbeda pula. Dengan demikian setiap IUPHHK
sebaiknya mempunyai kurva yang berasal dari wilayahnya masing-masing.

5.2. TABEL VOLUME
A. Pengertian

Tabel volume yang dimaksud adalah Tabel Volume Pohon, yaitu tabel volume yang
disusun atas dasar kunci pembaca volume berupa diameter dan tinggi (Tabel Volume
Standar) atau diameter pohon saja (Tabel Volume Lokal atau Tarif Volume).
2009, No.110
Metode yang banyak dipakai untuk menyusun tabel volume adalah metode analisis
regresi, yaitu mencari hubungan antara volume batang pohon dengan peubah-peubah
penaksirnya yang diperoleh dengan pengukuran sejumlah pohon contoh.

Secara umum ada tiga macam tahapan dalam pembentukkan tabel volume:
1. Pemilihan pohon-pohon contoh yang representatif;
2. Pengukuran dimensi pohon-pohon tersebut untuk memperoleh volumenya dan
penggunaan metode statistika untuk menurunkan hubungan antara volume dengan
peubah-peubah penduga;
3. Pengujian hubungan tersebut untuk menentukan ketelitiannya.

Manfaat dari tabel volume pohon adalah untuk menduga dengan tepat volume total
sejumlah pohon tanpa merebahkannya, dengan menggunakan pengukuran yang dapat
dilakukan dengan tepat, mudah dan murah.

Dalam memilih persamaan volume, sebaiknya coba dahulu model yang sederhana,
yaitu model dengan jumlah koefisien yang paling sedikit, misalnya:
1. V = a + bd2
2. V = adb
3. V = a + bd2h
4. V = a (d2h)b

B. Tahap Pembentukan Persamaan Volume

1. Penentuan Pohon-pohon Sampel

Penentuan sampel merupakan kegiatan untuk menentukan pohon-pohon yang
dijadikan contoh untuk penyusunan tabel volume. Banyaknya sampel pohon rebah
misalnya 200 pohon, dimana 140 pohon digunakan untuk menyusun model regresi
dan 60 pohon digunakan untuk tujuan uji validasi dari model volume terpilih dimana
sampel pohon berasal dari lokasi yang sama. Diameter pohon contoh, baik untuk
penyusunan model maupun untuk uji validasi model harus tersebar pada setiap kelas
diameter. Adapun syarat-syarat pohon yang diambil sebagai sampel antara lain: lurus,
tidak menggarpu, bebas dari serangan hama penyakit, batang tidak pecah setelah
ditebang. Apabila terjadi kesalahan teknis penebangan yang mengakibatkan pohon
rusak, maka pohon tersebut tidak diambil sebagai sampel. Penggolongan kelas
diameter tergantung daripada kisaran diameter yang terbesar pada lokasi penelitian.

Untuk hutan alam, tabel volume dibuat untuk kelompok jenis dipterokarpa dan untuk
kelompok jenis non dipterokarpa. Pohon contoh yang berdiameter ≥ 50 cm diperoleh
dari petak tebangan, sedangkan pohon contoh untuk diameter < 50 cm, diperoleh dari
tebangan jalur (pada Sistem Silvikultur Intensif) atau menggunakan faktor bentuk
sebesar 0,6 untuk IUPHHK yang tidak menjalankan Silvikultur Intensif (TPTII).

2009, No.110
2. Pengukuran dan Pengumpulan Data

Berikut adalah tahapan pengukuran dan pengumpulan data untuk membuat tabel
volume:
a. Memilih pohon-pohon contoh yang memenuhi kriteria sebagaimana diuraikan di
atas;
b. Mengukur diameter setinggi dada (dbh) pada ketinggian 130 cm dari permukaan
tanah, atau 30 cm di atas banir untuk tinggi banir lebih dari 1 m.
c. Melakukan persiapan penebangan untuk menghindari batang pecah atau patah
setelah rebah yang dilakukan oleh penebang (chainsawman).
d. Menghitung volume batang rebah dengan cara mengukur peubah-peubah volume
yaitu diameter dan tinggi atau panjang batang. Pekerjaan yang dilakukan adalah:
1) Mengukur panjang batang mulai dari potongan bawah sampai batang bebas
cabang. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan pita ukur.
2) Mengukur diameter setiap seksi dengan panjang 2 m. Untuk seksi terakhir
panjang seksi sama dengan atau di bawah 2 m. Pengukuran dilakukan dengan
metode Smallian yaitu diameter diukur pada pangkal dan ujung seksi. Letak
diameter pangkal seksi pertama adalah 30 cm di atas banir. Pengukuran
dilakukan dengan melingkarkan pita diameter pada batang. Jika terjadi kesulitan
yang disebabkan batang menempel pada tanah, maka dilakukan penggalian
sampai pita diameter dapat dilingkarkan pada batang. Untuk titik yang tidak
dapat diukur, dilakukan interpolasi linier. Untuk menduga diameter diperlukan 3
pembacaan, pertama adalah diameter pada titik sebelumnya, kedua adalah nilai
diameter pada titik yang terdekat dengan titik yang diinginkan (lebih besar dari
2 m) dan yang ketiga adalah panjang atau jarak dari diameter pertama ke
diameter kedua. Interpolasi linier menggunakan rumusan sebagai berikut:

de = d1 - – x (d1 - d2)

dimana:
de : diameter dugaan (diameter di titik 2 meter setelah d1(cm)
d1 : diameter sebelumnya (cm)
d2 : diameter kedua (cm)
l : panjang (m)

l
Formatted: Font: (Default)
Tahoma
Formatted: Font: (Default)
Tahoma
2009, No.110
Format isian untuk pengukuran tabel volume adalah sebagai berikut:

Jenis
:
Kelompok jenis
:
Pengukur
:
Tanggal
:

Tinggi banir
:
Tebal kulit (t.klt)
di pangkal batang
:

dbh
:

Seksi teratas
Panjang
:
Diameter ujung batang :

Panjang Batang
:

Volume = .......... m3

Keterangan:
- Isikan diameter dan tebal kulit
seksi pohon ke dalam kotak
sebalah kanan. Kalau panjang
seksi melebihi 20 m isikan
datanya ke dalam kotak sebelah
kiri.
- Kalau tinggi banir lebih dari 1 m,
dbh diukur pada ketinggian 20 cm
di atas titik banir tertinggi

dia t.klt
tunggak … m
2m
dia t.klt
2009, No.110
Gambar 17. Penentuan Volume Pohon Per Seksi (Bagian Batang Pohon)
Volume pohon dihitung dengan mencari volume semua seksi pohon pada pohon
rebah, kemudian semua volume seksi dijumlahkan. Penentuan volume per seksi
dilakukan berdasarkan panjang dan diameter seksi. Rumus yang digunakan adalah
Rumus Smallian sebagai berikut:

V = L x ( Gb + Gu )/ 2

dimana:
V
: volume seksi ( m3)
L
: panjang seksi (m )
Gb
: luas penampang lintang potongan bawah seksi (m2)
Gu
: luas penampang lintang potongan ujung seksi (m2)

Volume pohon aktual merupakan jumlah dari volume semua seksi dari satu pohon
sampel.


