Pedoman
Teknis
Budidaya
Nilam
Yang
Baik
(Good
Agricultural
Practices/GAP on Patchouli) sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini.
Peraturan Menteri Nomor 138-permentan-ot-140-12-2014 Tahun 2014 tentang PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA NILAM YANG BAIK (GOOD AGRICULTURAL PRACTICES/GAP ON PATCHOULI)
Pasal 1
Pasal 2
Pedoman
Teknis
Budidaya
Nilam
Yang
Baik
(Good
Agricultural
Practices/GAP on Patchouli) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 sebagai
acuan dalam melaksanakan budidaya nilam yang baik dan benar.
Pasal 3
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
2014, No.1966
Agar
setiap
orang
mengetahuinya,
memerintahkan
pengundangan
Peraturan
Menteri
ini
dengan
penempatannya
dalam
Berita
Negara
Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 22 Desember 2014
MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA,
AMRAN SULAIMAN
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 24 Desember 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
YASONNA H. LAOLY
2014, No.1966
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR
: 138/Permentan/OT.140/12/2014
TANGGAL : 22 Desember 2014
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA NILAM YANG BAIK
(GOOD AGRICULTURAL PRACTICES/GAP ON PATCHOULI)
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman
yang menghasilkan minyak atsiri (essential oil). Di dalam dunia
perdagangan internasional minyak nilam sering disebut Patchouli
Oil. Indonesia merupakan negara produsen utama minyak nilam
dunia, menguasai berkisar 90% pasar dunia. Pada tahun 2013,
berkisar 85% ekspor minyak atsiri Indonesia didominasi oleh
minyak nilam dengan volume 1.057 ton/tahun. Beberapa tujuan
negara ekspor minyak nilam Indonesia diantaranya Singapura
(37,17%), Amerika Serikat (17,92%), Spanyol (16,45%), Perancis
(8,85%), Switzerland (6,93%), Inggris (4,42%), dan negara lainnya
(8,26%).
Nilam
merupakan
tanaman
tradisional
yang
telah
lama
dibudidayakan
oleh
petani
di
Pulau
Sumatera
yaitu:
Aceh,
Langkat,
Sidikalang,
Dairi
(Sumatera
Utara),
Pasaman
Barat
(Sumatera Barat), dan di beberapa daerah di Pulau Jawa. Minyak
nilam digunakan sebagai bahan campuran pembuatan kosmetik,
farmasi,
dan
aroma
terapi
yang
berfungsi
sebagai
zat
pengikat/fixative agent dan farmasi.
Dengan berkembangnya berbagai industri kosmetika, wewangian,
farmasi dan kebutuhan dasar industri lainnya mendorong semakin
meningkatnya kebutuhan minyak nilam baik di dalam negeri
maupun
di
luar
negeri.
Minyak
nilam
merupakan
komoditas
ekspor yang peluangnya sangat besar yang dimiliki Indonesia. Oleh
sebab itu pengelolaan nilam dan minyak nilam harus dilaksanakan
secara profesional dan berkelanjutan.
Penerapan teknik budidaya nilam yang baik dan benar (Good
Agriculture Practices/GAP on nilam) merupakan hasil rangkaian
2014, No.1966
beberapa paket teknologi (Standard Operational Procedure/SOP)
nilam.
Penerapan teknik budidaya yang baik harus dilakukan dari mulai
persiapan
lahan,
konservasi
tanah
dan
air,
pengelolaan
hara
tanaman, penggunaan bahan tanaman yang baik, pemeliharaan
tanaman, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sampai
penanganan panen. Hambatan utama yang terjadi pada penerapan
GAP
nilam,
yaitu
merubah
kebiasaan
petani
yang
membudidayakan nilam pada sistem perladangan yang berpindah-
pindah,
terutama
di
luar
Jawa,
dan
kurang
berwawasan
lingkungan. Pengembangan perkebunan dengan menerapkan GAP
dapat berhasil apabila teknologi yang direkomendasikan tepat
guna, berwawasan lingkungan dan berkesinambungan serta dapat
diterima oleh masyarakat.
GAP nilam ini merupakan pedoman bagi pelaku usaha nilam yang
difokuskan
pada
kegiatan
yang
dapat
memperbaiki
dan
meningkatkan
produksi,
produktivitas,
kualitas
minyak
yang
dihasilkan
dan
pengelolaan
lingkungan.
Pedoman
ini
disusun
dengan memperhatikan perkembangan teknologi dan kebutuhan
masyarakat saat ini.
1.2. Maksud dan Tujuan
Peraturan ini dimaksudkan sebagai panduan bagi petani, petugas
lapangan
dan
pemangku
kepentingan
lainnya
dalam
melaksanakan kegiatan budidaya tanaman nilam, dengan tujuan
untuk:
1. Memperbaiki teknis budidaya nilam;
2. Meningkatkan produksi dan produktivitas nilam;
3. Meningkatkan mutu minyak nilam.
1.3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pedoman ini meliputi:
1. Bahan Tanaman Nilam.
2. Pengelolaan Lahan.
3. Penanaman.
4. Pemeliharaan Tanaman.
5. Panen.
2014, No.1966
1.4. Pengertian
Dalam Pedoman ini yang dimaksud dengan:
1. Benih
tanaman
yang
selanjutnya
disebut
benih,
adalah
tanaman
atau
bagiannya
yang
digunakan
untuk
memperbanyak dan/atau mengembangbiakkan tanaman.
2. Varietas adalah bagian dari suatu jenis yang ditandai oleh
bentuk tanaman, pertumbuhan, daun, bunga, buah, biji, dan
sifat-sifat lain yang dapat dibedakan dalam jenis yang sama.
3. Setek Pucuk adalah teknik memperbanyak tanaman dengan
cara vegetatif dengan memakai bagian pucuk tanaman.
4. Setek Batang adalah teknik memperbanyak tanaman dengan
cara vegetatif dengan memakai bagian batang tanaman.
5. Kultur Jaringan adalah cara perbanyakan tanaman secara
vegetatif dengan cara mengisolasi bagian dari suatu tanaman,
seperti sel atau jaringan dan menumbuhkannya pada media
buatan dalam kondisi yang aseptik, sehingga bagian tanaman
tersebut dapat beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap.
6. Persemaian
adalah
suatu
tempat
yang
digunakan
untuk
menyemaikan benih suatu jenis tanaman dengan perlakuan
dan perawatan selama jangka waktu tertentu, sehingga akan
dihasilkan
benih
yang
berkualitas
baik,
yang
memenuhi
persyaratan umur, ukuran dan pertumbuhan yang cukup baik
dan siap untuk ditanam di lapangan.
7. Pola Tanam Monokultur adalah pola tanam dengan menanam
tanaman yang sejenis dalam satu bidang lahan.
8. Pola Tanam Polikultur adalah pola tanam dengan banyak jenis
tanaman pada satu bidang lahan yang tersusun dan terencana
dengan menerapkan aspek lingkungan yang lebih baik sehingga
kestabilan ekosistem lebih terjamin.
9. Pergiliran
Tanaman
(Rotasi
Tanaman)
adalah
penanaman
beberapa tanaman secara bergulir pada satu areal lahan yang
sama dan pada waktu yang berbeda.
10.Organisme
Pengganggu
Tumbuhan
(OPT)
adalah
semua
organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau
menyebabkan kematian tumbuhan.
11.Panen
adalah
proses
pemetikan/pemotongan/pemungutan
batang dan daun nilam.
II.
14,
BA
2.1
No
AHA
1 Su
Pr
fa
(b
n
ya
Pe
Pu
in
su
pe
pe
Pe
ag
op
Pe
Pa
h
(B
ke
se
.19
AN T
um
rod
akto
beni
ilam
ang
erb
ucu
ndu
um
eng
erlu
emi
grok
ptim
erta
atch
asil
Bali
etah
esu
TAN
mber
dukt
or. S
ih)
m. D
g tep
any
uk,
uk y
ber
gelo
u di
ilih
klim
mal
ania
hou
l
p
ittro
han
uai p
NAM
r Be
tivit
Sal
ka
Dal
pat
yak
Se
yang
r be
olaa
ieva
an
mat
l.
V
an
ulin
pene
o) y
nan
pera
MAN
enih
tas
ah
aren
am
de
kan
etek
g se
enih
an k
alua
Va
t ag
Var
yai
na 1
eliti
yang
n te
atu
N NI
h
nil
sat
na s
m me
nga
ni
k B
eha
h d
keb
asi
ariet
gar
ieta
itu
1, d
ian
g di
rha
uran
ILA
lam
tu fa
san
eny
an m
lam
Bata
at, b
dapa
bun
set
tas
m
as
Va
dan
B
ida
adap
n pe
A
M
m d
fakt
ngat
yiap
mem
m d
ang
beb
at b
ya
iap
nil
end
nila
ariet
n Pa
Bala
sar
p p
erun
A
an
tor y
t b
pkan
mpe
dilak
, s
bas
bert
ang
2 t
lam
dap
am
tas
atch
ai
P
rkan
peny
nda
mu
yan
erp
n B
erh
kuk
erta
dar
tah
op
tahu
m d
atk
ya
Sid
hou
Pen
n at
yak
ang
utu
ng s
peng
Beni
atik
kan
a K
ri h
an
tim
un.
ises
kan
ang
dik
ulin
elit
tas
kit l
g-un
u m
sang
garu
ih N
kan
n se
Kult
ham
leb
mal.
