Langsung ke konten

Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1957 tentang PENGELUARAN SURAT PERBENDAHARAAN UNTUK TAHUN 1957

PP No. 21 Tahun 1957 berlaku

Pasal 1

Selama tahun 1957 dapat dikeluarkan surat perbendaharaan dengan mengindahkan ketentuan-ketentuan dalam pasal-pasal yang berikut :
Pasal 1.

Pasal 1.
Tergantung pada kebutuhan, segala sesuatu berhubung dengan keadaan hutang negara pada Bank INDONESIA, dapat dikeluarkan, di atas jumlah tersebut dalam Pasal 4, bilyet-bilyet perbendaharaan sebagai jaminan untuk persekot-persekot yang diberikan kepada negara berdasarkan Pasal 19 ayat (1) UNDANG-UNDANG Pokok Bank INDONESIA 1953.
Dengan cara yang sama seperti termaksud dalam ayat yang lalu, bilyet- bilyet perbendaharaan dapat dikeluarkan sebagai jaminan untuk persekot- persekot yang diberikan kepada negara c.q. kepada Dana Alat-alat Pembayaran Luar Negeri atas dasar Pasal 18 Ordonansi Alat-alat Pembayaran Luar Negeri 1940 (Lembaran Negara 1940 Nomor 205).

Pasal 2

PERATURAN PEMERINTAH ini mulai berlaku pada hari diundangkannya.
Agar...

Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan PERATURAN PEMERINTAH ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik INDONESIA.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 8 April 1957 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, ttd.
SUKARNO MENTERI KEUANGAN a.i., ttd.
DJUANDA Diundangkan pada tanggal 23 Mei 1957 MENTERI KEHAKIMAN a.i., ttd.
SUNARJO MENTERI KEHAKIMAN, ttd GA. MAENGKOM LEMBARAN NEGARA NOMOR 55 TAHUN 1957

Pasal 3

Di samping surat perbendaharaan yang dimaksudkan dalam Pasal 1 dan 2, dapat dikeluarkan surat-surat perbendaharaan setinggi-tingginya dua milyard lima ratus juta rupiah berhubung dengan turut sertanya INDONESIA dalam International Monetary Fund dan International Bank for Reconstruction and Development.

Pasal 4

Selainnya surat perbendaharaan yang dikeluarkan berdasarkan Pasal- pasal 1 sampai 3 dari PERATURAN PEMERINTAH ini, dibolehkan pula beredar bersamaan surat-surat perbendaharaan setinggi-tingginya lima ratus juta rupiah.

Pasal 5

Bilyet-bilyet perbendaharaan dan promes-promes perbendaharaan dibagi- bagi dalam lembaran-lembaran dari Rp. 1.000,-, Rp. 5.000,-, Rp. 10.000,- , Rp. 25.000,-, Rp. 50.000,-, Rp. 100.000,-, Rp. 500.000,-, Rp. 1.000.
000,-, Rp. 5.000.000,- dan Rp. 10.000.000,-.
Jika ternyata perlu, dapat juga dikeluarkan bilyet-bilyet perbendaharaan dan promes-promes perbendaharaan dalam lembaran-lembaran lebih tinggi.
Pasal 6.

Pasal 6

1. Bilyet-bilyet perbendaharaan akan mempunyai jangka paling lama lima tahun.
2. Promes-promes perbendaharaan akan mempunyai jangka sekurang- kurangnya satu bulan dan paling lama sebelas bulan.

Pasal 7

1. Pengeluaran bilyet-bilyet perbendaharaan akan dilakukan dengan bunga paling tinggi 4 1/2 % setahun.
2. Pengeluaran promes-promes perbendaharaan akan dilakukan dengan nilai paling rendah 98 1/2 % untuk promes dari sembilan bulan dan dengan nilai-nilai yang seimbang dengan itu untuk promes yang berjangka lebih pendek.

Pasal 8

Pengeluaran surat-perbendaharaan akan dilakukan dengan jalan penempatan di bawah tangan.

Pasal 9

Menteri Keuangan diberi kuasa pada pengeluaran surat-perbendaharaan di bawah tangan jika dianggap perlu mengadakan syarat dan dengan memasukkan clausule yang bersangkutan dalam keterangan bersama yang akan dibuat menurut ayat
(4) Pasal 4 Ordonansi surat perbendaharaan 1928 (Lembaran Negara Nomor 21) MENETAPKAN, bahwa surat...

surat perbendaharaan tidak dapat dijual atau digadaikan pada Bank INDONESIA, dan terhadap surat perbendaharaan ini, jika dianggap perlu, dalam keterangan bersama tersebut mencantumkan syarat-syarat : ( pasal 4)
1. bahwa surat perbendaharaan yang dikeluarkan tidak dapat dilunasi sebelum jatuh harinya;
2. bahwa surat perbendaharaan yang telah dikeluarkan hingga jumlah nominalnya dapat dipakai dinegeri ini sebagai penyetoran buat pendaftaran untuk pinjaman-pinjaman umumyang memberatkan.

Pasal 10

Menteri Keuangan diberi kuasa untuk, dengan memindahkan peraturan- peraturan yang diberikan tentang itu, mengambil tindakan seperlunya dalam mengatur selanjutnya pengeluaran surat perbendaharaan termaksud dalam PERATURAN PEMERINTAH ini dan jalannya usaha yang bersangkutan dengan pengeluaran itu, demikian pula untuk menandatangani atas nama Pemerintah INDONESIA akte-akte yang akan dibuat berhubung dengan pengeluaran itu.