=
=
n
i
Vi
Va

dimana:
Va
: volume aktual pohon (m3)
Vi
: volume seksi ke-i dari satu pohon (m3)
i
: urutan seksi ke-... (1, 2, ..., n)
n
: jumlah seksi

C. Analisis Data

Volume semua pohon sampel kemudian dihubungkan dengan dbh sampel yang
bersangkutan. Model persamaan yang dapat digunakan, yaitu:

V = bo (dbh)b1

jika ditransformasikan ke dalam bentuk logaritma:

log V = log bo + b1 log d

dimana bo dan b1 merupakan koefisien regresi yang harus dicari. Cara mencari koefisien
tersebut dapat dilihat pada buku-buku statistika di bagian yang membicarakan tentang
analisis regresi.

Volume pohon dapat dibedakan dalam dua macam yaitu volume dengan kulit (Vdk)
dan volume tanpa kulit (Vtk), begitu juga dengan diameter acuan yaitu diameter dengan
kulit (ddk) dan diameter tanpa kulit (dtk). Dengan variabel yang ada, hubungan yang
dikembangkan terdiri dari beberapa model hubungan, yaitu:
a. Hubungan volume dengan kulit dan diameter dengan kulit.
b. Hubungan volume tanpa kulit dan diameter dengan kulit.
2009, No.110

Sebagai contoh, berikut ini dicantumkan sebagian hasil-hasil penelitian tentang
tabel volume yang dihimpun oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Kalimantan Timur, Departemen Kehutanan.

Tabel 10. Persamaan Pendugaan Volume Jenis-jenis Dipterokarpa
Provinsi
Kelompok Jenis
Persamaan
Nanggroe Aceh Darussalam Kapur
V = 0,0007734 D2,107
Sumatera Barat
Meranti
V = 0,0001550 D2,466
Kalimantan Timur
Dipterokarpa
V = 0,0001234 D2,4913
Kalimantan Barat
Meranti
V = 0,0001650 D2,486

Penyusunan tabel volume untuk hutan tanaman pada dasarnya mempunyai prinsip
yang sama. Hanya saja volume yang digunakan di hutan tanaman adalah volume kayu
pulp atau volume kayu pertukangan. Volume kayu di hutan tanaman didefinisikan sebagai
volume kayu tanpa kulit sampai batas diameter atas yang telah ditetapkan. Batas diameter
atas ini tergantung pada teknologi yang digunakan. Untuk kayu pulp, batas diameter atas
biasanya 7 cm.

5.3. Tabel Berat
Tabel berat pohon adalah tabel yang menunjukkan hubungan antara diameter
dengan berat segar (fresh weight) pohon. Tabel berat ini penting keberadaannya untuk
menduga potensi kayu pulp dalam HTI pulp, dan untuk menduga biomassa serta
banyaknya unsur karbon dalam hutan alam. Pada dasarnya pembentukan tabel berat
pohon sama dengan pembentukkan tabel volume yaitu pengukuran seksi pohon. Setelah
seksi pohon diukur volumenya, kemudian berat ditimbang. Setelah itu berat semua seksi
pohon dijumlahkan untuk mendapat berat pohon.

Untuk hutan alam, setelah pohon direbahkan dan diukur volumenya, ambil sampel
kayu berupa piringan (disc) pada bagian pangkal, tengah dan ujung batang. Sampel kayu
ini diusahakan setebal 5 – 10 cm. Sampel berupa piringan ini kemudian diukur volumenya
dan ditimbang beratnya. Dari nilai volume dan berat ini kemudian dihitung berat jenis
kayu segar (BJKS) dari semua potongan dengan satuan kg/cm3. Untuk mendapatkan berat
pohon, BJKS rataan dikalikan dengan volume pohon dan dinyatakan dengan satuan
ton/m3.

Untuk hutan tanaman, pohon sampel untuk penyusunan tabel volume dipotong-
potong menjadi seksi sepanjang 1 m atau 2 m. Seksi-seksi pohon ini ditimbang dengan
karung yang sudah dibuka ujungnya, dengan timbangan gantung (timbangan beras).
Berat semua seksi kemudian dijumlahkan untuk memperoleh berat pohon segar. Untuk
pohon dengan diameter ≥ 20 cm, pengukuran berat dilakukan seperti penyusunan tabel
berat pada hutan alam, dengan panjang seksi 0,5 m.

Tabel berat diperoleh dengan menghubungkan diameter dengan berat pohon yang
bersangkutan dengan teknik analisis regresi seperti pada Kurva Tinggi dan Tabel Volume.
Bentuk umum persamaan yang dapat digunakan adalah:
2009, No.110

Berat = b0 D b1

dimana D adalah diameter, sedangkan b0 dan b1 adalah koefisien persamaan yang dicari
nilainya dengan analisis regresi.

Berikut ini adalah hubungan antara diameter (cm) dengan berat kayu berkulit (kg)
dari jenis Acacia mangium. Persamaan yang terbentuk adalah:

Berat = 0,2554 D2,3165, dengan koefisien determinasi = 0,86

Persamaan yang diperoleh ini dapat digunakan sebagai dasar penyusunan Tabel Berat
untuk besar diameter yang sama sebagaimana contoh Tabel Berat di Provinsi Kalimantan
Timur pada gambar berikut.

y = 0.2554x2.3165
R2 = 0.8626
Diameter (cm)
Berat dgn kulit (kg)

Gambar 18. Hubungan Antara Berat dengan Kulit dan Diameter Pohon

2009, No.110
VI. PEMASUKAN DATA

Penyimpanan dan pengolahan data akan lebih efisien jika dilakukan secara dijital.
Untuk data IHMB, gunakan program spreadsheet. Program ini pada dasarnya terdiri dari
baris dan lajur, sehingga format data IHMB harus disesuaikan dahulu. Agar terstruktur,
data dari satu jalur dimasukkan dalam satu file dan diberi nama yang bermakna, misalnya
data Jalur 009 dimasukkan dalam data bernama JALUR 009.wks. Berikut contoh
pemasukan data untuk hutan alam, sedangkan untuk hutan tanaman isi kolomnya perlu
disesuaikan.

Sebuah file spreadsheet akan mempunyai beberapa lembar kerja (tabs). Untuk data
IHMB, lembar pertama berisi informasi tentang jalur dan diberi nama Inf Jalur. Isi lembar
pertama adalah semua informasi tentang jalur yang bersangkutan, seperti kordinat titik
ikat, cara mencapai jalur dan sketsa jalan. Isi lembar kedua adalah informasi tentang
kondisi semua plot contoh (plot) yang ada dalam jalur, dan dinamai Inf Plot. Data yang
masuk dalam lembar ke dua ini adalah semua data yang ada dalam Daftar Isian 1.
Lembar-lembar berikutnya berisi data masing-masing plot contoh sebagaimana tercantum
dalam Daftar Isian 2, dan diberi nama Plot 001, Plot 002 dan seterusnya. Perhatikan
Gambar 19 di bawah ini.