.
sua
pr
g
t
ala
na 2
tian
pe
ayu
nda
miny
gat
uh
Nila
n pe
ecar
tur
ma d
bih
Ol
aika
rodu
elah
ng,
2. V
n
T
rtu
u ba
nga
yak
pen
pa
am d
ersy
ra
Ja
dan
dar
eh
an d
uks
h
d
Lh
Vari
Tana
mb
akt
an.
dit
ntin
ada
dipe
yara
veg
arin
n pe
ri 2
kar
den
si d
dile
hok
ieta
ama
buha
eri
tent
ng y
ke
erlu
atan
geta
ngan
enya
2 ta
ren
ngan
dan
epas
seu
as t
an
an,
den
C
B
tuk
yait
eber
uka
n pe
atif
n y
aki
ahu
na i
n k
m
s
o
uma
ters
Re
pr
nga
C
B
kan
tu b
rhas
an te
erse
ya
yan
t. P
un,
itu,
kond
utu
oleh
awe
sebu
emp
odu
an h
ole
baha
sila
ekn
ema
itu
g b
Pada
jika
su
disi
u m
h
K
e, T
ut b
pah
uksi
has
eh
an
an b
nis b
aian
da
bera
a u
a d
umb
i la
miny
Kem
Tapa
ber
h
d
i, m
sil p
beb
tan
bud
bud
nny
ari
asa
umu
dilak
ber
ahan
yak
men
ak
rasa
dan
mut
peng
bera
nam
dida
dida
ya.
Se
al d
umn
kuk
ben
n d
k ya
nter
Tu
al d
Ob
tu d
guj
apa
man
aya
aya
tek
dari
nya
kan
nih
dan
ang
rian
an,
dari
bat
dan
ian
a
n
a
a
k
i
a
n
h
n
g
n
i
t
n
n
2014, No.1966
2.2 Kualitas dan Standar Mutu Benih
Keunggulan Varietas ditentukan oleh produksi, kadar minyak dan
mutu minyak yang dihasilkan, serta ketahanan terhadap cekaman
biotik dan abiotik. Untuk memperoleh benih yang berkualitas
diperlukan pemilihan dan perlakuan benih selama dipersemaian
baik di bedengan atau di dalam polibeg.
Persyaratan yang harus diperhatikan dalam menentukan benih
yaitu sebagai berikut:
a. Asal Varietas diketahui secara pasti dan merupakan Varietas
murni atau tidak bercampur;
b. Benih berasal dari tanaman induk yang sehat, bebas dari hama
dan penyakit;
c. Tanaman induk berumur 5–6 bulan pada Panen pertama dan 4
bulan setelah Panen pertama;
d. Produktivitas pohon induk tinggi, 36–40 ton/ha/th (terna basah)
atau 9–10 ton/ha/th (terna kering);
e. Setek
mempunyai
diameter
0,8–1,0
cm,
tidak
bengkok,
mempunyai 3–4 buku;
f. Setek benih sepanjang 20–30 cm dan mempunyai 3–4 ruas;
g. Pemotongan
setek
dilakukan
pada
pagi
hari
dan
cara
memotongnya meruncing tepat di bawah buku;
h. Dari 1 (satu) tanaman induk dapat diperoleh sekitar 40–60 setek
(benih).
2.3 Persemaian Benih Nilam
Untuk mendapatkan Benih Nilam yang baik dianjurkan untuk
melakukan
Persemaian
terlebih
dahulu
dengan
tujuan
untuk
menghindari
kematian
setek
dan
menumbuhkan
perakaran.
Persemaian dapat dilakukan dengan cara di dalam polibeg atau di
bedengan.
a. Persemaian di polibeg
Persemaian di dalam polibeg lebih efisien karena lebih hemat
dalam penggunaan pupuk dan tempat serta pemeliharaannya
lebih mudah. Persemaian di polibeg dapat mengurangi tingkat
kematian benih pada saat pemindahan ke lapang.
2014, No
C
Gam
Sum
.19
Cara
Ba
da
Ba
Ba
Me
ka
Uk
un
Po
se
Se
bu
(uk
un
be
Pe
da
sa
Se
ke
Se
se
jum
mba
mber
a Pe
aha
aun
aha
atan
edia
anda
kur
ntuk
olibe
min
etek
uku
kur
ntuk
erta
eme
aun
amp
elam
elap
elata
ting
mla
ar 2.
r: Bal
erse
an ta
ya
an t
ng y
a
y
ang
an
k m
eg
ngg
k di
u ke
ran
k
hap
eliha
, pe
pai m
ma
pa/a
an,
ggi
ah b
Per
par
littro
ema
ana
ang
tan
yan
yan
g de
pol
meng
dii
u;
itan
emu
di
me
p sa
araa
eng
min
di
alan
ba
ben
sem
ranet
o
aian
ama
g tu
nam
ng m
ng
enga
libe
ghi
isi
nam
udi
ises
nja
amp
an
gam
nggu
P
ng-a
agia
0 cm
nih (
maian
t
n di
an b
ua
man
mem
dig
an
eg:
nda
m
m k
an
sua
aga
pai
m
mata
u k
Pers
alan
an
m. P
(pol
n nil
i po
beru
dib
da
mpu
guna
per
ari g
medi
ke d
dit
aika
ke
min
melip
an d
een
sem
ng
sisi
Pan
libe
am
olibe
upa
buan
apa
unya
aka
rban
x
gen
ia
dala
tutu
an
elem
ngg
puti
dan
nam
maia
ata
i Ti
njan
eg) y
di b
eg y
a Se
ng,
t ju
ai 3
an
ndin
nang
seb
am
up
den
mba
gu k
i
p
n pe
m (si
an
au
imu
ng d
yan
awa
yait
etek
di
uga
3–4
yai
nga
cm
gan
ban
po
de
nga
apa
keem
peny
eng
iap
pol
par
ur s
dan
ng d
ah ru
tu s
k P
isisa
a b
bu
itu
an:
m, g
n ai
nyak
olibe
enga
n k
an.
mpa
yira
gend
tan
libe
ran
seti
n leb
disia
umah
seba
ucu
aka
beru
uku,
ca
2:
gun
r;
k
eg
an
keb
Se
at;
ama
dali
nam
eg
et.
ingg
bar
apk
h at
agai
uk y
an
upa
, da
amp
1;
naka
¾
pad
su
butu
elan
an,
ian
m);
dib
Na
gi 1
na
kan
ap d
i be
yan
1–2
se
aun
pur
an
ba
da
ngk
uha
njut
pe
ha
beri
aun
aun
(Ga
deng
erik
ng m
2 p
etek
n pa
an
pol
agia
pos
kup
an)
tny
eny
ama
i
n
ngan
0 cm
gan
amb
gan s
kut:
mem
pasa
k c
ada
ta
libe
an,
sisi
p p
se
ya
yian
a/pe
nau
n d
m d
n di
bar
sung
mpu
ang
aba
bu
anah
eg y
bi
teg
plast
elam
sun
ngan
eny
unga
dibu
dan
ises
r 2);
gkup
uny
g da
ang
ku
h
d
yang
iark
gak
tik
ma
ngk
n,
yaki
an
uat
n ba
suai
;
p pla
yai 3
aun
g da
dib
dan
g b
kan
k se
tra
+2
kup
pem
it d
da
ara
agia
ikan
astik
3–4
n p
an
bua
n
p
berlu
s
eda
ans
2 m
p
d
mup
dilak
ari
ah
an
n d
k dan
4buk
pucu
Se
ang;
pup
uba
sela
alam
spar
ming
dibu
puk
kuk
da
Uta
Ba
deng
n
ku,
uk.
etek
puk
ang
ama
m 2
ran
ggu
uka
kan
kan
aun
ara
arat
gan
,
k
k
g
a
n
u
a
n
n
n
a
t
n
b
Be
me
pa
Ju
po
. P
C
b
enih
emp
asan
uml
olibe
Pers
Cara
berik
Lu
ya
Un
gu
m
di
Be
te
Be
be
M
ka
m
Se
ja
su
h s
pun
ng (
ah
eg d
sem
a m
kut
uas
ang
ntu
ulm
menj
lak
ede
rga
ede
eden
edi
and
mera
etek
rak
ung
siap
nya
(Ga
be
dan
maia
mem
t:
Pe
ak
uk
ma,
adi
kuka
nga
antu
nga
nga
a
dang
ata;
k di
k 10
gkup
p d
i ak
mb
nih
n 2.0
an d
mpe
erse
an
me
tan
i
r
an
an d
ung
an
an u
Pe
g d
itan
0x1
p p
G
Su
ipin
kar
bar 3
h ya
di be
ersia
ema
dita
eng
nah
rem
+3
dib
g ko
tida
untu
erse
deng
nam
0 c
plas
Gamb
umb
nda
cu
3);
ang
0 po
ede
apk
aian
ana
gem
h di
mah.
min
uat
ondi
ak
uk
ema
gan
m p
cm
stik
bar 3
er: B
ahka
ukup
g di
olib
enga
kan
n ya
am
mbu
iola
.
P
ngg
t se
isi l
bo
pem
aian
n p
pada
sed
k tr
3. B
Balitt
an
p, t
ibut
beg u
an:
Pe
ang
ata
urka
ah d
Pen
gu s
eleb
lapa
leh
mbu
n
y
erb
a b
dala
ran
enih
ro
ke
tun
tuh
unt
erse
dip
au t
an
den
ncan
sebe
bar
ang
te
uan
yait
band
ede
am
nspa
h nila
e la
as
hkan
tuk
ema
per
erg
ta
ngan
ngk
elum
gan
erge
ngan
tu
ding
enga
aran
am s
apan
sud
n d
k ca
aian
luk
gant
anah
n c
kula
m w
0 c
ata
enan
n a
ca
gan
an
buk
n (
siap
ng
dah
dala
dan
n d
kan
tun
h
cara
an
wak
cm,
au k
ng,
ir s
amp
n
den
ku
(uku
dipi
pa
h tu
am
nga
di b
sek
g k
dan
a d
ata
ktu t
tin
keb
dib
seleb
pur
2 :
nga
kem
ura
inda
ada
mb
n/s
bed
kita
ebu
n
ican
au
tan
nggi
utu
bua
bar
ran
an p
mud
an
hkan
um
buh
ha
sula
eng
ar 2
utuh
me
ngk
pe
nam
i 30
uha
at p
r 30
t
:
pos
dia
dis
n ke
mur
da
seb
ama
gan
2%
han
emb
kul
eng
m;
0 cm
an;
par
0–40
tana
1 y
isi
an d
sesu
e lap
r 4
an b
ban
an.
ya
dar
n;
bers
sa
gola
m d
rit d
0 cm
ah:p
yan
mir
ditu
uaik
pang
14,
4–6
berd
nyak
aitu
ri lu
sihk
amp
ahan
dan
di s
m;
pas
ng d
ring
utup
kan
, No
m
dau
k 2
u se
uas
kan
pai
n
n pa
sek
sir:p
dica
g d
p d
n d
o.19
ing
un 3
20.0
eba
s ar
n
d
tan
tan
anja
kelil
pup
amp
deng
deng
deng
ggu,
3–4
agai
real
dari
nah
nah
ang
ling
puk
pur
gan
gan
gan
,
i
l
i
h
h
g
g
k
r
n
n
n
2014, No.1966
kebutuhan) selama ±2 minggu untuk menjaga kelembapan.
Selanjutnya
sungkup
dibuka
bertahap
sampai
minggu
keempat;
Pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, pemupukan
daun,
pengamatan
dan
pengendalian
hama/penyakit
dilakukan sampai minggu keenam (siap tanam);
Bedengan diberi naungan berupa atap dari daun alang-alang,
daun kelapa (sesuai ketersediaan di lapang), paranet, atau di
bawah tegakan dengan intensitas sekitar 50% (Gambar 4);
Benih siap dipindahkan ke lapang pada umur 4–6 minggu,
mempunyai akar cukup, tunas sudah tumbuh dan berdaun
3–4 pasang.
III. PENGELOLAAN LAHAN
3.1Kesesuaian Lahan
Budidaya nilam sebaiknya dilakukan di tempat yang memenuhi
persyaratan agroklimat bagi pertumbuhan nilam sehingga nilam
dapat
tumbuh
dengan
baik,
input
lebih
rendah
dan
dapat
berproduksi tinggi. Tidak semua tipe lahan sesuai untuk nilam.
Potensi lahan untuk pengembangan nilam dapat ditentukan jika
data mengenai keadaan tanah dan iklim (agroklimat) tersedia.
Gambar 4. Persemaian nilam langsung pada
tanah di bawah tegakan
Sumber: Balittro
2014, No.1966
Persyaratan agroklimat yang dibutuhkan oleh nilam seperti pada
Tabel 1.
Tabel 1. Tingkat Kesesuaian Lahan Untuk Nilam
Parameter
Tingkat kesesuaian
Sangat
sesuai
(S1)
Sesuai
(S2)
Kurang
sesuai
(S3)
Tidak
sesuai (NS)
Ketinggian
(m,dpl.)
Tanah
1.Jenis tanah
2.Drainase
3.Tekstur
4.Kedalaman air
(cm)
5.pH
6.C-organik (%)
7.P205 (ppm)
8.K20 (me/100g)
9.KTK
(me/100g)
100–400
Andosol,
latosol
Baik
Lempung
100
5,5–7
2–3
16–25
1,0
17
0–700
Regosol,
podsolik
Baik
Liat
berpasir
75–100
5–5,5
3–5
10–15
0.6–1,0
5–16
700
Lainny
a
Agak
baik
Lainny
a
50–75
4,5–5
<1
25
0,2–0,4
700
Lainnya
Terhambat
Pasir
< 50
<4,5
-
-
-
-
2014, No.1966
<5
Iklim
1. Curah hujan
(mm/th)
2. Hari Hujan/th
3. Bulan basah/
tahun
4. Kelembaban
udara (%)
5. Temperatur
0C
6. Intensitas
cahaya
2.300–
3.000
190–200
10–11
80–90
22–23
75–100
1.750–
2.300/
3000–
3.500
170–180
9–10
70–80
24–25
-
1.200–
1.750/
3500
<100
<9
<60
25
-
<1.200/
3.500
-
< 8
< 50
-
-
3.2Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan merupakan serangkaian kegiatan pengolahan
tanah sampai siap tanam. Penyiapan lahan untuk penanaman
baru tergantung pada kondisi lahannya. Untuk penanaman baru,
lahan
bekas
hutan
sekunder,
persiapan
lahan
harus
memperhatikan kelestarian lingkungan.
Lahan siap tanam jika bersih dari bebatuan, gulma dan sisa
tanaman, lahan gembur dan telah dilakukan pemupukan organik,
IV. PE
Pe
pe
cu
cu
4.
be
la
ya
Pe
pe
ENA
ena
ena
urah
uku
.1Pe
ede
ahan
ang
ersi
ersi
Pe
ke
pa
se
Pe
de
Bi
(dr
me
Be
pa
Ja
Pe
tan
Pu
tan
tan
ANA
anam
anam
h h
up t
ena
enga
n, j
g dia
iap
iap
engo
edal
anja
lam
enga
enga
la l
rain
eng
eden
anja
arak
emb
nam
upu
nam
nam
AMA
man
man
huja
ting
ana
an
jara
anju
an
an
olah
lam
angn
ma 2
apu
an t
laha
nas
gant
nga
angn
k an
buat
m d
uk o
m
s
m.
AN
n s
n n
an
ggi.
ma
tel
ak t
urk
la
Per
han
man
nya
2 m
uran
tak
an
e) s
tisip
an d
nya
ntar
tan
deng
orga
seb
eba
nilam
ku
an
lah
tana
kan
ahan
rsem
n la
m
a s
ming
n di
ara
mu
sele
pas
dib
a di
r be
n lu
gan
anik
bany
aikn
m d
uran
Ga
te
am
.
n
d
mai
aha
mini
eki
ggu,
iber
an 1
udah
ebar
si pe
uat
ises
eden
uban
n uk
k (p
yak
nya
dibu
ng
amba
erta
da
dila
ian.
an d
ima
tar
, ke
rika
1–2
h te
r 30
eny
t se
suai
nga
ng
kura
pupu
k
dil
utuh
ma
ar 5
Sum
ata
an lu
aku
. Ta
dim
al
emu
an a
ton
erge
0–4
yeba
etin
ika
an d
tan
an 3
uk
–2
laku
hka
aka
. Sal
mber
rap
uba
kan
ahap
mula
0–3
udia
apa
n ka
ena
0 c
aran
nggi
n d
dibu
nam
kan
kg
uka
an c
ak
lura
r: Ba
pi
ang
n
s
pan
ai 1
cm
an d
abila
apta
ang
m,
n p
i 20
deng
uat
m di
x 3
nda
g/lu
an p
cur
kan
n dr
alittro
yan
g tan
seb
n-ta
1–2
m.
cm
diol
a ta
an/
air
dal
peny
0–3
gan
sel
ilak
0 x
ang
uba
pad
rah
m
raina
o
ng
nam
elu
aha
bu
Ni
. S
lah
ana
/ha
r dib
lam
yak
30 c
n ko
leba
kuk
x 30
, ko
ang
da a
huj
meng
ase p
dis
m te
m
pan
ulan
ilam
Sete
kem
hny
a;
bua
m 50
kit;
cm,
ond
ar 4
kan
0 cm
omp
pa
awa
jan
gala
pada
sesu
elah
ata
n pe
n s
m
elah
mb
ya b
at s
0 cm
, le
disi
40–
m;
pos
ada
al m
n ya
ami
a per
uaik
h se
au
ersi
sebe
ber
h it
ali;
bers
salu
m, u
ebar
lah
min
) di
1–
mus
ang
re
rtana
kan
esu
be
iapa
elu
raka
tu
sifa
uran
unt
r 1
han
cm
ngg
iber
–2
sim
rel
esik
ama
n d
uai d
ersa
an l
m
ar
lah
at m
n pe
tuk
–1,
n at
;
gu s
rika
mi
hu
atif
ko k
an ni
eng
den
ama
laha
tan
ser
han
masa
emb
me
5m
au
sebe
an p
ingg
ujan
f tin
kem
ilam
14,
gan
ngan
aan
an
nam
rab
di
am
bua
enc
m se
keb
elu
pad
gu
n. P
nggi
mat
, No
n k
n u
d
yai
m s
but
idia
(pH
ang
ega
eda
but
m w
da lu
se
Pad
i, a
ian
o.19
kond
kur
deng
tu:
am
ya
amk
H<5
gan
ah d
ngk
tuh
wak
uba
belu
a s
apab
n ya
disi
ran
gan
mpai
ang
kan
5,5)
air
dan
kan
an.
ktu
ang
um
aat
bila
ang
i
n
n
i
g
n
)
r
n
n
u
g
m
t
a
g
2014, No.1966
Penanaman sebaiknya dilakukan dengan cara tidak langsung,
melalui proses bertahap dari Persemaian benih di polibeg atau di
bedengan yang kemudian dipindahkan ke lapangan. Benih yang
ditanam di setiap lubang tanam yaitu benih yang telah berakar
dan telah mempunyai daun sebanyak 2–4 helai. Benih tersebut
ditanam sedalam +15 cm. Padatkan tanah disekitar benih agar
tanaman kokoh. Untuk 1 lubang tanam hanya ditanam 1 benih
yang telah memenuhi persyaratan tanam.
a. Waktu Tanam
Waktu tanam yang tepat yaitu awal musim hujan karena nilam
peka terhadap kekeringan. Agar proses adaptasi tanaman tidak
mengalami hambatan sebaiknya penanaman benih ke lapang
dilakukan pada pagi atau sore hari.
b. Jarak Tanam
b.1 Monokultur
Jarak tanam bervariasi, dan disesuaikan dengan kondisi
lahan;
Pada lahan datar, jarak antar barisan di dalam bedengan
90–100 cm. Jarak tanam di dalam barisan yaitu 50–100
cm, sedangkan pada lahan yang kurang subur jarak tanam
lebih rapat;
Jarak tanam di dalam barisan pada lahan yang agak
miring (150) lebih rapat, 40–50 cm (arah baris sesuai
kontur tanah);
Pada
lahan
yang
subur
(banyak
humus)
jarak
tanam
sebaiknya 100 x 100 cm, karena pada umur 5–6 bulan,
kanopi sudah bertemu.
b.2 Polikultur
Nilam dapat ditumpang sarikan dengan berbagai jenis
tanaman
(tanaman
semusim
dan
tanaman
tahunan).