Gambar 19. Nama-nama Lembar Kerja (Tabs)

Isi dari lembar kerja Inf Jalur ditampilkan dalam Gambar 20 berikut:

awal
Jalur
n
ikat
Formatted: Font: (Default)
Arial, 9 pt
Formatted: Font: (Default)
Arial, 9 pt
Formatted: Font: (Default)
Arial, 9 pt
Formatted: Font: (Default)
Arial, 9 pt
2009, No.110
Gambar 20. Isi Lembar Kerja Inf Jalur
Setelah selesai dengan mengisikan informasi jalur, lanjutkan dengan mengisi
informasi plot contoh (plot). Informasi tentang plot contoh disusun dalam bentuk lajur
(kolom). Hal ini agar informasi semua plot contoh yang ada dapat ditampilkan dalam satu
lembar kerja. Contoh lembar kerja Inf Plot ditampilkan pada Gambar 21. Tidak semua
informasi dapat ditampilkan pada gambar tersebut karena berada pada sebelah kanan
lembar kerja.

Gambar 21. Isi Lembar Kerja Inf Plot

Informasi individual plot contoh ditampilkan dalam lembar-lembar kerja berikutnya.
Informasi tiap plot contoh dipisahkan hanya untuk memudahkan pemantauan. Untuk
pengolahan data, semua data plot contoh harus digabungkan. Berikut ini adalah bagian
lembar kerja yang menyajikan sebagian informasi sebuah plot contoh.

2009, No.110
Gambar 22. Isi Lembar Kerja Plot 001
Tidak semua kolom dalam lembar kerja di atas harus diisi, namun disesuaikan
dengan apa yang diukur di lapangan. Untuk tingkat tiang, kolom-kolom cacat batang,
kelurusan dan kerusakan log tidak diisi. Untuk tingkat pohon kecil, kolom-kolom kelurusan
dan kerusakan log tidak diisi. Sedangkan untuk tingkat pohon besar, kolom-kolom kualitas
tajuk dan cacat batang tidak diisi.

Untuk hutan tanaman format pengisian data hampir sama dengan format hutan
alam. Nama-nama lembar kerja (tabs) dan isi dari informasi jalur (tabs Inf Jalur) sama
dengan hutan alam. Untuk isi dari lembar Inf Plot, formatnya sama hanya saja nama-
nama kolomnya disesuaikan dengan Daftar Isian 1 (DI-1) hutan tanaman. Nama-nama
kolom pada lembar kerja Plot 001 dan lainnya disesuaikan dengan nama-nama kolom
pada Daftar Isian 2 (DI-2) hutan tanaman.

2009, No.110
VII. ANALISIS DATA

7.1. Hutan Alam

A. Kondisi Umum Areal Tegakan

Dengan mengetahui koordinat GPS titik awal jalur, arah jalur (Utara-Selatan) dan
jarak antar jalur maka semua koordinat plot contoh dapat diketahui. Pada masing-masing
titik berisi data tentang fisiografi, tapak, tekstur tanah dan kondisi keberadaan gangguan.
Kalau masing-masing titik ini dianggap mewakili petak, maka dengan menggunakan teknik
pemetaan seperti yang digunakan pada pembuatan peta topografi, dapat dibuat:
1. Peta fisiografi
2. Peta tapak
3. Peta tekstur tanah
4. Peta gangguan

B. Kondisi Tegakan

1. Tingkat Pancang

Data yang ada digunakan untuk mengetahui luas kawasan yang berisi pancang. Luas
ini didekati dengan menggunakan proporsi jumlah plot-plot contoh yang berisi
pancang terhadap jumlah seluruh plot contoh. Dengan teknik pemetaan topografi,
juga dapat diperoleh gambaran kasar tentang posisi-posisi kawasan yang berisi
permudaan tingkat pancang. Jumlah absolut permudaan tingkat pancang tidak
dibutuhkan mengingat bahwa dinamika mortalitasnya masih tinggi.

2. Tingkat Tiang

Data tingkat tiang dapat digunakan untuk mengetahui kerapatan pohon berdasarkan
kelompok jenis dan distribusi kualitas tajuk pohon tingkat tiang. Kerapatan pohon
tingkat tiang kemudian dikelompokkan dalam kelas-kelas kerapatan yang berjumlah
antara 5 sampai 6 kelas. Penggabungan data posisi dan kelas kerapatan ini akan
menghasilkan peta kerapatan tiang. Kombinasi peta kerapatan dengan data kualitas
tajuk akan sangat bermanfaat sebagai pertimbangan dalam pemberian perlakuan
silvikultur pada tegakan, misalnya penjarangan untuk memacu pertumbuhan tiang.

3. Tingkat Pohon Kecil

Data yang diperoleh dari inventarisasi ini akan dapat digunakan untuk mengetahui
berbagai hal. Analisis data dinyatakan dalam bentuk gambar atau tabel berdasarkan
kelompok jenis dan kelas diameter. Informasi yang dihasilkan (berdasarkan kelompok
jenis dan kelas diameter) adalah:
a. Kerapatan pohon kecil;
b. Distribusi spasial volume;
c. Struktur vertikal tegakan (dari distribusi tinggi total dan tinggi bebas cabang
serta kurva tinggi);
d. Kualitas tajuk tegakan;
2009, No.110
e. Distribusi cacat batang.

Kerapatan pohon kecil dan distribusi volume digunakan untuk pertimbangan
pemeliharaan tegakan dan proyeksi produksi. Distribusi spasial volume dibuat dengan
mengelompokkan petak-petak tebang berdasarkan kelas volume. Banyaknya kelas
volume ditentukan 5 – 6 kelas dengan interval kelas disesuaikan terhadap nilai terkecil
dan nilai terbesar volume yang ada.

Struktur vertikal digunakan untuk memberi gambaran tentang site di kawasan yang
bersangkutan.
Kualitas
tajuk
diolah
untuk
memberikan
gambaran
tentang
pertumbuhan
tegakan,
sedang
distribusi
cacat
batang
digunakan
untuk
mendeskripsikan kualitas kayu produksi di masa depan.

4. Tingkat Pohon Besar

Pada dasarnya informasi yang digali dari data pohon besar serupa dengan informasi
dari pohon kecil. Analisis dinyatakan berdasarkan pengelompokkan jenis dan kelas
diameter. Informasi tingkat pohon besar yang digali adalah:
a. Kerapatan pohon;
b. Distribusi spasial volume
c. Struktur vertikal tegakan;
d. Distribusi volume berdasarkan kelompok jenis dan kelas cacat;
e. Distribusi volume kayu yang dapat dimanfaatkan.

Diagram alur perhitungan volume untuk semua petak dapat dilihat pada Gambar
23 berikut di bawah ini:

2009, No.110

Gambar 23. Diagram Alur Perhitungan Volume Semua Petak

Gambar 24 berikut ini adalah contoh tampilan distribusi spasial volume dari
sebuah kawasan IUPHHK. Setiap petak tebang diwakili oleh satu warna yang
menggambarkan kelas volume.

Semua
pohon
sudah
dihitung?
Belum
Petak
terakhir?
Petak
berikutnya
Perhitungan volume pohon
berdiameter >50 cm untuk
semua petak
Sudah
Belum
Data IHMB, pohon komersial
yang dapat dimanfaatkan
Pendugaan tinggi total dan
tinggi bebas cabang
Perhitungan volume
Kurva t. total
dan t. b. cabang
Tabel Volume
Pohon
berikutnya
Mulai
Selesai
Formatted: Font: 10 pt
Formatted: Swedish
(Sweden)
Formatted: Spanish
(Spain-Modern Sort)
Formatted: Font: 10 pt
2009, No.110

: 40 - 49,9 m3

: 30 - 39,9 m3

: 20 - 29,9 m3

: 10 - 19,9 m3

: 0 - 9,9 m3

Gambar 24. Distribusi Spasial Volume dalam Suatu Unit Manajemen (IUPHHK)

5. Kondisi Potensi Kayu Keseluruhan

Kondisi ini menggambarkan kondisi potensi yang berasal dari data gabungan semua
tingkat pertumbuhan berdasarkan kelas diameter. Kelas diameter disusun dengan
diameter terkecil 10 cm dan interval kelas sebesar 5 cm. Setiap kelas diameter dibagi
menjadi kelompok-kelompok. Pengelompokkan dilakukan berdasarkan kelompok
jenis dan kelompok pemanfaatan. Nilai yang digunakan untuk setiap kelompok
adalah jumlah pohon per hektar dan volume per hektar. Dengan demikian ada 4
(empat) kombinasi informasi yang disajikan sebagai laporan.

Contoh tampilan kondisi potensi jumlah pohon per hektar (sumbu Y) berdasarkan kelas
diameter (sumbu X) dalam kelompok jenis adalah sebagai berikut:

Kelas Diameter (cm)
Jumlah Pohon / ha
Lain-lain
Dilindungi
Komersial
Dipterokarpa
12.5
17.5
22.5
27.5
32.5
37.5

Gambar 25. Hubungan Antara Jumlah Pohon Per Hektar dengan Kelas Diameter Pohon

2009, No.110
Contoh tampilan kondisi potensi volume per hektar (sumbu Y) berdasarkan kelas
diameter (sumbu X) dalam kelompok pemanfaatan (dapat – tidak dapat) kayu adalah
sebagai berikut:
Kelas Diameter (cm)
Volume (m3/ha)
Tidak Dapat(m3/ha)
Dapat(m3/ha)
1.6
12.5
17.5
22.5
27.5
32.5
37.5

Gambar 26. Hubungan Antara Volume dengan Kelas Diameter

7.2. Hutan Tanaman

A. Kondisi Umum Areal Tegakan

Data koordinat GPS titik awal jalur, arah jalur (Utara-Selatan) dan jarak antar jalur
digunakan untuk mencari titik koordinat semua plot contoh. Data koordinat
dikombinasikan dengan data fisiografi, tapak, tekstur tanah dan kondisi keberadaan
gangguan, jenis tanaman, umur tanaman dan perlakuan silvikultur untuk menghasilkan:
1. Peta fisiografi
2. Peta tapak
3. Peta tekstur tanah
4. Peta gangguan
5. Peta distribusi jenis dan kelas umur

Peta-peta ini menghasilkan hanya gambaran umum dari seluruh wilayah. Peta ini
nantinya akan dilengkapi dengan data dari inventarisasi yang lebih rinci.

B. Kondisi Tegakan

Informasi yang harus diperoleh dari data hutan tanaman, selain informasi umum,
adalah informasi tentang:
1. Peta kerapatan tegakan dan gangguan
2. Distribusi diameter
3. Diameter dan luas bidang dasar tegakan
4. Tinggi total dan tinggi bebas cabang
2009, No.110
5. Peninggi
6. Rasio diameter
7. Kestabilan tegakan
8. Distribusi volume
9. Berat Tegakan

10. Pertumbuhan volume pada berbagai kelas umur dan berbagai kualitas tapak.

Bagian berikut menjelaskan secara ringkas masing-masing butir di atas.

1. Peta Kerapatan Tegakan dan Gangguan

Untuk tegakan muda (< 4 tahun) kerapatan tegakan dinyatakan dalam bentuk jumlah
pohon per hektar dan jumlah luas bidang dasar (lbds) per hektar. Untuk pemetaan,
kerapatan dibagi menjadi 5 atau 6 kelas, dan peta menampilkan wilayah tanaman
berdasarkan kelas kerapatannya. Dalam masing-masing kelas juga ditampilkan
keberadaan gangguan pada tanaman. Untuk tegakan tua (> 4 tahun), kerapatan
tegakan dinyatakan dalam bentuk jumlah pohon per hektar, jumlah lbds (luas bidang
dasar) per hektar dan jumlah volume per hektar.

2. Distribusi Diameter

Distribusi diameter hanya dibuat ketika tanaman berumur 3 tahun atau lebih tua dan
dibuat untuk setiap kelas umur. Untuk jenis Acacia mangium, interval kelas diameter
sebesar 2 cm atau 2,5 cm akan mencukupi. Distribusi diameter digunakan untuk
penentuan perlakuan yang diberikan pada tegakan. Distribusi diameter menjadi
penting ketika jenis yang ditanam ditujukan untuk kayu pertukangan, karena dapat
menunjukkan besar proporsi kayu yang dapat diolah.

3. Diameter Tegakan

Diameter tegakan dihitung dari data diameter dan dihitung dengan:

n
d
d
d
d
n
g
...+
+
+
=

dimana:
dg
: diameter tegakan
d1 , d2, … , dn : adalah diameter pohon ke 1 sampai ke n
n
: jumlah pohon

Diameter tegakan ini adalah diameter yang harus digunakan ketika menghitung lbds
tegakan. Lbds tegakan dihitung dengan rumus:

Lbds = (0,25 × π × dg
2 × 0,0001) × jumlah pohon

2009, No.110
4. Tinggi Total dan Tinggi Bebas Cabang

Tinggi total (ttot) dan tinggi bebas cabang (tbc) dari tegakan diperoleh dari kurva tinggi
yang dibentuk untuk jenis tanaman yang bersangkutan, bukan dari pengukuran. Nilai
ttot dan tbc digunakan untuk menghitung persentase tajuk (persen dari panjang tajuk
terhadap tinggi total) sebagai indikator pertumbuhan dan kestabilan tegakan. Selain
itu, nilai tbc juga merupakan indikasi kualitas batang, dimana semakin tinggi nilai tbc
semakin baik kualitas batang.

5. Peninggi

Peninggi merupakan nilai yang digunakan untuk menggambarkan kualitas tapak (site
quality), khususnya pada tegakan yang pernah dijarangi. Definisi peninggi yang
digunakan bermacam-macam. Untuk kepraktisan, definisi peninggi yang digunakan
adalah tinggi total rataan dari 20% pohon terbesar dalam tegakan.

Seandainya dalam sebuah plot contoh, 20% pohon terbesarnya berjumlah 10 buah,
maka tinggi rataannya dihitung dengan:

...
...
d
d
d
h
d
h
d
h
d
t
+
+
+
×
×
×
=

dimana:
t
: peninggi (m)
d1 , … , d10 : diameter pohon terbesar 1, …, 10
h1 , … , h10 : tinggi total pohon 1, … , 10

Peninggi ini digunakan untuk menentukan nilai kualitas tapak pada tegakan hutan
tanaman, terutama yang telah mengalami penjarangan dalam masa hidupnya.