Untuk
tumpang
sari
dengan
tanaman
tahunan,
jarak
tanam
antar
barisan
disesuaikan
dengan
lahan
yang
terbuka. Untuk tumpang sari dengan tanaman semusim
non perkebunan disesuaikan dengan jarak tanam nilam
dalam barisan.
4.2. P
P
p
b
s
a
b
Pola
Pen
poli
bud
say
a.
P
in
V
p
p
b.
P
ra
p
c
ta
k
k
b
ta
a
c
a Ta
nana
iku
dida
yura
Pol
Pena
nten
Vari
peny
pem
Pol
Pena
aky
pola
cropp
ana
kaca
kela
baw
ana
akan
aha
ana
am
ltur
aya
an a
la T
ana
nsif
ieta
yak
mupu
la T
ana
yat
a ta
ppin
ama
ang
apa
ah
ama
n b
aya
am
an
r,
lo
atau
Tana
ama
f,
as
kit,
uka
Tana
ama
den
anam
ng),
an
g-ka
saw
teg
an
berp
m
ni
bai
oron
u ta
am
an
la
un
car
an d
am
an
nga
m
bu
sem
acan
wit,
gak
tah
prod
min
Gam
Sum
ilam
ik
ng
ana
Mo
pol
han
nggu
ra d
dise
Pol
sec
n lu
cam
udi
mu
nga
ka
kan
hun
duk
imu
mbar
mber:
m
d
sec
den
ama
onok
la
n m
ul,
dan
esu
liku
cara
uas
mpu
iday
sim
an m
akao
ta
nan
ksi
um
r 6. P
Bali
dap
cara
nga
an la
kul
mo
mau
p
n wa
aik
ultu
a
p
san
uran
ya
m,
mau
o, j
anam
ya
de
Pena
ittro
pat
a
t
an
ain
ltur
onok
upu
pem
aktu
kan
ur
poli
yan
n (
lor
tan
upu
ati,
man
ang
enga
75%
anam
di
tum
tan
nya
r
kult
un
mupu
u P
den
ikul
ng
(mix
ron
nam
un
pa
n t
ma
an
%.
man
ilak
mpan
nam
a.
tur
ikl
uka
Pane
nga
ltur
sem
x c
ng
man
tan
ala
tahu
asih
bai
Jar
kuk
ngs
man
m
im
an,
en
an ti
r
d
mpit
ropp
(al
p
nam
dan
una
h b
ik
rak
an
sari
pe
mem
ya
p
yan
ing
diter
t. P
pin
ley
alaw
man
n ka
an,
beru
bila
d
se
,
t
erk
merl
ang
peng
ng t
kat
rap
Pola
ng),
cr
wija
n ta
aret
se
umu
a m
dan
ecar
um
ebu
uka
se
gen
tepa
ke
kan
a Ta
tum
ropp
a
s
ahu
t. B
ebai
ur
men
w
ra
mpan
una
an
esua
ndal
at.
esub
n
p
anam
mpa
ping
sep
una
Bila
ikny
mu
ndap
wak
mo
ng
an,
sis
ai,
lian
Jar
bur
pad
m P
ang
ng),
erti
an s
a nil
ya
uda
pat
ktu
ono
gil
bu
stem
me
n
rak
an
da
Poli
g sa
ba
i:
j
sep
lam
dit
ka
kan
ta
14,
okul
lir
uah
m
b
eng
ham
k ta
lah
per
ikul
ari
aik
jagu
pert
m di
tana
aren
n in
ana
, No
ltur
ma
-bu
bud
ggun
ma
anam
han
rtan
ltur
(m
d
ung
i k
itan
am
na
nte
am
o.19
r
d
aup
uah
dida
nak
d
m d
.
nam
r ya
multi
deng
g
d
kela
nam
pa
nil
ensi
se
dan
pun
an,
aya
kan
dan
dan
man
aitu
iple
gan
dan
apa,
m di
ada
am
itas
erta
n
n
a
n
n
n
n
u
e
n
n
i
a
m
s
a
2014, No
c
G
S
.19
p
ta
D
d
s
P
d
m
p
fl
s
c.
P
m
y
p
P
s
la
m
k
Gam
Sumb
pem
ahu
Dala
dipe
alin
Pola
dapa
men
peny
lukt
atu
Per
Perg
mem
yang
peny
Perg
etel
ain
men
kem
Ga
Su
mbar
ber:
mupu
una
am
erha
ng m
a po
at
ngur
yak
tua
uan
rgili
gilir
mpe
g b
yak
gilir
lah
sep
ngur
mbal
amba
mber
8. B
Balit
uka
an h
pe
atik
mer
oliku
me
ran
kit,
asi
lua
iran
an
erta
bers
kit.
an
pe
per
ras
li.
ar 7.
r: Ba
Budi
ttro
an
haru
ene
kan
rug
ultu
nek
ngi r
pem
har
as d
n Ta
Ta
han
sifat
T
ena
rti p
u
. Tum
alittro
idaya
an
us d
entu
ke
gika
ur m
kan
resi
man
rga
dan
ana
ana
nka
t a
Tana
anam
pala
unsu
mpa
o
a lor
ntar
dipe
uan
ses
an d
mem
n bi
iko
nfaa
a da
n wa
ama
ama
an k
auto
ama
man
awij
ur
ang s
rong
a
n
erh
n
je
suai
dan
mili
iaya
keg
ata
an
aktu
an (
an
kesu
otok
an/
n n
ja d
ha
sari n
nila
nila
itun
enis
ian
n tid
iki
a o
gag
n l
me
u.
Rot
un
ubu
ksik
/Ro
nila
dan
ara.
nilam
am d
am
ngk
s
t
lin
dak
beb
oper
gala
aha
enin
tasi
tuk
uran
k,
otas
m
n ka
S
m de
deng
da
kan
tan
ngku
k se
bera
rasi
an P
an
ngk
i Ta
k
n
n ta
ser
si
sela
aca
Sete
enga
an t
an
de
nam
ung
bag
apa
iona
Pane
leb
katk
anam
nilam
ana
rta
Tan
am
ang-
elah
an ka
anam
tan
nga
man
gan
gai
a ke
al
en
ih
kan
man
m
ah,
me
nam
a 2
-kac
h
it
acan
man
nam
an c
se
da
ina
eleb
(pe
aki
efis
n p
n)
san
me
emu
man
2 ta
can
tu
ng k
n tah
man
cerm
ela
an l
ang
biha
mel
bat
sien
rod
nga
engh
utus
n,
ahu
ngan
nil
kedel
huna
n
s
mat
ya
laha
ha
an,
liha
t se
n, m
duk
at
d
hin
s s
sa
un,
n y
lam
lai d
an (ja
sem
t.
ang
an
ama
dia
araa
eran
men
ktivi
dip
ndar
sikl
anga
de
yang
m
d
dan j
ati d
usim
g
te
seh
a da
anta
an)
ngan
ngur
tas
erlu
ri ef
us
at
nga
g ti
dapa
agun
dan p
im
tepa
hing
an p
aran
da
n h
ran
s la
uka
fek
ha
di
an
idak
at
ng
pala)
ma
at,
gga
pen
nya
an
ham
ngi
aha
an,
ale
ama
anj
tan
k b
dit
)
aup
pe
a tid
nyak
a ya
dap
ma d
res
n p
gu
elop
a d
urk
nam
bany
tan
pun
erlu
dak
kit.
aitu
pat
dan
siko
per
una
pati
dan
kan
man
yak
am
n
u
k
u
t
n
o
r
a
i
n
n
n
k
m
2014, No.1966
V.
PEMELIHARAAN TANAMAN
Pemeliharaan tanaman di lapang meliputi penyulaman, penyiraman,
penyiangan,
pemupukan,
pengamatan
dan
pengendalian
hama/penyakit.
5.1Penyulaman
Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati atau
yang kurang baik pertumbuhannya agar diperoleh pertumbuhan
tanaman
yang
merata.
Penyulaman
dilakukan
pada
waktu
tanaman telah berumur 2–4 minggu.
5.2Penyiraman
Pada masa pertumbuhan awal dan setelah Panen (1–2 bulan),
nilam
sangat
membutuhkan
air
yang
cukup.
Pemberian
air
disesuaikan dengan umur tanaman.
5.3Penyiangan
Nilam memiliki akar serabut, kemampuan daya serap akarnya
dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Penyiangan dilakukan
apabila gulma sudah tumbuh mengganggu. Penyerapan unsur
hara lebih optimal bila disekitar perakaran nilam bebas dari
gulma.
Selain itu, penyiangan dilakukan untuk mencegah tumbuhnya
gulma yang menjadi inang hama atau penyakit nilam. Penyiangan
dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran.
5.4Pembumbunan
Pembumbunan bertujuan untuk memperkokoh tegaknya nilam,
memperbanyak
tunas
baru
dan
perakaran
sehingga
tanaman
dapat tumbuh lebih baik. Pembumbunan dilakukan pada umur 3
bulan dan setelah Panen dengan menimbun setinggi 10–15 cm,
agar cabang-cabang yang tertimbun mengeluarkan tunas baru.
5.5Pemberian Mulsa
Pemberian mulsa dimaksudkan untuk menjaga kelembapan dan
kesuburan
tanah
serta
menghambat
pertumbuhan
gulma.
Pemberian mulsa dilakukan pada awal tanam dan setiap habis
Panen
terutama
pada
musim
kemarau.
Mulsa
yang
dapat
digunakan yaitu mulsa semak belukar atau alang-alang. Mulsa
semak belukar lebih baik dibandingkan alang-alang karena lebih
cepat mengalami pelapukan.
5.6Pemupukan
2014, No.1966
Salah
satu
aspek
yang
penting
untuk
pertumbuhan
dan
peningkatan produktivitas nilam yaitu pemupukan. Pemupukan
harus memenuhi persyaratan yaitu: tepat waktu, tepat cara, dan
tepat dosis. Apabila ketiga syarat ini tidak ditepati maka produksi
akan kurang optimal. Pemupukan dilakukan sebelum penanaman,
masa
pertumbuhan
dan
setelah
Panen.
Penggunaan
pupuk
anorganik
yang
berlebihan
dalam
waktu
yang
lama
dapat
menyebabkan tanah padat, sehingga
harus
diimbangi dengan
pemberian pupuk organik.
Pupuk
organik
yang
digunakan
dalam
budidaya
nilam
yaitu
kotoran hewan, pupuk organik limbah tanaman, pupuk hijau, dan
kompos.
Pupuk
organik
yang
bermutu
mempunyai
ciri
tidak
berbau menyengat, remah, tidak membawa gulma dan hama
penyakit.
Pupuk dasar yang berupa pupuk kandang diberikan sekitar 10–20
ton/ha yang diberikan pada waktu sebelum tanam. Pupuk organik
susulan
setiap
setelah
Panen
diberikan
bersamaan
dengan
pembumbunan di sekeliling tanaman di bawah kanopi. Sedangkan
pupuk
anorganik
diberikan
dengan
cara
ditugal
di
sekeliling
tanaman kemudian ditimbun dengan tanah.
Pupuk
anorganik
yang
diberikan
yaitu
Urea,
SP36,
dan
KCl
ataupun pupuk majemuk.
Dalam menentukan dosis pupuk untuk nilam ada beberapa hal
yang harus diperhatikan, yaitu tanah (jenis, tingkat kesuburan),
kondisi iklim (curah hujan), dan umur tanaman. Waktu, jenis dan
dosis pupuk yang dianjurkan selama tanaman dilapang dapat
dilihat pada Tabel 2.
2014, No.1966
Tabel 2. Waktu, Jenis dan Dosis Pupuk Anjuran untuk Nilam
Selama di Pertanaman
No
.
Umur
Tanam
an
(bulan)
Pemupukan
Jenis dan Dosis per Ha (kg)
Ke
Waktu
Kandang
U
r
e
a
S
P
-
Da
sar
1-2
minggu
sebelu
m
tanam
20 000
-
-
-
Setelah
panen 1
Setelah
panen 2
20 000
Setelah
panen 3
-
Setelah
panen 4
-
-
Jumlah
40 000
5.7Pengenalan dan Pengendalian Hama, Penyakit dan Gulma
a. Pengenalan dan Pengendalian Gulma
Gulma
yang sering ditemui di
lahan nilam yaitu Genjoran
(Digitaria ciliaris), Lempuyangan (Panicum repens), Rumput Pahit
(Axonopus compresus), dan Alang-alang (Imperata cylindrica).
2014, No.1966
Kerugian yang ditimbulkan gulma secara umum yaitu:
Menurunkan kuantitas dan kualitas produksi (hasil panen);
Mengeluarkan zat racun bagi tanaman pokok;
Sebagai
inang
perantara
bagi
perkembangan
hama
dan
penyakit.
Pengendalian gulma pada nilam dapat dilakukan secara mekanis
dengan
dikoret
atau
dicabut.
Pengendalian
gulma
dengan
menggunakan
bahan
kimia
(herbisida)
akan
merusak
lingkungan oleh karena itu pengendalian gulma yang paling
tepat
yaitu
secara
mekanis
yang
dilakukan
dengan
cara
penyiangan. Namun cara ini memerlukan banyak tenaga dan
waktu.
b. Pengenalan dan Pengendalian Hama
Hama yang banyak menyerang nilam sebagai berikut:
Ulat Pemakan dan Penggulung Daun (Sylepta sp.)
Morfologi
Telur berwarna bening di permukaan atas daun menjadi
coklat muda menjelang menetas, umur telur 3–4 hari. Ulat
yang
baru
menetas
transparan
setelah
makan
daun
berwarna hijau. Ulat menjadi kepompong setelah 19–22
hari, panjang tubuhnya +9 mm. Periode kepompong 5–7
hari. Ngengat berwarna abu-abu coklat keemasan dengan
garis
berwarna
abu-abu
muda
melintang
pada
kedua
sayapnya. Serangga dewasa dapat hidup 7–8 hari. Dua hari
setelah
menjadi
ngengat
lalu
kawin
dan
selanjutnya
meletakkan telur di atas permukaan daun.
Gejala serangan
Ulat kecil menyerang lapisan epidermis daun sehingga daun
terlihat
transparan,
serangan
selanjutnya
pucuk
daun
menggulung dan berlubang-lubang. Jika daun habis ulat
akan menyerang batang muda sehingga kerusakan tanaman
semakin besar.
Pengendalian
Lakukan
pengamatan
rutin
pada
tanaman
untuk
mengetahui keberadaan dan gejala serangan hama ini. Jaga
kebersihan kebun. Jika ditemukan ulat dan gejala serangan
a
t
P
e
M
P
t
p
d
Bel
Ada
yai
(Ac
ber
M
B
y
h
t
b
k
b
d
d
b
n
d
S
m
b
d
s
awa
tran
Peng
ekst
Meta
Peng
teru
pem
dau
lala
a 2
tu:
crida
rsem
Mor
Bela
yang
hidu
tubu
berc
kem
berw
dala
diisi
berw
nim
dan
Sela
mau
berw
dipe
sete
A
al,
nspa
gen
trak
arh
gen
utam
maka
un a
ang
2 (d
be
atu
mbu
rfolo
alan
g p
upn
uhn
cak
mera
war
am
i
d
war
mfa-n
m
anju
upu
war
elih
elah
seg
ara
ndal
k M
hiziu
ndal
ma
aian
akib
dua
elala
urita
uny
ogi
ng
poli
nya
nya
ter
aha
rna
tan
deng
rna
nim
men
utny
un p
rna
ara
h 5–
G
gera
an) d
lian
Mimb
um
lian
bi
n p
bat
) je
ang
a).
yi di
kay
ifag
te
a ya
rang
an a
me
nah
gan
ku
mfa
ncap
ya,
pola
gel
a di
–7,5
Gam
a d
dipe
n
d
bam
ani
n da
ila
pes
ada
enis
g ka
Bia
i ke
yu
g, m
erdi
aitu
g pa
ata
erah
h 2–
n
m
unin
ini
pai
n
any
lap
i lab
5 b
mbar
S
dibu
etik
dap
mim
isop
apa
ser
stisi
any
s b
ayu
asan
erim
(Va
men
iri
u ab
ada
au u
h p
–3
mas
ng
i m
p
nimf
ya,
sam
bor
bula
9. N
S
Sumb
unu
k lal
pat
mba
plia
at ju
ran
ida
ya re
elal
u (V
nya
mbu
Vala
nyer
ata
bu-
a fem
ung
ada
kel
sa
keh
meng
pun
fa-n
keb
mp
rato
an.
Ngen
Sylep
ber: B
uh,
lu d
dil
a ata
e da
uga
ngan
ka
esid
lang
Vala
a be
una
nga
ran
as
-abu
mu
gu,
a pa
om
bu
hija
gha
cak
nim
ban
ai h
oriu
Pe
ngat
pta (
Balitt
B
da
dibu
laku
au
an
a di
n
t
aren
du p
g y
anga
elal
an ta
a n
ng b
telu
u k
ur b
se
ang
pok
usa
aua
abis
k
p
mfa
nyak
hita
um
erke
(A),
(C)
tro
B
an
uan
uka
den
Bea
lak
terli
na
pes
yang
a n
lang
ana
nigri
berb
ur,
keco
elak
edan
gkal
k p
ya
n d
kan
poh
be
kan
am
di d
emb
ulat
dau
ng.
an
nga
ave
kuka
iha
ak
stisi
g b
nigri
g a
ama
icor
bag
ni
oke
kan
ng
lnya
ada
ang
den
n d
hon
erva
n ab
kec
dala
ban
t (B)
un
de
n a
euria
an
at
s
kan
ida.
bias
icor
akti
an.
rnis
gai
imf
elata
ng,
per
a. T
a k
m
ngan
daun
d
aria
bu-a
cok
am
ngan
dan
ya
enga
agen
a ba
den
sud
m
sany
rnis
f p
s) m
jen
fa,
an
tibi
rmu
Telu
eda
meng
n b
n y
dala
si
abu
kelat
tan
n d
geja
C
ang
an
nsia
ass
nga
dah
menu
ya
s) d
pada
mer
nis
da
me
ia b
uka
ur-t
alam
ger
berc
yang
am
ba
u d
tan
nah
di la
ala s
te
pe
a ha
sian
n p
be
uru
me
an
a s
rupa
tan
an
emp
bela
aan
telu
man
ras.
cak
g s
w
aik
an
n. T
h le
apa
seran
rse
estis
ayat
na.
pest
erat
unka
enye
bel
sian
aka
nam
ima
pun
akan
sa
ur d
n 5
N
-be
eda
akt
da
ku
elu
mb
ang
ngan
14,
eran
sida
ati c
tisid
at.
an
eran
lala
ng
an
man
ago
nyai
ng b
ayap
dilet
–8
Nimf
rca
ang
tu
alam
unin
ur-te
bap
da
n
, No
ng
a
n
cend
da k
Ha
ku
ng
ang
har
ser
n. S
o.