6. Rasio Diameter

Rasio diameter adalah nilai yang mempunyai dua kegunaan. Pada kelas umur muda
atau tegakan yang tidak dijarangi, nilai ini dapat digunakan sebagai indikator kualitas
tapak yang lebih mudah untuk digunakan dari pada peninggi. Semakin besar rasio
diameter (d0,5/d1,3), semakin baik kualitas tapak. Pada tegakan yang sudah dijarangi,
nilai ini menunjukkan besar kecilnya rendemen kayu olahan. Semakin besar nilai rasio
diameter ini semakin kecil rendemennya. Selain itu dapat pula digunakan sebagai
penduga kusen bentuk pohon (q), dimana q = d1.3/d0.5. Semakin besar nilai q, maka
pertumbuhan bentuk batang semakin baik.

7. Kestabilan Tegakan

Untuk menggambarkan kestabilan tegakan terhadap cuaca, khususnya angin yang
kencang, digunakan perbandingan tinggi total dan diameter atau ttot/d. Semakin tinggi
nilai ini semakin rentan tegakan tersebut terhadap terpaan angin, sebaliknya semakin
rendah nilai ini maka tegakan semakin kokoh.

2009, No.110

8. Distribusi Spasial Volume dan Volume Tebangan

Distribusi spasial volume digambarkan dengan peta kelas umur dimana dalam satu
kelas umur tercantum kelas volume yang tinggi dan yang rendah. Untuk memudahkan
penafsiran kelas volume dibuat paling banyak 5 atau 6 kelas berdasarkan volume
tertinggi dan terendah yang ada pada tegakan. Volume tebangan pada suatu petak
dengan kelas-kelas volume yang berbeda dapat diketahui dengan mengalikan volume
rataan per kelas dengan luas kelas yang bersangkutan.

9. Berat Tegakan

Berat tegakan diperoleh berdasarkan distribusi diameter (lihat butir 2 dalam bagian ini)
dan persamaan berat pohon. Hitung berat pohon berdiameter sama dengan nilai
tengah kelas dengan menggunakan persamaan berat pohon. Berat pohon segar setiap
kelas diameter dihitung dengan mengalikan nilai tengah kelas dengan dugaan berat
dan jumlah pohon per hektar. Penjumlahan berat setiap kelas diameter akan
menghasilkan dugaan berat tegakan per hektar.

10. Pertumbuhan Volume pada Berbagai Kelas Umur dan Kualitas Tapak

Pertumbuhan volume pada berbagai kelas umur dan kualitas tapak ini penting untuk
kegiatan monitoring dan evaluasi tegakan. Berbagai gejala yang menyimpang dari pola
pertumbuhan menunjukkan adanya gangguan terhadap tegakan. Pertumbuhan volume
di sini juga dapat digunakan untuk memprediksi volume tegakan di masa depan.

Pertumbuhan volume digambarkan dalam bentuk hubungan antara volume dengan
kelas umur dan pengukur kualitas tapak. Pengukur kualitas tapak bisa berupa
peninggi, jumlah lbds atau rasio diameter. Hubungan antar variabel-variabel ini
digambarkan dalam bentuk persamaan regresi berganda sebagai berikut:

V = b0 + b1G + b2H + b3GH

dimana:
V
: volume (m3 /ha)
G
: luas bidang dasar, lbds (m2/ha )
H
: pengukur kualitas tapak
b0 , b1 … : koefisien regresi

Nilai-nilai koefisien regresi dalam persamaan di atas dapat dicari dengan metode
analisis regresi.

C. Analisis Data Plot Contoh Berbentuk Tree Sampling

Jari-jari lingkaran (Rn) plot contoh tree sampling ditentukan berdasarkan jarak
pohon terjauh (pohon ke-n) dari titik pusat plot contoh (Dn) ditambah dengan setengah
diameter pohon terjauh (dn) dalam plot contoh tersebut (lihat Gambar 12).
2009, No.110
Rn = Dn + 0,5dn

Luas (Ln) plot contoh dalam hektar:

Ln= (π. Rn
2)/10.000

dimana :
Rn
: Jari-jari plot contoh n-tree sampling
Dn
: Jarak pohon ke-n (pohon terjauh dari n-tree sampling)
dn
: Diameter pohon ke-n

Volume pohon dalam plot contoh (Vp) dapat dihitung sebagai berikut:

Vp = V1 + V2 + ..... + 0,5 Vn (m3)

dimana :
Vp
: Volume pohon dalam plot contoh (m3)
Vi
: Volume pohon ke-i dalam plot contoh (m3)
i
: 1, 2, ... , n
n
: 4, 6 atau 8

Dalam pengukuran volume tegakan dengan plot contoh tree sampling ini akan
menghasilkan dua peubah (variable) pada setiap plot contoh, yaitu luas dan volume pohon
plot contoh. Dalam tree sampling, luas setiap plot contoh akan berbeda karena tergantung
pada jarak dan diameter pohon terjauh (pohon ke-n), sehingga peranan luas plot contoh
akan mempengaruhi pendugaan volumenya. Oleh karena itu dalam perhitungan volume
pohon dalam tegakan hutan, luas plot contoh harus diperhitungkan keragamannya.
Pendugaan volume tegakan hutan pada umumnya dilakukan dengan analisa pendugaan
rasio (ratio estimate analysis) atau dapat pula dengan analisa pendugaan regresi
(regression estimate analysis).

Plot contoh tree sampling ini tidak dianjurkan untuk digunakan pada hutan alam,
karena keadaan tegakan hutan alam sangat bervariasi, baik jenis maupun ukuran
pohonnya. Pada inventarisasi hutan tanaman, tree sampling ini dapat dikerjakan dengan
sederhana dan cepat, hanya saja dapat bersifat bias jika keadaan tegakannya
bergerombol (clustered stand) secara ekstrim.

Penduga rasio memberikan ketelitian yang lebih baik dibanding dengan random
sampling. Ketelitian penduga rasio akan lebih tinggi apabila ada hubungan yang erat
antara peubah Y (misal volume pohon dalam plot contoh) dengan peubah pengiring X
(misal luas plot contoh) dan kedua peubah membentuk hubungan linier melalui titik asal
(0,0).

2009, No.110

Gambar 28. Hubungan Linier Peubah X dengan Peubah Y Melalui Titik Asal
Untuk menganalisa penduga rasio, data hasil pengukuran disusun dalam bentuk
tabel sebagai berikut:

Tabel 11. Hasil Pengukuran dengan Menggunakan Plot ContohTree Sampling
No. Urut Plot
Contoh
Luas Plot Contoh; Ln
(xi ha)
Volume Pohon Plot Contoh; Vp
(yi m3)
x1
y1
x2
y2
x3
y3
..
..
..
..
..
..
..
..
..
..
..
..
m
xm
ym

1. Penduga Rasio ( Rˆ )

x
y
m
m
i
ix
m
m
i
iy
m
i
ix
m
i
iy
R
=



=
=

=

=
=
/
/
ˆ

dimana:
iy : nilai karakteristik yang diukur (misal volume pohon) pada plot contoh ke-i
2009, No.110
ix : nilai peubah pengiring (misal luas plot contoh) pada plot contoh ke-i
m : banyaknya plot contoh (i = 1, 2, 3,……., m)

2. Penduga Ragam bagi Penduga Rasio (
ˆR
S
)






+







=
xy
S
R
x
S
R
y
S
m
M
m
M
X
R
S
ˆ
ˆ
.
.
.
ˆ

dimana:
N
X
x
X
=
=
ˆ
(cara pendekatan)
y
S

= ragam dari karakteristik yang diukur (misal volume plot contoh)
x
S

= ragam dari peubah pengiring (misal luas plot contoh)
xy
S

= peragam antara peubah X (luas) dan Y (volume)
/








=

=


=
=
m
m
m
i
iy
m
i
ix
m
i
iy
ix
xy
S

3. Penduga Total Volume Tegakan ( R
Yˆ )
X
R
R
Y

ˆ
=

4. Penduga Ragam bagi Penduga Total Volume Tegakan (
ˆR
Y
S
)
ˆ
.
ˆ
R
S
X
R
Y
S
=

5. Penduga Selang bagi Penduga Rasio

(
)






±
ˆ
.
,
/
ˆ
R
S
db
t
R
α

6. Penduga Selang bagi Penduga Total Volume Tegakan

(
)








±
ˆ
.
,
/
ˆ
R
Y
S
db
t
R
Y
α

atau, dapat pula dihitung berdasarkan penduga selang bagi penduga rasio sebagai
berikut:
2009, No.110

(
)










±
ˆ
,
/
ˆ
R
S
db
t
R
X
α

7. Kesalahan Sampling (sampling error; SE) dalam Pengukuran

(
)
%
.
ˆ
ˆ
,
/
R
R
S
db
t
SE
α
=

D. Penyusunan Distribusi Diameter untuk Tree Sampling

Dalam tree sampling jumlah pohon yang diukur selalu tetap, tetapi jarak ke pohon
terluar dalam plot (pohon ke-6, pohon ke-8 atau pohon ke-10 terdekat) hampir selalu
berbeda. Hal ini berarti luas plot yang satu dengan yang lain berbeda. Bagian ini
menjelaskan bagaimana menyusun distribusi diameter (diagram N/ha - kelas diameter)
untuk desain penarikan contoh dimana luasan plotnya berbeda-beda.

Berikut ini dicantumkan data dari 5 buah plot contoh yang diperoleh dengan
metoda 6-contoh pohon (6-tree sampling). Pada setiap plot, pohon ke-6 terdekat selalu
yang dicari terlebih dahulu, maka data pohon ke-6 (yaitu jarak ke titik pusat plot dan
diameter pohon ke-6) di setiap plot selalu dicantumkan sebagai data awal. Sedangkan
data yang diukur dari ke-5 pohon yang lain hanya diameter.

Tabel 12. Hasil Pengukuran 5 Buah Plot Contoh dengan Metode 6-Tree Sampling
Nomor
Plot
Nomor
Pohon
Jarak(m)
Diameter(cm)
4,3

3,9

4,1

2009, No.110
Nomor
Plot
Nomor
Pohon
Jarak(m)
Diameter(cm)

4,3

Analisis Data
1. Tahap pertama untuk menganalisis data ini adalah menghitung luas plot. Jarak datar
yang harus diukur adalah jarak dari titik tengah plot ke batang pohon. Karena jarak
yang diukur di lapangan adalah jarak dari titik pusat ke perimeter pohon saja, maka
jarak tersebut harus ditambah dengan setengah diameter pohon. Jarak ini menjadi
radius dari plot lingkaran khayal yang berisi 5,5 pohon. Luas plot dihitung dengan
rumus sebagai berikut:
Luas

Nilai satuan diameter harus dikonversikan ke satuan meter, agar luas plot yang
diperoleh mempunyai satuan m2.

2. Tahap kedua adalah mencari banyaknya pohon per hektar (N/ha) untuk semua plot.
Nilai ini dihitung dengan rumus:

dimana N adalah jumlah pohon per hektar, luas plot dihitung dalam satuan m2 dan n
adalah jumlah pohon per plot.

3. Tahap ketiga adalah menghitung banyaknya jumlah pohon per hektar untuk setiap
individu pohon yang ada dalam plot (Nphn/ha). Untuk pohon ke-1 sampai ke-5, jumlah
masing-masing individu adalah 1 pohon, jadi jumlah tersebut dihitung dengan rumus:

Dengan demikian, Nphn/ha untuk pohon ke-1 sampai ke-5 dalam sebuah plot selalu
sama. Tetapi untuk pohon ke-6, jumlahnya hanya setengah. Jadi jumlah pohon ke-6
per hektar dihitung dengan rumus:

x n
x 1
Formatted: Font: Bold
Formatted: Font: Bold
2009, No.110

4. Tahap keempat adalah mengelompokkan setiap nilai diameter dalam sebuah plot ke
dalam kelas-kelas dan menghitung berapa jumlah pohon per hektar yang ada untuk
setiap kelas. Dalam satu kelas diameter, jumlah/ha dari semua pohon yang masuk
dalam kelas tersebut harus dijumlahkan. Sebagai contoh, pohon nomor 2 dan 3 dalam
plot 1 (keduanya berdiameter 12 cm, keduanya mempunyai jumlah pohon 167,83/ha)
masuk dalam kelas diameter 13 cm, maka jumlah pohon per hektar untuk kelas
diameter tersebut adalah 167,83 + 167,83 = 335,66 pohon. Hasil untuk semua plot
ditampilkan dalam Tabel 13 berikut.
Tabel 13. Hasil Pengolahan Data untuk Semua Plot Contoh (5 Plot Contoh)

Nomor
Plot
Nomor
Pohon
Jarak
(m)
Diameter
(cm)
Luas
(m2)
N/ha
Nphn/ha
Kelas
Diameter
4,3
59,58
923,07
83,92

59,58

167,83

59,58

167,83

59,58

167,83

59,58

167,83

59,58

167,83
3,9
49,39 1113,59
101,24

49,39

202,47

49,39

202,47

49,39

202,47

49,39

202,47

49,39

202,47
4,0
52,04 1056,88
96,08

52,04

192,16

52,04

192,16

52,04

192,16

52,04

192,16

52,04

192,16
4,1
54,11 1016,52
92,41

54,11

184,82

54,11

184,82

54,11

184,82

54,11

184,82

54,11

184,82
4,3
59,45
925,20
84,11

59,45

168,22

59,45

168,22

59,45

168,22

59,45

168,22

59,45

168,22
x 0,5
Formatted: Font: Bold
2009, No.110
5. Tahap terakhir adalah menyusun distribusi diameter untuk masing-masing plot
berdasarkan kelas-kelas diameter dan jumlah pohon yang ada di dalamnya. Karena
jumlah pohon yang dihitung sudah pada satuan yang sama (ha), maka jumlah pohon
yang akan digunakan untuk setiap kelas diameter adalah jumlah pohon rataan.
Mengingat bahwa jumlah plot sangat banyak, maka pengolahan data sebaiknya
menggunakan teknik Pivot Table dalam Excel .
Hasil dari analisis data dari Pivot Tabel dicantumkan pada Tabel 14 berikut:

Tabel 14. Hasil Pengolahan N/ha per Kelas Diameter untuk Semua Plot Contoh
Jumlah Nphn/ha
Kelas
Diameter
Plot 1
Plot 2
Plot 3
Plot 4
Plot 5
Total
83,9

277,2
420,5
781,7
335,7
506,2
576,5
554,5
168,2
2.141,0
335,7
404,9
480,4
184,8

1.405,8
167,8
202,5

336,4
706,7
Total
923,1
1.113,6
1.056,9
1.016,5
925,2
5.035,3

Dalam metode 6-contoh pohon tidak semua kelas diameter akan terwakili dalam
sebuah plot. Misalnya, plot 2 tidak mempunyai pohon di kelas 11, dan plot 3 tidak
mempunyai pohon di kelas 11 dan 17. Data tentang jumlah pohon bagi kelas-kelas
diameter yang kosong ini berasal dari plot lainnya. Dengan demikian dapat dipahami
bahwa jumlah contoh dalam metode tree sampling ini harus cukup banyak dan diambil
merata pada seluruh kawasan tegakan agar dapat memberikan informasi yang benar.

Nilai jumlah pohon untuk kelas diameter 11 (10 – 12,9 cm) untuk semua plot adalah
781,7 pohon. Nilai ini berasal dari 5 buah plot dimana satuan jumlah pohonnya sudah
dinyatakan dalam hektar, dengan demikian untuk kelas ini jumlah pohon per hektarnya
adalah 781,7 : 5 = 156,3 yang kemudian dibulatkan menjadi 156 pohon per hektar.

Distribusi diameter yang diperoleh dari contoh di atas dicantumkan dalam Tabel 15.

Tabel 15. Jumlah Pohon Total dan Jumlah Pohon per Hektar per Kelas Diameter

Kelas Diameter
Total Plot
N/ha
781,7
2.141,0
1.405,8
706,7
Jumlah
5.035,3
1.007

2009, No.110
VIII. PENGATURAN KELESTARIAN TEGAKAN HUTAN

Penataan Areal Kerja untuk mendapatkan blok tebangan menurut ruang dan waktu
ditetapkan berdasarkan perhitungan pendugaan Volume Tebangan Tahunan hutan alam
dengan memperhatikan efisiensi (asesibilitas, logistik, sebaran spasial dan sebagainya).

Dalam hal IUPHHK-HA masih memiliki tegakan hutan primer, maka tegakan hutan
tersebut ditebang lebih dahulu sesuai dengan etat luas dan volume yang ditetapkan.

Pada IUPHHK-HT yang masih memiliki hutan alam bekas tebangan (LOA), maka
pada LOA tersebut terlebih dahulu dilakukan deliniasi makro dan deliniasi mikro. Deliniasi
tersebut bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi LOA yang secara efektif dapat
dialokasikan untuk pembangunan hutan tanaman dengan menggunakan sistem silvikultur
Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB) dan non THPB.

2009, No.110
IX. PELAPORAN HASIL PELAKSANAAN IHMB

Kegiatan
lapangan
dalam
rangka
IHMB
yang
dilakukan
perlu
dipertanggungjawabkan dengan menyerahkan laporan lengkap berupa buku laporan dan
disampaikan kepada Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan dengan tembusan kepada
Direktur Jenderal Planologi Kehutanan, Kepala Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota yang
mengurusi Kehutanan. Hasil kegiatan IHMB pada tingkat unit pengelolaan hutan produksi
disajikan dalam buku laporan tersebut dan dilampirkan pula peta-peta hasil lapangan.
Sistematika laporan adalah sebagai berikut:

KATA PENGANTAR
SUSUNAN TIM
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Maksud dan Tujuan
C. Ruang Lingkup

II. METODOLOGI
A. Metode Penarikan Contoh
B. Pengumpulan Data
C. Pengolahan dan Analisis Data

III. KEADAAN UMUM WILAYAH
A. Letak, Luas dan Status Areal
B. Geologi dan Tanah
C. Iklim
D. Topografi
E. Aksessibilitas

IV. HASIL INVENTARISASI HUTAN
(UNTUK HUTAN ALAM)
A. Kondisi Penutupan Vegetasi
B. Pohon Contoh dan Alat Bantu IHMB
C. Distribusi Potensi Tegakan Hutan (Volume, Kualitas dan Jumlah Batang)
D. Informasi Keberadaan dan potensi pancang, tiang, pohon kecil dan pohon
besar
E. Kondisi Potensi Keseluruhan
(UNTUK HUTAN TANAMAN)
A. Kerapatan Tegakan dan Gangguan
B. Pohon Contoh dan Alat Bantu IHMB
C. Distribusi Diameter
D. Diameter dan Luas Bidang Dasar Tegakan
2009, No.110
E. Tinggi Total dan Tinggi Bebas Cabang
F. Peninggi
G. Rasio Diameter
H. Kestabilan Tegakan
I. Distribusi Volume
J. Berat Tegakan
K. Pertumbuhan Volume pada Berbagai Kelas Umur dan Kualitas Tapak

V. PEMBAHASAN
A. Kondisi Fisik Areal Hutan
B. Alat Bantu IHMB
C. Keadaan Tegakan Hutan

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

LAMPIRAN-LAMPIRAN
A. Peta-Peta
B. Sedian (Standing Stock) Tegakan Hutan Setiap Petak (Kompartemen)
C. Sedian (Standing Stock) Tegakan Hutan Seluruh Areal IUPHHK
D. Daftar Data Lapangan Rinci tentang Jalur
D. Daftar Data Lapangan Rinci Plot-Plot Contoh

2009, No.110
X. EVALUASI HASIL IHMB

1. Kegiatan evaluasi hasil pelaksanaan IHMB dilakukan oleh Tim Wasganis PHPL Canhut
dengan prosedur administrasinya dijelaskan dalam Bab II (Butir 2.3. dan Butir
2.5).

2. Pelaksanaan evaluasi dilaksanakan paling lambat 6 bulan setelah pelaporan hasil
IHMB diterima Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan, agar tanda-tanda di
lapangan masih terlihat jelas.

3. Metode evaluasi secara garis besar adalah sebagai berikut:
a. Mereview dokumen Rencana Kegiatan IHMB beserta kelengkapannya.
b. Mempelajari dokumen Laporan Hasil IHMB dari pemegang IUPHHK.
c. Membandingkan rencana IHMB dan hasil pelaporannya.