W
i be
berw
p b
takk
cm
fa
ak h
tu
m
w
ng,
elur
me
ari
o.19
(da
nab
daw
kim
ati-h
uali
nil
da
ri d
rang
Sik
War
erca
war
baw
kan
m ya
mu
hita
umb
ha
war
ser
r ya
ene
nim
aun
bati
wan
mia,
hati
itas
am
aun
dan
gga
klus
rna
ak-
rna
wah
n di
ang
uda
am;
buh
ari.
rna
ring
ang
etas
mfa
n
i
n
i
s
m
n
n
a
s
a
-
a
h
i
g
a
h
a
g
g
s
a
2014, No.1966
y
s
G
B
g
m
P
U
m
n
P
b
m
P
m
P
d
yang
seki
Geja
Bela
gigit
men
Peng
Untu
men
nila
Peng
baw
men
Peng
mus
Peny
dap
g b
itar
ala
alan
tan
nyer
gen
uk
nan
m.
gola
wah
ngh
gen
suh
yem
at e
baru
r 80
ser
ng m
m
ran
ndal
m
nam
aha
k
am
ndal
h
mpr
efek
G
S
u m
0 ha
rang
men
mel
ng b
lian
menc
m ta
an t
ke
mbat
lian
ala
rota
ktif
Gamb
Sumb
Ga
Su
men
ari.
gan
nye
ling
bagi
n
ceg
anam
tana
ata
t pe
n da
ami
an d
me
bar
ber: B
amba
mber
neta
n
eran
gkar
ian
gah
man
ah
as
enet
apa
y
dila
engi
11. B
Balitt
ar 10
r: Ba
as
ng d
r
bat
pe
n p
den
seh
tasa
at ju
yait
kuk
infe
Bela
tro
0. Be
alittro
sam
dar
ber
tang
elet
pen
nga
hing
an t
uga
u
kan
eksi
alang
elala
o
mpa
ri te
rben
g d
taka
nutu
an c
gga
telu
a d
ja
n pa
i tu
g Ac
ang
ai
epi
ntu
an
an
up
cara
a
k
ur b
ilak
mu
ada
buh
rida
Vala
ima
dau
uk
cab
te
tan
a m
ken
bela
kuk
ur
pa
h be
turr
anga
ago
un
lon
ban
elur
nah
em
a
alan
kan
Me
agi d
elal
rita
a nig
be
ke
njon
g ta
b
di
bali
sin
ng.
de
etar
dan
lang
ricor
ersa
ten
ng.
ana
bela
se
lik l
nar
enga
rrhi
n so
g.
rnis
aya
nga
B
ama
alan
ekita
lapi
m
an
iziu
ore h
ap b
ah d
Bela
an.
ng,
ar p
isan
mata
me
um
har
ber
dau
alan
di
per
n ta
ahar
ema
an
ri ag
rlan
un,
ng
anj
rtan
ana
ri
anfa
niso
gar
ngsu
bek
ju
urk
nam
ah d
dap
aatk
opli
spo
ung
kas
uga
kan
man
dari
pat
kan
iae.
ora
g
s
a
n
n
i
t
n
a
c. Pe
Ni
Pe
pe
T
M
T
b
d
s
s
h
G
H
d
k
t
P
B
m
u
u
t
p
m
p
enge
lam
enya
enge
Pe
Tung
Mor
Tun
bagi
deng
stad
sera
hari
35–7
Geja
Ham
deng
kepu
ting
Peng
Bila
mek
untu
ubi
tung
peta
mem
pred
ena
m le
akit
end
eny
gau
rfolo
ngau
ian
gan
dia
angg
i. S
ala
ma
gan
utih
gkat
gen
a po
kan
uk
kay
gau
ani.
man
dato
alan
bih
t-pe
dalia
yaki
u M
ogi
u m
b
n ce
nim
ga d
Sera
but
ser
tun
n m
h-p
t se
ndal
opu
is
me
yu
u m
P
nfaa
or C
n da
h se
eny
ann
it La
era
mer
awa
epa
mfa
dew
angg
tir.
rang
ngau
men
utih
ran
lian
ulasi
den
enc
dan
mera
Pen
atka
Coc
an P
ring
aki
nya
ayu
ah (
rah
ah.
at p
a b
was
ga
gan
u m
nghi
han
ngan
n
i ha
ngan
cega
n k
ah
gen
an
ccine
Pen
g m
t
seb
u Ba
Ga
tu
Su
Tet
hi
P
pada
erla
a 2
dew
n
mer
isap
n,
n b
ama
n c
ah
kete
sek
ndal
ser
elid
gen
mend
pe
bag
akte
amb
ungau
umbe
ran
idu
Popu
a m
ang
46–
was
ah
p ca
ber
era
a re
cara
me
ela
kali
lian
rang
d.
ndal
dap
ntin
gai b
eri
ar 1
u
er: Ba
nych
up
ulas
mus
gsun
–29
sa d
me
aira
rlek
at m
end
a p
lua
poh
igus
n
s
gga
lian
pat
ng
beri
2. N
alittr
hus
ber
si
sim
ng
96 h
dap
enye
an
kuk
maka
dah
pem
asny
hon
s d
sec
a mu
n Pe
gan
y
iku
Nimfa
ro
sp
rkel
ham
ke
sel
hari
pat
era
dau
k-lek
a d
, pe
metik
ya
n da
dapa
ara
usu
eny
nggu
yang
t:
a dan
.)
lom
ma
ema
am
i, da
me
ng
un,
kuk
aun
eng
kan
ser
apa
at m
a
h
uh
yaki
uan
g
n se
mpok
in
arau
ma 4
an m
ngh
dau
se
k
t
n m
gend
n d
rang
at m
men
hay
ala
it
n pe
me
rang
k d
ni
b
u. U
46–
ma
hasi
un
ehin
tida
meng
dali
an
gan
men
ning
ati
mi
eny
eny
gga d
di p
bia
Umu
–60
sa p
ilka
mu
ngg
ak
geri
ian
pe
n h
neka
gka
di
yan
yaki
yera
dewa
per
san
ur
ha
pra
an
uda
a d
ter
ing
dil
ema
ham
an
atka
ilak
ng
it d
ang
asa
mu
nya
telu
ari,
a pe
telu
da
dau
ratu
dan
laku
angk
a.
pop
an
kuk
pot
ari
n
14,
ukaa
m
ur
da
enel
ur s
an d
un b
ur,
n ro
uka
kas
Pen
pula
pen
kan
tens
pad
nila
, No
an
meni
3–4
an
lura
seb
dau
berw
a
ont
an s
san
nan
asi
nda
d
sial
da h
am
o.19
da
ingk
4 ha
sta
an 1
any
un t
war
apab
tok.
seca
da
nam
ha
apat
deng
l ya
ham
d
aun
kat
ari,
adia
1–2
yak
tua
rna
bila
ara
aun
man
ama
tan
gan
aitu
ma.
dan
n
t
,
a
k
a
a
a
a
n
n
a
n
n
u
n
2014, No.1966
Pen
ini
tela
air
ling
kur
selu
set
G
-
-
-
-
-
-
nyeb
tim
ah t
hu
gku
ran
uru
elah
Geja
K
ca
m
te
Pa
pa
la
Pa
se
Pa
m
Ja
m
Ir
hi
B
se
be
bab
mbu
terk
ujan
unga
ng
b
uh l
h p
ala
elay
aba
meng
erin
ada
ada
ayu
ada
etel
ada
ming
arin
mem
risan
itam
ila
eper
ersi
bny
ul k
kon
n, p
an
baik
loka
ena
ser
yua
ang
gala
nfek
a sa
a pe
dan
a ta
ah
a ta
ggu
nga
mbu
n m
m s
ca
rti
ih.
Gam
b) S
S
a y
kare
ntam
perg
lem
k,
asi
ana
rang
an
ke
ami
ksi;
aat
erke
n m
anam
terl
anam
set
n
suk
meli
sep
aban
su
mbar
Seran
b
yait
ena
min
gera
mba
ak
keb
ama
gan
ter
ca
i
k
be
emb
mati
man
liha
ma
tela
bat
k se
inta
anj
ng
usu,
r 13
ngan
li
u b
ter
nasi
akan
ab,
an
bun
an n
n
rjad
aban
kela
ersa
ban
i;
n b
at g
an b
ah g
tan
edan
ang
jang
ya
, b
. Ge
n ber
i
bak
rba
i. Pe
n p
cu
m
n. S
nilam
di
p
ng
ayua
ama
ngan
eru
geja
beru
geja
g
ng
g ba
g ja
ang
egit
ejala
rat, c
kter
awa
eny
peke
urah
em
Sera
m y
pad
sec
an
aan
n le
umu
ala s
umu
ala t
dan
kul
atan
arin
la
tu
a pen
c) Ta
i R
ole
yeba
erja
h h
mper
ang
yan
da
cara
da
ad
ebih
ur 1
sera
ur
terl
n
a
lit a
ng t
nga
ayu
pu
nyak
anam
Rals
eh b
ara
a da
huja
rcep
gan
ng k
tan
a ti
alam
da c
h la
1–3
ang
4–5
iha
aka
akar
ters
an y
di
la
kit la
man
ston
ben
n d
an a
an t
pat
pe
kedu
nam
idak
m
cab
anju
bu
gan;
5 b
at;
ar
r se
sera
yan
ipot
bila
ayu b
mat
nia
nih
dala
alat
ting
pe
nya
ua k
man
k t
wa
bang
ut s
ulan
;
bula
tan
eku
ang
ng l
tong
a d
bakt
ti
sol
dar
am
t-al
ggi
enye
akit
kali
m
era
aktu
g ya
selu
n ke
an k
nam
nde
me
layu
g
a
dire
eri a
ana
ri k
lok
at p
da
eba
t m
inya
mud
atur
u
yang
uruh
ema
kem
man
erny
emp
u s
aka
enda
a) Se
acea
kebu
kasi
per
n d
aran
menj
a.
da
r). T
2–5
g la
h b
atia
mat
n
y
ya
perl
sam
an
am
erang
aru
un
me
tan
drai
n
p
adi
dan
Tan
h
ayu
agia
n te
ian
yang
men
liha
mpai
tam
di
gan a
um.
ind
elal
nian
ina
pen
i leb
n
t
nam
hari
da
an
erja
n te
g
t
nge
atka
ai k
mpa
i d
awa
Pen
duk
lui
n, k
se
nyak
bih
tua
man
i
s
an
tan
adi
rjad
ters
elup
an w
kam
ak
dala
al,
nya
k ya
alir
kond
tan
kit
be
(d
ak
sete
seh
nam
6 h
di 1
sera
pas
war
mbiu
len
am
akit
ang
ran
disi
nah
ke
erat
dari
kan
lah
hat,
man
hari
1–2
ang
;
rna
um.
ndir
air
t
g
n
i
h
e
t
i
n
h
n
i
g
a
r
r
2014, No.1966
Pengendalian
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
- Menggunakan
Varietas
nilam
toleran
layu
bakteri
(Patchoulina 1 dan 2);
- Menggunakan
benih
dari
lokasi
yang
tidak
terserang
penyakit;
- Memutus siklus hidup penyebab penyakit dengan tidak
menanam nilam selama 2–3 tahun di kebun yang sudah
terserang;
- Melakukan Pergiliran Tanaman dengan tanaman yang
bukan inangnya seperti padi dan jagung;
- Memperbaiki saluran air pada saat curah hujan tinggi
agar tidak terjadi genangan air yang dapat meningkatkan
kelembaban tanah;
- Memusnahkan
sumber
penyakit
dengan
mencabut
tanaman sakit lalu dibakar.
Pengendalian
secara
hayati
dapat
memanfaatkan
agen
hayati
seperti
Pseudomonas
fluorescens,
P.
cepasia,
Micrococcus
sp.,
dan
Bacillus
sp.
yang
dapat
menekan
kerusakan hingga 68,75%.
Pada lahan pertanaman nilam dengan kejadian penyakit
layu bakteri yang berat dapat menggunakan bakterisida
(Streptomicin
sulfat)
dengan
menyiram/menyemprot
lahan/tanaman yang terserang.
Penyakit Budok
Penyakit
budok
disebabkan
oleh
jamur
Synchytrium
pogostemonis,
yang
menyerang
daun,
tangkai
daun,
dan
batang nilam. Penyakit ini dapat menurunkan produksi dan
mutu minyak nilam.
Gejala serangan
- Gejala serangan awal dapat dilihat sedini mungkin baik
pada Persemaian maupun di lapang, ditandai adanya
benjolan-benjolan kecil dan penebalan pada permukaan
atas dan bawah daun, serta batang.
- Pada serangan lanjut, akan menghambat pertumbuhan
vegetatif
sehingga
rumpun
tanaman
tidak
bertambah
besar,
permukaan
batang
menebal,
ruas
batang
memendek,
pada
ketiak
cabang
tumbuh
tunas-tunas
berdaun keriput dan kerdil.
2014, No.1966
Rumpun
tanaman
yang
terserang
pertumbuhannya
terhenti, bahkan kanopinya cenderung mengecil.
Pengendalian
Pengendalian
dapat
dilakukan
secara
terpadu
melalui
pencegahan
dengan
memperhatikan
sumber
bahan
tanaman dan lahan yang akan di tanam nilam. Bahan
tanaman sebaiknya tidak diambil dari kebun yang terserang
budok. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
- Menggunakan
benih
yang
sehat
dan
bebas
penyakit
budok terutama gejala awal berupa bintik-bintik putih;
- Lakukan
sortasi
benih
sebelum
penanaman,
untuk
menyakinkan benih sehat dan bebas penyakit budok;
- Pengendalian dapat dilakukan secara teknis
budidaya
(khususnya pengolahan lahan, drainase yang baik);
- Lakukan pengelolaan kebun secara rutin terutama untuk
memonitoring
penyakit
sehingga
diketahui
lebih
dini
gejala awal penyakit budok;
- Lakukan
Pergiliran
Tanaman
dengan
tanaman
yang
bukan inang penyakit budok;
- Bila tanaman sudah terserang, lakukan pencabutan dan
pembakaran tanaman yang sakit (eradikasi) yang akan
menjadi sumber inokulum penyakit;
- Pengendalian
secara
kimiawi
dapat
dilakukan
dengan
menggunakan
fungisida
di
Persemaian,
dengan
cara
merendam setek dalam fungisida (sebelum disemai);
Gambar 14. Gejala awal serangan penyakit budok
(A),
dan
Gejala
serangan
berat
penyakit budok (B)
Sumber: Balittro
A
B
Pen
Pen
Nem
- M
B
y
a
- P
T
Ni
sp
se
ya
G
bo
la
da
di
lit
da
nya
nya
mat
Melo
Bag
yang
akar
Prat
Terja
Gej
Gej
kem
ben
ter
un
ilam
pot
erin
ang
Guna
oud
arut
ari
ibu
ter.
an d
kit
kit
toda
oido
gian
g d
r.
tyle
adi
jala
jala
mer
njol
rser
nsur
m y
dal
ng t
lai
aka
deau
tan
at d
Se
dia
yan
in
a ya
ogy
n ak
dise
ench
luk
a se
a
rah
lan
rang
r N,
yang
lam
terja
inny
an
ux
ka
0 g
dar
elan
duk
ng d
ni m
ang
yne
kar
ebut
hus
ka-l
eran
ser
han,
ak
g n
, P,
g t
m sa
adi
ya t
fun
1%
apur
g ka
i 10
njut
k se
dise
men
g m
inc
yan
t b
s bra
luk
nga
rang
,
a
kar
nem
dan
ers
atu
sa
tida
Gam
Sum
ngis
%. B
r to
apu
00 g
tny
ecar
eba
nyeb
eny
cogn
ng t
beng
ach
a n
an
gan
akar
r.
G
mato
n K
era
lah
atu
ak.
mbar
mber:
sida
Bub
oho
ur t
g te
a la
ra p
abka
bab
yera
nita
ters
gka
hyur
nekr
n
r
m
Geja
oda
K.
ang
han,
cab
Ha
r 15.
Bali
a be
bur
r d
toho
erus
aru
perl
an o
bkan
ang
a
sera
ak a
rus
rotis
nem
mem
ala
a n
ne
, ba
ban
al in
Gej
ittro
erb
r bo
dan
or d
si/c
utan
lah
oleh
n p
g pe
ang
aka
ata
s pa
mat
mbu
ku
nam
ema
ahk
ng m
ni d
jala
aha
oud
lar
dala
cop
n 1
an,
h N
pert
rak
g ke
ar a
au R
ada
toda
usu
uni
mpak
atod
kan
men
dise
sera
an
deau
ruta
am
pper
da
lar
em
tum
kara
eliha
atau
Rad
a ak
a
uk
ing
k s
da m
dal
nun
ebab
anga
akt
ux
an t
r su
an
ruta
ato
mbu
an n
atan
u b
dop
kar.
dau
ata
pa
sepe
men
lam
njuk
bka
n ne
tif b
dib
teru
lite
ulph
laru
an s
da
uha
nila
n b
bunc
holu
un
au
ada
erti
nun
m sa
kka
an k
emat
ben
bua
usi.
er a
hate
uta
siap
an
am y
beng
cak
us s
b
te
a
d
i ge
njuk
atu
an g
kare
toda
nom
at d
La
air,
e (C
n 2
p di
nila
yait
gka
k ak
sim
berw
erda
daun
ejal
kka
rum
geja
ena
a
mil
dari
arut
dan
CuS
2 di
isem
am
tu:
ak a
kar
milis
warn
apat
n
n
la
an
mpu
ala,
a ter
14,
ata
i c
tan
an l
SO4)
dicam
mpr
te
atau
r at
s
na
at
b
nila
kek
geja
un
, se
rsu
, No
au
am
laru
) da
mp
rotk
rha
u bu
tau
k
ben
am
kur
ala
tan
edan
umb
o.19
bub
mpur
terd
utan
alam
urk
kan
amb
unc
pu
kun
njola
ya
ang
sp
nam
ngk
batn
bur
ran
diri
n 2
m 5
kan
n.
bat.
cak
uru
ning
an-
ang
gan
pot-
man
kan
nya
r
n
i
n
k
u
g
-
g
n
-
n
n
a
2014, No.1966
akar maupun batang bagian bawah oleh populasi nematoda
sehingga proses metabolisme tanaman terhambat, dan daun
terlihat memerah. Pada tanaman yang kahat hara, gejala
terlihat merata dalam satu lahan, dan diawali dari daun yang
tua.