4. Ketentuan dalam pelaksanaan evaluasi lapangan adalah sebagai berikut:
a. Apabila hasil evaluasi pelaksanaan IHMB oleh Tim Wasganis PHPL Canhut
menyimpulkan bahwa antara rencana, pelaksanaan lapangan dan laporan hasil
IHMB telah sesuai, maka evaluasi lapangan terhadap hasil IHMB tidak diperlukan.
b. Apabila hasil evaluasi pelaksanaan IHMB oleh Tim Wasganis PHPL Canhut perlu
evaluasi lebih lanjut, berdasarkan hasil penilaian sebagaimana dalam butir 4.a.
tersebut di atas, maka pemegang IUPHHK yang bersangkutan diwajibkan
mempresentasikan hasil IHMB yang telah dilaksanakannya kepada Tim Wasganis
PHPL Canhut.
c. Apabila hasil penilaian Tim Wasganis PHPL Canhut dalam presentasi yang dimaksud
dalam butir 4.b. tersebut di atas menyimpulkan bahwa hasil IHMB kurang sesuai
dengan rencananya, maka akan dilakukan evaluasi lapangan oleh Tim Wasganis
PHPL Canhut.
d. Kegiatan evaluasi lapangan oleh Tim Wasganis PHPL Canhut bertujuan untuk
membandingkan laporan hasil pelaksanaan IHMB dengan pelaksanaan IHMB di
lapangan melalui observasi/pengukuran di lapangan sesuai ketentuan yang berlaku.

5. Kegiatan lapangan Tim Wasganis PHPL Canhut dalam melakukan evaluasi di hutan
alam maupun di hutan tanaman meliputi:
a. Menentukan secara acak sekurang-kurangnya 5 jalur evaluasi yang akan diambil
sebagai sampel berdasarkan Peta Rencana IHMB. Pada masing-masing jalur
evaluasi, ditentukan sebanyak-banyaknya 2 plot contoh evaluasi dari semua plot
contoh yang ada. Dengan demikian dalam suatu Unit Manajemen atau IUPHHK
sekurang-kurangnya terdapat 10 (sepuluh) buah plot contoh yang dievaluasi oleh
Tim Wasganis PHPL Canhut.
b. Menyiapkan data semua plot contoh evaluasi. Data ini dapat diambil dari Lampiran
Laporan Hasil IHMB.
c. Mengunjungi jalur-jalur evaluasi yang sudah ditetapkan dan pada setiap jalur
evaluasi Tim Wasganis PHPL Canhut:
1) Mengukur kordinat GPS titik ikat;
2) Mengikuti jalan masuk dari titik ikat ke jalur ukur dan mencatat kesesuaiannya.
2009, No.110
d. Mengunjungi plot-plot contoh evaluasi yang telah dipilih dalam setiap jalur ukur.
Untuk hutan alam, pada plot contoh evaluasi dilakukan:
1) Pencatatan keberadaan/kesesuaian patok tanda plot contoh dan gundukan
tanah serta penomoran jalur dan plot contoh.
2) Membuat sub-plot untuk tiang, pohon kecil dan pohon besar sesuai dengan
Pedoman IHMB, kemudian mengukur diameter semua tiang, semua pohon kecil
dan semua pohon besar beserta nama jenis pohonnya. Pembuatan sub-plot,
pengukuran diameter dan penentuan jenis dilakukan oleh tim perusahaan yang
menyertai Tim Wasganis PHPL Canhut ke lapangan.
3) Mencatat kebenaran posisi plot contoh yang kedua (jika dalam jalur evaluasi
terdapat lebih dari satu plot contoh evaluasi), yang ditentukan berdasarkan arah
(Utara-Selatan) dan jarak dari plot contoh pertama.
e. Untuk hutan tanaman, dilakukan pengukuran diameter d1,3 dan d0,5 pada semua
pohon yang berada dalam plot contoh evaluasi, selain mencatat keberadaan patok
tanda plot contoh, gundukan tanah dan penomoran jalur dan plot contohnya. Selain
itu dicatat pula kebenaran posisi plot contoh evaluasi berikutnya pada setiap jalur
evaluasi (arah dan jaraknya) dari plot contoh evaluasi pertama (jika dalam jalur
evaluasi terdapat lebih dari satu plot contoh evaluasi).

6. Masukan hasil observasi terhadap prosedur kerja dalam sebuah tabel isian. Contoh
tabel isian berikut berisi hasil observasi pada 2 buah plot contoh evaluasi di jalur 11.

Tabel 16. Contoh Hasil Observasi Prosedur Kerja pada Plot Contoh Evaluasi
No.
Jalur
Evaluasi
No. Plot
Contoh
Evaluasi
Prosedur Kerja yang
Dievaluasi
Benar
/Salah
Ket.
Pengukuran koordinat GPS titik ikat

Pengukuran jalan masuk

Pembuatan patok

Pembuatan gundukan tanah

Penomoran plot pada patok

Pemasangan label pada pohon

Posisi plot evaluasi

Tanda patok jalur pd perpotongan jalur & jalan

Pengukuran koordinat titik ikat

Pengukuran jalan masuk

Pembuatan patok

Pembuatan gundukan tanah

Penomoran plot pada patok

Pemasangan label pada pohon

Posisi plot evaluasi

Tanda patok jalur pada perpotongan jalur
dengan jalan

Koordinat GPS titik ikat dikatakan benar apabila jarak antar titik pada Laporan Hasil
IHMB dengan jarak antar titik yang sama hasil evaluasi kurang dari 40 m. Prosedur
kerja dikatakan benar apabila prosedur yang ditentukan pada jalur-jalur evaluasi
2009, No.110
dipatuhi (benar) sampai 80% atau lebih. Untuk nilai persentase dalam pengambilan
keputusan, digunakan uji-t.

7. Hasil pengukuran diameter pada tingkat tiang, pohon kecil dan pohon besar serta
penentuan jenis pohon dimasukan dalam sebuah tabel isian. Contoh tabel isian berikut
berisi hasil observasi 3 buah pohon tingkat tiang pada jalur 7 dan plot contoh 2.

Tabel 17. Contoh Hasil Observasi Pengukuran Diameter dan Jenis Pohon
No.
Jalur
No. Plot
Contoh
Tingkat
Diameter
Evaluasi
Diameter
Inventarisasi
Jenis Pohon
Evaluasi
Jenis Pohon
Inventarisasi
Tiang
Meranti
Meranti

Ulin
Ulin

Kapur
Kapur

Tabel evaluasi untuk hutan tanaman, berisi kolom Nomor Jalur, Nomor Plot Contoh,
Diameter Evaluasi dan Diameter Inventarisasi saja.

Pengukuran diameter dikatakan benar apabila perbedaan nilai diameter antara
inventarisasi dan evaluasi ± 2,0 cm. Untuk pengujian hipotesis bahwa beda
pengukuran sama dengan 2,0 cm, digunakan uji t-berpasangan (paired t-test) dua
arah dengan tingkat kepercayaan 95%.

Jenis pohon dikatakan sesuai (benar) apabila nilai perbedaan jenis untuk pohon yang
sama 10% atau lebih kecil. Uji proporsi yang digunakan menggunakan uji satu arah.

8. Tim Wasganis PHPL Canhut mengambil keputusan hasil evaluasi berdasarkan penilaian
pada hasil observasi terhadap prosedur kerja, hasil pengukuran diameter dan
kebenaran identifikasi jenis pohon.

9. Tim Wasganis PHPL Canhut memberikan pertimbangan berdasarkan hasil pelaksanaan
evaluasi kepada pengelola Unit Manajemen atau pemegang IUPHHK paling lambat 30
hari sejak kegiatan evaluasi selesai dilaksanakan, sebagai dasar penyusunan
RKUPHHK sepuluh tahunan.

MENTERI KEHUTANAN
REPUBLIK INDONESIA,

H. M.S. KABAN