Pengendalian
- Pemupukan menggunakan kotoran ternak (ayam, sapi,
kambing) dan sekam, serbuk gergaji, dan serbuk biji
mimba dapat mengendalikan Meloidogyne incognita dan P.
brachyurus.
- Pemupukan
dengan
Urea
dan
SP-36
sebanyak
g/tanaman kemudian dikombinasikan dengan kotoran
sapi dapat mengendalikan Meloidogyne incognita.
- Pemupukan
dengan
Urea
dan
SP-36
sebanyak
g/tanaman
kemudian
dikombinasikan
dengan
sekam
dapat mengendalikan P. brachyurus
- Memperbaiki
sanitasi
kebun
dan
menggunakan
pestisida/herbisida
pada
saat
pengolahan
tanah
dan
penanaman.
- Mengombinasikan Karbofuran, bahan organik dan dolomit
untuk menekan populasi nematoda sehingga produksi
nilam meningkat.
- Memanfaatkan
musuh
alami
Jamur
Artrhobotrys
sp,
bakteri Pasteuria penetrans yang dikombinasikan dengan
kotoran sapi, kotoran ayam, serbuk gergaji, dan ampas
kedelai.
VI.
PANEN
Pemanenan nilam dilakukan pada terna tanaman yaitu daun, batang,
dan ranting. Pemanenan harus memperhatikan waktu, umur, dan
cara pemanenan karena berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas
minyak yang dihasilkan. Cara pemanenan yang tidak beraturan dapat
menurunkan
produksi
dan
kualitas
minyak,
serta
pertumbuhan
tanaman untuk Panen selanjutnya.
Saat Panen yang tepat ditandai dengan menguningnya sebagian daun
karena
masak
fisiologis.
Pemanenan
dilakukan
pada
saat
umur
tanaman
sekitar
5–6
bulan
setelah
tanam.
Panen
berikutnya
dilakukan setiap 3–4 bulan. Waktu Panen terbaik pada pagi dan sore
hari. Panen pada siang hari dapat mengakibatkan jumlah minyak
ya
(m
Ca
ta
m
ce
gu
ya
ba
ta
tu
Pa
al
6.
ang
mud
ara
ajam
mem
epat
unti
ang
atan
anah
una
ane
lat d
.1Pa
S
p
p
a
b
g di
dah
a m
m, u
mben
t da
ing
g le
ng
h, t
s b
en h
di k
asc
Sela
pas
pan
a. P
T
u
s
d
B
d
b. P
iha
me
mem
unt
ntu
an
se
bih
dan
ting
baru
har
kebu
ca P
ain
sca
nen
Peng
Tern
untu
elam
dilak
Bah
disu
Pera
asilk
eng
mane
uk
k tu
me
etek
h ba
n ca
ggal
u u
rus
un.
Pane
pr
pa
an
geri
na
uk
ma
kuk
an
uling
ajan
kan
guap
en
me
una
ngh
k m
any
aba
lkan
untu
dip
en
ra p
anen
ntara
inga
nila
pel
pe
kan
ya
g. B
ngan
Ga
Sum
b
p).
dap
eng
as b
hem
mem
yak
ang
n 1–
uk
per
pan
n.
a la
an
am
layu
enje
se
ang
Bila
n
amb
mber
erk
pat
hin
baru
mat
mbu
. P
tid
–2 c
pro
hat
nen,
Ha
ain:
ha
uan
emu
elam
g
t
a pe
ar 1
: Bal
kura
m
ndar
u. P
ten
utuh
Pane
dak
cab
odu
tika
, ku
al-h
asil
n, d
uran
ma
tela
rlu
16.
pe
littro
ang
eng
ri k
Pem
nag
hka
en
dib
bang
uksi
an,
ual
hal
Pa
den
n b
3–
ah
yan
Pen
enge
g, k
ggu
keru
man
a k
an w
den
bab
g u
i ni
den
litas
yan
ane
ngan
baha
5 h
dik
ng
nger
erin
kare
nak
usak
nena
kerja
wak
nga
bat
ntu
ilam
nga
s m
ng
n d
n k
an
hari
ker
ditu
ring
ngan
ena
kan
kan
an d
a, s
ktu
an
hab
uk m
m s
an
miny
ha
dih
kete
dib
i sa
ring
utu
gan
n
a
m
n sa
n ja
den
seda
da
me
bis
mer
sela
me
yak
arus
am
eba
bali
amp
gang
up ra
has
miny
abit
arin
ngan
ang
an
engg
tet
rang
nju
nye
k ni
s
d
par
alan
k 2
pai
gink
apa
sil p
yak
t at
ngan
n m
gkan
me
gun
tapi
gsa
utny
edia
ilam
dipe
rkan
n ±
2–3
ka
kan
at.
pane
k n
tau
n ba
men
n d
eme
naka
i dis
ng
ya.
aka
m ju
erha
n d
ka
ada
n
s
en d
nilam
gu
ata
nggu
deng
erlu
an
sisa
per
Ke
an t
uga
atik
di a
cm
ali.
ar a
seb
di r
m
unti
ang
una
gan
ukan
sa
aka
rtum
ber
tem
a d
kan
atas
m s
Pen
air
aik
rak
ber
ing
yan
akan
me
n te
bit
an +
mbu
rsih
mpat
iten
da
s la
sela
nge
kira
nya
14,
rsifa
se
ng
n sa
eng
ena
he
+15
uha
han
t p
ntu
alam
ant
ama
erin
a-k
a
, No
at
etek
pot
abit
ggun
aga
end
5 cm
an t
ala
penc
kan
m
tai
a 5
gan
kira
lan
o.19
vol
k ya
tens
t leb
nak
ke
dakn
m d
tun
at-a
cuc
n o
pas
jem
5 ja
ngin
ngsu
atil
ang
sial
bih
kan
erja
nya
dari
nas-
alat
ian
oleh
sca
mur
am,
nan
5%.
ung
l
g
l
h
n
a
a
i
-
t
n
h
a
r
n
g
2014, No.1966
Perajangan
bertujuan
untuk
meratakan
kepadatan
bahan
dalam ketel penyuling, sehingga kapasitas ketel bertambah dan
mengoptimalkan
pengeluaran
minyak
nilam.
Perajangan
dilakukan dengan memotong-motong terna keringangin dengan
ukuran kira-kira 15 cm.
c. Penyimpanan
Daun
nilam
yang
telah
dikeringkan
perlu
dilakukan
pengepakan
dan
penyimpanan
sementara
waktu
sebelum
penyulingan.
Penyimpanan
di
atas
para-para,
di
lantai
beralaskan papan berkaki. Gudang penyimpanan tidak boleh
pada
daerah
lembab
dan
sirkulasi
udara
yang
baik.
Penyimpanan daun sebelum disuling tidak boleh lebih dari 3
bulan karena akan menurunkan kadar minyak nilam.
6.2Penyulingan dan Pengemasan
Penyulingan yaitu proses pengambilan minyak atsiri dari bahan
dengan bantuan uap air. Penyulingan dilakukan dengan cara air
dan uap (kukus). Untuk kapasitas di atas 200 kg, sebaiknya
menggunakan cara uap langsung dengan boiler. Pada cara kukus,
untuk menjaga agar bahan tidak kering maka digunakan sistem
kohabasi
yaitu
air
destilat
dikembalikan
ke
dalam
ketel.
Kepadatan
bahan
di
dalam
ketel
kira-kira
g/l.
Lama
penyulingan kira-kira 7 jam pada cara kukus atau 5 jam pada
cara uap langsung. Pada cara kukus, kecepatan penyulingan
kira-kira 175 ml/menit. Pada cara uap langsung, tekanan dalam
ketel dimulai 0,5 kg/cm2, kemudian dinaikkan secara bertahap
hingga pada akhir penyulingan mencapai 1,5 kg/cm2. Minyak
hasil penyulingan dipisahkan antara minyak dan air dengan
wadah pemisah yang ada krannya dibagian bawah, bila minyak
masih kelihatan keruh maka disaring dengan kain monel (kain
sablon).
Minyak hasil penyulingan di kemas dalam botol gelas berwarna
atau jerigen plastik masiv dari jenis polietilen. Untuk keperluan
ekspor, digunakan kemasan dari aluminium atau drum besi yang
dilapisi timah putih.
2014, No.1966
Gambar 17. Alat penyulingan milik petani di Desa Setianegara
Sumber: Balittro
Gambar 18. Alat penyulingan
Sumber: Balittro
V
VII.
14,
. PE
Pe
Pr
be
ni
No
P
ENU
edo
ract
erba
ilam
.19
Pen
10%
UTU
ma
tice
aga
m ya
ngis
% d
UP
an
s/G
ai p
ang
sian
ari
Tek
GAP
piha
g ba
n m
vol
knis
P
O
ak
aik d
G
S
miny
lum
s
B
On
dan
dan
Gam
Sumb
yak
me w
Bud
Pa
n s
n be
mbar
ber: B
da
wad
dida
atch
seba
ena
19.
Balit
alam
dah.
aya
houl
aga
ar.
Boto
ttro
m ke
.
a
N
li)
i
ai a
ol tem
ema
Nila
ini
acua
mpa
asa
am
di
an
at pe
an h
Ya
sus
da
M
R
A
enyim
har
ang
sun
lam
MEN
REP
AMR
mpan
us
B
n
a
m m
NTE
PUB
RAN
nan
dib
Baik
atas
mela
ERI
BLIK
N SU
min
beri
k
(
k
aks
PE
K IN
ULA
nyak
i ru
Goo
kerja
ana
ERTA
NDO
AIM
uang
od
asa
aka
ANI
ONE
MAN
g k
Ag
ama
an b
IAN
ESIA
N
koso
gricu
a
d
bud
N
A,
ong
ultu
deng
dida
5–
ural
gan
aya
–
l
n
a
